Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 69 Ibu Direktur



"Ayah,Kakek aku ingin menghandle perusahaan"kataku pagi ini


"hhuuukkk....!!!"


Salman tersedak makanan yang baru di telannya.terlihat tante Qania menyodorkan segelas air kepada suami tercintanya itu. sekilas si brengsek itu melirik ke arahku.


"Alkhamdulillah,akhirnya Alloh membalikkan hatimu Sayang"cap Kakek bersyukur


"kalau begitu ayah akan adakan rapat dewan direksi pagi ini.biar Sayang menggantikan posisi ayah nanti"ujar Ayah


"hem"anggukku


Bu Seruni tampak tersenyum menatapku lain dengan Anggita yang terlihat tegang.aku meneruskan makanku sambil terus berpikir langkah apa yang harus aku gunakan untuk memulai peperanganku dengan Salman.


"selamat datang kembali ke rumah Queen Bie"ucap Salman dengan senyum liciknya


Aku tak merespon sapaan dari si brengsek itu aku melenggang menuju garasi.aku tersenyum lebar mengetahui mobil kesayanganku masih bertengger di garasi dan masih sangat terawat.dengan tergopoh gopoh Pak Kirno menghampitiku dsn menyodorkan kunci padaku.


"terima kasih Pak Kirno"ucapku ramah


"saya permisi"


Aku baru saja he.dak membuka pintu mobil ketika tanganku di cekal oleh seseorang.aku menoleh Salman keburu menghempaskan tubuhku ke pintu belakang mobil.Salman hendak menyentuh wsaahku namun segera kutepis.


"jangan pernah mencoba menyentuhku dengan tangan kotormu"semburku


"uwoowww...kau masih saja galak Bie,aku suka" seringainya


"tutup mulutmu"bentakku


"Bie,kau makin cantik dan sexy bdgitu menggairahkan"katanya lagi


"kau sangat menjijikkan"cemoohku


Kudorong tubuh Sal.an sekuat tenaga dan segera masuk mobil.lagi lagi Salman menahan pintu mobil yang hendak ku tutup.


" antikkkk...percayalah kau skan takluk dan jadi mainan baruku"sumbarnya


Aku tersenyum ke arahnya "dengar brengsek ! aku kesini untuk jadi topanmu bukan mainanmu,percayalah"


Dengan kasar kutarik pintu itu dan kontan membuat Salman mengaduh karna tangannya terjepit.setelah Salman menarik tngannya baru mututup kembali pintu mobilku dan melaju.


Jalanan kota Yogyakarta sudah lebih padat dari beberapa tahun yang lalu.aku mrrasa canggung menyerir sendiri merasa tidak hafal jalan.


\=\=\=\=\=


"selamat pagi ! Perhatian semua !"sapa Ayah penuh wibawa


Aku berdiri disamping Ayah menghadap dewan direksi yang semuanya


enatapku tanpa berkedip.


"Hari ini saya Haidar Rasyid menyatakan mengundurka. dirj sebagai Direktur Utama Grup Rasyid"kata Ayah tegas


Dewan direksi terlihat saling pandang mereka tampak terkejut.


"ada apa sampai Direktur mengundurkan diri ?"tanya salah satu dari mereka


"saya ingin istirahat sama seperti ayah saya yang hanya mengawasi.karna tampuk kepemimpinan akan saya serahkan kepada putri tungal saya"kata Ayah panjaang lebar


"perkenalkan dia adalah Freeya Aqila Hasbie Rasyid putri saya ini adalah S2 dari universitas ternama di Amerika"terang Ayah


Aku hanya tersenyum tipis.dewan direksi kembali saling berbisik seraya menatapku ragu.


"kenapa ssya merasa ragu.putri anda masih sangat muda,"kata lelaki yang duduk di sebelah Anggita


"kenapa tidak wakil direktur Salman saja yang sudah jelas mengetahui seluk beluk perusahaan"saran yang lain


Ayah tersenyum


"Putri saya memang masih sangat muda tapi coba anda semua lihat"


Ayah menunjuk layar proyektor besar di belakangnya yang menampilkan fotoku saat menerima penghargaan sebagai karyawan terbaik di 2 perusahaan Antoni Corporation dan F Company.hingga aku mendapat julukan Queen of Presentation.


"putri saya ini menguasai lintas bidang yang tak perlu kalian ragukan kinerjanya"


"apakah anda ini tunangan Presdir F Company Demas Fabian ?"tanya wanita yang duduk psling ujung


"iya benar"anggukku sambil tersenyum


"saya setuju kalau begitu"kata wanita tadi


"saya juga"


"selamat bergabung bersama Grip Rasyid Direktur Freeya"


"terima kasih atas kepercayaannya "kataku tegas


Meski sempat berjalan alot namun rapat berjalan sesuai yang aku harapkan.Salman menatap tajam ke arahku ku balas tatapannya tanpa rasa takut.


"Bie,kau salah masuk kemari.kenapa tak kau urus saja kisah percintaanmu itu"bisik Anggita


Aku tersenyum


"heh,aku baru sadar aku tak akan membiarkan perusahaan keluargaku di kuasai oleh coro coro seperti kalian"balasku


"kau tak akan bisa melawan Salman,dia terlalu licik"


"berarti kau tau banyak tentang Salman bukan ?"tanyaku


"aku tidak tau"


"tak perlu takut aku janji aku akan melindungimu"bujukku


"kau bisa apa ? kau hanya seorang wanita" desis Anggita


"aku benar"ucapku yakin


"kebenaran akan membuatku kuat"ucapku percaya diri


"aku tidak punya keberanian sebesar yang kau punya,Bie"kata Anggita sambil keluar dari ruang rapat


Aku membuang napas kasar,Sial !! aku harus mengumpulkan bukti bukti itu sendiri,aku melangkah memasuki ruangan Direktur Utama.aku terkejut saat melihat Salman sudah duduk di kursi Direktur.dia tersenyum licik menatapku.


"selama pagi Ibu Direktur"sapanya terdengar mengejek


"keluar dari ruanganku !"sentakku


"cantik kau itu lebih cocok nyalon daripada disini"ujarnya


"kenapa ? kau takut ?"cibirku


"takut ? kau terlalu cantik untuk kutakuti Sayang"ucap Salman sembari bangkit


"percayalah ,si cantik ini akan jadi sumber ketakutanmu tunggulah"


Salman berdiri tepat di hadapanku "uuuhhh...aku takut cantik"cibirnya


"Sayangku duduk manis saja terima beres biar aku yang mengurus segalanya"katanya


"aku tak percaya padamu"


"aku pakar dalam bidang ini."ujar Salman


"oke,kalau begitu mohon bantuannya Bapak Wakil Direktur"ucapku sersya kuulurkan tanganku


Salman menarik tanganku dan mengecupnya buru buru ku hempaskan tangan itu.aku harus lebih bersabar agar tidak menimbulkan kecurigaan.


"Bapak Wakil Direktur boleh keluar sekarang"ucapku setengah mengusir


Salman berjalan mundur sambil tersenyum genit menatapku.dia kiss bye dan menutup pintu.setelah Salman keluar segera kubasuh tanganku yang di kecupnya tadi.


\=\=\=\=\=


Aku terbangun di tengah malam.aku lupa membawa air putih ke kamar setelah makan malam tadi.di kulkas semua minuman dingin dan aku tidak terbiasa.


Aku melangkah menuruni tangga menuju dapur,semua gelap karna semua sudah tidur rumah Kakek yang terlalu besar membuat jarak antara kamarku dan dapur terasa cukup jauh.untuk sampai ke dapur aku harus melewati beberapa ruangan yaiyu kamar tamu,ruang keluarga dan ruang makan.


Baru sampai di ruang keluarga kurendekkan langkahku saat sayup sayup terdengar suara orang menangis.ah bukan ! ku pertegas pendengaranku ini suara orang merintih,aku berjalan perlahan mencoba mencari sumber suara rintihan itu.sepertinya dari ruang keluarga.sekarang ganti terdengar desahan seorang pria.aku berdiri diambang pembatas ruang keluarga dan kamar tamu.


.


.


.


.


.


.


.


.