
Haris memarkirkan mobil di area parkir restoran ternama di Bandung.restoran yang hanya bisa dinikmati kemewahannya oleh kalangan tertentu saja.
Orang kepercayaanku ini sigap memanduku menuju sebuah private room restoran.di dalam sudah duduk menunggu seorang gadis cantik dengan rambut sebahu berpakaian cukup elegan dia adalah Arsyila Diaz Pramudya sahabat karib Freeya.
Senyum manis gadis itu terbit saat melihatku memasuki ruangan.aku mengambil duduk di hadapan nya,sementara Haris berdiri tepat dibelakangku.
Kusodorkan selembar cek ke hadapan Arsyila.dia tampak tak mengerti.matanya berkilat memancarkan rasa tidak suka.
"Mbak Arsyila dia adalah Presdir Demas Fabian.dia yang akan menjadi sponsor anda"terang Haris
"Aku tidak suka basa-basi.aku mau jadi sponsormu tapi aku juga butuh bantuanmu"ucapku
"Presdir ini sungguh orang yang to the point"
"aku memang tidak suka bertele - tele.aku hanya butuh jawaban bisa atau tidak.lebih tepatnya aku tidak suka ditolak"
"sama artinya anda memaksa"
ucap Arsyila santai
"terserah mau kau artikan apa" sahutku
"aku ingin kau mendekati Mikail Machalister"
"apa maksudmu ? dia adalah kekasih sahabatku"ucap Arsyila
"aku yakin kamu cukup pintar untuk mengerti maksudku.aku tak perlu menjelaskan dua kali bukan?"ucapku tenang
"kau salah jika kau pikir uangmu bisa membeliku,aku tidak akan menuruti kemauanmu"solot Arsyila
"uangku ini mungkin memang tak bisa membelimu.tapi uang ini adalah jawaban dari masa depan puluhan karyawanmu"pancingku
"aku yakin kau kenal Celine Natapraja bukan? designer wanita bertaraf internasional.aku bisa merekomendasikanmu padanya"
"aku jamin kau bisa selamatkan karyawanmu"tandasku
"kenapa kau ingin menghancur
kan Freya?dia salah apa?"hardik Arsyila
"salahnya dia telah memikat hatiku"
"kau sakit,bagaimana bisa kau begitu egois?tidak ada wanita lain apa sampai kau harus merebut kekasih orang?"serang Arsyila
"aku memintamu kesini bukan untuk jadi penceramah.sekarang aku hanya akan bertanya sekali dan kau hanya perlu menjawab bisa"desakku
"tidak!kau dengar?tidak!"tolak Arsyila
"baik,kupastikan esok hari karyawanmu akan kehilangan pekerjaan"seruku saat Arsyila hendak pergi
Arsyila berhenti dan menoleh kearahku.alisnya terangkat satu dengan mata memicing.
"pasti sikap anda ini yang membuat Freya membencimu.kau hanya bisa menindas dan juga memaksa" sinis Arsyila
"hari ini tak apa kau mengutuk
ku tapi suatu saat ketika sahabat mu itu bahagia kau akan berkata bahwa dia beruntung mendapat kan aku"ucapku pasti
"anda terlalu percaya diri Tuan Kaya.mendapatkan anda itu bukan nya berkah tapi musibah itu iya" solot Arsyila
"aku beri kau waktu 24 jam untuk memikirkannya"
kutarik tangan kanan Arsyila dan kuberikan cek yang dia acuhkan.
dia berusaha menolak tapi ku bekap telapak tangannya.
"percayalah kau akan butuh ini"
ucapku sambil lalu
Haris mengawasiku dari ceemin wajahnya tampak begitu resah
"kau tidak merasa yakin dengan rencanamu sendiri ?"tebakku
"terus terang saya berada di antara posisi yang sangat sulit.satu sisi saya bahagia kalo Presdir bisa mendapat Freya,tapi saya juga akan ikut sedih saat dia dikhianati Kail"ujar Haris nampak susah
"dia sedih hanya sementara,aku pastikan setelahnya dia akan sangat bahagia"ucapku tanpa ragu
"aku sangat yakin dia juga memiliki perasaan yang sama denganku.aku lihat dari matanya.
dari kepasrahannya saat ku cummbu,dia tidak begitu kalo sama Gerrald"ceritaku
"waktu di Jogja sungguh aku kian yakin dengan perasaannya"
"saya bisa melihatnya Presdir" ucap Haris
"semoga ini tak akan terlalu me-
nyakitinya"imbuhnya
"aku yang akan menyembuhkan dia.aku pastikan aku tidak akan berbuat kasar padanya"janjiku
Qalila berlari-lari kecil menghampiriku yang baru saja keluar dari lift.wajahnys begitu tegang membuat aku dan Haris saling 0andang.
"ada apa ?"
"ada masalah Qal?"tanya Haris
"Mikail Machalister menunggu anda di ruang meeting"ucap Qalila gugup
Haris menatapku seolah bertanya "ada apa?"
Aku langsung melangkah menuju ruang meeting.kudapati bule itu tengah berkutat dengan ponselnya dia menengadah saat sengaja ku ketuk daun pintu.sorot matanya tak bersahabat dia berdiri dan berjalan menghampiriku.
Aku bersedekap menatapnya sembari mengukir senyum "Mikail Machalister"
"kemarin dulu aku pernah mem peringatkanmu,Freya itu milikku
jauhi dia!"ucap Kail dengan mata berkilat penuh amarah
"Freeya bukan milikku ataupun milikmu,tapi dia milik dirinya sendiri,jadi jangan terlalu possesifaku yakin dia tidak akan suka" ucapku datar
"tapi kami punya hubungan yang resmi,dia tunanganku dan aku tidak mau orang sepertimu mendekatinya"tukas Kail
"kau terlihat begitu ketakutan kata orang jika seseorang begitu ketakutan diburu rasa kehilangan pasangannya itu dikarenakan kau masih meragukan perasaan pasangannya.begitukah?"pancingku santai
"kau merasa Freya tak 100 persen menyukaimu?"tandasku
"aku tak sedikitpun meragukan nya.aku bahkan sanggup menerima dia meski aku tau kau pernah menciumnya bahkan tidak sekali.
itu aku maklumi karena dia di bawah paksaanmu"tudingnya
"lepaskan dia ! kalau kau ber alasan merekrut Freya karena dana yang kau kucurkan untuk perusahaan Tuan Antoni,aku akan menggantinya"ujar Kail sengit
"bagaimana kalau aku tak mau melepas Freeya?"tantangku
Kail yang semula duduk langsung bangkit menatapku dengan sengit mencengkeram kerah bajuku penuh amarah
"aku bersumpah aku akan mem- bunuhmu kalau kau tetap tak mau melepaskan Freya"ancam Kail
"Tuan Mikail Machalister anda tau dinding di kantor ini punya telinga.jangan sampai ancaman anda ini akan jadi bumerang untuk anda"solotku geram seraya meng hempaskan tangan Kail
"aku tidak takut"
"ingat baik-baik ancamanku Tuan Demas"kata Kail sambil lalu
Kail baru saja keluar ganti Gerrald yang masuk.aku mendengus sebal kuraup wajahku sesekali.Gerrald menghempaskan tubuhnya kesal disampingku.dia sejenak menghela napas.
"siapa men?"
"kau tidak tau?"tanyaku
Gerrald menggeleng sambil ber -pangku tangan.
"Mikail Machalister kekasih Freya"
Sekonyong-konyong Gerrald mencondongkan tubuhnya ke meja seolah ingin melompatinya dia menatapku seolah tak percaya.
"dia ? ngapain kemari ?"
"merestui hubunganmu dengan Freya"jawabku asal
"aku serius"selanya
"dia kolegaku"
"oh"
Gerrald mengacak-acak rambutnya kesal "aku kalah saing men"
"Makhluk wanita bernama Freya ini sungguh susah di dekati,benar dia tadi kekasihnya?"tanya Gerrald
"hem"
"mereka sudah tunangan"
"shiiitt ! benar saja aku ajak kencan malah temannya yang datang"keluhnya
aku tersenyum kecut berarti benar cerita Freeya kemarin.aku semakin yakin kalau Freeya memang benar memiliki perasaan yang sama denganku dia dengan terang dan tegas menolak Gerrald tapi dia tak begitu terhadapku.dia begitu liar membalas ciumanku.tak menolak ketika tangan nakalku ini mulai menjamah tubuh moleknya.
"sekalinya nemu cewek bener aja udah milik orang.hati ini bahkan patah sebelum hati ini sempat menyatu.ngenes"keluhnya lagi
aku mengiyakan kata-kata Gerrald dalam hati.tapi aku bukan Gerrald yang bahkan sudah patah sebelum sempat berjuang.aku adalah DEMAS FABIAN yang akan mempeejuangkan sesuatu yang menjadi keinginanku.bagiku sekali menjadi keinginanku maka itulah tujuanku target yang wajib ku dapatkan.
"kenapa tak kau kencani saja temannya,kurang cantik?"tanyaku memulai pembicaraan
"cantik shi tapi garing.kurang konek.gak asyik"ujarnya
"kalo Freeya nyambung dan asyik kalo diajak seru-seruan.kadang bitchy tapi kadang juga gokil.dia kadang seperti petasan eledak-ledak tapi sejurus dia bisa jadi air yang tenang"ceritera Gerrald
Gerrald benar-benar begitu jeli membaca karakter Freeya.aku miris membayangkan reaksi Gerrald saat tahu aku juga mengejar Freeya.
"parahnya lagi men,si Yesha ini matre.wah gak lah"
"bukannya kamu royal banget kalo sama cewek"ujarku
"iya kalo keinginanku sendiri kalo ceweknya yang banyakan nun
tut ini itu ya males"sambatnya
"hei bocah,kamu kerja uang banyak mau buat apa kalo bukan nyenengin cewek?"
"aku memang berduit tapi aku gak sudi menghamburkan uangku bersama cewek matre dan bodoh seperti pacarmu"
"ha ha ha"tawa Gerrald
aku hanya mendengus dan berlalu meninggalkan Gerrald yang masih meradang di ruang meeting.
***
Aku duduk menunggu di dalam mobil yang terparkir di depan butik Arsyila Diaz Pramudya.ini tepat 24 jam waktu yang aku janjikan.tapi sepertinya masih belum ada tanda suasana mulai memanas.
Kutekan sebuah kontak tak perlu waktu lsma segerombolan orang berpakaian hitam memasuki butik itu dan terjadi kegaduhan.Arsyila keluar tergopoh gopoh meng- hampiri mobilku mengetuk kaca jendelanya senyum kemenanganku terkembang.
dengan santai aku keluar dari mobil dan berdiri bersandar pintu mobil dengan menyilangkan satu kaki.kulepas kacamata hitamku dan tersenyum padanya.
"kau benar-benar jahat!apa mau mu?"geramnya
"sederhana,buat seolah Kail dan kau punya affair.kau buat beneran malah lebih bagus"ucapku
"kau gila"
"terserah kau berat karyawznmu atau sahabatmu,percayalah dia akan sangat bahagia bersamaku"
ucapku senbari bersedekap
"kau licik"hardiknya
"aku akan menuruti perintah mu"putusnya
"keputusan yang tepat"seringaiku
"akan aku tarik mundur anak buahku"
"tepati janjimu"
"aku selalu tepat janji,jalankan tugasmu dengan baik"kutepuk bahu Arsyila pelan
"sekali kau jalankan misimu aku akan meminta Celine Natapraja bekerja sama denganmu"
"tolong jangan sakiti Freya" hibanya
"aku sangat mencintainya mana mungkin menyakitinya"
"akan ada anak buahku yang selalu mengawasimu dan melapor
kan setiap gerak-gerikmu"
"aku akan betusaha"
"bagus"
lirikku dari cermin dan mulai me-
lajukan mobilnya.
"kapan Presdir akan menarik Freya kembali ke perusahaan?"
"nanti kalo sudah genap 3 bulan.
aku tak mau membuat kecemburu an sosial karyawan yang lain"
"saya mengerti"
Tak sengaja mobil kami melintasi seorang nenek yang tengah berjual an.reflek aku menoleh aku ingat nenek tua itu nenek yang sama yang pernah di tolong Freya.
"berhenti!"seruku
"ada apa Presdir?"tanya haris kaget
"berikan sejumlah uang keoada nenek itu!jangan lupa minta nama dan alamatnya"titahku
"baik"
Tak berselang lama Haris kembali ke dalam mobil.kulihat dari kaca spion nenek itu tersenyum dan melambaikan rangannya.
"sudah kau dapatkan nama dan alamatnya ?"tanyaku saat mobil kembali bergerak
"sudah Presdir"
"minta Gara untuk mencari lokasi strategis buatkan nenek itu kios atau apa untuknya berjualan
renovasi rumahnya dan beri dia modal usaha"titahku
"jangan coba untuk sekalipun menggunting dana itu atau kalian akan aku pecat"tandasku
"kami tak akan berani Presdir"
"mulai bulan depan 10 oersen laba perusahaan pusat dan anak cabang akan di alokasikan untuk membantu orang kurang mampu yang benar-benar membutuhkan"
Haris hanya mengangguk ragu.aku membuka pesan dari Bu Hanum.aku tersenyum kecil melihat foto Freeya yang sedang melayani pem beli.gadis ini tak sekalipun menam
pakkan kesedihan.tiba-tiba rasa ingin bertemu begitu membuncah kuusap layar ponselku.
"kita mampir ke tempat Freya"
"siap Presdir"
Toko tampak ramai dengan sigap Haris membukakan pintu untukku.terlihat Freeya sedang melayani pembeli.sesaat dia nelempar senyum kearahku dan kembali menghadap pembeli.aku langsung menemui Bu Hanum yang berada diruangannya.
"Selamat siang Presdir!"sapanya gugup
"tak perlu gugup,aku hanya mau bertanya soal kinerja Freya"
"Sangat bagus Presdir,dia sangat pekerja keras,ulet,tekun,pantang menyerah,humble yang jelas dia memberi energi positif untuk kami semua"
"dia penebar keceriaan ditoko ini"imbuhnya
"bagus,berikan bonus untuk mereka!"titahku
"baik,terima kasih banyak Presdir"ucap Bu Hanum
"apa dia sudah waktunya pulang?"
"limabelas menit lagi Presdir"
"dia sudah makan ? dia tidak makan junk food lagi kan?"
"semua sesuai perintah anda Presdir"jawabnya
"bagus sekali"
Aku keluar menghampiri Freeya yang tengah asyik corat corat di atas kertas.kusambar kertas itu kuamati ternyata design laptop.
Aku menatap Haris yang hanya ter tunduk sementara Freeya hanya cuek.
"jadi design yang Kinar sodorkan dan presentasikan selama ini itu dari Freeya?"tanyaku tegas
"begitulah Presdir"jawab Haris
"bukankah aku terlihat sangat bodoh?aku buang orangnya disini tapi designnya yang selalu menggoalkan tenderku"
"anda merekrut saya ya kan buat menggoalkan tender anda Presdir"
ucap Freeya tenang
"aku tunggu diluar"ucapku datar
"saya sudah ada janji dengan teman Presdir"serunya
"limabelas menit saja"
Freeya tak membantah lagi.hampir 20 menit aku dibuatnya menunggu.aku hampir kesal saat akhirnya ku lihat Freeya keluar dari toko.dia tak lagi memakai seragam,dia terlihat cantik memakai sepan hitam selutut dan hem putih motif bunga hitam.dia berlari-lari kecil menghampiriku tas kecilnya ikut bergoyang mengikuti gerakan pinggulnya.
"maaf menunggu lama Presdir"
ucap Freya seraya menunduk
aku tak berkata apa-apa langsung kutarik tubuh kecil itu dalam pelukanku.sialan Freeya malah sengaja menaruh kedua tangannya di depan dada.Freeya mendorong tubuhku kuat kuat aku berusaha bertahan hingga membuatnya terhuyung hampir jatuh untung sigap ku tangkap tubuhnya.
kedua pasang mata kami saling beradu.hatiku berdesir jantungku berdegub sangat cepat sepertinya udara menyumbat dadaku hingga membuatku sesak napas.
"terima kasih"ucapnya seraya melepas peganganku
"limabelas menit dimulai dari sekarang"
"aku tidak ingin bicara apa-apa"
"terus?"
Fredya auto mundur ketika lagi hendak kutarik tangannya.dia mengangkat kedua alisnya pupil matanya membesar.terlihat bibirnya mengerucut.huemm ingin rasanya kusambar bibir itu dan kulumat beberapa saat.
"Presdir dengar ini Jakarta bukan Korea apalagi Amerika yang anda bebas peluk cium orang"semprot Freeya sebal
"waktu limabelas menit habis"
"tidak bisa!aku masih merindu kan kamu Freeya"
kurengkuh tubuh Freeya dari bela
kang.seketika tubuhku mengejang
selalu seperti ini setiap kali ada dia didekatku.tubuhnya yang selalu membiusku dengan wanginya apalagi saat kurasakan tangan lembutnya menyentuh pahaku.
sungguh aku seperti mendapat kejut listrik ratusan ribu volt. tangan itu berusaha melepaskan diri.
"ehem"
suara deham itu memaksa kami saling melepaskan diri.tidak tau kami menoleh hampir bersamaan.ku dapati wajah Gerrald memerah begitupun Freeya yang gugup.
"kalian sedang apa?"
"eemm....aku menolong Freeya yang hampir jatuh tadi"
Aku menoleh kearah Freya,diapun mengangguk aku berdiri sejajar disampingnya.
"jadi kalian sudah saling kenal?"
lagi-lagi kami mengangguk bareng
"kalian mau kemana?"
"pulang"jawab Freya
"makan"jawabku yang hampir berbarengan dengan Freya
"ini sebenarnya mana yang benar
mau makan atau mau pulang?" tanya Gerrald bingung
"aku mau pulang dan dia mau makan"sahut Freeya
"tidak,kami mau makan iya kan" serobotku seraya menarik tangan Freeya masuk mobil
"aku ikut!"pekik Gerrald
"Men,kau ini ganggu saja"desisku
"biar saja dia ikut"potong Freya
"Ris berikan kunci pada Gerrald
kamu bawa mobil Gerrald dan ikuti kami"
"baik Presdir"
"ini Mas kuncinya"ucap Haris seraya menyerahkan kunci mobil
"ini maksudnya aku jadi supir kalian gitu?"seru Gerrald
"terserah kalo kamu tidak mau
aku malah senang berduaan sama Freya"ujarku datar
"okay im a looser now"
Aku duduk dibelakang bersama
Freya sesekali kulirik dia yang spaneng ponselnya.gondook dihati
ini membuatku malas bicara.
"cantikku kita mau makan dimana?"tanya Gerrald bersuara
"tanya sama yang mau makan tuh"
"kita makan dimana Men?"
"tempat biasa"
"cantik,tega sekali kemarin malah temanmu yang datang"
"salah sendiri.kan udah tak bilangin kalo aku ada acara"
"tapi cantik,gak harus dia juga yang gantiin"
"kenapa ? Yesha kurang cantik?"
"cantik banget sampe bikin mau muntah,yang bener saja masa satu orang pesannya buat 10 orang"
"segitu juga kan gak bakalan ngurangin uang kamu kali"
"kalo kamu yang minta tak kadih semua deh"ucap Gerrald mulai gombal
"lebay"
lagi direstoran Aku dan Gerrald membuat heboh gara-gara saling berebut pingin dekat dengan Freya
"aku yang duduk dengan Freya"
ucap Gerrald ngotot
"tidak bisa,aku yang duduk sama dia"seruku
"kalian berdua nih kayak anak kecil.lihat ini!"
Freya duduk ditengah-tengah kami dan tersenyum manis "beres kan?"
"aku yang pesan.aku tak mau makanan juga bakalan kalian bikin masalah"
baru sebentar kami menikmati makanan.selera makanku ambyar oleh seseorang yang baru saja memasuki restoran siapa lagi kalau bukan Mikail Machalister benar saja Freya bersikap manis hari ini.
Santai Kail menghsmpiri meja kami.yang langsung memaksa Freya bangkit menyambutnya.ini sengaja atau gimana ? yang jelas satu keinginan hatiku mengenyah
kan makhluk sialan bernama Mikail Machalister ini.
"aku pikir kita cuma makan ber
dua saja Sayang"ujar Kail
"berempat kan jauh lebih seru"
jawab Freya
"oke tak masalah asal Sayang senang"
Asal Sayang senang ? aku bahkan sanggup membunuh orang kalau umpama Freeya kekasihku dan sedang makan dengan 2 orang priankuamati wajah Freya yang sumringah bercengkrama dengan Kail dan Gerrald.aku sudah seperti kambing congek.
Ambyar berkeping hati ini menyaksikan kedekatan mereka.tak kusentuh makananku.aku benci memiliki perasaan ini.aku tak pernah merasa seperti seorang pecundang selama ini.
***