Me Vs My CEO

Me Vs My CEO
Bab 31 Strong Women Freeya



Aku mondar-mandir diruang tamu sambil sesekali mengawasi pintu kamar Freeya yang masih tertutup.Haris terduduk disofa sambil berpangku tangan,kubalas chat dari Qalila yang masuk berkali-kali mungkin dia kesal tak kunjung memperoleh balasan.ini sudah satu jam lebih Freya masuk kamar dan tak keluar.entah apa yang dia lakukan di dalam.


"ini yang saya takutkan"Haris angkat suara


kutatap Haris tajam,diapun reflek kembali tertunduk


"ini hanya sementara"ujarku


"kenapa anda tak coba periksa ke dalam ? saya takut nanti Freeya kenapa-kenapa"kata Haris


Aku tertegun sesaat kemudian berlari ke kamar Freeya.kosong ! dan tempat tidur masih rapi kemana dia ?? lamat-lamat terdengar suara gemericik air.sengaja kutempelkan telingaku ke pintu kamar mandi.


ku ketuk pintu itu perlahan tapi tak ada jawaban.


"Freeya kau baik-baik saja?"seruku mulai panik


tidak ada jawaban sama sekali hanya terdengar suara air.


"Freeya kau dengar aku?"aku berteriak sekali lagi


tetap tidak ada jawaban akhirnya kuputuskan untuk mendobrak pintu itu dan kudapati Freeya bersandar di dinding dalam keadaan basah kuyup dengan mata terpejam.


"apa yang kau lakukan Freeya?"


tanyaku seraya ku guncang-guncangkan tubuhnya


"apa aku ini sangat buruk?" tangisnya


"kau ini bicara apa?"ujarku sembari kupegangi kedua pipinya


"aku ini kekasih yang buruk,aku juga sahabat yang buruk kan?"


"aku hanya benalu bagi mereka" ucapnya dengan mata masih terpejam


"buka matamu Freya !lihat aku"


titahku


perlahan Freeya membuka matanya


mata sembab berair itu menatapku dengan sendu.bibirnya bergetar aku tau dia kedinginan.kenapa seorang Freya bisa sebodoh ini ???


kubalas tatapannya tajam.kedua tanganku masih dipipinya.


"dengar Freeya ! ini terakhir kalinya kau menangis karna si Kail brengsek itu.aku tau kamu kuat Freeya"ucapku tegas


"anggap dia bukan yang terbaIk untukmu" imbuhku


"apa aku tidak terlalu baik untuknya?" tanyanya terlihat kristal putih meluncur cepat dari sudut matanya bersamaan dengan air dari shower


"tidak 1 tidak Freya ! kau yang terlalu baik untuknya dan dia tak baik untukmu"hiburku


"apa sebagai sahabat aku begitu jahat ? untuknya aku menomor duakan keinginanku.bagiku sahabat adalah prioritasku.kalo dia bilang dia juga menyukai Kail aku akan mundur.jangan menikam ku seperti ini"isaknya


"aku sudah seperti looser dimata mereka. mereka bermain begitu cantik.menjulurkan lidahnya mengejekku.sungguh mengenaskan bukan?"


sekonyong-konyong kudaratkan ciumanku dibibirnya yang basah mata besarnya semakin membelalak lebar ketika mulai kulumat bibirnya dengan cepat.semakin erat rapat telapak tanganku dipipinya begitu ku nikmati ciuman itu meski Freeya beku yang tak kunjung merespon.kami masih dalam posisi jongkok berhadapan.


tangan Freeya kurasakan melingkar dipinggangku.matanya yang tadi membelalak kini mulai turun.bibir basahnya mulai bergerak lembut merespon ciumanku.hawa hangat menyelimuti tubuh kami yang basah kuyup.cukup lama bibir kami saling berpagut.saling mentranfer kehangatan dibawah guyuran air shower yang dingin luar biasa.perlahan kulepas pagutanku kupandangi wajahnya yang begitu menggoda dalam keadaan basah.kuangkat tubuhnya


keluar dari kamar mandi setelah sebelumnya kumatikan showernya


Kuserahkan sebuah handuk kehadapannya.dengan lemah dia menerima handuk itu dia menggigil kedinginan.aku segera keluar setelah berganti pakaian kubuatkan dia segelas coklat panas.dia sudah berganti pakaian dan duduk dipojokan tempat tidur.


"minumlah"


"aku ingin sendiri"


"tidak,aku akan menemanimu"


Freeya menatapku nanar


"aku tak mau kau melakukan hal aneh lagi,aku tak mau sampai kau mati kedinginan"


"aku hanya mendinginkan hati dan otakku yang panas"ucapnya datar


"dengan cara menyiksa diri seperti tadi?"


"kau tak akan mengerti"


"kau mana tahu jika yang aku alami lebih pahit dari yang kau alami.pengalaman seperti inilah yang menjadikanmu jauh lebih kuat"


Freeya kembali menatapku bahkan kali ini dengan begitu menyeramkan


"seseorang diberi cobaan bukan untuk membuatnya jadi putus aa tapi agat dia berusaha belajar bangkit"aku duduk di sebelahnya


"apa dengan menangis semua selesai ? apa dia akan kembali padamu ? tidak ! dia juga tidak akan merasa kalo kau menangis darah sekalipun"ujarku


"tunjukksn kau bisa jauh lebih bahagia"imbuhku


lagi-lagi Freeya memandangku tanpa berucap apapun


"apa kau merasa aku begitu lemah ? sampai kau menasehatiku begitu banyak?"


"aku bawa tidur besok juga lupa"katanya santai


"kau.....aku mencemaskanmu dan seolah tak pernah terjadi apapun?"protesku


"sudah keluar sana aku mau tidur"usirnya


"yakin kau tidak apa-apa?"tanyaku meyakinkan diri


aku berjalan mundur masih memandanginya yang duduk dengan tangan menyilang di dada


perlahan kututup kembali pintu itu.


***


Aku terbangun oleh suara gaduh yang entah bersumber dari mana ?tapi sungguh mengganggu hingga memaksaku bangkit.


dengan mata masih melekat ku cari sumber suara gaduh itu.what ??? sepagi ini Freeya sudah berada di dapur ? aku pikir dia akan meratapi nasibnya dan mengurung diri di kamar.tapi ini apa dia sudah sibuk dengan makanan ? dia terlihat berjingkat-jingkat entah sedang menggoreng apa ? bergegas kuhampiri tempatnya berdiri langsung saja kurampas spatula yang dipegangnya.


"minggir!semenit lagi ku biarkan kau di dapur,yang ada kau akan mengunjungi rumah sakit"ucapku keras


Freeya hanya meringis menampakkan wajah sok polosnya.dia duduk di kabinet sebelahku sambil memainkan ekor rambutnya yang di ikat satu.


"cepat sedikit aku lapar sekali"keluhnya


"kau duduklah dulu makanan sebentar lagi siap"


"ini sudah duduk"sahutnya


aku diam menoleh ke arahnya tanpa harus berucap dia segera turun dan berpindah duduk di kursi meja makan.kedua tangan nya sudah memegangi srndok dan garpu.aku menggeleng kecil ke-lakuannya sudah seperti bocah.ku sodorkan telur dadar buatan Freeya yang hancur kuubah menjadi orak arik telur campur sosis.tanpa basa basi Freeya langsung melahap telurnya.


"bahkan bikin telur dadarpun kamu nggak bisa"keluhku


Freeya terus saja menyantap makanannya tanpa menggubrisku.dia tak seperti mantanku yang selalu menjaga imej mereka bahkan saat makan.Freeya meneguk habis segelas air yang aku tuangkan.kini dia begitu serius menatapku.


"apa?"tanyaku heran


"enak sekali"pujinya


"tidak sepertimu bikin dadar telur saja nggak bisa"cibirku


"emang ada undang-undangnya apa kalau cewek harus pinter masak ?"tukasnya


kini kubalas tatapannya dengan serius.


"setidaknya itu yang membedakan pria dan wanita.apa kau akan menyuruh suamimu masak terus Freeya ?"ujarku


"kalo dia mau kan malah bagus"


aku geleng-geleng nendengar jawaban Freya yang asal.ku toyor kepalanya dengan kesal.


"aaaaaahhhhh"teriaknya


"dasar gadis bodoh"makiku


"sakit tauuuu"


"biar otakmu nggak konslet" seruku


"akan kupertimbangkan kalo umpamanya ada aturan menantu di haruskan bisa memasak"


Aku terdiam aaat Haris menghampiriku dengan wajah tegang Freeyapun ikut cemas.


"diluar ada Kail"ucap Haris gugup


"aku akan menemuinya Haris"


aku duduk di sofa di balik dinding ruang tamu berharap aku bisa nencuri dengar percakapan mereka.hampir 10 menit tidak ada suara sama sekali.tidak mungkin kan aku mengintip ? aku ini pria terhormat


"semalam itu...."terdengar Kail buka suara


"lupakan!"potong Freeya


"kita berakhir disini saja"ucap Freeya terdengar parau


"tidak"tolak Kail


"mau sampai kapan kita melakukan drama bodoh ini,hem ? sampai kita bertiga gila ? sampai kita bertiga saling menyakiti ?"


terdapat amarah dari setiap penekanan kata-kata Freeya


"aku bersalah,aku tak akan membela diri Sayang.tapi aku tak mau kita berakhir"


"apa ? dengan keserakahanmu kau akan mengatakan tak mau hubungan kita berakhir dan kau juga tidak bisa melepasnya ?"


"kau tenang saja,kau tak harus bingung memilih.karna aku juga tidak akan memintamu memilih"


"kau boleh pergi ! apartment dan lainnya kita urus setelah kita kembali ke Jakarta"ucap Freeya


"Sayang,tak adakah kesempatan untukku ?" hiba Kail


"kita introspeksi diri saja"


terdengar suara pintu terbuka itu pasti Kail dudah pergi.aku bangkit melangkah ke ruang tamu.Freeya tersenyum kearahku tak tau ini senyum apa ?


"mau jalan kemana kita hari ini ?"tanya Freeya yang membuatku tergagap


"ja....ja....jalan?ya....kita jalan ke curug" ucapku terbata-bata


"kalo gitu aku ganti sepatu dulu"


Kami berangkat berlima men-jelajahi curug yang ada di sekitar puncak.perjalanan tidaklah mudah karena kami harus melewati medan yang terjal.namun semua itj terbayar oleh keindahan curug yang luar biasa.


Freeya,Qalila,dan Kinar Tiga serangkai ini sungguh trio heboh.sekalinya tiba di curug mereka langsung jejeritan dan terjun ke kolam di dasar curug.Freeya sama sekali tak seperti orang yzng tengah broken heart.Aku hanya duduk di batu besar mengawasinya berenang kesana kemari.


"DIALAH STRONG WOMEN FREEYA"


***