Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 44 Visa untuk Freeya



Ku rapikan beberapa furniture yang ku rasa mengganggu pandangan.ku bukai tirai jendela ruang keluarga yang tepat menghadap ke arah taman.kunyalakan lampu yang bertengger di meja kecil dekat sofa.


kurogoh celana olahragaku.ah sial !!! sepertinya ponselku tertinggal di kamar.aku segera berlari naik dengan lift.sesampainya di kamar kebetulan sekali ponselku bernyanyi.


"Freeya"kataku sambil tersenyum


"Freeya Sayang ada apa ?"godaku


"apa yang kamu lakukan di seberang sana ?" serunya memekakan telingaku


Aku sedikit celingukan,aku keluar kamar menuju balkon.tampak di seberang kamarku tempat aku berdiri saat ini,Freeya juga sedang berdiri sambil berkacak pinggang dengan wajah bersungut sungut.


"kau sengaja ya ? kapan kau berhenti menggangguku hsh?"semprotnya


Aku suka ekspresi marah Freeya,karna saat marah wajah putih mulus itu akan langsung memerah dan mata khas turkinya itu akan membulat seolah hendak loncat keluar. terlebih ujung hidungnya akan berkedut dan itu sangat menggemaskan.


"apanya yang mengganggu ? aku dirumahku dan kamu di rumahmu" selorohku


"diam kau ! tutup mulutmu ! jangan katakan ini juga rumahmu dan kau sengaja menjebakku" tudingnya geram


"tak bisakah kau berpikir positif tentangku sekali saja"ujarku yang masih terus menatapnya


"positif apa hah ? kau selalu menggunakan kekuasaanmu untuk mengancam dan menindasku" solotnya


"Freeya,aku serba salah sama kamu" keluhku


"aku hanya bermaksud memudahkanmu" tuturku


"memudahkanmu untuk mengerjaiku" geramnya


Freeya terlihat masuk kamar dan mencoba menutup tirai dengan paksa.aku terkekeh melihat tingkah konyolnya.


"Freeya Sayang itu tirai elektrik jangan main tarik saja"tawaku


"bodo amat!"semburnya


nut nut nut


Freeya memutus sambungan teleponnya.aku masih berdiri memandangi Freeya yang mondar mandir kesana kemari.Freeya aku suka semua yang kamu lakukan.aku suka semua yang kamu ucapkan.marah,cemberut asal jangan nangis.


Aku terbelalak saat aku melihat Freeya menyeret sebuah koper besar.dia mau kemana malam malam begini ? secepat kilat aku berlari menghampirinya.


"Freeya kau mau kemana ?" tanyaku dengan napas ngos ngosan


"pindah"ketusnya


"pindah ? kau ingat perjanjian sewanya ? kurang dari setahun kau tidak betah.uang tidak kembali" ucapku mencoba menyegarkan ingatannya


"kauuuuuu.....hhhheeerrrkkkhhh"geramnya


"coba pikir,untuk menyewa rumah ini kau harus menguras tabunganmu" sindirku


"dasar psikopat"makinya


Freeya kembali melangkah ke dalam rumahnya dengan kesal.sementara aku kembali dengan senyum kemenangan.Freeya kau tidak akan pernah bisa jauh dariku.


***


"Presdir,ini visa untuk Freeya sudah siap"


Haris menyodorkan amplop coklat kearahku dan kembali berdiri di dekat meja.dia sesekali terlihat mencuri pandang kearah ruangan Freeya.


"Presdir tidak berniat merenovasi sekat ini ?"tanya Haris hati hati


kuraih amplop itu dan ku buka.sudah satu bulan ini aku minta Haris untuk mengurusnya sekarang aku ganti menatapnya.


"kenapa aku harus menurutinya ? kemarin malam dia juga teriak teriak saat tau aku tinggal di sebelahnya"ceritaku


Haris tersenyum samar "orang yang menyukai itu pinginnya menyenangkan bukan menyusahkan oranv yang disukai" tutur Haris seraya tertunduk


"kau merasa aku menyusahkan dia ?" tanyaku


"saya tidak bermaksud begitu Presdir"


"Haris,terus teranglah.selama ini aku sudah melakukan semua saranmu.bersikap romantis memberinya kejutan mengungkapkan perasaanku,dia masih biasa saja,"ucapku


"jangan batasi ruang geraknya dengan terus mendekatinya,kenapa tidak coba tarik ulur dia"saran Haris


"tarik ulur ? maksudnya ?"


"Presdir ingat waktu kecelakaan mobil itu dia benar benar mengekspresikan perasaannya.tapi saat Presdir mengutarakan perasaan anda,kembali mengejar dia,dia menjauh"terang Haris panjang kali lebar


"buat seolah Presdir tak butuh dia,biar ganti dia yang mengejar Presdir"imbuhnya


"begitukah ?"sahutku


Kuraup wajahku seraya kugaruk garuk rambutku sebal.mana bisa aku jauh dari Freeya,aku sengaja ambil rumah di sebelah Freeya agar aku bisa selalu dekat dengannya setiap hari.


"bagaimana bisa aku bersikap seolah aku tak butuh dia,Ris ? aku sangat membutuhkan dia" kataku dengan dada bergetar


"sudah,sekarang sedang bersama tim marketing dan Freeya juga" jawab Haris


Gerrald Aldiano sepupuku itu memang bisa di andalkan.sejak Freeya masuk perusahaan ini.


dialah yang aku tunjuk untuk perjalanan bisnis ke luar negeri.agar aku bisa bersama Freeya,lagipula Gerrald hobi melancong jadi itu malah kesempatan baginya bisa bekerja sekaligus berlibur.


tapi untuk perjalanan bisnis kali ini tidak bisa di wakilkan karena Tuan Pieter khusus mengundang aku dan Freeya ke Paris untuk Cara pertunangannya sekaligus teken kontrak kerja sama kami berikutnya.


"woy....whats up men !"seru Gerrald mengagetkanku


"shiiittt !!!"makiku


"nglamunin apa men ?"tanya Gerrald yang langsung duduk di mejaku


"tidak"


sebelum Gerrald menyadarinya segera kututup tirai pembatas ruanganku dan Freeya.


"lusa aku mau ke Paris,kamu handle perusahaan "ujarku


"siap bos"kelakarnya


"Paris surganya cewek cantik men,kemarin aku dapat satu,lihat ini"ucap Gerrald seraya menyodorkan ponselnya


Aku tersenyum kecut menatap foto seorang wanita cantik yang tak asing bagiku Andara Ghea Wirahadi mantan modelku yang aku kirim ke Paris karna aku sudah tak membutuhkannya.


"kau kenal dia men ?"tanya Gerrald penasaran


"aku tanya,kau serius dengannya ?" selidikku


"cewek seperti itu cuma asyik diajak bersenang senang bukan untuk di ajak serius"jawab Gerrald seraya pindah ke sofa


"thats right"timpalku


"Andara Ghea Wirahadi hanyalah objek penghangat ranjang semata" tutur Gerrald


Aku mengernyitkan dahi menatap Gerrald yang tengah memainkan ponselnya di sofa.aku tidak mungkin cerita kalau mantan modelku itu juga pernah menjadi penghangat ranjangku.


"bagiku Freeya yang paling cantik dan sepertinya dia beda"kata Gerrald


"tapi tenang men,aku nggak akan bersaing dengan saudara sendiri" ucap Gerrald santai


Aku sedikit terbelalak saat dia kembali menyodorkan ponselnya yang menampilkan foto ciumanku dengan Freeya pas di puncak kemarin dulu.bagaimana dia bisa mendapatkan foto itu ? padahal semua berita online sudah aku blokir.


"aku ambil sebelum di blokir" kata Gerrald seolah tau pikiranku


"dasar kau"


"Freeya merespon ?"


Aku menggeleng lemah


"fighting "ucapnya seraya keluar dari ruanganku


***


Kusodorkan amplop coklat berisi visa dan tiket pulang pergi ke Paris kepada Freeya. dan Freeya hanya menanggapinya dengan canggung.perlahan dia membuka isi amplop itu.


"visa dan tiket ?"ucapnya bernada bertanya


"lusa kita akan pergi ke Paris" jawsbku


"untuk ?"


"Tuan Pieter akan bertunangan dan dia mengundang kita secara khusus.ingat bukan kau dulu sempat bilang kalau kita bertunangan"


"hem"


"sebenarnya aku mau kita naik pesawat pribadi tapi sudah keburu di belikan tiket"


"tak masalah"


"apa tender lokal sudah kelar ?" tanyaku


"tinggal yang di Jambi,Presdir" jawab Freeya


"biar diselesaikan Gerrald nanti"


"kalau tidak ada hal lain saya permisi,Presdir"pamitnya


Aku hanya mengangguk


Dua hari ini kutenggelamkan diriku dengan kesibukan kerja hingga aku sama sekali tak ada waktu untuk bertemu Freeya.malam karna kelelahan aku akan langsung tertidur.tanpa sengaja aku menjalankan usulan Haris untuk tarik ulur Freeya.


***