Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 48 Demas Yang Manja



Pieter dan Helena sudah kembali ke rumah sakit sambil membawa mskanan untukku.


dia juga menceritakan perkembangan terbaru perihal Joe dan teman temannya tadi.


"Salman lagi"geram Demas


"tahan emosimu,nanti jahitanmu terbuka" cegahku


"Demaas,jangan sentuh dia kumohon !" bujukku


"tidak Freeya,dia hampir mencelakaimu"ujar Demas


"aku kasian tante Qania,dia sangat mencintai suaminya itu,"jelasku


"kenapa cinta membuat orang jadi bodoh" gerutu Demas


Pieter tersenyum "bukankah kamu juga seperti itu ?"tuding Pieter


Demas memicing menatap Pieter yang malah terkekeh.dengan kesal Demas melempari Pieter dengan bantal.


"aku bodoh darimananya coba ?"semprot Demas


"bagaimana tidak ? kau tinggalkan tender ratusan milyar bahkan rela tertusuk demi Freeya"tegas Pieter


"apa kau tidak akan melakukan hal yang sama jika itu menimpa Helena"tukas Demas


Balasan Demas ini langsung membuat Pieter bungkam.dasar pria hobi debat pula rupanya.


Aku hanya diam duduk mengawasi saja.


***


"Freeyaaaa.....!"panggil Demas


"ada apa ? mana yang sakit ?"tanyaku gugup


Aku yang semula duduk di sofa segera menghampirinya diatas ranjang.tangannya menunjuk ke perutnya yang di jahit.


"aku panggil dokter ya"kataku lembut


"jangan,duduklah di dekatku ! pijit " rengeknya


Aku menatapnya penuh tanda tanya,ini batu mendadak kayak bocah pengen nyusu emaknya.ngrengek manis manja.


Aku tak menjawab apa apa mulai ku pijit tangannya.Demas mdnarikku yang semula berdiri hinggs terduduk di sebelahnya.


"I love you "bisiknya


Aku diam terus memijat tangannya,Demas yang semula rebahan bersandar bantal kini duduk begitu dekat denganku.


"saat aku tertidur tdi,ada orang yang berbisik di telingaku"cerita Demas


"berbisik apa ?"


"I Love You"lirihnya


Aku tersentak apa Demas tadi mendengarnya ? ah entahlah aku pura pura tidak tau aja.


"ah masa ? orang yang dibawah pengaruh obat bius bisa mendengar suara ?"tanyaku


"aku mendengarnya Freeya dan aku yakin itu suaramu"katanya


"ah kamu bercanda,salah dengar kali"kilahku


"aku dengar jelas sekali itu suaramu,Freeya"


Kulepas pijitanku,aku mulai gelisah bagaimana aku bisa meyakinkan Demas kalau dia salah.Ah,aku bukan orang yang terbiasa berbohong.raut wajahku ini sudah tentu akan menggambarkan segalanya.


"itu pasti suara Helena"ucapku sesaat berikutnya


"Helena ?"


"hem,oh ya mamamu juga menungguimu saat kau belum sadar.mungkin dia juga bisa kan ?"


Aku terus saja berputar untuk beralasan.aku terdiam demi melihat wajah Demas yang mendadak murung.


,"mama"


"aku sudah mengabari beliau,besok pagi beliau pasti kemari"hiburku


"aku mau check out besok pagi"ujarnya


"tapi kamu kan masih sakit"tolakku


"kau dengar aku Freeya ?"tukasnya dengan tatapan yang sangat tajam


"baik"aku merendah


"sekarang kau tidurlah"kataku lembut


Aku bangkit hendak kembali ke sofa,tapi lagi lagi dia menarikku dalam pelukannya.aku membeku tiap kali dalam posisi seperti ini aku selalu kesulitan menempatkan diriku.


"bagaimana aku jika tidak ada kamu Freeya ?"ujarnya dengan suara serak


"kau lihat,keluargaku bahkan tak peduli" imbuhnya


Kuelus punggungnya lembut zemakin kubenamkan kepalanya di dadaku,kucium pucuk kepalanya.ini adalah hal sensitif yang selalu membuat Demas terpuruk.kasih sayang keluarga.


"mama Celine sangat menyayangimu kau harus tau itu"hiburku


"sayang ? sudah tau aku siuman dia juga tidak kemari"


"beliau besok datang"


"jangan bahas dia lagi"potong Demas


Kubiarkan Demas tertidur dalam pelukanku, aku masih termenung.aku tak punya ibu tapi ayah dan kakek sangat menyayangiku.aku tak pernah merasa hampa seperti yang di rasakan Demas.terbit rasa iba di hati ini.


***


Pagi ini kuselesaikan administrasi rumah sakit dan boking tiket untuk penerbangan jam 10 nanti.aku hubungi Haris agar menjemput kami nanti.setelah selesai Pieter dan Helena membawa kami ke rumah mereka.


Maklum budaya barat,meski baru bertunangan namun mereka sudah tinggal satu atap.Aku memapah Demas memasuki mansion mewah berlantai empat itu.


"kawan,benar kamu mau pulang hari ini ? kamu masih sakit"kata Pieter setelah kami duduk


"aku bisa rawat jalan nanti"kata Demas


"maafkan kami,bukannya memberi kalian kenyamanan.kalian malah hampir celaka" sesal Pieter


Demas meremas tanganku "ini bukan salahmu,kami tidak menyesal datang kemari kalian tuan rumah yan luar biasa"tutur Demas


Pieter dan Helena saling pandang kemudian tersenyum.


"ayo kita makan,Helena sudah siapkan sarapan untuk kalian"ajak Pieter


Di atas meja makan sudah berjajar menu khas Indonesia.Aku segera duduk dan mengambil nasi dan sayur.Aku ingat Demas tidak suka makan roti.dia hobi telur.


"hei darling,I know your favourite food too"


kata Helena tak kalah


Aku dan Demas tersenyum bersamaan,rekan kerja Demas ini sudah seperti saudara saja.


pasangan ini begitu zaling mendukung.sama seperti aku dan Kail dulu.


Pesawat yang membawa kami kembali ke Jakarta telah mendarat di bandara Soekarno Hatta.baru saja check out kami langsung diserbu oleh wartawan yang entah dapat darimana informasi kepulangan kami.


"Presdir,kapan kalian meresmikan hubungan kalian ?"


"apa penjelasan anda mengenai ciuman kalian di Paris kemarin ?"


"tolong beri kami penjelasan perihal peristiwa penusukan yang anda alami"


itulah serentetan pertanyaan yang di sodorkan oleh wartawan julid itu.namun sama sekali tak menjawab.


Demi apa ? meski dalam keadaan terluka Demas tetap melindungiku dengan tubuhnys yang kekar.dia terus merangkulku menyongsong kerumunan wartawan.dia sama sekali tak membiarkan wartawan itu menyentuhku.


Saat kami keluar dari lobi bandara,terlihat Haris datang tergopoh gopoh sepertinya dia terlambat,secara ini baru jam 4 subuh.Haris segera membukakan pintu mobil untuk kami dan melaju.


"maaf Presdir saya termsmbat"


"tidak papa"jawab Demas datar


"kenapa lagi dengan para wartawan itu ?" tanya Demas sejurus berikutnya


Haris tak berucap apa apa dia hanya menyalakan tv kecil disamping kemudi yang dia hubungkan dengan ponselnya.mataku terbelalak saat terpampang foto ciumnku dengan Demas saat di kejar preman kemarin.sudah pergi sejauh itu si kuli tinta julid itu tetap menemukan bahan gosip untuk mensikkan rating berita online mereka,Siallll !!!!


"blokir saja,sebelum lebih meluas" titah Demas


"lagi ? ini bahkan lebih dari meluas"


"saya merasa kalian serius"


"aku serius kalo Freeya tak serius aku bisa apa"keluh Demas


Aku hanya diam


Demas merebahkan kepalanya di pangkuuanku.namun lsgi lagi mataku di buat terkejut oleh darah yang membekas di kemeja putih Demas tepat di bagian perut yang baru dijahit.


"jahitanmu terbuka"seruku panik


"tidak apa apa Freeya"


Ku singkap kemeja itu,benar perban jahitan itu penuh dengan darah.kusentuh luka itu dengan tangan bergetar.


"sakit ?"tanyaku


Demas tidak menjawab,dia memegangi tanganku ditarik kemudian dikecupnya lama.


kuelus lembut kepalanya.


"kita ke rumah sakit Ris"pintaku


"baik"


"tidak perlu Freeya"


segera kutempelkan jari telunjukku ke bibirnya "sssssstttttttt"


Tiba di rumah sakit Demas langsung di tangani.lagi lagi sifat manja Demas kambuh.dia tidak mau di tinggal.padahal sebenarnya aku malu melihatnya bertelanjang dada seperti ini.namun Demas benar benar tak mau melepas tanganku.


Aku terpaksa memejamkan mata saat dokter mulai menjahit lukanya.


"mbak,tolong di perhatikan Masnya jangan ijinkan banyak bergerak dulu"pesan sang dokter


"baik dok"sahutku


"kami boleh pulang,dok ?"tanya Demas


"Mas Demas tidak istirahat disini saja ?"tanya sang dokter


"saya mau istirahat saja,sudah ada Freeya yang merawat saya "


Aku hanya mendengus kasar,yah mau bagaimana lagi dia begini karna menolongku. Haris membantuku memapah Demas kembali ke mobil.


"Haris,urus kantor dulu,besok baru aku periksa semua"


"baik Presdir, saya tinggal dulu"pamit Haris


"Freeya,tolong jaga Presdir hari ini"pesan Haris seraya menepuk bahuku


"siap,jangan lupa kirim berkasku ke e-mail"


"oke"


Ku bantu Demas berganti pakaian,Sh aku selalu terhipnotis oleh dada bidang nan kekar Demas.sampai sampai aku salah mengancingkan kemejanya jadi tinggi rendah. haduh bener bener gagal fokus.kuangkat kepalaku ah Aku merasa begitu kecil di hadapannya,aku ini masih tidak ada sebahunya.


Demas menatapku sendu,dengan segera aku kembali tertunduk.namun Demas keburu mengangkat daguku.di dekatkannya wajahnya ke wajahku kepalanya kian menunduk sampai hidung kami saling beradu.jantungku berpacu begitu cepat.ku angkat kedua tanganku hinggs ke depan dada untuk menahan tubuhnys yang kian menemprl padaku.


Ketika bibirnya hampir menempel di bibirku aku segera melengos dan balik badan.Demas ganti merengkuh pinggangku dari belaksng.


Dia mulai menciumi leherku dengan amat lembut.serasa pori di setiap jengkal leherku ini terbuka dan mentransfer rasa yang begitu indah.


"kau tau,sikuku ini tepat di perutmu kalo umpamanya kamu nggak mau menghentikan kegiatan gilamu"ancamku dengan gigi bergemerutuk


"i want you"bisik Demas lembut


"jangan gila"desisku


Aku berusaha melepas tangan Demas di perutku namun sia sia,tak ada cara lain selain menginjak kakinya.


"aaaaaahhhh,"pekiknya


"sorry ya,makanya jangan bandel"tawaku


"dasar Freeya"


Seharian ini benar benar ku habiskan waktuku bersama Demas.menikmati segal kemanjaannya.menemaninya main game dan membuatkannya makan siang.


"Freeya suapi"rengek Demas sambil menggerak gerakkan tangan kanannya yang diperban


"pakai tangan kiri kan bisa"


"kan tidak sopan,Freeya"


"iya iyaaaaaaa"solotku sebal


Demas tersenyum menerima suapan pertamaku,entah kenapa aku merasa begitu damai saat bersama batu mesum ini.


****