Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 22 Kembalinya Sang Pembangkang



Pesawat membawaku kembali ke tanah kelahiranku Yogyakarta.


setelah hampir 4 tahun aku tinggalkan demi menuruti egoku yang menggunung.Jakarta-Yogya tidaklah memerlukan waktu terbang yang lama.ku terawang pemandangan angkasa raya dari balik jendela pesawat.


Ku lirik malas di sebelah kursiku tampak seorang yang dari pakaian yang melekat ditubuhnya seperti nya lelaki yang tertidur menutupi wajahnya dengan koran.sudah begitu mendengkur lagi yang membuatku tidak nyaman.aku kembali memandang keluar.


"ayah tunggu aku sebentar lagi"


batinku


Bandar udara internasional Adisutjipto nampak ramai padat oleh penumpang yang sebagian besar bule.ku putar mata indahku mencari orang suruhan Om Salman yang diperintahkan untuk menjemputku.


Aku berdiri di lobi saat sebuah mobil menghampiriku.deorang pria berseragam biru tergopoh - gopoh mendekatiku.


"Mbak Freya,saya utusan Pak Salman untuk menjemput anda"


dengan sedikit membungkuk pria itu membuka pintu mobil untukku


"terima kasih"


mobil melaju keluar bandara.aku nyalakan ponselku ada beberapa pesan WA masuk.dari Kail dan Arsyila.


My Beiby :


besok aku susul Sayang


aku read saja tak ku balas.aku menatap jalanan kota yogya yang sudah lama kutinggalkan.ku read pesan dari Arsyila.


Bebeb Syila :


udah nyampe bebz ?


Aku :


udah


"kita pulang ke rumah dulu atau langsung ke rumah sakit Mbak ?" tanya pak supir


Aku sedikit terkesiap karena dari tadi aku fokus dengan ponselku "ke rumah sakit langsung Pak" sahutku


Sepertinya pak supir ini baru bekerja dengan Om Salman makanya dia bertanya begitu.


"Saya baru tau kalau Pak Haidar punya satu lagi putri.baru selesain Masternya di luar negeri ya Mbak?"


Aku diam tak menggubris ocehan supir bawel ini.terus saja aku memandang keluar jendela dengan bersedekap.


"Mbak Freya bahkan jauh lebih cantik dari Mbak Anggit"ucapnya dengan logat jawa yang medhok


Anggit ? tiba-tiba perutku terasa mual mendengar nama anak tiri ayahku itu disebut.anak dan ibu itu adalah salah satu alasan aku hengkang dari keluarga besar Rasyid.


Mobil memasuki pelataran rumah sakit.aku turun di depan lobi "ayahku di rawat di kamar no berapa?"tanyaku sebelum keluar


"VVIP FLAMBOYAN NO 25"


"Terima kasih"


"cantik cantik kok sombong" gerutu pak supir yang masih bisa ku dengar


Tak ku pedulikan si supir bawel itu.aku terus melenggang masuk melewati ruang informasi.koridor koridor kamar rawat inap.taman.apotik sampai akhirnya aku temukan tulisan R.FLAMBOYAN di plat kayu yang menempel di pilar kayu.


Aku urut satu persatu kamar no 12 sampai nomor....aku berhenti saat ku lihat seorang lelaki berambut coklat tepat menatap ke arahku.


Yah dialah Imran Rasyid kakekku mata hijau kecoklatannya nampak berkilat berkaca-kaca.tubuh tua itu merangsek mendekatiku.sama dengan aku yang perlahan menghampirinya.


kupeluk sosok yang selama ini hanya ada dalam angan.


"Freya cucuku"desisnya dengan bibir bergetar


"kakek"tangisku


Kakek mengecup rambutku lembut.aku terguguk di dadanya


aku sangat merindukan pelukan hangat ini.aku dekap tubuh renta ini erat-erat.


"begitu bencikah cucuku ini kepada keluarganya hingga sekali pergi enggan untuk menoleh kembali"keluhnya


"maaf kakek"


"ayo kita jenguk ayahmu!" ajaknya


Kakek membuka pintu kamar no 25.terpampang suasana pilu di hadapanku.ayahku Haidar Rasyid yang beberapa tahun lalu masih begitu lantang mengajakku berdebat.kini tergolek tak berdaya dengan tubuh yang begitu kurus.


"sekali kau langkahkan kakimu keluar pintu rumah keluarga Rasyid.percayalah kau bukanlah Rasyid lagi"teriaknya yang menggema di seluruh ruang kerja


"Freya Aqila Hasbie Rasyid kau dengar aku"


"Kau tak akan bisa hidup di luar sana tanpa uang Rasyid"bentaknya dengan suara lantang


Kalimat ancaman ayahku itu kembali menggema di kepalaku.


ku dekati tubuh lemah itu.tak ku pedulikan Om dan Tanteku yang menatapku sinis.


kenapa airmata ini seperti tertahan tak mau keluar.ku usap lembut wajah ayahku perlahan mata sayu itu mulai terbuka.dia tersenyum lemah.


"akhirnya kau pulang Freya" ucapnya tersendat


"bagaimana perasaanmu ?"


"aku senang kau kembali Sayang"ucapnya getir


"jangan bicara lagi,pikirkan kesembuhanmu"ucapku seraya menggenggam tangannya


"aku akan sembuh karena putriku sudah pulang"lirihnya


"cepatlah sembuh"


"aku mau makan Sayang"


"biar aku mintakan suster Mas"ucap tante Qania bergegas


"bantu aku duduk Sayang"


"okay,berpegang bahuku ya"


lagi-lagi ayah menatapku sendu.


aku usap-usap punggung tangannya sambil sesekali ku cium.


"apa kalau ayah tidak sakit kau akan pulang?"


"ayah jangan bahas itu lagi.aku hanya mau ayah sembuh"


"agar kau bisa pergi lagi?" selanya


"ayah sudahlah!"tukasku


Tante Qania datang membawa senampan makanan.aku suapi ayah yang dulunya adalah idolaku itu dengan sabar.terlihatt ayah begitu bersemangat.sesekali dia tersenyum lebar membuat airmata ini meleleh.


"kau tak tau betapa sulitnya hari-hari yang ayah lalui tanpa kamu,Sayang"


Ayah menghela naoas sebelum melanjutkan kata-katanya "karena sakit hati oleh sifat keras ayah.kau pergi dan tak mau kembali" sambat ayah


aku hanya bisa membatin dalam hati "bagaimana aku bisa kembali kalau dia masih di rumah,ayah"


"ayah,aku ke toilet dulu" pamitku


Saat keluar dari toilet Om Salman sudah menunggu dengan wajah dinginnya.sungguh aku malas sekali berada diantara manusia-manusia bermuka dua ini.


"akhirnya kau kembali gadis nakal"seringainya


"kau apakan ayahku sampai anfal seperti itu ? ini pasti ulah Om kan ?"dampratku


"kau masih sok tau seperti dulu, tidak berubah"sinisnya


"aku akan membunuhmu kalau sampai terjadi sesuatu dengan ayahku"ancamku geram


"aauuww...aku takut!"cibirnya


Om Salman mencengkeram daguku berusaha untuk menciumku namun aku segera berontak.ku injak kakinya dengan heels dan dengan sekuat tenaga ku sodok kelelakiannya dengan lutut.


dia mengaduh memegangi bagian itu.


"damn"makiku


"kau masih sama jal*ngnya seperti dulu manis.aku makin tertarik"seringainya


"ciihhh"dengusku


"kau menjijikkan.bagaimana bisa tanteku memilih pria biadab sepertimu"umpatku


"tak usah sok suci,kalau dari dulu kau menurut padaku.tentu kau tak harus terlunta-lunta seperti ini"ucapnya yang kembali mendekatiku


"jangan coba mendekatiku bed**ah"pekikku


"sikap liarmu sungguh mempesona cantik"ujarnya dengan senyum licik


kembali ku sodok dadanya dan bergegas ku tinggalkan tempat itu.tiba di kamar ayah sudah tertidur.tante Qania dan kakek terlihat duduk di sofa.


gara-gara bde**h itu hubunganku dengan tante memang tidak terlalu baik.itu karena dia lebih percaya bualan manis suami pshyko-nya dari pada aku yang keponakannya sendiri.


"Sayang,duduklah dekat kakek"


"tidak kakek,ada yang alergi denganku"sinisku yang masih berdiri di dekat ranjang


"kapan perselisihan kalian selesai?"tegur kakek


"nanti kalau dia tidak bodoh lagi"sahutku seraya kulirik tante Qania


"aku masih menghargai Masku kali ini.aku anggap aku tidak mendengarnya tadi"tukas tante Qania


aku mendengus sebal"masih sama bodohnya"


"kek,aku mau keluar cari penginapan!"pamitku


"Sayang tidak pulang ke rumah?"tanya kakek


"rumah yang mana?rumah yang masih ada wanita itu kan?lupakan saja"ucapku sambil lalu


Perjalanan keluar tak sengaja aku berpapasan dengan Seruni istri ayahku.kami saling bersitatap tapi segera ku buang pandang.


sejak menjadi istri ayahku tak sekalipun aku bicara padanya.bahkan sampai saat aku hengkang dari rumah.bagiku dia adalah duri.


Aku mencari hotel yang paling dekat dengan rumah sakit.aku membeli beberapa potong pakaian sebelum aku ke hotel.


"selamat malam"sapa sang resepsionis


"saya mau reservasi kamar"


"untuk berapa orang?"


"satu orang untuk 2 hari"


"tinggal Suit room"


"boleh tunjukan ID Cardnya"


Kurogoh KTP di dalam tasku kemudian kusodorkan padanya.resepsionis itu tampak berkutat dengan komputernya sesaat kemudian dia menyodorkan kembali KTPku.


"seseorang telah reservasi kamar atas nama anda.bahkan sudah di bayar untuk 2 minggu ke depan"


resepsionis itu menyodorkan kunci kamar kepadaku.aku masih saja bengong seperti orang linglung.


"ini kunci kamar anda"


"bapak Mikail Machalister" jawabnya manis


"terima kasih"seruku


Aku mengikuti roomboy yang akan mengantarku ke kamar.aku berjalan sambil terus berpikir kekasihku ini bagaimana dia bisa tau aku akan menginap disini ?


roomboy membuka pintu kamarku dan mempersilahkan aku masuk.ku tarik 2 lembar uang seratusan dari dompetku dan ku berikan padanya.roomboy itu tampak melongo.


"ini terlalu banyak,Mbak" ujarnya


"terima saja Mase"ucapku


"terima kasih"


setelah room boy itu pergi aku langsung melompat ke tempat tidur.kuraih ponselku baru saja akan ku hubungi Kail.ponselku duluan berdering.umur panjang "My Beiby" yang memanggil


"hallo Sayang"sapaku renyah


"bagaimana keadaan ayah?" tanya Kail


dengar pertanyaan itu aku jadi ingat Arsyila.dasar tuh orang gak ada akhlaqnya sudah bohongin aku.kasih foto ayah seolah kritis padahal tidak separah itu.awas saja nanti kalau aku pulang.


"Sayang,are you there ?"tanya Kail membuyarkan lamunanku


"em...ayah mendingan kok.tadi langsung minta makan"ceritaku


"syukurlah"


"Sayang"panggilku


"iya Sayang"


"Sayang kok tau aku menginap di hotel dekat rumah sakit?"tanya ku penasaran


"aku tanya Syila,ayah dirawat dirumah sakit mana?lalu aku prediksi Sayang tidak akan tidur di rumah sakit.apalagi di rumah ayah.lalu aku googling hotel terdekat dengan rumah sakit.lalu ketemu aku reservasi deh" cerita Kail panjang lebar


aku tertawa kecil kekasihku ini sudah seperti emak-emak rempong yang super cerewet.


"bagaimana aku tidak jadi manja kalau diperlakukan seperti ini" ucapku


"aku hanya memastikan kekasihku tidak kekurangan apapun.apalagi mengalami kesulitan"


"uuuuhhh lope yu pul"manjaku


"terlebih aku,Sayang"


"sebenarnya aku ingin menyusul malam ini juga tapi tidak ada penerbangan ke yogya untuk malam ini.terpaksa besok pagi baru bisa terbang"sesalnya


"eeuumm . keburu banget?masa udah kangen lagi?"godaku


"bangeeeetttttt"


"Kakek,tante,Om dan semua menyambutmu dengan baik kan?" tanya Kail


"aku tak peduli yang lain.aku hanya fokus ayah dan kakek"sahutku malas


"tante Qania masih menyimpan dendam padamu?"


"itu karena dia masih bodoh seperti dulu"


"sebenarnya besok itu kesempatan baik untuk minta restu ayah.tapi apa pantas ayah sedang sakit begini?"


"tunggu waktu yang tepat Sayang"


"baiklah"


Aku menguap beberapa kali "Sayang aku ngantuk sekali" keluhku


"tidurlah Sayang"


"terima kasih untuk semuanya Sayang,sweet dreaam yah"


"emmmuuuaaacchhh"cium Kail lewat udara


Aku hanya tersenyum kecil dan ku matikan ponselku.bagaimana bisa aku menyakiti hati selembut ini ? hati yang hanya terisi olehku yang seluruh pikirannya hanya untuk memikirkan kebaikanku.


***


Kail menggenggam tanganku saat memasuki kamar rawat ayah.


di dalam hanya ada kakek yang duduk menunggui syah.wajah ayah dan kakek menampakkan keterkejutan saat melihat aku masuk bersama Kail.aku berjalan meletakkan keranjang buah di meja dekat ranjang ayah sementara Kail menyalami ayah dan juga kakek.


"ayah,kakek perkenalkan dia Mikail Machalister"ucapku


"Jerman kah?"tanya kakek


Kail tersenyum dan mengangguk


"benar saja cucuku betah tak mau pulang"celetuk kakek


"dia malaikatku ,kek"


"berapa lama kalian berpacaran?"selidik ayah


"tiga tahun,ayah"jawab Kail


"bagus,berarti kau hebat bisa bertahan dengan sifat keras putriku begitu lama"ucap ayah


"aku pernah dengar nama Machalister.kalau tidak salah perusahaannya ada yang bergerak di bidang perhotelan"kupas kakek


"hanya perusahaan kecil,kek" ucap Kail merendah


"tidak juga"


"ayah sudah lebih baik?"


"lebih baik setelah putriku pulang"jawab ayah


Aku senyum-senyum melihat kedekatan ketiga pria lintas usia itu.sengaja kubiarkan mereka bercengkrama sementara aku sibuk mengutak-atik ponselku.ada pesan dari Haris.


Haris :


kok gak ada di toko Ya ?



Aku:


kan weekend Pak asisten



Haris :


oh iya lupa :\)


design kamu langsung di ACC



Aku :


syukur deh



Haris :


tanggapannya gitu amat



Aku :


:\) :\) terus gimana donk ??



Haris :


ada yang kangen sama kamu nih



Aku :


heleh paling juga batu mesum



Haris :


ha ha ha bisa aja Ya


Ku hentikan chatanku dengan Haris saat ku lihat Seruni memasuki kamar ayah dengan membawa rantang makanan.aku segera menarik tangan Kail dan hendak membawanya keluar.


"berhenti Sayang"cegah ayah


"aku sudah bilang sama Om Salman.selama aku di sini.aku tidak mau wanita ini ada disini.kalau dia ada disini berarti aku yang keluar"sinisku


"Sayang,bahkan dia sekalipun tak pernah bicara padamu.sesuai permintaanmu"


"itu lebih baik"ketusku


"aku akan kembali kalau dia pergi"solotku dengan tatapan tajam kearah Seruni


"Sayang gpp,biar aku yang pergi"ucap Seruni seraya tertunduk


"tapi Sayang"


"gpp Sayang.jangan lupa dimakan masakanku"ucapnya


Sebelum pergi Seruni menatapku dengan mata berkaca-kaca.aku kontan melengos.Kail meremas jemariku


"tidakkah sikapmu tadi keterlaluan Sayang?"tegur Kail


tajam ku tatap Kail yang berdiri dihadapanku "kau tak tahu rasanya jadi aku"sinisju


"tapi tadi itu salah Sayang"


ku hempaskan tangan Kail dan aku duduk di sofa dengan wajah ber sungut-sungut.perlahan-lahan Kail duduk di sebelahku dan berusaha menenangkanku dengan cara mengusap pundakku.


"Sayang,aku adalah kekasihmu sebentar lagi akan jadi imammu.


aku wajib mengingatkan kamu kalo kamu berada di jalan yang salah"ujar Kail


"untuk dia aku masih belum bisa"


"biarkan Freya menenangkan diri dulu"ucap kakek


"Sayang,ayah tidak akan memaksamu untuk meenerima Seruni.tapi cobalah berkomunikadi dengan dia"saran ayah


"aku mau keluar cari angin,yah"


Kail mengikuti kemana aku me-


langkah.pikiranku kosong hatiku kacau balau.Kail membawaku ber-


keliling Mallboro.mencicipi aneka kuliner khas Yogyakarta.


dia begitu ingin menghiburku agar aku melupakan rasa jengah yang menyergapku.