
Setelah mengalami pertempuran yang pertama, bukan hanya anak-anak muda yang terpilih untuk menjadi prajurit yang merasakan gemblengan mental. Seluruh penduduk Kademangan Jati Asih pun seperti menjadi lebih tatag dalam menghadapi tantangan yang ada di depan mereka.
Dalam hitungan hari, bangunan-bangunan semi permanen sudah berdiri dengan kokoh, terlihat kasar namun semuanya berfungsi dengan baik. Atap tak bocor, dinding cukup rapat menahan angin malam yang dingin, dan lantai yang tak lembab di waktu hujan. Kandang-kandang tempat hewan peliharaan pun sudah dibuat agak jauh dari pemukiman penduduk, di luar tembok pertahanan.
Tembok pertahanan yang mengelilingi tempat itu juga sudah terbangun dengan kuat.
Setiap beberapa saat selalu ada sekelompok pemuda yang berpatroli.
Tiap-tiap orang sudah memiliki tugasnya masing-masing, bahkan perempuan dan anak-anak pun tidak berdiam diri menganggur. Tiap keluarga memiliki kewajiban membuat 10 anak panah tiap hari, hasil itu nantinya ditukar dengan jatah ransum makan mereka.
Jumlah 10 anak panah itu jangan dianggap sedikit, setidaknya ada 3000 keluarga yang mengikuti Rangga, artinya ada 30000 anak panah per hari.
Selain diwajibkan mengumpulkan anak panah, tiap keluarga juga memiliki kewajiban untuk menyiapkan busur panah yang baik bagi tiap anggota keluarga. Diharapkan dalam waktu 2 bulan, setiap orang akan memiliki busur panahnya masing-masing.
Tiap-tiap penduduk kademangan yang sudah berusia di atas 12 tahun, diharuskan pula menjalani latihan keprajuritan, meski terbatas sifatnya. Bagi yang remaja dan wanita, semuanya harus berlatih memanah.
Mereka bukan berlatih memanah untuk mengenai sasaran, tapi memanah sesuai perintah pemimpin barisan. Pemimpin kesatuan akan memberikan perintah berupa sudut anak panah secara vertikal, horisontal dan berapa kuat tarikan yang harus mereka lakukan.
Sementara yang laki-laki berusia lebih dari 15 tahun, diwajibkan menjalani latihan untuk menggunakan tombak panjang.
Di salah satu bangunan Rangga dan Rakryan Rangga Wirapati terlihat percakapan yang serius.
“Jadi simpanan makanan kita hanya akan bertahan sampai tiga bulan?”, tanya Rangga setelah selesai mendengarkan laporan Rakryan Rangga Wirapati.
“Benar raden, itu pun sudah dengan menghitung buruan dan macam-macam sumber makanan lain yang dikumpulkan setiap harinya, kecuali jika raden menghentikan latihan bagi sebagian besar penduduk dan mengalihkan kegiatan mereka untuk mengumpulkan makanan.”, jawab Rakryan Rangga Wirapati.
Rangga menggelengkan kepala, “Tidak bisa paman, pertama sumber makanan yang ada di sekitar kita memang terbatas. Kedua, jangan lupa dengan orang-orang Prabu Jannapati, kita hanya bisa berburu di area yang sudah diamankan.”
Rakryan Rangga Wirapati menghela nafas panjang, “Bagaimana kalau misalnya kita menugaskan sebagian orang untuk mulai bercocok tanam? Setidaknya sayur-sayuran yang bisa cepat dipanen.”
Rangga terdiam untuk beberapa saat, tapi kemudian menggelengkan kepala, “Menurut paman berapa orang yang dibutuhkan agar hasil panennya benar-benar punya pengaruh besar terhadap cadangan makanan kita?”
Rakryan Rangga Wirapati pun terdiam tak bisa menjawab.
Rangga berdiri dan membuka pintu, terlihat di kejauhan wanita dan anak-anak yang baru akil baliq berlatih memanah.
“Paman, beri aku waktu dua bulan. Dalam dua bulan kita lakukan perhitungan kembali.”, ujar Rangga.
“Baik raden.”, jawab Rakryan Rangga Wirapati singkat.
-------
Di tempat lain, di pinggiran jalan yang menghubungkan Kadipaten Jambangan dengan Kadipaten Seruya di mana kesatuan-kesatuan dari kadipaten-kadipaten yang setia pada Kerajaan Watu Galuh berkumpul, berhadapan dengan kadipaten-kadipaten yang berada di pihak Adipati Gading Kencana, terdapat sebuah bangunan rumah, dengan warung makan sederhana di sampingnya.
Warung makan itu setiap harinya tentu ada saja yang mampir untuk membeli makanan, atau sekedar melepas lelah dan memesan minuman.
Warung makanan itu dijalankan oleh dua keluarga kakak-beradik.
Siang itu kebetulan tidak banyak pelanggan, dua orang laki-laki paruh baya duduk sambil menikmati gorengan. Kulit wajah mereka kusam dengan sedikit bopeng di sana-sini. Meskipun berotot, namun yang seorang terlihat bengkok punggungnya, yang lain saat berjalan untuk mengambil makanan terlihat jalannya terpincang-pincang.
“Hari ini tak ada pelanggan sama sekali.”, ucap seorang dari mereka.
“Kemarin lumayan, seharian kita berjualan, ada hampir tiga puluh orang pelanggan.”, jawab yang lain.
“Hmm..hmm... tapi terasa dari hari ke hari, semakin lama semakin jarang orang lewat.”
“Tentu saja, situasi di perbatasan makin memanas, sudah beberapa kali terjadi bentrokan kecil-kecilan.”
Demikian keduanya bercakap-cakap. Percakapan mereka tiba-tiba terhenti, dan tak lama kemudian sayup-sayup terdengar suara kuda menderap. Seorang pemuda yang gagah dengan pedang terselip di pinggang memacu kudanya ke arah warung tersebut.
Ketika melihat pemuda itu, wajah dua orang paruh baya itu terlihat cerah.
Melihat dua orang paruh baya itu, pemuda yang menunggang kuda tadi dengan cepat melompat turun, lalu menuntun kudanya dengan hormat.
“Ki Senapati...”, bisik pemuda itu dengan hormat, setelah melihat ke sekeliling.
Salah seorang dari laki-laki paruh baya itu menghela nafas dan berkata, “Tidak ada orang lain. Hanya ada orang-orang kita.”
Pemuda itu pun mengangguk lega dan hendak membuka mulut, ketika laki-laki di depannya dengan cepat menyela, “Gagak Seta, apa pun yang terjadi, sampai tugas kita selesai, kau adalah Gagak Seta seorang pemuda yang berhasil menjadi prajurit di Kadipaten Jambangan, dan kami hanyalah penjaga warung biasa.”
Ya, pemuda itu adalah Gagak Seta, yang sekarang sudah menjadi seorang prajurit di Kadipaten Jambangan. Adipati Jalak Kenikir membuka kesempatan sebesar-besarnya bagi para pemuda untuk mengisi pasukannya dan dengan mudah Gagak Seta pun lolos dalam salah satu ujian masuk yang diadakan hampir setiap hari.
Sementara dua orang paruh baya yang menjaga warung itu, tidak lain adalah Senapati Dyah Pekik dan Ki Trengganu, seorang bekel yang menjadi pembantu utamanya.
Sejak turunnya Kesatuan Darespati dari Kerajaan Watu Galuh, Rangga menugaskan Rakryan Rangga Aswatama untuk membentuk kesatuan telik sandi tandingan. Seratus orang prajurit pilihan yang dipimpin langsung oleh Rakryan Rangga Aswatama saat ini menjadi garis pertahanan utama menghadapi ancaman dari lawan gelap. Tidak berhenti di situ, Rakryan Rangga Aswatama juga membentuk satuan telik sandi di bawah pimpinan Senapati Watu Gunung yang dibantu Senapati Dyah Pekik dan Senapati Manggala.
Ada ratusan orang pemuda, diam-diam direkrut dan dilatih. Saat ini mereka mendapatkan tugas menyusup ke Kadipaten Jambangan dan kadipaten-kadipaten lain di sekitarnya, termasuk Kadipaten Serayu di mana pasukan Kerajaan Watu Galuh saat ini berpusat.
Mengingat masa pelatihan yang sangat singkat, tugas pasukan telik sandi yang baru ini, hanyalah mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya dan melaporkan informasi tersebut pada Senapati Watu Gunung, Senapati Dyah Pekik dan Senapati Manggala, yang bersama beberapa orang kepercayaan mereka menyamar dan menyebar di tiga titik.
Gagak Seta dengan cepat menyadari kesalahannya, “Maafkan aku Ki.”
Cepat dia menyerahkan segulung kecil kulit sapi, kemudian bergegas melanjutkan perjalanannya, dalam hati dia bersyukur, kebetulan saat ini tidak ada pengunjung lain di warung itu, sehingga kesalahannya tidak berakibat fatal.
Senapati Dyah Pekik dan Ki Bekel Trengganu membaca berita yang tertulis di gulungan kulit tersebut. Wajah mereka tampak serius dan tegang.
“Jumlah pasukan mereka berkembang dengan pesat, tapi masih ada satu kelemahan.”, jawab Ki Trengganu.
Senapati Dyah Pekik menganggukkan kepala, “Adipati Jalak Kenikir membuka kesempatan seluas-luasnya, bahkan mengirimkan orang-orang kepercayaannya untuk menarik orang-orang dunia persilatan. Secara kekuatan pasukan mereka berkembang dengan pesat, namun tidak mudah menyatukan orang-orang tersebut menjadi sebuah pasukan.”
“Pertempuran nanti, tidak akan berbeda dengan sewaktu kita melawan begal-begal dari Gunung Awu. Bagaimana menurut Ki Senapati?”, tanya Ki Trengganu.
Senapati Dyah Pekik menggelengkan kepala, “Beda Ki Trengganu, pertama, setidaknya ada kurang lebih seribu lima ratus orang dari pasukan Adipati Jalak Kenikir adalah prajurit-prajurit yang sudah dilatih selama bertahun-tahun.”
“Yang kedua, meskipun dari segi kesetiaan dan kemampuan bertempur sebagai kesatuan, pasukan yang baru dibentuk ini masih banyak kelemahan, tapi dibandingkan dengan begal-begal yang liar, mereka masih jauh lebih berdisiplin.”, sambung Senapati Dyah Pekik.
Wajah Ki Trengganu jadi suram, “Jika demikian, apakah kita masih punya kesempatan? Pertempuran antara Prabu Jannapati melawan adiknya mungkin akan berlangsung cukup lama, tapi semakin lama kita menunggu, semakin kuat pula kerja sama yang terbentuk di antara prajurit-prajurit baru Adipati Jalak Kenikir.”
Senapati Dyah Pekik tidak bisa menjawab, akhirnya dia hanya menggertakkan gigi dan berkata, “Kita harus percaya pada kemampuan Raden Rangga. Kau atur seseorang untuk menyampaikan berita ini pada Ki Rangga Rakryan Aswatama.”
Ki Trengganu mengangguk, “Siap ki.”
-----
Sementara itu, Gagak Seta akhirnya sampai di Kademangan Jambangan, di sebuah kompleks keprajuritan yang dibangun dengan terburu-buru.
Di satu sisi terlihat puluhan rumah panjang berbaris rapi. Di sisi lain terlihat barisan prajurit yang berlatih baris-berbaris mengikuti berbagai macam instruksi.
Gagak Seta harus meninggalkan kudanya sebelum memasuki kompleks keprajuritan, di tempat di mana kuda-kuda pasukan Kadipaten Jambangan dikumpulkan. Dengan berjalan dia menuju ke salah satu bangunan yang terbaik di antara rumah-rumah panjang yang lain. Terlihat belasan prajurit berjaga di depan pintu bangunan itu.
Sambil berjalan dia mengamati latihan baris-berbaris yang sedang dilaksanakan, dilihatnya sebagian besar dari pasukan itu melakukan latihan dengan malas-malasan. Sayup-sayup dia mendengar percakapan mereka.
“Kalau saja tidak ditawari gaji besar, aku sudah minggat dari tempat ini.”
“Benar, aku tidak mengerti apa gunanya latihan semacam ini.”
“Aku pikir latihan keprajuritan itu seperti apa, kalau hanya berlatih berbaris dan berjalan seperti ini, lebih baik aku tiduran saja di dalam.”
“Buang-buang waktu saja.”
“Apa kau tahu kenapa Adipati Jalak Kenikir tiba-tiba membuka pendadaran prajurit di mana-mana?”
“Mana aku tahu, mungkin ada hubungannya dengan perang antara Kerajaan Watu Galuh melawan Adipati Gading Kencana?”
Gagak Seta mencibir dalam hati, melihat betapa berbeda dengan suasana latihan yang diadakan oleh pasukan Tumenggung Widyaguna dan para senapati. Meskipun bila melihat jumlah pasukan yang terkumpul, hatinya pun jadi berdebar-debar, khawatir dengan nasib rekan-rekannya nanti.
Tak lama dia berjalan, sampailah Gagak Seta ke tempat yang dia tuju, seorang prajurit dengan sigap menghentikannya.
Gagak Seta memberi hormat dan berkata, “Aku baru menyelesaikan tugas dari Ki Lurah Basuki untuk mengantarkan pesan ke Kadipaten Serayu dan ingin melaporkan hasilnya.”
Prajurit itu bertanya, “Apa kau menerima surat balasan dari Kadipaten Serayu?”
Gagak Seta menunjukkan segulung lontar yang ada di tangannya, “Ada balasan dari Kadipaten Serayu.”
“Baik, tugasmu sudah selesai, serahkan padaku dan aku akan menyampaikannya ke Ki Lurah Basuki.”, jawab Prajurit itu sambil mengangsurkan tangannya meminta gulungan lontar itu.
Gagak Seta menggelengkan kepala, “Maaf kang, Ki Lurah Basuki yang memberikan tugas padaku, dan aku akan memberikan gulungan lontar ini langsung padanya. Jika tidak bagaimana nanti aku mempertanggung jawabkan tugasku jika Ki Lurah Basuki menanyakannya?”
Prajurit itu mengerutkan alisnya, “Ki Lurah Basuki sedang sibuk saat ini, tidak mungkin bisa menemuimu.”
Gagak Seta tersenyum dan menjawab dengan sopan, “Kalau begitu, mohon diijinkan aku menunggu dan tolong kakang sampaikan ke Ki Lurah Basuki nanti saat beliau sudah tidak sibuk.”
Prajurit itu mengeraskan suaranya, “Kau tidak percaya padaku?”
Dua orang prajurit lain berjalan mendekati mereka, salah seorang bertanya, “Ada apa kang? Ada masalah?”
Prajurit yang menghadang Gagak Seta menoleh dan menjawab, “Hehe, ada prajurit baru yang mau cari gara-gara.”
Gagak Seta bergeser mundur beberapa langkah, tak ingin terkepung dari tiga arah yang berbeda sambil menjawab, “Jangan salah paham, aku tidak ingin mencari masalah, hanya ingin menunaikan tugasku dengan baik.”
“Kau mau menyerahkan surat itu padaku atau tidak?”, tanya prajurit yang pertama dengan lebih keras.
Gagak Seta menggelengkan kepalanya, “Aku hanya akan menyerahkan surat ini pada Ki Lurah Basuki, karena itu perintah yang aku terima.”
Perdebatan itu pun mulai mengundang perhatian banyak prajurit lain yang ada di sekitar tempat itu. Namun tidak ada yang berusaha menghentikan mereka, malah kebanyakan justru sepertinya menanti-nanti terjadi perkelahian.
Situasi ini tak lepas pula dari pengamatan Gagak Seta, kurangnya disiplin, tidak ada ikatan yang erat antar prajurit.
Ada jurang pemisah yang cukup dalam, antara prajurit yang sudah lama mengabdi pada Adipati Jalak Kenikir, dengan prajurit-prajurit yang baru saja bergabung.
Keadaan makin memanas, tiga orang prajurit yang berjaga dengan perlahan berusaha mengepung Gagak Seta, sementara Gagak Seta terus menghindar. Belum terjadi saling menyerang, tapi terasa ketegangan perlahan-lahan meningkat.
Mata Gagak Seta tak pernah lepas mengamati keadaan di sekitarnya, tapi tiga orang lawannya cukup berpengalaman. Di luar perhitungan Gagak Seta, gerakannya makin lama, makin terbatas. Pemuda itu pun mengeluh dalam hati.
Tiga orang prajurit yang menjadi lawan Gagak Seta tersenyum mengejek.
“Kau masih belum menyerah?”, tanya seorang dari mereka.
Gagak Seta menggertakkan gigi dan menjawab, “Tentu saja tidak.”