Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 15 Golongan Darah Yang Sama 2



Sayup-sayup suara patient monitor membawa kesadaranku kembali.perlahan ku coba menggerakkan jari tanganku.mata ini begitu berat untuk kubuka..


Ku kerjap-kerjapkan mataku walau enggan,samar ku temukan sosok yang masih gelap di sebelahku.ku coba kumpulkan berkas sinar gelap dengan ku cembungkan pupilku.


"Papa"batinku


Bibirku masih sangat kelu untuk ku gerakkan.ku pandangi sekeliling yang hanya tampak langit-langit,tembok putih dan peralatan medis yang masih menempel ditubuhku.


Ku coba mengingat apa yang telah terjadi.aku hanya ingat Freya.iya,bagaimana keadaan gadis itu ? kembali kubuka mataku sekali lagi.


"Demas,kau sudah sadar ? apa yang kamu rasakan,Nak?"


"Freeya,mana Freya,Pa?"


"kamu mau bertemu dia,Nak?"


"suruh dia kemari,Pa!"


"sebentar,Nak"


Tak berselang lama pintu terbuka,tampak Freeya yang masuk dengan wajah sangat kuyu.gadis itu masih memakai baju yang sama.ini jam berapa ? ini hari apa ? berapa lama aku tertidur ?


Freeya duduk disebelahku,dia mengelus punggung tanganku dengan lembut.tersungging senyum simpul dari bibir mungil itu.


"bagaimana keadanmu?"tanyaku lirih


Dia tak menjawab pertanyaanku air matanya meleleh dari sudut matanya yang indah "dasar bodoh ! seharusnya aku yang bertanya bagaimana dengan keadaanmu?"isaknya


"aku baik"sahutku


"jangan lakukan lagi,kau hampir membuatku mati ketakutan kau tahu.jangan bertindak bodoh lagi"


pintanya yang masih terisak


Aku tersenyum dan meremas jemarinya "tentu aku tidak akan bertindak bodoh kalau kau tidak melakukan hal bodoh"


"aku melakukan hal bodoh apa?"


"selalu berputar disekitarku"


"lah,aku harus dimana?"


"diamlah disisiku"


"aku sungguh tidak mengerti maksudmu,heh,kita bahas semua nanti.sekarang yang terpenting kamu pulih dulu"ucapnya yang terdengar begitu lembut ditelingaku


"berapa lama aku tertidur?"


"48 jam,biar aku panggil dokter untuk memeriksamu"


Freeya menekan nurse call yang ada di sebelah kiri ranjang tidurku.dia kembali duduk di sebelahku.ku kecup punggung tangannya dan dia hanya diam saja dan tersenyum.


Dokter datang diiringi Papa dan Mamaku.Freya nampak merangsek mundur.huft aku mendengus gara-gara kedatangan mereka Freya jadi pergi.


"kondisi Presdir sudah stabil.2 hari lagi boleh pulang"ucap dokter yang memeriksaku


"terima kasih dokter"ujar Mama Celine


"saya permisi!biar suster bawakan makanan untuk Presdir" pamitnya


"bagamana perasaanmu Sayang?"tanya Mama Celine


"baik"


"untung saja ada Freya yang golongan darahnya sama dengan kamu.mama tidak tau apa yang akan terjadi kalau tidak ada dia"


"kau harus berterima kasih padanya,iya kan,Pa?"


"ya"


"aku akan berterima kasih secara khusus padanya nanti"


Kuhela napas dalam.golongan darah yang sama ? ini bukanlah kebetulan.tidak ada yang namanya kebetulan dalam takdir.


tapi aku percaya ini memang sudah digariskan.beberapa tahun yang lalu dengan golongan darah yang sama ini pula aku menolong nya.


Suster masuk dengan membawa makanan,senyum manisnya terukir di wajahnya yang ayu.dia menatapku sesaat lalu memeriksa selang infus yang tertanam dipunggung tangan kananku.


Shiiiittt !!! suster ini sengaja berlama-lama memeriksaku memcoba menyentuh bagian tubuhku dengan alasan memeriksa


risih sekali rasanya.


"merasa lebih baik Presdir ?"


"akan lebih baik kalau kau tidak menyentuhku"sinisku


"mari saya suapi makan Presdir"tawarnya


"tidak perlu kau keluarlah!"


titahku


"oh ya,suruh masuk gadis cantik yang ada di luar!"seruku saat suster itu diambang pintu


Tak seberapa lama Freya masuk tapi kali ini dia tidak sendiri.dia bersama Kail kekasihnya.hukh jadi hilang selera makanku.hatiku terasa begitu nyeri.Freya meletakkan sekeranjang buah diatas meja dan menghampiriku.


"


Presdir,Kail datang menjenguk anda"ucap Freya lembut


"bagaimana keadaanmu?"


"baik"


"terima kasih sudah menolong Freya"ujarnya


"hem"sahutku ogah-ogahan


"kalian boleh keluar,aku mau istirahat"pintaku setengah mengusir


"eemm....baik semoga lekas sembuh!"


Walau serba canggung akhirnya Kail keluar diiringi Freya.ku kernyitkan dahiku dengan kesal.


"Demas Sayang,katanya mau istirahat"tegur Mama saat melihatku memegang mackbook


"itu cuma alasan biar si brengsek itu enyah"sahutku malas


mama mengulas senyum "apa mama tidak salah lihat ? anak kesayangan mama sedang cemburu"


"cemburu ? tidak ma"elakku


"kalau iya,mama setuju kok.Freya kelihatannya baik"


"mama ngomong apa,gak jelas" kilahku


"ma,aku mau makan.tolong minta suster mengganti makanannya dengan yang baru" kucoba mengalihkan pembicaraan


"baiklah Sayang,tunggu sebentar"


Lama kutunggu malah Freya yang datang membawa senampan makanan.dia tampak lebih segar,sudah berganti pakaian,sudah cantik dan wangi.


"mana Mamaku ?"


"beliau sedang mengurus administrasi rumah sakit"


"dari aku sadar,aku tidak melihat Haris,dimana dia ?"


tanyaku


"untuk sementara dia yang menghandle tugas anda,lihat dia sudah meninggalkan mackbook dan path anda.biar anda masih bisa mengawasinya"


"tapi sekarang anda makan dulu terus minum obat"ujarnya


Kupegangi kepalaku yang masih diperban.sedikit terasa nyeri di bagian belakang saat ku paksa untuk bangun.Freya menahan kepalaku dengan tangannya.kami sangat dekat hawa hangat tubuhnya membiusku.


"sakit ? kalau sakit jangan paksakan untuk bangun"


"tidak apa-apa"


"ayo makan aku suapi"


Freeya menarik kursinya lebih dekat ke tepi ranjang tidurku agar lebih mudah menyuapiku.perasaan asing itu muncul lagi.membuat hatiku serasa dipenuhi jutaan bunga.melihatnya tersenyum tanpa paksaan itu sungguh indah.


***


Aku terjaga ditengah malam karena sebuah mimpi aneh.ku rasakan dekapan hangat Freya berangsur menenangkanku.


"ada apa ? kau mimpi buruk?" Freya bertanya sembari mengelus wajahku


"kau kenapa ? badanmu dingin sekali.biar aku panggil dokter"


Kembali kudekap tubuhnya erat-erat "jangan,biarkan seperti ini saja!"pintaku


"benar kau tidak papa?" Freya mencoba meyakinkan


Aku hanya menggeleng.dilepasnya dekapanku dan mulai mengelap keringat dinginku yang bercucuran.dia menyalakan lampu utama kemudian mematikan AC menggantinya dengan penghngat ruangan.


Freeya menggosok-gosok telapak tanganku sambil sesekali ditiup kecil.aku mengulas senyum dalam hati.gadis ini begitu perhatian pantas Kail sangat takut kehilangan dia.


"begini ,masih dingin?"ujarnya


"hangat"


"ok,cobalah tidur lagi.aku menemanimu"


"jangan jauh-jauh"rajukku


"tidak,aku disini,tidurlah"


Kubenamkan kepalaku di dada Freya yang empuk.tangan kiriku melingkar diperutnya.dia tidur sambil duduk di sebelahku.


Aku bangun lebih segar keesokan harinya.Freya sudah tidak ada disampingku.hanya ada suster yang tengah mengganti kantong infusku.kali ini buksn suster yang kemarin lagi.dia lebih profesional mengobati bebrrspa luka lecet di tubuhku.


"Suster!"panggilku


"iya Presdir,ada yang bisa saya bantu?Presdir butuh sesuatu?"


"Freeya kemana ?"


"oh mbak yang nungguin Presdir? seoertinya sedanh keluar caro sarapan"


"carikan dia untukku Sus,cepat!"


"baik,tunggu sebentar Presdir"


Setelah suster itu pergi kuraih ponselku yang tergeletak di meja.


ku hubungi Haris untuk srgera menjemputku.


"tapi Presdir,bukankah anda harus istirahat 2 hari lagi"


"aku sudah tidak betah,lakukan saja perintahku!"semprotku


Aku terkejut saat sebuah tangan merebut ponsel yang menempel ditelingaku.


"jangan jemput dia Ris,kalo kamu nekat,sumpah aku akan mengadukan kamu pada komisaris"seru Freya


"apa-apaan kau ini?"bentakku


"kau yang apa-apaan?masih belum pulih minta pulang.nanti kalo terjadi sesuatu sama kamu gimana?"


"aku tidak betah disini"


"tidak usah chidis"bentaknys


"kau tak tahu bagaimana rasanya"kedumelku


Freeya menatapku penuh arti.di lemparnya ponselku ke sofa dan mendekatiku.


"baiklah"


"sudah sarapan?"


"bantu aku ke kamar mandi dulu"


Freeya tak membantah dia melepas kantong infus dari tiangnya dan memapahku.di kamar mandi aku sedikit kesulitan menarik celanaku.ku toleh Freya yang berdiri membelakangiku.


"Freeya,bantu aku"


"apa lagi ?"


"tarik keatas celanaku"


"yang benar aja,gak mau"tolak Freya


"kau msu aku keluar begini?"


"tapi Presdir aku gak berani"


"kalo aku bisa sendiri aku gak bakal nyuruh kamu"


Dengan terpaksa akhirnya Freya melakukannya meskipun dengan mata terpejam.aku selalu senang melihat wajah manyun Freya yang menggemaskan.


Selepas menyuspiku sarapan Freya membawaku jalsn keluar kamar.denhan sedikit kepayahan tubuh kecilnya mendorongku yang berada di kursi roda ke sebuah taman.dia menutupi tubuh bsgian bawahku dengan selimut.dia duduk di kursi panjsng menghadapku.


"dengan begini zpresdir tidak akan terlalu jenuh"ujarnya


"apa setelah aku sembuh kau akan berubah?"tanyaku tiba-tiba


dia tertawa kecil sembari


enyibak poninya yang tertiup angin.


"berubsh?berubah jadi apa ? power ranger?cat women atau wonder women,hah?"kelakarnya dengan tawa yang lebih lebar


"kau baik dan lembut padaku karna kau merasa bersalah dan iba,aku begini karna telah menolongmu" tukasku


Freeya langsung berhenti tertawa di tatapnya wajahku dengan sorot mata yang tak ku mengerti.


"kau berpikir seperti itu?aku seperti ini karna dorongan rasa bersalah dan rasa iba padamu?" Freya tampak menghela napas dan mencoba membuang pandangannya dari tatapan mataku


"selama ini hubungsn kita memang tak terlalu baik.tapi bukan berarti kau boleh berpikir sepicik itu tentangku"


dia meremas jemariku "kau dengar!andai kita punya sedikit saja waktu untuk memperbaiki komunikasi kita,atau diantara kita bisa saling melihat dengan sudut pandang yang sedikit berbeda,aku yakin kamu tidak akan berpikir seperti itu"


Freeya tersenyum simpul dan melangkah ke belakangku.dia menunduk dan wajahnya tepat berada tepat di samping wajahku.


"aku tau pada dasarnya Presdir itu baik,tapi prinsipku tak ada yang namanya teman lelaki untuk seorang wanita yang sudah bertunangan"lirihnya


"begitukah?"


"berarti kalo kau tsk ada hubungan dengan Kail,kau bisa berteman dengan lelaki?baik" putusku


Ku pegangi pipinya dan langsung ku kecup bibirnya beberapa saat matanya melotot seakan mau meloncat keluar.kulepas kecupanku saat kurasakan cubitan krcil dibahuku.


"kau"serunya geram


"kau benar,tak ada teman lelaki yang mencium teman wanitanya yang sudah bertunangankecuali xia anggap wanita itu musuhnya.aku suka ini.lebih menarik"ucapku santai


"kau ini benar-benar ya"geram Freya


Freeya berhenti demi melihat beberapa suster yang lewat tak henti memandangi kami sambil tersenyum dan berbisik.


"kalian serasi sekali"seru mereka


Freeya makin melotot ke arahku.dia mendengus kesal tampak dia mengerucutkan bibirnya sambil berkacak pinggang.


"sebenarnya kau tidak sakit kan?kau sengaja mengerjaiku"semprotnya


"kau pikir aku gila apa ? sampai bermain-main dengan penyakitku"balasku


"balik sendiri.aku tak sudi mendorongmu"serunya


Freeya sudah berjalan sampai di batas taman dan area kamar rawat inap ketika ku jatuhkan diriku dan berteriak


"aaaahhhhhh"


Freeya menoleh ke arahku "Presdiiiiirrrrr!!!"


Serta merta Freeya membantuku bangun dan memapahku ke kursi roda.senyum licikku terkembang. merasa sukses mengerjai gadis bodoh ini lagi.


"kau tidak papa?" tanya Freya seraya merapikan selimutku


"tanganku sepertinya terkilir"


"kita kembali ke kamar biar dokter memeriksamu""


"pijit kamu saja"


"baiklah ayo"


Saat tiba dikamar ternyata sudah ada Gara,Ivan dan perwakilan staf Divisi yang lain.ku bantu Demas untuk naik ke ranjang tidurnya.


"maaf baru bisa menjenguk Presdir"ucap Gara


"tak masalah,lusa aku sudah pulang"ucapku


"kami harap Presdir lekas sembuh"imbuh Ivan yang tak sengaja tertangkap mataku tengah melirik Freya


"bagaimana perusahaan?"


"aman terkendali Presdir"sahut Gara


"kirim semua laporan ke e-mailku,biar Freya yang urus"


"siap"


"kalian boleh pergi"ucapku


Mereka semua tampak saling pandang.namun tak berapa lama satu persatu undur diri.lagi-lagi kulihat Ivan menatap Freya beberapa saat sebelum keluar.


SIALAAAANNNN


"kau ada hubungan apa sama Ivan?"sentakku


"hubungan apa?kami ya rekan kerja"sahut Freya seadanya


"tidak ada rekan kerja pake acara lirak lirik kayak begitu" tudingku


"ada,kau...kau bilan musuhku kenapa menciumku"belanya


Kuraih tangannya dan kutarik tubuhnya ke arahku.sedikit ku bungkukkan tubuhku agar mata kami bisa saling bertemu.tatapan matanya begitu resah dia menurunkan bola matanya,namun segera ku angkat dagunya.


"jangan mengalihkan pembicaraan.kau ada main dengannya?"tanyaku seraya mencengkeram dagunya


"Kail saja tak pernah meragukanku.kalaupun aku ada main.itu pasti denganmu karna kau selalu menindasku begini" sinisnya


"kenapa kau selalu mempengaruhiku?membuatku gila,selalu paranoid"keluhku sembari kulepas cengkramanku


"kenapa kau tak menjauh dariku!"pekikku


"keluar!"teriakku


Freeya mendekatiku dan memegangi kedua pipiku dengan lembut,aku tak tahu apa maunya dia bahkan begitu kepayahan menyepadankan tubuh mungilnya denganku.walau jinjitpun dia tetap belum menyamaiku.


"kau ingin aku pergi?segitu mengganggunya kah aku ini bagimu?"


"keluar"desisku sembari terpejam


Freeya menekan kedua pipiku "lihat aku!katakan kau ingin aku pergi!"


"aku membencimu Freya"lirihku


Aku sambar bibir Freya dengan penuh nafsu.lumatanku dibalasnya bahkan lebih ganas.tangannya yang semula dipipiku beralih satu ditengkukku dan satunya meraba dadaku.sementara kedua tanganku merengkuh pinggang rampingnya.kami benar-benar terbawa suasana.kami bergantian mengambil napas.terdengar desahan lembut dari bibirnya yang mrmbuat sekujur tubuhku merinding.


Freeya begitu lihsi memainkan lidahnya di langit-langit mulutku.membelit dan menghisap dengan begitu mahir membuatku melayang ke awan rasanya,ciuman yang begitu dalam sampai lupa diri.


***


Mama Celine membantuku membersihkan diri.mengepel tubuhku dengan washlap dan membantuku berganti pakaian.


"Sayang,untuk sementara pulanglah ke rumah.mama siapkan perawat khusus untukmu"


"tidak perlu,mama bukannya harus kembali ke Ausy.percuma aku dirumah kalo mama tidak ada"ucapku dingin


"Sayang kan tau sendiri.butik mama disana sedang maju pesat.nanti mama akan terus menghubungi kamu"bujuk mams Celine


"pergilah ! mama urusi saja butik mama itu"bentakku


"Sayang"


"Freeya kita pergi sekarang"


ajakku


"Sayang dengerin mama dulu ! mama ingin yang terbaik untuk kesembuhanmu"


"kalo kamu gak mau pergi.maka aku yang pergi"


"Sayang jangan begini"


Ku paksakan untuk melangkah pergi.Freya menuntunku tanpa bicara apapun.menopang tubuhku dengan kepayahan.tak ku dengarkan teriakan mamaku.


"Presdir duduklah disini.akan aku panggil taksi"ucapnya


Taksi berhenti tepat di depanku Freya memapahku masuk taksi.ku hela napas panjang.luka dikepalaku terasa nyut-nyutan.


kuraup wajahku dengan kesal


"ach"teriakku


"kenapa?sakit?kita kembali ke rumah sakit ya?"ucap Freya panik


"tidak"


"kenapa keras kepala"


"kenapa?kau kasihan padaku?aku terlihat begitu menyedihkan?"


"kenapa bicara seperti itu?aku tak bermaksud apa-apa,aku hanya takut kamu sakit"


"kalo kamu tak suka kamu boleh turun"usirku


"tidak.bagaimana bisa aku ninggalin kamu dalam keadaan begini"


"jangan tanya apapun,biar aku istirahat"


Ku rebahkan kepalaku dipangkuan Freya.dia mengelus rambutku perlahan.sejak ciuman panas kami kemarin sepertinya Freya lebih banyak diam dan menghindari obrolan berat yang bisa memancingku.


Freeya mengelus pipiku "Presdir kita sudah sampai"bisiknya


"Haris kabari kalo aku pulang"


"sudah,dia sudah menunggu di apartment"


"aku bisa jalan sendiri"ucapku saat Freya hendak memapahku


"aku takut kamu jatuh"


"gpp...."


"hati-hati Presdir"


Haris membantu memapahku ke kamar.Freya menyeelimuti tubuh ini.ku coba pejamkan mata walaupun sangat berat.


***