Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab IX. Harga Yang Harus Dibayar Rangga utk Keterlambatannya



Halangan tak pernah absen dalam hidup.


Nada nyanyian suara duka terselip dalam ornamen dari lagu kehidupan.


Sudah ditentukan oleh tangan Sang Pemilik kehidupan.


Kata Tri Pingpitu pada anak-anaknya.


_____________________________________


Ketika lawannya bertambah tiga orang lagi, Ki Ageng Aras berteriak keras, otot-ototnya menggelembung dan tandangnya menjadi semakin ganas. Matanya seperti berubah merah, dipenuhi pembuluh-pembuluh darah kecil.


“HAA!!”, Sentanu berteriak keras.


Bukan sekedar teriakan, teriakan Sentanu membawa getaran yang mengguncang batin. Gerakan Ki Ageng Aras terhenti untuk sepersekian tarikan nafas. Hanya sekilat saja, namun waktu yang sekejap itu menyelamatkan kepala Branjangan dari tinju Ki Ageng Aras yang menyala-nyala.


Branjangan dengan gesit melontarkan dirinya bergulingan di tanah. Galah Cemani bergerak melindungi rekannya itu. Sementara Gajah Petak dan Bayu Bayanaka secara berbarengan menyerang Ki Ageng Aras dari kiri dan kanan. Ki Ageng Aras melompat mundur, menghindari serangan keduanya. Saat yang sejenak itu digunakannya untuk mengambil nafas.


Setarikan nafas saja, dan dia kembali bergerak ke sudut lain dan menyerang posisi Gajah Petak yang terbuka.


Namun, tentu saja tidak semudah itu mendaratkan serangan, Gajah Petak yang melihat datangnya serangan tidak menghindar, dengan tenaganya yang besar dia balik menyapu serangan Ki Ageng Aras.


Bayu Bayanaka dengan gesit berusaha bergerak mengitari Ki Ageng Aras dan menyerang dari arah yang tak bisa dia lihat. Ki Ageng Aras menggeliat menghindari serangan Bayu Bayanaka. Akibatnya kuda-kudanya tak begitu kuat saat tinjunya berbenturan dengan tinju Gajah Petak. Tubuhnya terpental ke udara, di saat dia masih di udara, Branjangan dan Galah Cemani secara bersamaan menyerang Ki Ageng Aras dari dua sudut yang berbeda.


Ki Ageng Aras berhasil menahan serangan Galah Cemani, tapi kaki Branjangan tak sempat dia hindari secara sempurna dan mampir ke pinggangnya.


Tangan Ki Ageng Aras dengan cepat membabat kaki Branjangan yang masih terjulur dan sempat menyentuh tulang keringnya. Terdengar suara benturan dan bau kulit terbakar pun tercium di udara.


Tidak ada waktu untuk mengurut pinggang yang lebam, atau membubuhi obat pada kaki yang terluka. Ki Ageng Aras terpaksa menghindari serangan Sentanu yang memaksanya masuk ke dalam kepungan tiga orang yang lain. Branjangan dengan segera melompat mengisi sudut yang kosong.


Untuk sesaat pertarungan terhenti, Ki Ageng Aras yang sejak tadi, berhasil bergerak dengan lincah menekan lawan, menghindari terkepung di tengah, akhirnya tak berhasil mempertahankan kedudukannya.


Sekarang Ki Ageng Aras harus jauh lebih berhati-hati untuk menyerang. Lima orang lawannya sudah mengepung rapat dirinya. Setiap Ki Ageng Aras menyerang salah seorang lawan, maka kedudukannya akan terbuka bagi dua sampai tiga orang lawannya yang lain.


Sementara lima orang yang mengepung Ki Ageng Aras pun tak berani sembarangan menyerang. Jika mereka tidak berhati-hati, bukan tidak mungkin Ki Ageng Aras akan kembali lolos dari kepungan mereka.


Enam orang itu pun, hanya bergerak dari satu posisi ke posisi yang lain, mencari-cari celah untuk menyerang. Belum ada yang berani mendahului menyerang lawannya.


“Menyerahlah Ki Ageng Aras, laki-laki sejati tak malu mengaku kalah.”, seru Tumenggung Widyaguna.


“Hehehe.... aku akui aku tidak akan bisa menang melawan kalian, tapi bukan berarti aku akan menyerah Tumenggung...”, sahut Ki Ageng Aras, tanpa melepaskan kewaspadaannya.


“Atau mungkin Ki Tumenggung ingin menambahkan seorang lagi untuk menjadi lawanku?”, ejek Ki Ageng Aras.


“Hmp... tak perlu...”, sahut Tumenggung Widyaguna pendek.


Tidak mungkin dia memerintahkan Watu Gunung untuk ikut turun mengeroyok, sekarangpun keadaannya sudah cukup memalukan bagi diri mereka. Terlebih situasinya sudah tidak lagi berbahaya seperti sebelumnya.


Percakapan mereka itu membuat Sentanu, Galah Cemani, Branjangan, Bayu Bayanaka dan Gajah Petak, merasa malu. Mereka berlima terus berusaha mencari dan menciptakan kesempatan untuk menyerang. Namun Ki Ageng Aras pun tidak mau tinggal diam, dan terus bergerak menyesuaikan diri dengan pergerakan mereka.


Secara fisik pertarungan ini jauh lebih ringan, tapi secara mental justru jauh lebih berat dibandingkan sebelumnya.


Syaraf-syaraf Ki Ageng Aras semakin tegang, lawan-lawannya bukanlah sembarang pendekar. Masing-masing punya modal untuk malang melintang sendirian di dunia persilatan. Bukan itu saja, selama bertahun-tahun bekerja sama mengabdi pada Prabu Jaya Lesmana, mereka sudah sering bertarung bersama, sehingga terjalin saling pengertian yang erat di antara mereka.


“Tumenggung, sebaiknya kau pun ikut turun, kulihat Ki Bayu Bayanaka mulai kelelahan, aku kuatir nanti tinjuku tak sengaja melubangi kepalanya.”, ujar Ki Ageng Aras.


“Cih! Aku bukan anak kecil yang mudah terpancing kata-ka--”, seru Bayu Bayanaka dengan marah.


“SREET...!”, belum habis dia berucap, serangan Ki Ageng Aras sungguh-sungguh melayang ke arahnya.


Bayu Bayanaka boleh berkata dia tak terpancing oleh Ki Ageng Aras, tapi emosinya terpancing dan ketika hendak membalas ejekan Ki Ageng Aras, waktu yang sekejap itu dimanfaatkan dengan baik oleh Ki Ageng Aras. Ki Ageng Aras menyerang dengan ganas, Bayu Bayanaka yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling tinggi di antara mereka, hampir-hampir tak sempat menghindari serangan Ki Ageng Aras.


Serangan Ki Ageng Aras datang tak terduga, Bayu Bayanaka hanya bisa menyurut mundur ke belakang. Di antara mereka berlima, mungkin hanya Gajah Petak dan Branjangan yang berani beradu keras dengan tinju Ki Ageng Aras. Gajah Petak karena tenaganya yang besar, dan Branjangan yang sifatnya berangasan.


Ke empat pendekar yang lain, berusaha memburu dan memaksa Ki Ageng Aras kembali dalam kepungan. Namun lubang yang ditinggalkan Bayu Bayanaka tidak berhasil mereka tutup.


Melalui serangannya itu, Ki Ageng Aras berhasil keluar dari kepungan dan menempatkan diri, sedemikian rupa sehingga tidak ada lawan di belakangnya. Pertarungan pun kembali terjadi dengan sengit, saling serang dan saling bertahan.


Tumenggung Widyaguna mengamati pertarungan itu dengan wajah tegang. Ki Ageng Aras berkelahi kesetanan, semakin lama semakin tak peduli dengan keselamatannya sendiri. Tumenggung Widyaguna tiba-tiba merasa menyesal, mengapa tidak turun tangan sendiri. Ki Ageng Aras sudah pasti akan kalah, yang dia khawatirkan bila Ki Ageng Aras nekat mati sampyuh dengan salah seorang dari lima orang lawannya.


“Kakang Tumenggung, apa kakang berencana untuk turun tangan?”, Watu Gunung bertanya.


Dahi Tumenggung Widyaguna berkerut, beberapa kali dia membuka mulut namun tak mampu mengambil keputusan.


“Kakang, atau aku turun dan membantu mereka?” Watu Gunung kembali bertanya dengan nada cemas.


“Jangan.”, geram Tumenggung Widyaguna.


Dia tahu benar kemampuan Watu Gunung beberapa lapis lebih rendah dari lima rekannya yang lain. Sebenarnya pilihannya tidaklah sulit, hanya harga diri Tumenggung Widyaguna melarang dirinya terjun ke gelanggang pertarungan sekarang.


Dalam keraguan itu, tiba-tiba terdengar suara berdesir dari belakang. Satu sosok berkelebat melewati Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung, geraknya terlalu cepat bagi Tumenggung Widyaguna untuk bereaksi. Pula, pada saat itu seluruh perhatiannya terserap penuh pada pertarungan yang ada di depannya.


Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung bergegas memburu ke depan, namun mereka hanya bisa memandang perkembangan di depannya dengan jantung berdebaran. Semuanya terjadi terlalu cepat, beberapa kejapan mata saja sangatlah berharga.


“Hentikan!”, teriak sosok itu berwibawa.


Tanpa ragu dia melompat ke tengah-tengah pertempuran, dengan satu tangan dia menghadang serangan Ki Ageng Aras yang meluncur deras ke arah dada Branjangan yang terlalu nekat. Di saat yang sama, dengan tangan yang lain dia menangkis serangan Gajah Petak yang sudah pasti akan memecahkan kepala Ki Ageng Aras segera setelah Ki Ageng Aras berhasil menghantam dada Branjangan. Sementara dua kakinya terpentang lebar, menancap ke atas tanah, dadanya menyambut pula tendangan Galah Cemani yang meluncur ke arah pinggang Ki Ageng Aras, memastikan dia tidak bisa lolos dari serangan Gajah Petak.


Sosok itu menghadang tiga serangan sekaligus, tiap-tiap serangan mampu membunuh seekor kerbau dewasa dengan mudah. Dada Bayu Bayanaka tergetar mendengar suara itu.


“Hentikan! Hentikan! Dia Raden Rangga!”, buru-buru dia berteriak, sambil berkelebat cepat berusaha menangkis kaki Galah Cemani yang sudah terlanjur meluncur deras tanpa bisa dihentikan.


“DAR!”


“DAR!”


“KRAAK!”


“DUG!”


Belum habis teriakan Bayu Bayanaka, ledakan demi ledakan terdengar keras, diselipi suara patahnya tulang. Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung pada saat itu, sudah terjun pula ke gelanggang.


“Jangan ada yang turun tangan terhadap Ki Ageng Aras!”, seru Rangga hampir bersamaan dengan seruan Bayu Bayanaka.


Kejadian demi kejadian, terjadi hampir bersamaan, kata-kata tak mampu melukiskannya dengan tepat. Rangga berhasil menahan serangan-serangan tersebut, menyelamatkan nyawa Branjangan dan Ki Ageng Aras. Namun tangannya patah ketika berbenturan dengan tinju Gajah Petak, karena di saat yang sama dia harus membagi tenaga menahan serangan Galah Cemani.


Untungnya tapak Bayu Bayanaka masih sempat bersentuhan dengan kaki Galah Cemani dan meredam sebagian tenaganya, sehingga dada Rangga tak sepenuhnya terhajar telak.


Teriakan Rangga tepat pada waktunya, meredam kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Namun harga yang harus dia bayar untuk keteledorannya cukup mahal. Tangan kirinya yang menahan serangan Ki Ageng Aras tampak melepuh kehitaman. Legan kanannya patah menahan tinju Gajah Petak. Beberapa rusuknya pun retak, terkena tendangan Galah Cemani.


“Raden...Raden...”, tujuh orang pendekar itu pun berebut hendak menopang tubuh Rangga yang sempoyongan.


Bayu Bayanaka yang paling cepat dan berhasil menyangga tubuh Rangga sebelum dia jatuh ke tanah.


“Huakk...!”, beberapa gumpal darah segar terlontar keluar dari mulut Rangga.


“Jangan... ada... pertarungan di antara kalian...”, terbata-bata Rangga berkata.


Pandangan matanya terasa kabur, isi dadanya terasa bergolak. Serangan Gajah Petak, Ki Ageng Aras dan Galah Cemani bukan serangan yang mengandalkan tenaga luar dan otot belaka. Jika Rangga tak memiliki ilmu kebal, isi tubuhnya mungkin sudah luluh lantak sekarang ini. Apalagi serangan Ki Ageng Aras yang membawa hawa panas, meskipun bisa dia tangkis namun tetap hawa panas itu menyusup ke dalam tubuhnya. Sambil menggertak gigi dia memaksakan dirinya untuk tetap sadar.


“Kami mengerti Den..”, ujar Tumenggung Widyaguna sambil perlahan-lahan, bersama dengan Bayu Bayanaka mendudukkan Rangga di atas tanah.


Mengetahui usahanya untuk menghentikan pertarungan itu sudah berhasil. Rangga segera memejamkan mata. Mengatur nafas, berusaha mengerahkan tenaga dalamnya, mengendalikan energi yang bergerak liar dalam tubuhnya. Tumenggung Widyaguna pun menempelkan kedua telapak tangannya di punggung Rangga, berusaha membantu dengan hati-hati.


“Biarkan aku membantu.”, ujar Ki Ageng Aras dengan berhati-hati.


Tumenggung Widyaguna memandang ke arahnya dengan tajam, keduanya berpandangan beberapa saat lamanya.


“Hawa panas dari Ilmu Gumbala Geniku sudah menyusup masuk ke tubuhnya. Saat ini hanya aku yang bisa menarik kembali hawa panas itu.”, ujar Ki Ageng Aras dengan sungguh-sungguh.


Tidak ada yang berani memutuskan, meskipun Rangga menghentikan pertarungan mereka, tapi Tumenggung Widyaguna dan yang lainnya belum berani mempercayakan keselamatan Rangga di tangan Ki Ageng Aras.


“Biarkan dia.”, kata Rangga dengan lemah.


“Tapi … “, desis Bayu Bayanaka dengan suara tertahan.


Ki Ageng Aras masih belum berani berjalan mendekat. Gajah Petak dan Galah Cemani berdiri menghadang jalannya dengan mata merah dan sembab. Perasaan keduanya bercampur aduk antara rasa marah dan menyesal, karena serangan mereka berdualah yang membuat Rangga berada dalam keadaannya saat ini.


Tumenggung Widyaguna menatap yang lain, berusaha melihat pendapat mereka. Namun Bayu Bayanaka hanya menatap Rangga dengan khawatir, seperti induk ayam kehilangan anaknya. Sentanu dan Branjangan, terlihat sama-sama tidak bisa memutuskan.


Watu Gunung mendesis, “Raden Rangga sudah berkata.”


Tumenggung Widyaguna menghela nafas, “Gajah Petak, Galah Cemani, biarkan Ki Ageng Aras lewat.”


Gajah Petak dan Galah Cemani pun minggir, tapi pandangan mata mereka melekat erat mengamati setiap gerak-gerik Ki Ageng Aras. Demikian pula yang lain. Meskipun Rangga sudah berulang kali menunjukkan sikap yang bersahabat terhadap Ki Ageng Aras, tapi mereka tidak bisa merasa tenang. Sedikit saja Ki Ageng Aras menunjukkan sikap yang mencurigakan, tanpa keraguan lagi, pada saat itu pula dia akan diserang dari segala arah.


Ki Ageng Aras menghela nafas panjang, buru-buru dia bersila di depan Rangga dan menenangkan segala gejolak pikiran. Satu tangannya memegang lengan Rangga yang menghitam, sementara tangan yang lain menempel ke atas tanah.


Tumenggung Widyaguna pun dengan segera menutup kembali matanya, dan dengan hati-hati, sedikit demi sedikit, dan lembut mengalirkan tenaganya ke dalam tubuh Rangga.


Tiga orang itu duduk bersila tanpa mempedulikan situasi di sekitar mereka. Bayu Bayanaka menepuk-nepuk pundak Gajah Petak yang memandangi Rangga dengan rasa khawatir dan sesal. Galah Cemani berdiri sedikit lebih jauh, sesekali menghela nafas.


Sentanu menghampirinya, “Kau tidak apa-apa?”


Galah Cemani menghela nafas, “Tidak masalah, sebaiknya kita berjaga, jangan sampai ada yang mengganggu mereka.”


Sentanu mengangguk setuju. Bayu Bayanaka dan Gajah Petak pun sudah mengambil posisi berjaga. Tak lama kemudian, mereka semua berjaga memagari Rangga, Tumenggung Widyaguna dan Ki Ageng Aras. Tidak ada yang membuat suara.


Malam itu, di pelataran bekas rumah Ki Ageng Aras, yang sekarang sudah hancur berantakan, hanya ada keheningan.