
Dengan gesit Ki Ageng Aras memasuki barak prajurit Kademangan Jambangan. Jangankan kompleks prajurit baru yang disiplinnya longgar, untuk memasuki area gedung Kadipaten di mana Adipati Jalak Kenikir tinggal pun, bisa dilakukan Ki Ageng Aras tanpa halangan yang berarti.
Pendekar tua itu berkelebat ringan, melompati tembok luar yang setinggi dua kali tinggi badan orang dewasa.
Pendengaran dan perasaannya yang tajam, membantunya menghindari baik prajurit yang berjaga, maupun yang berpatroli dari satu tempat ke tempat lain. Perlahan-lahan dan hati-hati Ki Ageng Aras menyusuri barisan rumah-rumah panjang yang berderet-deret. Hidungnya sesekali mengendus-endus udara.
Ketika sampai di satu persimpangan, pendekar tua itu berdiri diam, beberapa kali dia mengendus ke kiri dan kanan.
'Hmm... bau ramuan obat.' , pikir orang tua itu.
'Menurut laporan, mereka yang terluka dalam pertarungan hari ini, semuanya tinggal di barak pengobatan. Moga-moga Gagak Seta juga ada di sana.', Ki Ageng Aras perlahan-lahan mendekati tempat asal bau obat-obatan tersebut.
Melihat tidak ada orang di sekitar lokasi itu, Ki Ageng Aras berjalan dengan tenang, seperti selayaknya orang yang memang punya hak untuk berada di tempat itu. Jika ada prajurit yang melihat dari kejauhan, mungkin mereka akan berpikir dia seorang tabib yang hendak memeriksa pasiennya. Tanpa kesulitan yang berarti Ki Ageng Aras memasuki rumah panjang itu.
'Terlalu ceroboh...', pikir Ki Ageng Aras dengan dahi berkerut.
Jika muridnya tidak ada di dalam rumah panjang itu, tentu dia tidak peduli dengan keamanan-nya yang terlalu longgar. Perlahan-lahan, tanpa suara Ki Ageng Aras berjalan memeriksa isi ruangan itu. Terlihat beberapa dipan kayu berjajar di dua sisinya, ada beberapa yang terisi, sebagian besar lainnya kosong.
Hanya ada beberapa lampu minyak, yang tempatnya juga berjauhan, menerangi ruangan yang memanjang itu.
Mata Ki Ageng Aras seperti berpendar saat dia merapal ilmunya, hingga dengan mudah dia bisa melihat dalam kegelapan. Kebetulan Gagak Seta berada di ujung yang terdekat. Dengan langkah yang ringan, Ki Ageng Aras berjalan ke tempat Gagak Seta beristirahat.
Ketika Ki Ageng Aras baru saja sampai di samping tempat tidurnya, Gagak Seta tiba-tiba membuka mata, dan dengan gesit dia meraih kursi kecil yang ada di samping tempat tidurnya, bersiap hendak melemparkan kursi itu ke arah Ki Ageng Aras.
Namun Ki Ageng Aras jauh lebih cekatan.
“Ini aku.”, bisiknya sambil menahan tangan Gagak Seta.
“Guru..”, bisik Gagak Seta tak percaya.
“Hmm... kita keluar.”, bisik Ki Ageng Aras, lalu tanpa menunggu jawaban dari Gagak Seta dai berjalan dengan ringan meninggalkan bangunan itu.
Gagak Seta bangkit dari tempat tidurnya sambil mengucak-ucak mata, butuh beberapa lama sebelum dia yakin, bahwa dia tidak sedang bermimpi. Anak muda itu melihat ke pasien-pasien yang lain yang masih tertidur pulas, kemudian dengan hati-hati, tanpa suara meninggalkan tempat tidurnya.
Di luar Ki Ageng Aras dengan santai duduk di salah satu anak tangga kayu.
Dengan sedikit terpincang, Gagak Seta berjalan mendekat. Telapak kaki kirinya, yang bekas tersabet Golok Emas Tapakdara masih dibebat kain, dan dia harus berjalan dengan hati-hati agar lukanya tidak terbuka kembali.
“Duduklah di sini.”, ujar Ki Ageng Aras sambil menepuk anak tangga di sebelahnya.
Ki Ageng Aras tidak membantu Gagak Seta yang sedikit kesulitan untuk bergerak, dengan banyaknya luka di tubuh. Dia hanya diam memperhatikan.
Ketika Gagak Seta akhirnya duduk dengan nyaman di sisinya, pendekar tua itu bertanya, “Hmm, bagaimana? Kau sudah bisa mengukur seberapa tinggi ilmumu? Masih merasa hebat?”
Gagak Seta menyengir sambil menggaruk jidatnya yang tak gatal.
“Aduh.”, tak sengaja dia menggaruk salah satu bagian yang luka.
“Hahaha... iya guru, kapok sudah merasa paling hebat.”, jawab pemuda itu sambil menyengir.
Ki Ageng Aras tertawa kecil, “Hehe, sudahlah, aku tahu kau juga tidak merasa jumawa dengan kepandaianmu. Tapi kuharap dengan pengalamanmu kali ini, kau bisa merasakan dengan tubuhmu juga, di atas langit masih ada langit.”
“Iya guru.”, jawab Gagak Seta dengan patuh.
“Tapi aku juga harus memuji dirimu, meskipun aku tidak melihat secara langsung, tapi aku bisa membayangkan bagaimana jalannya pertarungan itu. Ini juga harus kau jadikan sebagai pengalaman. Kekuatan bukan satu-satunya penentu kemenangan, baik dalam pertarungan maupun peperangan.”, ujar Ki Ageng Aras.
“Terima kasih guru.”, jawab Gagak Seta tanpa merasa tinggi hati.
“Dari pengalamanmu kali ini, bagaimana menurutmu kemenangan seperti yang berhasil kau dapatkan hari ini?”, tanya Ki Ageng Aras.
Gagak Seta merasa harus berpikir lebih lama dan berhati-hati sebelum menjawab, dia merasa ada sesuatu yang ingin disampaikan gurunya. Gurunya ingin dia berpikir lebih luas dari pengalamannya hari ini, dia harus menggunakannya sebagai batu lompatan untuk mendapatkan sesuatu yang lebih penting dari pertarungan itu sendiri.
Ki Ageng Aras diam menunggu, tidak memburu-buru Gagak Seta yang sedang terdiam dan berpikir.
Setelah cukup lama, Gagak Seta akhirnya menjawab, “Seandainya saja kekuatanku seimbang dengan Tapakdara, belum ada kepastian aku bisa menang, ada banyak faktor di luar diri kami yang bisa menentukan hasil akhirnya. Istilahnya, untung-untungan guru.”
Ki Ageng Aras mengangguk, “Hmm..”
“Ilmu dan kemampuan Tapakdara saat itu, kira-kira selapis lebih tinggi dari kemampuanku. Itu pun tidak ada jaminan pada kemenangan, sedikit saja salah perhitungan, bisa berakhir pada kekalahan.”, Gagak Seta melanjutkan.
“Lanjut...”, ujar Ki Ageng Aras.
“Ketika perbedaan kekuatan itu sangat jauh berbeda, sampai pada titik tertentu, barulah menang dan kalah itu ada kepastiannya.”, jawab Gagak Seta.
“Terus, lanjut”, ujar Ki Ageng Aras.
Gagak Seta terdiam sebentar, kemudian dengan hati-hati menjawab. “Keadaan kita saat ini, pasukan yang dipimpin Raden Rangga, bisa dikatakan berjalan di jalan yang sangat sempit, kiri-kanannya ada jurang yang dalam. Salah langkah sedikit saja, kita akan menghadapi kekalahan.”
Sampai akhirnya Gagak Seta memecahkan kebisuan itu, “Menurut guru, kita akan gagal?”
Ki Ageng Aras menggelengkan kepala, “Tidak... Raden Rangga... mungkin kau belum cukup mengenal dia, tapi aku sudah cukup lama mengenal dia, bahkan ketika dia masih sangat muda, belum dewasa... Dia memiliki sesuatu yang bisa mengubah keadaan.”
“Tapi guru terlihat prihatin dan... khawatir?”, tanya Gagak Seta hati-hati.
“Karena yang aku lihat, sama seperti yang kau lihat dan uraikan tadi.”, jawab Ki Ageng Aras.
Gagak Seta mendesah panjang, beban di pundaknya jadi terasa makin berat, “Sekarang apa yang haris kita lakukan guru?”
Ki Ageng Aras memandang ke arah Gagak Seta dan tersenyum menenangkan, “Kita jangan terlalu mengkhawatirkan tentang hasil akhirnya. Aku mengingatkanmu pada hal ini, karena aku ingin mengingatkan dirimu, tiap-tiap dari diri kita harus berusaha yang terbaik untuk melakukan apa yang menjadi tugas kita, karena situasi kita saat ini, sangat dekat sekali dengan bahaya. Seperti yang kau katakan, salah langkah sedikit saja, hasilnya akan berantakan.”
Gagak Seta menganggukkan kepala, “Aku mengerti guru.”
“Baguslah kalau begitu...”, kata Ki Ageng Aras sambil menepuk-nepuk pundak Gagak Seta.
Dalam hati Gagak Seta merasa sedikit tersentuh dan terharu, tumbuh besar kehilangan sosok seorang ayah, tiba-tiba sekarang hadir sosok seorang guru. Setelah untuk sekian tahun lamanya dia tidak mempunyai sandaran, sekian tahun hanya bisa mengandalkan kerasnya tulang dan liatnya otot, tiba-tiba sekarang ada sosok yang memberi dia rasa aman.
“Malam ini aku mengunjungimu, pertama untuk melihat keadaanmu. Yang kedua untuk menyampaikan keputusan kami mengenai jabatanmu saat ini. Jika nanti Senapati Lesmana memberi kau kesempatan untuk memilih Bekel yang membantumu. Pilih satu Bekel dari orang kita, dan satu Bekel lagi dari orang di luar kesatuan kita.”, Ki Ageng Aras melanjutkan.
“Siap guru.”, jawab Gagak Seta.
“Sekarang coba kau pejamkan matamu, buang segala ketegangan dari tubuhmu dan kekuatiran dari pikiranmu. Fokuskan saja pada nafasmu.”, Ki Ageng Aras berdiri dan meletakkan satu telapak tangannya ke atas kepala Gagak Seta.
Gagak Seta pun dengan cepat memahami apa yang diminta gurunya, dalam waktu singkat dia sudah duduk bersila dengan pikiran dan hati yang diam tenang. Perlahan-lahan dia bisa merasakan hawa yang hangat dan nyaman mengaliri tubuhnya.
“Sekarang kau perhatikan baik-baik, sebelumnya aku sudah mengajarkan padamu bagaimana melambari jurus pertama sampai ketiga dari Silat Sembilan Cakar Garuda dengan hawa murni. Sekarang aku akan berusaha menunjukkan setiap perubahan dan bagaimana sirkulasi energi dalam tubuhmu, berhubungan dengan enam jurus yang berikutnya.”, Gagak Seta mendengar Ki Ageng Aras.
Sejenak kemudian, sambil menggerakkan hawa murni di dalam tubuh Gagak Seta, Ki Ageng Aras menyebutkan bait demi bait yang menjelaskan.
“Nah sambil kau menunggu tubuhmu pulih seperti sedia kala, kau bisa lebih berkonsetrasi berlatih bagaimana mengendalikan dan menyalurkan hawa murni dalam tubuhmu.”, Ki Ageng Aras berkata sambil menarik kembali telapak tangannya dari atas kepala Gagak Seta.
Perlahan-lahan Gagak Seta membuka mata, kemudian berbalik dan memberi hormat pada gurunya.
“Terimakasih guru...”, ucapnya dengan tulus.
“Aku akan pergi sekarang, tapi sebelum aku pergi, kau terimalah ini.”, Ki Ageng Aras mengambil sesuatu dari balik bajunya.
Gagak Seta melihat sebilah keris yang cukup panjang, dia ingat, biasanya keris itu diselipkan di pinggang, tapi tersembunyi di balik baju Ki Ageng Aras. Meskipun karena ukurannya yang cukup panjang, bentuknya terlihat dari luar baju.
“Ini...”, Gagak Seta ragu-ragu hendak menerima keris itu.
Ki Ageng Aras tersenyum, “Terimalah, keris itu aku dapat dari guruku dan sekarang aku serahkan padamu.”
Gagak Seta menerima keris itu, namun dengan ragu dia memandang ke arah gurunya, “Bagaimana dengan guru? Kalau keris ini aku bawa, guru akan memakai senjata apa nanti?”
Ki Ageng Aras tertawa geli, “Hahahaha...., keris itu bukan senjataku, tapi semacam warisan turun temurun saja.”
Gagak Seta bergantian memandang ke arah keris yang ada di tangannya, lalu ke arah Ki Ageng Aras, tak mengerti apa yang membuat gurunya geli.
Ki Ageng Aras kemudian berkata, “Coba kau cabut keris itu.”
Gagak Seta mengerutkan alis tak paham, tapi dengan segara dengan penuh rasa ingin tahu bergerak menarik keris itu dari warangkanya. Seketika itu juga matanya terbuka lebar, kemudian kembali memandang ke arah Ki Ageng Aras tak mengerti.
“Bagaimana?”, tanya Ki Ageng Aras sambil tersenyum.
“Tidak bisa kutarik guru.”, ujar Gagak Seta sambil ragu-ragu, sekali lagi dia mengerahkan seluruh tenaganya untuk mencabut keris itu dari warangkanya.
“Hahahahaha.”, Ki Ageng Aras merasa geli dan tertawa tergelak, bahkan agak keras.
“Apa memang keris ini... tidak bisa dicabut? Lalu... cuma hiasan?”, tanya Gagak Seta sambil menggaruk kepalanya.
“Aduh...”, seru pemuda itu karena sekali lagi tak sengaja menggaruk luka yang belum sembuh.
“Hahaha... sudahlah, kau simpan saja keris itu. Anggap itu sebagai barang kenangan dariku sebagai seorang guru pada muridnya.”, ujar Ki Ageng Aras tak menjelaskan lebih lanjut.
Sambil sedikit bersungut-sungut, Gagak Seta menyimpan keris itu di balik bajunya, sama seperti Ki Ageng Aras biasa menyimpan keris itu, “Hmm.. keris aneh..”
“Sudahlah, kau simpan saja, dan sekarang aku akan pergi dulu. Kau sendiri jaga dirimu baik-baik. Ingat situasi kita saat ini cukup genting, jadi kalian semua harus bertugas dengan sungguh-sungguh hati.”, ujar Ki Ageng Aras berpesan, sebelum kemudian menghilang dalam kegelapan tanpa menunggu jawaban dari Gagak Seta.
Gagak Seta berdiri diam, memandangi kegelapan yang menelan bayangan gurunya. Tangannya masih meraba keris yang baru saja diberikan Ki Ageng Aras padanya. Entah kenapa, hatinya merasa ada sesuatu yang akan terjadi. Entah apa dan kapan, tapi kemudian Gagak Seta menghalau pergi perasaan itu.
“Hahh.... oedulit setan dengan firasat buruk... Ke depan ini sudah jelas akan ada pertempuran besar. Aku, guru, Senapati Manggala, Kakang Partajaya, semuanya... bisa sjaa setiap saat gugur...”, Gagak Seta menghembuskan nafas panjang-panjang, mengusir pergi perasaan yang mengganggu hatinya.
“Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar sesuai rencana Raden Rangga.”, gumam pemuda itu sambil berbalik, berjalan kembali ke dalam barak pengobatan.