Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 67 Permintaan Atau Perintah



Aku melangkah cepat melewati Queenara yang sedang berkutat dengan ponselnya.dasar Demas sialan,brengsek,********,tak tau diri sambil berjalan menenteng plasti kresek aku merutuki Demas tanpa henti.dia menuduhku ada affair dengan Kail sedangkan dia seenaknya jalan dengan wanita lain.dia memang ingin aku menjauhinya.


Aku berjalan cepat memasuki pagar rumahku.aku terkesiap saat melihat seorang wanita paruh baya duduk di anak tangga di depan pintu rumahku.


"Ibu Seruni"batinku


Aku mennghampiri Ibu Seruni dan ku ium punggung tangannya.istri Ayahku itu merengkuhku dalam pelukannya.aku merasa canggung dan kaku karna aku tak pernah sedekat ini.ku lepas pelukanku dan ku ajak Ibu Seruni masuk rumah.


Ku sajikan camilan dan minuman ke atas meja.wajah Bu Seruni tampak sangat tegang.


kutuang sirup ke dalam gelas.


"minumlah dulu"ucapku kaku


"terima kasih"


"di luar kok nggak ada mobil ? kesini naik apa ?"tanyaku mencoba mencairkan suasana


"karna lama menunggumu,Pak Kirno sedang cari makan,"jawab Bu Seruni


"eemm..aku akan buka pintu utama biar Pak Kirno tidak bingung cari Bu Seruni" putusku


Aku bangkit dan melangkah menuju pintu kubuka dan pas sekali Pak Kirno sudah berdiri di ambang pintu.


"Pak Kirno masuk,Pak"sapaku ramah


"terima kasih mbak Freeya"


Pak Kirno duduk dan membuka plastik yang dibawanya.aku membawakan piring untuknya.


"Pak,kenapa ndak makan di meja makan ?" tegurku


"iya mbak"


"kita maem dulu nanti kita ngobrol" ucapku


Aku mengajak Bu Seruni menuju ruang makan,ku sajikan makanan yang ku beli di restoran tadi.spaghetti carbonara kesukaanku.


larangan Demas menggema di kepalaku.


"jangan makan junk food,pasta,apalagi mie innstan"


Hatiku sakit apabila mengingat Demas.dadaku terasa sesak.jujur aku sangat merindukannya tapi dia bahkan tak menganggapku.


"masih tidak bisa masak ?"tanya Bu Seruni


Aku nyengjr "eemm...bisa kok,kalo ada waktu aku selalu belajar masak"ucapku membela diri


"aku ingin cerita sesuatu padamu"


Aku menatap Bu Seruni aneh.tak biasanya istri Ayah khusus menemuiku.


"ada apa ?"


"Kakek dan Ayahmu mereka sudah tua,kamu tak berniat untuk meneruskan usaha mereka ?" selidik Bu Seruni


"Bu Seruni tau,usaha Kakek bukan bidangku lagi pula bukankah ada Anggita ? ada Salman ?"nalasku


"kau ingin perusahaan keluargamu dipegang orang lain ?"


lagi lagi kutatap Bu Seruni aneh


"kenapa ? kau merasa kewalahan menghadapi Salman ?"tudingku


Bu Seruni menghela napas panjang


"sepicik itukah pemikiranmu ? apa kau tidak sadar Salman itu duri dalam keluargamu ?"


"kamu tidak kasihan dengan tante Qania ? ayah ? kakek ? keluargamu terus di rongrong oleh si brengsek itu dan kau lebih mementingkan egomu sendiri"ucap Bu Seruni


"kenapa baru sekarang ? aku bahkan telah kehilangan kewajiban ataupun hakku atas keluargaku sejak Ibu Seruni membuangku ke Amerika dan menjadikanku seolah jadi anak pembangkang di mata keluargaku sendiri" tukasku panjang lebar


Bu Seruni terdiam


"aku terus diam karna aku masih menghargai anda.dan....kenapa sekarang harus aku yang lagi lagi harus anda korbankan untuk memuluskan jalan anda"sinisku


Aku bangkit untuk membereskan piring piring kotor menuju tempat cuci piring.Bu Seruni mengikuti dan berdiri di sebelahku


"dulu....aku sadar aku terlalu takut kehilangan segala kemewahan yang aku dapat dari ayahmu hingga aku gunakan berbagai cara untuk mempertahankannya tapi kini aku sungguh tak mau Salman menghancurkan jerih payah ayah dan kakekmu"


"karna anda takut kehilangan kemewahan itu dan anda tidak mampu anda memperalat saya dengan mengatas namakan keluarga?" seringaiku


"terlambat"tukasku


Bu Seruni melangkah keluar menuju ruang tamu dan kembali dengan membawa sebuah map warna biru.


Bu Seruni menyodorkan map itu dan ku terima dengan ragu.


"pelajarilah ! selanjutnya semua tergantung padamu "ucap Bu Seruni


"ini permintaan atau perintah ?"sengapku


"boleh kau artikan apapun"


"bagimu aku dan Anggita mungkin bukan keluargamu tapi ingatlah di dalam Rasyid ada Kakek,Ayah dan Qania tantemu"


Aku hanya tertegun menatap kepergian Bu Seruni dengan map masih di tanganku.aku kembali duduk di kursi meja makan dan membuka map itu.


Mataku terbelalak melihat bukti rekapan keuangan perusahaan Rasyid,brengsrk benar si Salman dia tak main main ingin menghancurkan keluargaku.


_\=_\=_\=_\=_


Aku duduk menyesap jus yang aku pesan 30 menit yang lalu.tapi yang aku tunggu belum juga muncul.aku hampir kehilangan kesabaranku sampai ku lihat Demas memasuki restoran.dia duduk di hadapanku dengan wajah datarnya.ku taruh tanganku yang memakai jam tangan yang selama ini kusimpan diatas meja.


Demas terdiam


"aku sudah pesan minuman kesukaanmu"


"terima kasih"


"sebelum kecelakaanmu kemarin.mama Celine mengundangku ke rumah"ucapku memulai cerita


Demas menatapku nanar


"yah,rumah keluarga besar Frans Huang yang tak pernah kau ceritakan padaku"


"sambil menunggu mama aku melihat foto masa kecilmu,hingga aku menemukan fotomu memakai. jam ini"tunjukku


"kamu tau ? betapa berartinya jam ini bagiku ?" tanyaku serak


"jam ini adalah jam milik orang yang menabrak sekaligus menyelamatkanku saat aku kecelakaan"


"setelah sadar dari koma aku terus mencari pemilik dari jam ini.aku ingin berterima kasih karna telah menyelamatkanku."


"heh ! ironis bukan ? pemilik jam tangan ini ternyata ada di dekatku,selalu bersamaku.tapi entah apa yang dia pikirkan dia hanya menyimpannya untuk dirinya sendiri"


"karna aku rasa terlambat kau sudah bertunangan"sambung Demas


"dia tak sadar karna sifatnya yang suka menyimpan segalanya sendiri itu menimbulkan banyak kesalahpahaman" ucapku getir


"andai dia mau terbuka dari awal"


"dengan lancang aku membaca diarymu,coretan tanganmu,puisi puisimu dan aku hancur jika kau tersakiti dengan hubunganku dan Kail"ucapku parau


kudongakkan wajahku agar air mataku tak terjatuh "lagi lagi kau simpan semua sendiri tanpa mau berbagi"sambungku


"di rumahmu aku menangis sejadi jadinya sadar telah menyakitimu.aku minta kita untuk bertemu"


Aku menghela napas panjang,kurasakan Demas meremas jematiku.


"ditengah jalan.Kail mengirim pesan meminta bertemu,aku pikir aku bisa mengajakmu srkalian agar tak timbul fitnah.tapi waktu membalikkan semua.karna kesalahpahaman kau membenciku"


"lagi kau menyimpan lukamu sendiri tanpa mau bertanya alasanku"


"haruskah semua hal aku yang mulai ? haruskah setiap kesalahpahaman aku yang menyelesaikan sendiri ?"tanyaku yang tak dapat lagi ku bendung airmataku


"Demas Fabian,aku mencintai orang yang jauh terlebih dahulu mencintaiku bahkan sebelum aku mengenalnya"tangisku


Serta merta Denas berlutut di depan tempatku duduk dan memelukku erat,dia menciumi setiap jengkal wajahku bertubi tubi.


"jangan bicara lagi Sayang ,aku tak sanggup mendengarnya"tangis Demas pecah


"kau tak tau sakitku karna membencimu"


"aku hanya ingin kau bahagia,saat melihatmu berpelukan dengan Kail,akupun hancur,aku berpikir apa kau tak bahagia bersamaku"


"hingga aku berpikir bila melepasmu membuatmu bahagia maka aku ikhlas"


"Demas bodoh,bahagiaku ada padamu" kataku seraya kutepuk kedua pipinya lembut


"I love you Sayang"


Demas kembali memelukku


"I love you more"bisikku


"Sayang dengar !"ucapku beberapa saat berikutnya


Demas menarik kursinya agar bisa berdekatan denganku.Demas terus menggenggam tanganku dan sesekali mengecupnya lembut.


"iya Sayang,apa ?"


"hari ini aku akan pamit"kataku


"apa maksudmu ? Sayang mau kemana ?" tanya Demas bingung


"aku akan pergi menyelesaikan urusan yang menjadi kewajibanku"terangku


"Sayang akan kembali ke Jogja ?"tanya Demas


Aku mengangguk


"aku ikut"putus Demas


"Sayang,ini tidak untuk satu arau dua hari aku juga tidak bisa menjanjikan kapan ini akan kelar"


"nanti bagaimana perusahaanmu ?"


"kamu jahat Sayang,kamu melambungkanku lalu menjatuhkanku kau bilang cinta padaku lalu meninggalkanku"protesnya


Ku kecup bibir Demas untuk membuatnya diam,kuletakkan telunjukku di bibirnya "sssssttttt...."


"aku tidak meninggalkanmu Sayang,hatiku ini hanya untukmu seorang dan aku akan terus menjaganya selama aku jauh darimu" janjiku


"Sayang kemarin saja aku terpisah darimu aku tersiksa setengah matiapalagi ini dalam waktu yang lama.,"keluhnya


"Sayang,berjanjilah padaku,selama aku pergi pantaskan dirimu buktiksn kalau Sayang pantas untuk aku perjuangkan"bujukku


"aku janji"


Demas memelukku,kemudian dia menatapku dengan wajah penuh airmata,Demas memagut bibirku lama sekali.sungguh ku transfer semua kerinduanku selama ini dalam ciuman kami yang sangat dalam.


______