
Kuraih ponsel Haris yang terulur padaku.ku kernyitkan dahi ku, kupicingkan mataku melihat foto yang tercetak dilayar.Freeya terlihat begitu anggun dengan long dress merah menyala.gaun dengan potongan dada yang cukup rendah dengan siluet V membuat belahan dadanya begitu kentara.rambutnya yang disanggul dan polesan yang elegan menjadikannya tampil sempurna.
kedua sudut bibirku tersimpul membentuk senyum.ku usap foto itu dengan jariku perasaan asing itu muncul lagi.kuingat bibirnya yang manis dan lembut saat kupagut kemarin.
"Freeya itu sangat cantik ya Presdir?"bisik Haris menahan senyum
"diam kau!hanya aku yang boleh memujinya"seruku sebal
"dia nge-chat lagi.lihatlah" Haris menyodorkan ponselnya
mataku membelalak membaca chatnya yang tercetak dengan huruf kapital.
BILANG SAMA BOS MESUMMU ITU AKU OGAH PAKE DRESS SERONOK INI
Kutekan tombol panggil dengan tak sabar.lama tak diangkat
nut nut nut nut
"apa?"seru suara diseberang sana
"dengar bawel!berani kau ganti dress pilihanku aku pastikan kejadian kemarin terulang lagi"ancamku
"ini terlalu terbuka,aku merasa tak nyaman"keluhnya lagi
"aku bisa masuk angin Presdir"rajuknya terdengar manja
"kau tunggu disana!aku akan menjemputmu" tukasku yang langsung kututup teleponnya
Haris menghentikan mobilnya tepat disisi Freeya yang sudah berdiri mematung.dengan sedikit membungkuk asistenku ini membukakan pintu sebelahku untuknya.
Long dress ini memiliki belahan dibagian depan hingga setinggi sedikit diatas lutut sekali Freeya mengangkat satu kakinya memasuki mobil.belahan akan terbuka memamerkan tungkai dan sebagian pahamya yang putih mulus.
GGGLLUUUKKK
Kutelan salivaku sendiri menahan konak disuguhi pemandangan yang begitu indah bola mataku terus saja berputar putar diarea itu.Freeya sepertinya menyadari dan menutup pahanya dengan tas tangannya.
"kucolok matamu kalau kau terus memandangiku seperti itu.lihat depan sana!"sentaknya
"senang sekali mengerjaiku"kedumelnya yang masih bisa ku dengar
"sebenarnya sekertarismu kan Qalila bukan aku,kenapa tak ngajak dia shi?"sambungnya terus ngoceh
"bisa diam tidak?bawel sekali.klien minta ketemu dengan perancang laptopnya.masa aku ajak Qalila.mana dia ngerti"semprotku geram
"Kau!nanti disana diam dan ikuti aku saja.jangan memarahiku!jangan membentakku apalagi meneriakiku bersikaplah wajar seperti pasangan yang baik"pesanku
"mengerti?"kutatap dirinya yang tampak manyun
"me nger ti"jawabnya terdengar seolah diberi tekanan disetiap suku katanya
Ku lihat dari cermin atas mobil Haris tampak menahan senyum ganti Ku lirik Freeya yang tampak sesekali mengusap usap lengannya bibirnya yang mungil komat kamit entah sedang merapalkan apa.pendingin segera kumatikan dan kulempar sebotol soda kepangkuannya.dia terlihat sedikit terkejut tampak mengangkat satu alisnya menatap kearahku.
"Kau nanti minumlah itu!karna disana hanya ada wine dan tequilla"ujarku dingin
Dia tak menjawab hanya tangannya yang bergerak menyisipkan botol soda itu ke dalam tasnya dan kembali tepekur menatap keluar jendela.Sekilas kutangkap bercak merah di pergelangan tangannya kutarik tangannya kupandangi lekat lekat dia tampak kebingungan.
"ini....ini kenapa?"tanyaku menunjuk bercak merah ditangannya
"kau ini amnesia atau pura pura lupa?atau perlu aku ingatkan kekasaranmu tadi siang?"bentaknya seraya menarik tangannya
"sampai seperti ini?"gumamku dalam hati
"itu akibat ketidakpatuhanmu sendiri.aku bukan orang yang kasar kau yang menjadikanku seperti itu"ucapku membela diri
"patuh untuk kau tindas siapa yang sudi?"umpatnya
"coba kau penurut,kau akan sexy seperti gadis gadisku.kau akan berlimpah harta,selalu kuhangatkan,hidupmu akan terjamin" terangku
"hentikan!aku mau muntah mendengarnya" keluhnya
"jangan ceritakan kelakuan menjijikkanmu padaku.hhhiiihhh!bagaimana bisa aku punya atasan psikopat sepertimu"keluhnya bergidik
"kau selalu menilai wanita dengan uang.tak semua wanita berbahagia hanya dengan bergelimang harta"solotnya dengan tatapan tajam
"Freeya apa kau ini?"celetuk Haris
"Kita sudah sampai Presdir"potong Haris
Kulempar jam tanganku kearahnya tanpa kukomando dia langsung memakainya entah hanya perasaanku saja atau memang dia sedang memandangi jam itu dengan aneh.
Tak lama mobil memasuki lobi hotel.Haris mengitari mobil dan membukakan pintu untuk kami.kuapit tangan Freya dengan mesra.tak bisa kupungkiri setiap pasang mata tertuju pada kami.yyaahhh malam ini Freya cukup tertolong dengan heels 12 cm nya.jadi dia tak terlalu terlihat kecil berada disisiku.
Kutemui Tuan Pieter klienku,kutangkap sorot mata yang aneh dari lelaki itu saat menatap kearah Freeya.perasaan tak suka menyergap hatiku ingin rasanya kupatahkan tangannya yang menjabat tangan Freeya berlama lama.
"Pieter Anderson"ucapnya memperkenalkan diri
"Freeya Aqila Hasbie Rasyid" sahutnya seraya menarik tangannya
"Tuan Demas karyawan anda cantik sekali"pujinya dengan bahasa indonesia yang masih terbata bata
"Terima kasih Tuan"sahut Freeya
"anda beruntung punya karyawan yang sangat berbakat"lanjutnya
"hahaha benar sekali.dia karyawan yang berdedikasi tinggi"tambahku seraya melirik Freeya yang tak senang
"mari kita bicarakan kerjasama kita sambil minum"ajak Tuan Pieter
Kutarik tangan Freeya untuk bersamaku.aku tak mau dia dikelilingi oleh pria pria yang sedang minum.siapa tahu salah satunya mabuk dan mengganggu Freeya.
Kuedarkan pandanganku keseluruh ruangan semua tampak bercengkrama dengan pasangannya.aku sedikit lega kuteguk segelas wine ditanganku.
"kau lapar Freeya?"tanyaku saat sayup terdengar nyanyian dari arah perutnya.
gadis itu tersipu.segera kulangkahkan kakiku mendekati pelayan yang mendorong meja berisi piring piring yang penuh dengan makanan.
"maaf,tolong! antarkan makanan khusus muslim untuk Nona itu ya"pintaku menunjuk Freeya yang tengah berdiri seorang diri
"baik Tuan"sahutnya
Ponselku menyala terlihat ada 5 pesan dari Dhillara.ku buka pesan itu sebuah foto sexy Dhillara yang tengah berpose hot diatas tempat tidur dengan gaun transparan terpampang dilayar ponselku.
kutunggu kau menghangatkanku
Kuarahkan pandanganku kearah Freeya yang asyik makan.hatiku mengatakan gadis didepanku ini jauh lebih menawan.
"Tuan Demas,bisa kita lanjut?"tanya Tuan Pieter membuyarkan lamunanku
"ah tentu saja"jawabku gugup
"kita akan sering bertemu setahun ini.saya akan sangat senang jika anda membawa serta Nona Freeya"ucapnya
"srpertinya saya tertarik padanya"lanjutnya setelah itu
Darah didalam tubuhku serasa mendidih mendengar pernyataan Tuan Pieter barusan.
Aku mendandaninya secantik mungkin untuk diriku.bukan untuk kau nikmati rutukku gondok.
"She's so beautiful and so sexy,isn't it ?" pujinya
"um..that's right"sahutku seraya kuteguk kembali wine
Kuputuskan untuk membasuh wajahku setelah kutanda tangani kontrak kerja sama dengan Tuan Pieter.Kupandangi wajahku dicermin.ada apa denganku ini ?sifat posesif apa ini ?kenapa hati ini berontak tiap kali melihat Freeya bersama orang lain.
Kubasahi rambutku untuk mendinginkan otakku yang panas.Aku terkejut saat kembali dari toilet kulihat Tuan Pieter sudah bersama Frreya.mereka terlihat begitu akrab bergurau dan tertawa renyah.bahkan Freeya tak pernah berlaku seperti itu saat bersamaku.
Darahku serasa sampai diubun ubun saat kulihat tangan nakal itu menyentuh pinggang Freeya.
Kulayangkan tinju dan tepat mendarat di rahang pipi kirinya darah segar mengucur dari sudut bibir dan hidungnya.belum sempat membalas sudah kulayangkan pukulan pukulan berikutnya.
Semua orang menjerit dan mencoba melerai kami.kurasakan sebuah tangan merengkuh tubuhku dari belakang.
"berhenti!cukup!sudah Presdir kamu melukainya!"pekik suara dibelakangku
"tenanglah!"kusadari pemilik suara itu adalah Freeya
Tuan Pieter tampak terluka disana sini dipegangi oleh beberapa orang.
"are you crazy hah?"pekiknya sambil memegangi pipinya
"don't touch her!she's mine!she's belongs to me!"seruku begitu murka
"kita hanya ngobrol dan kau memukulku"hardiknya
"aku bahkan sanggup membunuhmu kslau kau berani menyentuhnya lagi!"ancamku
seraya mencengkeram kerah bajunya
"Presdir tenanglah!anda mabuk.ayo kita pulang!"ajaknya
Kurasakan kini Freeya merengkuh pinggangku dari samping.ku dengar dia menelepon seseorang.sepertinya Haris.
"Haris, tolong bawa Presdir ke mobil!aku akan melihat keadaan Tuan Pieter sebentar"ujarnya
"pergilah!temui ******** itu!dasar murahan!kau senang kan disentuh olehnya?"racauku
"dasar murahan!kau bilang aku menjijikkan.tapi kau jauh lebih kotor"mulutku ini semakin tak terkendali
***
Kurasakan sekujur tubuhku meradang,sakit dan ngilu dipersendian.ku coba membuka mata.ooouuucchh !!!! kepalaku serasa begitu berat.wajahku perih dibagian pelipis dan sudut bibirku.Kukerjap kerjapkan mataku,ku edarkan pandanganku kesekeliling aku sudah ada di kamar.ada segelas susu diatas meja kecil disamping tempat tidurku.Kucoba mengingat apa yang telah terjadi semalam tapi tak bisa kuingat apapun.kenapa aku sudah ada dikamarku sendiri.
Pintu kamarku terbuka muncul Freeya yang sudah rapi dengan dress work warna putih tulang.ditangannya ada nampan entah apa isinya.diletakkannya disampingku.perasaan kesalku padanya masih membekas kupalingkan wajahku saat dia melangkah kearahku.
"Selamat pagi!sudah bangun?bagaimana perasaan anda?sudah lebih baik?"tanyanys terdengar begitu lembut
"dia baru saja pulang,setelah semalaman merawat anda.dia menyuruh saya membawakan anda sarapan makanlah!" suruhnya
"keluarlah aku mau tidur lagi!"kataku setengah mengusir
"baik,tapi minumlah susumu untuk menetralkan alkoholmu"pesan Freeya
Aku menoleh kearahnya dia masih berdiri disebelahku wajahnya terlihat sumringah tak seperti biasanya.kupegangi pelipisku yang terasa begitu perih.
"kenapa?sakit kah?"serunya terlihat panik.
sejurus dia berlari keluar dan kembali lagi membawa sebuah buntelan.dia duduk disampingku dengan hati hati dikompresnya pelipisku.aku meringis kesakitan.
"aaaahhhh"sambatku
"makanya jangan brutal.begini kan akibatnya"tuturnya
"apa yang terjadi semalam?"tanyaku
"menurutmu apa?kau menghajar Tuan Pieter tanpa alasan.kau hampir saja membunuhnya" kuperhatikan bibir mungil itu bergerak indah
polesan bibir merah muda itu sungguh menggiurkan bak buah persik ranum yang siap disantap.
"kau senang disentuh olehnya?"sentakku sembari mencengkrram tangan yang terulur mengompresku
"kau bicara apa?tanganku sakit,kau kasar sekali"desisnya
"katakan padaku berapa hargamu agar kau mau menurut padaku"ucapku dengan suara bergetar
"kau gila!kau merendahkanku lepaskan aku!kau sakit"pekiknya
Kubalikkan badan kini tubuh mungil itu tertindih dibawahku,matanya tampak menggambarkan ketakutan.kurasakan debaran jantungnya tak beraturan.
"Presdir sakiiittt"desisnya
"kau begitu bahagia bicara dengannya tertawa lepas dengannya,bahkan kau tak pernah tersenyum padaku.tapi kau tersenyum padamya"kataku getir
"itu karna kau kasar"bslasnya
"aku kasar karna kau,kau terus menggangguku,menolakku"kupandangi wajahnya yang sendu
kucium bibirnya dengan lembut dia berusaha berontak tapi kutahan kepalanya dengan satu tanganku.napasnya naik turun membuatku makin bergairah.kuhentikan kegiatanku saat kulihat airmata mengalir dari sudut matanya.
"kau menangis?"tanyaku seraya kuusap airmatanya dengan satu jariku
"kenapa kau selalu menindasku?kau keterlaluan ini sakit sekali bangunlah" pintanya
Kuangkat tubuhku darinya dia sedikit menjauh dariku terlihat kancing teratas hemnya terlepas mungkin akibat dia berontak tadi.dadanya yang ranum menyembul dari sela hem itu tapi dia keburu menyadarinya dan menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
aku mengulas senyum.
"aku sungguh tak tahu ini aku atau kau yang dikatakan mengganggu"semprotnya
"itu kau Freeya!"tudingku
"mesuuummm!"teriaknya sambil lalu
Sebenarnya hari ini aku malas ke kantor kalau tidak ingat aku ada meeting.kututupi pelipisku yang memar dengan kacamata hitam.hhhaahh aku ingat Pieter sialan itu apa dia akan melanjutkan kerjasamanya setelah kuhajar semalam.aku masih belum ingat sepenuhnya apa yang terjadi semalam.
"Saya pikir anda tidak ke kantor hari ini,Presdir"ucap Haris setelah aku masuk mobil
"aku malas sebenarnya tapi ada meeting kan ?"ucapku sembari mulai kubuka Ipadku
"apa semalam aku mabuk berat?kau yang membawaku pulang?kau juga yang mengganti pakaianku kan?"tanyaku datar
"anda tak pernah semabuk itu sampai menghajar orang membabi buta"terang Haris lirikan matanya dari cermin terlihat begitu cemas
"sepertinya anda perlu meminta maaf pada Tuan Pieter atau mungkin kita akan kehilangan kontrak kerjasama dengannya" saran Haris hati hati
"biarkan saja"sahutku cuek
"Freeya semalam sepertinya membantu mengobati luka Tuan Pieter.cukup lama dia baru kembali"ceritera Haris
"gadis ini memang tak bisa kalau tidak membuatku marah"geramku
"Presdir jangan marah dulu Freeya pasti berniat membantu"cegah Haris buru buru
Ipadku menyala terlihat ada e mail dari Tuan Pieter tertulis kalimat yang membuatku rasanys ingin menghancurkan dunia "DIA SANGAT LUAR BIASA" tanganku mengepal.gigiku gemerutuk,mataku menajam saking marahnya.apa yang sudah dia lakukan terhadap Freeya ?
Kutarik tangan Freeya yang sedang asyik dengan layar komputernya.tak peduli semua pasang mata melihatnya kuarahkan dia ketempat toilet karyawan.ku hempasksn tubuhnya yang kecil itu ke dinding.dia hendak kekiri aku tahan dengan tangan kiriku.dia hendak kekanan aku tahan dengan tangan kananku.kini tubuhnya berhimpit dengan tubuhku didinding.
"apalagi sekarang?"desisnya dengan bibir bergetar
"apa yang sudah kau lakukan dengannya hem?dasar murahan"umpatku dengan penuh kebencian
"apa maksudmu?"tanya Freeya tak mengerti
"apa yang kau lakukan dengan si brengsek itu?kau tidur dengannya hah?kau merayunya" bentakku tepat diwajabnya
"kau sakit!aku tak ada kewajiban untuk menjelaskan apapun padamu.kau bukan siapa siapa"balasnya dengan tatapan yang tak kumengerti
"dasar murahan,aku jijik padamu.munafik!aku tidak ingin melihatmu"cemoohku
"kau tidak waras,murahan atau tidak itu sama sekali bukan urusanmu"hardiknya
Hidung mancungku menempel didahinya yang terasa dingin.kuangkat dagunya kutatap matanya tajam namun dia segera menurunkan pandangannya.baru saja hendak kukecup bibirnya dia sudah melorot dan berlari.
"SIAL !!!!"umpatku berang
Kulempar jasku kesofa.dengan kesal kuhempaskan tubuhku ke kursi kerjaku kuacak acak rambutku dengan penuh amarah
sungguh aku tak bisa mengendalikan diri tiap kali bersama Freeya.aku selalu ingin mencumbunya lagi lagi.dan lagi manis bibirnya bagaikan candu
"buat aku tak melihatnya hari ini,Haris!aku sungguh muak dengannya"perintahku
"baik,Presdir"ucap Haris tanpa membantah
Ku cari kontak Andara kubuat janji bertemu malam ini.ingin kulepaskan penatku hari ini.
aku bisa gila karna terus memikirkan Freeya yang hanya bisa membuatku marah.ponselku berdering kulihat dari unknown number agak gamang kuangkat telepon itu.
"hallo"sapaku
"Tuan Demas sudah terima hadiahku?"tanya suara diseberang yang kuketahui adalah Tuan Pieter
"hadiah?"ulangku tak mengerti
"ya,hadiah permintaan maafku pada kalian.kenapa anda diam saja saat aku memujinya.kenapa anda bilang kalau dia tunangan anda"sesalnya
"tentu saya tidak akan melakukan hal bodoh itu"lanjutnya
tenggorokanku terasa tercekat mendengar penjelasan darinya. Freeya berkata kalau aku ini tunangannya ?aku telah salah paham padanya.
"Tuan Demas anda masih disana?"serunya
"iya Tuan Pieter terima kasih hadiahnya" ucapku saat melihat Qalila masuk membawa bingkisan
"Presdir bingkisan untuk anda"ucap Qalila
Kuisyaratkan untuk menaruhnya dimeja dan kusuruh keluar.
"selamat atas pertunangan anda.anda beruntung sekali mendapatkan dia.dia bahkan rela menanggung kesalahan demi anda luar biasa"pujinya
"yah benar sekali"sahutku
ingin rasanya segera kututup teleponnya dan kucari Freeya agar aku bisa memeluknya.
"Tuan Pieter saya akan memberikan bingkisannya pada Freeya dulu"pamitku
"baik,saya tutup teleponnya"
Dengan tak sabar aku berlari keruangan Freeya.dengan napas terengah engah kuedarkan pandanganku mencoba menemukan sosok yang kucari.karyawan lain memandangku dengan kebingungan.kulihat meja gadis itu kosong.
"Freeya mana Freya?"tanyaku
"um....sedang keluar memantau lapangan Presdir"jawab Kinar agak takut
"kemana?"tanyaku lagi
Kinar tak segera menjawab malah menoleh kearah temannya.membuatku makin tak sabar ingin rasanya kutelan wanita di hadapanku ini.
"dimana Freeya?"bentakku murka
"bukankah anda sendiri yang menuruhnya ke Bogor?"ucap Kinar
"ini kemana Haris?kenapa membiarkan dia pergi kesana sendirian.tidak tahu apa sedang hujan deras diluar sana"ucapku penuh emosi
Aku ganti berlari mencari Haris pikiranku buntu tak bisa membayangkan apa yang terjadi pada Freeya diluar sana.Haris ikut panik menelepon Ivan yang pergi bersama Freeya.
"tidak aktiv Presdir"ucap Haris
"coba terus,ganti hubungi Freya!"perintahku
"tidak diangkat"sahutnya
"hubungi departemen tekhnologi minta meraka untuk melacak nomor Freeya.aku akan menyusulnya"ucapku tak sabar
"tapi diluar sedang hujan deras Presdir"cegah Haris
"lakukan saja perintahku!"semprotku geram
Kurampas ponsel Haris dan kubawa pergi.aku sudah tak sabar,aku takut terjadi sesuatu padanya.
***