Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 33 Masalah Baru



"kita harus bicara Sayang"ucap Kail


"bicaralah aku dengarkan"ucapku


"semua yang terjadi kemarin antara aku dan Syila adalah kebohongan besar"


Aku mendengus pelan,kusandarkan tubuhku di dinding.


"dan kau mau cari kebenaranmu sendiri ? kau akan katakan semua ini jebakan Syila dan kau hanyalah korban ?"tuturku


ku hela. napas dengan sedikit tersendat "kau pengecut tau nggak"hardikku


"saat ini kau masih marah,penjelasan apapun dariku tak akan kau nalar"


"penjelasanku kau artikan pembenaran dan pembelaan"imbuhnya


"kau pulanglah ! urus dirimu yang menyedihkan itu"usirku


"surat apartement,cincin dan semua pemberianmu aku akan kirim ke kantormu besok"ucapku datar


"Sayang kau bukan lagi gadis 17 tahun yang sentimentil yang berpikir dengan emosi.kalau kau mau mengembalikan semuanya,tolong kembalikan juga cinta kasih sayang dan perhatian yang aku curahkan padamu 4 tagun ini"tutur Kail dengan suara serak


"kau gila"hardikku dengan sorot mata memicing


"kalau kau kembalikan semua pemberianku.itu artinya kau menghina hubungan kita"


Kail bangkit dan menatapku


"aku pikir cinta kita kuat Sayang,tapi nyatanya apa ? begitu rapuh.cinta itu hancur seketika oleh kesalahan yang sebenarnya tak sepenuhnya kesalahanku"sesal Kail


"begitulah cinta yang dibangun karna kebohongan,rapuh"kataku getir


"itu karna kau tak percaya padaku"sergah Kail.


"percaya ? mana yang harus ku percayai ? tunanganku tidur dengan sahabatku?" sentakku


"pergilah !"


"jtu tak sepenuhnya seperti apa yang kamu lihat"bela Kail


"maaf,aku mempercayai apa yang aku lihat,tunanganku berselingkuh dan itu alasan kuat untukku akhiri hubungan kita"ucapku dengan nada penuh penekanan


"pergilah,adukan nasibmu pada sahabatku" usirku


Segera ku buka pintu Apartementku.Kail berusaha menyusul namun segera ku tutup pintunya.


"Sayang dengar dulu"


"aku sangat mencintaimu!"teriak Kail


Ku ledakkan tangisku yang sedari tadi kutahan.ku jatuhkan tubuhku ke lantai dan ku biarkan tangis menguasaiku.


***


Berita yang beredar bebas di media sosial tak membiarkanku meratapi keterpurukanku.


semua kolom berita online menjejer fotoku dan Demas saat di Little Vaniche kemarin.


editornya luar biasa sampai bisa mengedit foto kami seolah sedang berciuman.padahal tidak sama sekali.


Siaall !!! ketika aku keluar dari gedung apartment puluhan wartawan telah mengerubuti Demas layaknya sekoloni semut tengah mengerubuti makanan.


kuawasi sekeliling di dekat security yang tengah berdiri ada tabung merah untuk pemadam kebakaran.senyumku terkembang aku ingat acara kartun yang biasa kutonton dengan Shanum.muncul ide cemerlang di krpalaku.


"permisi Pak"ku hampiri security yang berdiri tegap


"iya non ada apa ?"


"bspak punys pemantik ?"tanyaku


"ada non"


"begini Pak,tolong bantu saya ya"


Security itu mengangguk


"Bapak lihat tabung merah di dekat bel alarm kebakaran itu"tunjukku


lagi lagi security itu mengangguk


"nanti kalo sudah saya beri kode,nyalakan pemantik dekat alarm kebakaran.nanti kalo alarmnya sudah berbunyi segera matikan pemantiknya,oke ?"


"siap non"


"oke,saya mau membawa kabur orang yang di kerubuti wartawan itu Pak"


"itu Presdir Demas,non"


"sssiiippp....!"


Aku berjalan mengendap ngendap di belakang wartawan itu.segera kuberi kode bapak security tak butuh waktu lama untuk membuat alarm kebakaran meraung raung.


wartawan itu kalang kabut sigap ku tarik Demas meloloskan diri dari wartawan receh itu.kami berlari cukup jauh hingga membuat napas kami ngos ngosan.


"sudah....sudah...sepertinya mereka tak mengejar lagi"keluhku sambil kupegngi lututku


"napasku mau putus"sambat Demas


Aku duduk di trotoar sambjl selonjoran ku coba atur napasku yang senin kemis.kuseka peluh di dahiku dengan lenganku.


"kau lihat hasil karyamu,sekarang posisiku kian terhimpit,puas kau sekarang ?"semburku


"keren ya editor berita online itu,bisa bikin kita ciuman loh"


"nggak lucu"sentakku


"sepertinya hari ini kita nggak bisa ngantor,pasti di perusahaan sudah ada wartawan yang menunggu kita"ucap Demas


"Presdir lupa siang nanti anda ada janji dengan tuan Hirar"ucapku mengingatkan


"sial !"


"aku akan minta Haris untuk menjemput kita"


"telepon Haris !"


Demas terlihat tak sabar menunggu jawaban dari Haris


"iya Presdir"


"jemput aku di halte busway tikungan dekat apartment!"titzh Demas


"baik"


Dari kejauhan terlihat busway yang biasa aku naiki saat ke kantor.aku segera ikut antrian penumpang lain.


"heh...mau apa ?"solotku saat Demas ikut ngantri


"ikut kamu"


"mau nambah masalahku lagi ?"bisikku seraya kugigit gigiku sebal


"tidak"


"jangan ikuti aku,tunggu Haris disini"


Busway berhenti penumpang naik dengan tertib.termasuk aku dan Demas,batu ini memang susah dilarang.larangan baginya adalah perintah.busway penuh sesak tak ada bangku yang tersisa.aku terpaksa berdiri karena tinggi badannya yang berlebih Demas jadi kesulitan berdiri.dia harus membungkuk agar kepalanya tak terbentur.


Penumpang lain memperhatikan kami dan berbisik.aku tau mereka mengenali wajah kami dari berita online.apalagi Demas tak melepas pinggangku dari rengkuhannya.


"singkirkan tanganmu dari pinggangku" bisikku


"aku bisa jatuh Freeya"balasnya


Demas melepas tangannya dari pinggangku.


tak lama tiba tiba busway mengerem mendadak.membuat penumpang menjerit,


tubuh Demas terhuyung dan tersungkur menggabruk tubuhku.


"maaf " desis Demas


"cepat menyingkir"bisikku


"enak ya jadi karyawan cantik bisa menggaet bosnya"cibir salah seorang penumpang wanita


"kok bisa ya,baru aja putus dari Mikail Machalister langsung ngegebet Demas Fabian"


"beruntung banget hidupnya"


"murahan itu iya"timpal yang lain


Demas menatapku,Aku pura pura tak dengar kututup mata dan telingaku.Demas kembali merengkuh pinggangku dan menatapku dengan sendu.


"awas jatuh Sayang"ucap Demas lembut


cewek cewek yang ngegosip tadi menatapku sinis.


"apa apaan kau ini"bisikku sebal


"Sayangku kau cantik sekali"pujinya


Sumpah sebenarnya aku muak dengan drama ini.sama denganku mereka juga pasti jijik melihatku.


Aku turun dari busway dengan penuh amarah


kelakuan Demas benar benar membuatku malu.berjalan menuju F Company dia terus saja menggandeng tanganku.setiap kali aku hempaskan dia genggam lagi.


"lepaskan tanganku ! malu"


"diam"


"malu dilihat karyawan lain"seruku


"selamat pagi Presdir"sapa karyawan yang berpapasan dengan kami


"Pagi"


"malu Presdir,lepaskan tanganku"


"tutup mulutmu"sentaknya


Semua karyawan menyapa dan mengawasi kami memasuki F Company.aku hanya bisa menghela napas.wartawan yang memburu kami langsung di hadang oleh puluhan pengawal dan security.


"saya tadi mencari anda Presdir"sapa Haris


"busway?"


"hubungi departemen teknologi suruh mereka memblokir semua berita online pagi ini.beri mereka sedikit tekanan"titah Demas


"baik Presdir"


"aku mau sore nanti semua clear"imbuh Demas


"ayo kita kerja,Ris"ajakku


****


"makan siang yuk bu menejer"ajak Qalila pas jam makan siang


"nggak ah,entar gue malah jadi buah bibir" jawabku


"bawakan aja"


"sebenarnya hubungan kalian itu apa shi ?"tanya Qalila


"hubungan apa ?"


"terus terang aja sama gue "


"lo mikir apa sih Qal,gue nggak ada apa apa sama Presdir,foto itu nggak bener.iya dia emang mbopong gue tapi kita nggak ciuman,swear"terangku


Qalila menatapku penuh tanda tanya


"tapi Presdir suka sama lo"tukas Qalila


"itu urusan dia,masalah Kail aja belom kelar ngapain nambah masalah lagi coba?" keluhku


"Ay,kita nggak mau lo jadi omongan orang"


"terus gue harus gimana coba ? gue bukan nggak ngehindar dari Presdir,lo tau sendiri dia yang ngekor mulu"ucapku membela diri


"lo liat gue sampe nggak berani turun untuk makan"imbuhku


"gue bingung,Ay"


"bingung lagi gue"timpalku


"gue cariin lo makan dulu,gue nggak mau lo mati kelaparan gara gara nggak brani turun" pamit Qalila


***


Aku berlari sekuat tenaga mengham0iri Qalila dan Kinar yang sedang berkelahi dengan karyawan lain.aku mencoba memisah mereka tapi mereka seperti kesetanan.


"berhenti !"


"sudah...sudah..."teriakku


Aku memegangi tibuh Qalila sementara Kinar dipegangi oleh Aldo.wajah mereka berdarah penuh luka cakar.


"apa lo ? gue nggak takut sama lo ! sini kalo brani "tantang Qalila


"sudah,apaan shi Qal"cegahku


"gue nggak terima lo dikatai murahan dan kegatelan sama kutu kupret itu"pekik Qalila


"kenapa ? murahan ya murahan aja "balas lawannya


"lo iri ? bilang "cibir Kinar


"ha ha ha lo kan nggak cantik wajar kalo iri" tawa Qalila


"sudah sudah "


Akhirnya Qalila,Kinar dan 3 lawan berkelahinya diseret menghadap Presdir Demas.Aku mengikuti di belakang.


Demas duduk sambil bersilang tangan mengawasi Qalila dan Kinar.dia tampak menghela napas.


"kalian berdua adalah senior disini.jadi aku tak harus memberitahu apa sanksi kalian,kalian pasti tahu sendiri"ucap Demas


"kenapa kami ? 3 kutu kupret itu dulu yang mulai"bela Qalila


"kalian sudah terbukti bersalah masih membela diri ?"tegur Demas


"kami tidak terima mereka mengatai Freeya murahan,menggunakan kecantikannya untuk merayu Presdir"bantah Kinar


"yang di katai curk kenapa kalian yang heboh"


"karna Freeya sahabat kami,kami tau betul sifatnya"jawab Qalila


"saya rela diberi sanksi apapun,saya sudah puas meremas mulut besarnya"ucap Qalila menunjuk salah seorang dari mereka yang bibirnya berdarah


"baik,jika itu mau kalian,sanksi kalian adalah kalian berlima akan aku jadikan satu tim untuk proyek baru perusahaan"titah Demas


"tapi Presdir,saya sekertaris anda"potong Qalila


"menolak,akan aku beri sanksi lebih berat" ancam Demas


"tugas kalian adalah jadi maskot perusahaan dalam festival electronik developer"


"whaaaatttt !"pekik Qalila dan Kinar bersamaan


"kenapa ? atau kalian mau jadi cleaning servis ?"tukas Demas


"tidak Presdir"


"bagus"


"masa Presdir tega membiarkan sekertaris anda yang cantik ini jadi maskot di jalanan" rrayu Qalila


"aku tidak punya sekertaris bar bar"tegas Demas


"dengar kalian semua!"teriak Demas dengan suara lantang


"aku tidak pandang siapa yang bersalah,sanksi akan tetap berlaku"ucap Demas seraya melirikku


"kita sama dalam perusahaan ini,kita adalah saudara,yang bersatu padu dalam memajukan perusahaan ini.maka mulai hari ini.aku ingin tak ada lagi diskriminasi apapun"ucap Demas sembari pandangannya menyapu seluruh karyawan


"baik itu dari segi latar belakang sosial,ekonomi,strata pendidikan,agama ataupun ras,kalian mengerti?"teriak Demas lantang


""mengerti Presdir"


"mengerti"ulang Demas


"kami mengerti Presdir"


"bagus,kalian boleh kembali bekerja"titah Demas


"kalian berlima silahkan obati luka kalian" ucap Demas dengan suara lebih rendah


"terima kasih Presdir"


"Ayo kita kembali Ris !"


lagi lagi Demas melirikku,aku sungguh merasa malu karena kebodohan dan sikap bar bar kedua sahabatku ini.


Kuoleskan salep ke wajah dan tangan Qalila dan Kinar bergantian.mereka tampak meringis menahan perih.


"aauuu...perih Ay"sambat Kinar


"tadi pas berantem mikir nggak kalo bakal berakhir perih ?"solotku


"mulut toxic mereka tuh memang harus diberi pelajaran Ay"ucap Kinar


"tapi imbas buruknya ke kalian juga"keluhku.


"gpp,cuma jadi maskot sehari doang nggak masalah"sahut Qalila


"dasar kalian"


ponselku berdering.kulirik sesaat Arsuila.ada apa dia nge chat ?


Bebeb Syila :


Aku mau ketemu


Aku :


tentukan tempat


Bebeb Syila :


nanti aku sherloc


Aku :


OK


Kinar merampas ponselku,matanya membelalak dan memicing tajam ke arahku


"lo mau ketemu prlakor itu ? lo belum puas disakiti sam dia?"semprot Kinar


"gue mau masalah gue cepet kelar,Ki"jawabku


"kita ikut"


"nggak,bukannya masalah kelar malah nambah masalah"ucapku


"kita nguatirin lo,Ay"ucap Kinar


"gue ngerti,makasih banget buat perhatian kalian.tapi biar gue selesaiin ini tanpa masalah lagi"bujukku


"tapi elo harus secepatnya kabari kami"pesan Qalila


"iya bebz"sahutku cengengesan


***


Sepulang kerja aku menuju tempat yang sudah di sherloc oleh Arsyila.Cafe Stroberi katanya.taksiku berhenti di depan cafe yang di alamatkan Arsyila.


Di dalam sini Arsyila terlihat Arsyila duduk menunggu di meja sudut ruangan.dia masih cantik dengan setelan black and white juga potongan rambut sebahunya yang membuatnya makin cantik.


hatiku berdesir,aku harus kuat,aku tidak boleh menangis.Aku Freeya Aqila Hasbie Rasyid yang tak akan hancur oleh masalah percintaan.


***


As Arsyila