Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 55 Semakin Cinta



"Selamat Pagi Presdir !"sapa Freeya dengan senyum manisnya


"Selamat Pagi Sayangku"balasku yang langsung kurengkuh dia dari belakang


Seperti biasa Freeya selalu berontak setiap kali kurengkuh tubuhnya saat di kantor "Presdir lepas ! nanti ada yang lihat ,!"serunya sambil berusaha melepas tanganku


"siapa yang akan lihat ? paling juga Qalila"sahutku


"lepas atau aku pukul !"ancamnya


Semakin kurengkuh dadanya kuletakkan daguku di bahunya.Freeya masih saja berontak,kupegangi tangan kanannya dan kuletakkan di perutnya.


"Queen Bieku yang pemberontak" bisikku


"Sayang ah,ngapain panggil gitu ?"protesnya


"kenapa ? aku pingin seperti Uma...Shanum dan anak anak yayasan yang panggil kamu Bie" kataku


"tapi bukan Queen Bie"rajuknya


"oke....oke Bie saja,emang apa artinya Bie itu ?"


Kulepas pelukanku dan akupun duduk di sofa mengawasi Freeya yang masih berdiri.dia terlihat sedang berpikir namun sesaat kemudian dia tertawa.


"kenapa ?"


"waktu masih SMA dulu aku sangat galak. suka ngelabrak sana sini,kata temenku aku kalo ngomong nyengat kayak lebah makanya di panggil bee"ceritanya dengan gesture yang menggemaskan


"begitukah ? jadi Queen Bie itu ratu lebah yang suka menyengat ? benarkah ?" godaku yang kembali menghampirinya


"benar saja tiap kali menyengatku rasanya sampai ke sini"ucapku sambil menunjuk dada sebelah kiriku


"dasar gombal"cibirnya seraya mencubitku


"aaaauuuu...."pekikku


"rasain"makinya


"Sayangku Bie !"panggilku yang lagi lagi kurengkuh tubuhnya


"dalem"sahutnya lembut


"sengat aku sedikit saja"bisikku sembari kuendus lehernya yang jenjang


"dasar mesum ini di kantor" desisnya yang terdengar seperti mengigit giginya sendiri


"kenapa ? ini kantorku sendiri" kataku membela diri


"aku akan marah kalo kau melanggar persyaratanku"ujarnya tegas


Tak kupedulikan ancaman Freeya dengan lembut aku mulai menciumi lehernya.dia tak menolak tapi juga tak merespon.sedang asyik bermain di wajah Freeya tiba tiba pintu ruanganku terdengar di ketuk.hah sial !!! Freeya buru buru melepaskan diri.dia tampak tersenyum puas.dengan kesal kuraih remot untuk membuka pintu.terlihat Haris memasuki ruangan.


"maaf Presdir siap meeting ?"tanya Haris


"permisi saya kembali kerja dulu Presdir" pamit Freeya yang terkesan buru buru


"Haris oh Haris kau datang diwaktu yang tidak tepat"keluhku kesal


"maaf Presdir,tapi kita sudah hampir terlambat"kata Haris seraya tertunduk


"kita berangkat"ajakku


Di dalam rapat aku tak bisa konsentrasi karena terus terbayang senyum Freeya.kalau seperti ini terus aku bisa gila.masa kemana mana aku harus mengajak Freeya ? terpisah dari dia sebentar saja aku sudah kelabakan,gelisah tak karuan.


"dasar Queen bie nakal"gumamku dalam hati


"selamat atas kerja sama kita Presdir Demas" kata Direktur Wisnu


"sama sama Pak"sahutku


"Presdir Demas kurang fokus hari ini sepertinya teringat sama yang tertinggal di kantor"ledek Pak lukman asisten Pak Wisnu


"ah bapak bisa saja"elakku


"secara mbak Freeya sangat cantik,tapi bukan itu yang terpenting tapi mbak Freeya sangat cerdas yang mana pasti akan mendukung kemajuan anda kedepannya"ujar Pak Wisnu


"saya setuju Pak,apalagi mbak Freeya ini memberi impact yang luar biasa bagi Presdir Demas bagaimana tidak ? sekarang beliau jadi lebih humble dan murah senyum,kesan kaku dan dinginnya sudah hilang"timpal Pak Lukman yang langsung di sambut tawa yang lainnya


"kapan Presdir akan meresmikan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius ?"tanya Pak Wisnu


"secepatnya Pak,mohon doanya" jawabku jujur


"saya doakan,kalian pasangan yang serasi" tutur Pak Wisnu


"kalau begitu saya pamit Pak,selamat siang "pamitku


Di dalam mobil sesekali Haris melirik dan tersenyum ke arahku,asisten kepercayaanku ini memang tau betul apa yang ada di hatiku.


Aku. uek sambil terus menatap layar Ipadku.


***


Aku berdiri bersedekap bersandar kap mobil sibuk memantau kuli yang sedang menurunkan material bangunan dan Qalila yang kewalahan menggeret koper Freeya hingga aku tak memperhatikan kedatangan Freeya.


"Sayang ada apa ini ?"tanya Freeya dengan wajah keheranannya


"eemm..aku meminta bapak tukang untuk merenovasi sedikit rumah kita"jawabku santai


"rumah kita ?"


"hem....aku minta bapak tukang untuk memberi jembatan penghubung antar kamar kita" jelasku


"jembatan penghubung ? tidak ! tidak ! aku tidak setuju...siapa yang memberimu ijin mrelakukan semua ini ? tidak boleh"seru Freeya berang


"ini rumahku aku berhak melakukan apapun" bantahku


"dan aku penyewa rumah yang satunya,aku bayar dan aku tidak setuju ada jembatan itu nanti,tidak ! titik"solotnya


Aku berdiri tegak menatap Freeya yang melotot ke arahku dengan berkacak pinggang.


"tidak bisa,kamarku adalah privasiku mana boleh ada orang lain sembarangan masuk sekalipun itu kekasihku"ucapnya membela diri


"Sayang kan masih ada jendela balkon.jembatan itu hanya mempermudah agar kalau aku ingin bersamamu aku tak harus menuruni tangga melewati pagar dan berputar lainnya"terangku puuuanjang


"nggak peduli,sekali enggak ya enggak,kalo kamu kekeh tempati sendiri rumahmu.aku ogah"sentak Freeya bersungut sungut


"Qal,kemariin koperku !"teriaknya


"mau kemsna bebz ? kita ke hotel" ujar Qalila bingung


"ogah"


"Qal ikuti Freeya cepat !" perintahku


Aku hanya mengawasi Freeya yang berlalu naik mobil kantor.dasar Freeya selalu salah paham dengan niat baikku.selama di renovasi aku menyewakan hotel untuknya agar dia nyaman tapi dia tolak.


"dasar Queen bie pemberontak"


Aku cuma ingin selalu dekat dengannya pun di salah artikan.aku memberinya kenysmanan dengan memberinya mobil juga salah.mana ada cewek yang menolak kemewahan kalau bukan Freeya.


jujur justru aku semakin cinta dengan sifatnya ini,keras dan berprinsip tapi ada kalanya manja dan meledak ledak.


Qalila :


Presdir


Freeya ada di rumah saya


begitu pesan yang kuterima dari Qalila,aku segera meluncur ke rumah Qalila tanpa pikir panjang.sebelum sampai di rumah Qalila aku mampir ke toko bunga untuk membeli buket mawar merah.


Dengan percaya diri kutekan bel pintu rumah Qalila.setelah terdengar suara pintu terbuka buru buru menutup wajahku dengan buket bunga.


"kiriman bunga untuk siapa Mas ?"tanya suara yang begitu ku kenali itu lembut


"Queen bie"


"hallo Mas !"serunya saat tidak dapat jawaban dariku


"ini kiriman bunga untuk wanita tercantik di hadapanku ini"kataku dengan suara yang kubuat buat


"wanita tercantik ? hah,Masnya pasti salah" ujarnya


"tidak,bukankah wanita di hadapanku ini adalah wanita tercantik ?"tuturmu seraya kubuka buket bunga di tanganku


"kau......ngapain kemari ?"ketusnya sambil bersedekap


"Sayang,maaf aku salah"pintaku


Aku mengekor Freeya yang melangkah memasuki rumah Qalila.aku terus mengikuti Freeya yang terus saja menghindar dariku.


"Maaf Sayang,aku belum bisa menyesuaikan diri denganmu,aku masih suka memaksakan kehendakku.aku lupa kalau sekarang ada kepala lain di sebelahku yang punya pemikiran sendiri"terangku


Freeya terdiam menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan.


"aku janji ini tidak terjadi lagi,percayalah aku orang yang cepat belajar,aku pasti bisa menjadi seperti yang kamu inginkan,semua akan berjalan sesuai dengan apa yang kamu inginkan"tandasku


"aku sangat mencintaimu Sayang,aku...."


Sebelum kalimatku selesai Freeya sudah keburu mengatuupkan bibirku dengan bibirnya.ini pertama kalinya Freeya berinisiatif menciumku terlebih dulu.saking kagetnya mataku sampai terbelalak terlebih saat dengan indah lidah Freeya bermain di dalam rongga mulutku.mengait,membelit dan menghisap lidahku dengan sempurna.


Freeya benar benar membuatku hampir kehilangan kesadaran karna merasakan nikmat yang luar biasa.kurasakan Freeya melepas rengkuhannya di punggungku.


"Sayang,jangan membuatku malu dengan kata katamu"tangisnya


"Jangan menangis Sayang"hiburku sembari kuseka airmatanya


Freeya menyentuh tanganku dan diciuminya bertubi tubi kemudian di dekatkan tanganku di dadanya.


"I love you"lirihnya


"I love you more Sayang"


"maafkan aku Sayang,aku tadi bicara keras dan kasar sama kamu.aku nyesel sudah neriaki Sayang tadi"sesalnya


"tak masalah Sayang,aku juga minta maaf" kataku seraya kurengkuh kembali tubuh mungil itu dalam pelukanku lagi


"maaf aku belum bisa menjadi air ketika kamu berubah menjadi api"ucapku lembut


Freeya semakin menenggelamkan kepalanya di dadaku.ku cium ubun ubunnya beberapa kali.


"kita kembali ke rumah,jangan merepotkan Qalila"ajakku


"aku batalkan pembangunan jembatannya pokoknya semua asal kamu bahagia Sayang" tuturku


"Sayang,aku setuju kamar kita ada penghubungnya"kata Freeya lembut


"benarkah Sayang ?"


Freeya mengangguk


"terima kasih Sayang"


Kembali kupeluk kekasihku itu dengan sayang.aku membawa Freeya bangkit saat Qalila ada diambang pintu.


"cieeeee....udah baikan"goda Qalila sambil nyengir


"Qal,bawa koper Freeya ke mobil.kita mau ke hotel"titahku


"jadi nih bangun jembatannya?"


"sudah,jangan banyak nanya"semburku


Di dalam mobil Freeya terus menyandarkan kepalanya di bahuku manja.selama ini tak pernah kuijinkan wanitaku berlaku manja seperti ini.bagiku hubunganku dengan mereka hanyalah sebatas saling menghangatkan.


****