
Bentrokan kecil-kecilan makin sering terjadi, kelompok begal yang datang menyerang juga semakin besar jumlahnya. Namun mereka hanya menyerang untuk kemudian lari mundur, begitu menemui perlawanan yang seimbang. Para begal itu tidak pernah mau terikat dengan satu pertempuran cukup lama untuk pasukan Rangga mengorganisasi pertahanan.
Lebatnya hutan dan medan yang tidak memungkinkan perang dalam gelar terbuka, memudahkan para bandit itu untuk melarikan diri.
Dengan tiga ratus orang prajurit menjaga sisi lereng Gunung Awu, dengan mudah pasukan Rangga menghadang pergerakan bandit-bandit itu. Satu-dua bandit harus meregang nyawa dalam percobaan serangan kecil-kecilan itu, tapi jumlahnya tidak terlalu berpengaruh pada keseluruhan situasi.
Ketika tiga ratus orang prajurit dipimpin dengan tiga orang senapati itu sedang berjaga, para pimpinan pasukan yang lain sedang berunding.
“Saat ini prajurit kita hanya berjaga di sisi lereng Gunung Awu, ijinkan hamba dan pasukan hamba untuk berpatroli mengamankan sisi lain.”, kata Senapati Dalawangsi.
Rangga mengangguk, “Terima kasih Paman Dalawangsi, silahkan.”
Senapati Dalawangsi tanpa banyak bicara, mengangguk lalu mundur dari pertemuan, mengumpulkan pasukannya dan pergi berpatroli.
Senapati Parangwaja berkata, “Raden, kita pernah menghajar mereka sampai mereka tidak berani kembali. Beri kami perintah dan kami akan melakukannya kembali.”
“Tidak semudah itu kakang, keadaannya berbeda sekarang. Dulu tidak ada anak-anak, wanita dan orang tua yang perlu kita lindungi.”, ujar Senapati Hudaya.
Senapati Parangwaja mendengus kesal, “Huh...! Membosankan! Lalu apa yang akan kita lakukan?”
“Paman Hudaya benar.”, Rangga menyahut sambil tersenyum senang.
Senapati Hudaya menggaruk-garuk kepalanya, “Maksud raden...?”
“Perbedaan ini membuat kita tidak mungkin mengejar mereka ke sarang mereka, seperti dulu yang pernah kita lakukan. Tapi juga sekarang tidak ada yang menahan kita untuk tetap berada di sini.”, jawab Rangga.
“Ah... benar juga...”, gumam Senapati Hudaya.
“Jadi kita pergi begitu saja?”, Senapati Parangwaja ragu-ragu.
“Aku tak suka dengan ide ini.”, dengus Senapati Bayu Bayanaka.
“Tentu saja tidak, aku yakin rencana Raden Rangga bukan hanya pergi begitu saja.”, ujar Senapati Watu Gunung sambil tersenyum.
Rangga mengangguk, “Benar... saat ini kita kesulitan mengejar mereka, karena mereka bersembunyi di hutan.”
Rakryan Rangga Aswatama menyambung, senyuman di wajahnya mengembang, “Hehehe..., jika kita menjauh dari hutan...”
Para senapati menganggukkan kepala, mereka sekarang mulai paham rencana Rangga.
“Hahaha, aku suka rencana ini.”, ujar Senapati Parangwaja.
“Tapi bagaimana kalau mereka memutuskan untuk tidak mengejar kita? Pengecut-pengecut itu tidak punya nyali.”, tanya Senapati Wardaya.
Para senapati mengangguk-angguk setuju, dan mengalihkan kembali pandangan mereka ke arah Rangga, menunggu penjelasan Rangga.
“Hutan bisa menjadi kawan mereka, hutan juga bisa menjadi kawan kita.”, ujar Rangga.
Bayu Bayanaka menepuk lututnya dengan kesal, “Heeeya....pusing aku. Raden jangan menyuruh kami berpikir, jelaskan saja rencana raden supaya kami tinggal melaksanakannya.”
Para senapati tertawa mendengar keluhan Bayu Bayanaka.
Tumenggung Widyaguna pun menegurnya sambil tertawa, “Jika suatu saat Raden Rangga menugaskanmu untuk menjaga satu kadipaten sendiri, jauh dari ibu kota, jauh dari Raden Rangga berada, bagaimana?”
“Hehe, kalau begitu, aku memilih bertugas jadi pengawal Raden Rangga saja, jadi tidak perlu jauh-jauh dari Raden Rangga.”, jawab Bayu Bayanaka sambil menyengir.
“Walah, dasar goblok.”, ejek Gajah Petak.
“Huh, kalau kau merasa pintar, coba kau yang membuat rencana sekarang.”, balas Bayu Bayanaka.
“Hehe... aku bilang kau goblok, bukan berarti aku pintar.”, jawab Gajah Petak membuat mereka semua tertawa.
Setelah tawa mereka mereda, Rangga berkata pada mereka, “Baiklah, sekarang coba kita dengar rencana Paman Aswatama.”
Rakryan Rangga Aswatama dengan tenang menjawab, “Hmm... menjauhi hutan itu satu pilihan, tapi ada kemungkinan mereka tidak cukup berani untuk meninggalkan hutan.”
Rakryan Rangga Aswatama berhenti sejenak untuk membiarkan para senapati mengikuti alur pikirannya.
“Tapi mengapa kita harus memancing mereka menjauhi hutan?”, tanya Rakryan Rangga Aswatama.
“Supaya mereka tidak bisa melarikan diri saat kita menyerang mereka.”, jawab Senapati Bayu Bayanaka dengan cepat.
“Jadi intinya adalah, bawa mereka, ke tempat di mana mereka tidak bisa melarikan diri.”, salah seorang senapati yang masih muda menyahut.
Mata Tumenggung Widyaguna, Ki Ageng Aras dan Rangga untuk sekilas memandang senapati muda itu. Diam-diam mereka mencatat namanya dalam benak mereka. Senapati muda itu bernama Dyah Pekik, putera sulung salah seorang senapati yang gugur dalam pengasingan. Saat ini Senapati Dyah Pekik menjadi senapati pengapit dari Senapati Watu Gunung.
“Benar, jika mereka takut menjauhi hutan, maka kita pancing mereka ke bagian yang lain dari hutan.”, kata Rakryan Rangga Aswatama membenarkan sambil mengangguk puas.
“Oh... mengerti aku sekarang.”, ujar Bayu Bayanaka.
“Apa yang kau mengerti?”, tanya Gajah Petak.
“Sebelum kita memancing mereka ke tempat itu, sebagian dari kita bisa bersembunyi dan diam-diam menutup jalan lari mereka.”, jawab Bayu Bayanaka.
“Benar.”, jawab Rangga membuat Bayu Bayanaka tersenyum bangga.
“Tidak usah iri, salahmu sendiri, kalau kau mengerti tapi tidak membuka mulut.”, sahut Bayu Bayanaka tak mau mengalah.
“Sudah cukup kalian berdua sekarang diam dulu, biarkan Kakang Aswatama menyelesaikan.”, tegur Rakryan Rangga Wirapati sambil menggelengkan kepala.
”Kita harus melakukannya diam-diam tanpa mereka ketahui. Mungkin perlu kita tambahkan dua kesatuan lagi membantu Respati, Aryasuta dan Cakradara untuk memperberat tekanan kita atas mereka. Sibukkan mereka, supaya sebagian dari kita bisa menyiapkan jebakan tanpa mereka ketahui di sisi htuan yang lain.”, Rakryan Rangga Aswatama melanjutkan, setelah tawa mereka mereda.
“Kirimkan aku Kang, kami sudah mengenal hutan itu dengan baik.”, sahut Bayu Bayanaka yang kesatuannya bertugas sebagai pengintai sebelumnya.
Rakryan Rangga Aswatama menoleh ke Rangga, ketika dia melihat Rangga menganggukkan kepala, dia pun menganggukkan kepala ke arah Bayu Bayanaka, “Baik, kau berangkat sekarang dan sampaikan rencana kita pada Respati dan yang lain.”
“Lima ratus orang sudah terikat dengan tugas mereka masing-masing. Kita butuh pasukan tambahan..., menurut Raden Rangga, berapa orang yang akan bersembunyi di hutan?”, Rakryan Rangga Wirapati bertanya pada Rangga.
“Tugas mereka cukup berat, seluruh sisa pasukan kita akan bertugas untuk itu. Aku percayakan tugas ini pada Pamanda Widyaguna langsung.”, jawab Rangga yang sudah mulai memikirkan rencana ini dari awal.
“Hmm... dalam bayanganku, nantinya kita akan menjepit mereka dari dua arah. Artinya sisa pasukan akan dipimpin sendiri oleh raden?”, tanya Tumenggung Widyaguna.
“Benar paman, nanti aku dibantu dengan Ki Ageng Aras dan lima kesatuan yang saat ini bertugas mengamankan situasi.” jawab Rangga.
“Sekarang tinggal kita menentukan, ke mana kita akan memancing mereka dan di mana Paman Widyaguna dan pasukan kita menyiapkan penyergapan.”, lanjut Rangga.
Salah seorang senapati, bergegas menyiapkan selembar peta, mereka pun merencanakan segala sesuatunya lebih detail. Mereka tidak berlama-lama, dalam waktu yang cukup singkat, semuanya sudah mulai bergerak. Patih Widyaguna, bersama kedua rangga dan lima belas senapati, memimpin enam ratus prajurit memasuki salah satu bagian hutan di lereng Gunung Awu.
Rangga dan Ki Ageng Aras menemui Ki Demang dan Ki Jagabaya untuk menjelaskan situasi mereka saat ini dan apa rencana mereka. Ki Demang dan Ki Jagabaya pun bergegas menghubungi para pamong untuk mengatur segala sesuatunya. Besok mereka akan meninggalkan tempat ini. Selain bersiap-siap untuk memulai perjalanan kembali, mereka juga harus mempersiapkan semua penduduk kademangan yang bisa mengangkat senjata.
Rangga berpesan pada Ki Demang dan Ki Jagabaya, “Pada akhirnya, setiap orang harus bersiap untuk ikut bertempur. Selama beberapa hari ini kita sudah berlatih, dan ini saatnya kita terjun ke dalam pertempuran yang sesungguhnya.”
------
Di dalam hutan, di salah satu bagian yang tersembunyi, berkumpul belasan orang di sekeliling api unggun yang menyala. Belasan orang itu beragam dari umur dan penampilan-nya. Namun sorot mata mereka sama. Bengis. Liar.
“Menurut kalian, apa yang akan dilakukan rombongan dari Kademangan Jati Asih itu?”, tanya seorang di antara mereka.
Penampilannya tak memiliki ciri khusus tertentu, terlihat seperti laki-laki setengah umur biasa, tapi dari sikap bandit-bandit yang lain, bisa diambil kesimpulan dia bukan orang biasa.
“Entahlah, mana aku tahu. Yang pasti kalau mereka berani mengejar jauh ke dalam hutan. Itulah saatnya kita melurug ke bawah sana.”, sahut seorang yang lain, badannya tinggi besar, melampaui orang-orang lain yang ada di situ.
“Dari kabar yang disampaikan utusan dari istana, jumlah pasukan yang ada di sana, tak kurang dari delapan ratus prajurit, mungkin lebih. Apa perlu kita mengambil resiko untuk menyenangkan orang kerajaan?”, yang bertanya kali ini bertubuh kecil dengan muka seperti monyet.
“Sugriwa, apa kau sudah lupa? Dulu bapak bocah itu yang membuat kita terusir dari sarang kita!”, seorang berambut gimbal berteriak dengan marah.
“Jarwo, jangan bodoh. Justru karena aku ingat, makanya aku sekarang lebih berhati-hati.”, sahut Sugriwa.
“Pengecut!”, ejek Jarwo.
“Bodoh.”, balas Sugriwa dengan tenang.
“Diam!”, laki-laki yang pertama kali berbicara membentak, dan membuat mereka berdua terdiam.
“Sugriwa, kalau kau takut, silahkan, kau boleh meninggalkan tempat ini.”, ujar laki-laki itu dengan dingin, matanya menatap tajam Sugriwa.
Sugriwa mengangkat bahu, “Aku tidak takut, tapi aku tidak ingin membuang nyawa sia-sia.”
“Baik, aku sudah mengatakannya sekali, sekarang aku akan mengulanginya sekali lagi. Kerajaan tidak menyuruh kita membuang nyawa sia-sia. Kita tidak perlu bertempur sampai ada penentuan menang atau kalah. Hitungannya sederhana, satu kepala prajurit sama dengan satu keping uang perak. Satu kepala lurah sama dengan sepuluh keping uang perak. Satu kepala bekel sama dengan tiga puluh keping uang perak.”, ujar lelaki setengah umur itu sambil memandangi mereka satu per satu.
“Dan bagi yang bisa membawa satu kepala senapati, kerajaan akan menghapus semua catatan kejahatan-nya di masa lalu, dan memberikan kedudukan sebagai senapati di kerajaan.”, kata laki-laki setengah umur itu dengan penekanan.
“Apa kau yakin mereka akan memenuhi janji mereka itu? Hai Macan Gunung Awu?”, tanya salah seorang yang paling tua di antara belasan orang tersebut.
Laki-laki ini tak memiliki rambut sedikitpun di kepalanya, termasuk alis, kumis dan jenggot. Selembar pun tak ada rambut. Usianya hanya bisa ditebak dari kulitnya yang keriput. Badannya bongkok dan kurus, tapi sorot matanya tak kalah liar dan bengis dibanding laki-laki setengah umur yang dia panggil Macan Gunung Awu.
“Aku cukup yakin mereka akan memenuhi janji mereka. Nyawaku yang jadi jaminannya, tapi soal apakah kalian mampu atau tidak itu di luar urusanku. Ingat perjanjiannya, kita menyerang mereka bersamaan. Tidak boleh saling berebut lawan. Tidak boleh menusuk teman sendiri dari belakang.”, ujar laki-laki berjuluk Macan Gunung Awu itu.
“Kakang Paryadji, jadi kalau aku mundur dari medan pertempuran, begitu aku berhasil mendapatkan satu kepala, itu tidak melanggar perjanjian kan?”, Sugriwa yang dari tadi diam tiba-tiba menyeletuk.
“Tidak, tidak ada larangan untuk siapapun mundur dari pertempuran.”, jawab Ki Paryadji, yang berjuluk Macan Gunung Awu dengan tegas,.
“Kalau sampai pihak kerajaan ingkar janji, kau yang akan aku cari.”, ujar laki-laki tua berkepala pelontos kepada Macan Gunung Awu.
“Hmph..! Tak perlu mengancam, Lowo Ijo. Kalau cuma uang aku yang akan mengganti. Kalau kau pikir kau bisa mendapatkan kepala seorang senapati, hehehe.... kita lihat saja dulu kemampuanmu...”, ejek Macan Gunung Awu sambil tertawa dingin.
Tiga belas orang jumlah mereka. Tiap-tiap orang memiliki anak buah yang jumlahnya tak kurang dari seratus. Macan Gunung Awu dan Lowo Ijo, adalah pemimpin dua kelompok begal terbesar di Hutan Gunung Awu itu.
Belum sempat keduanya lanjut berdebat, ketika beberapa orang anak buah mereka datang membawa laporan, “Ki Paryadji, sepertinya orang-orang Kademangan Jati Asih itu sedang merencanakan sesuatu.”
“Apa maksudmu?”, tanya Ki Paryadji.
“Beberapa orang kawan melihat penduduk kademangan mulai berbenah, sepertinya mereka hendak meninggalkan tempat itu.”, jawab orang tersebut.
“Heh... jangan sampai mereka lolos dari cengekeraman kita. Apa yang kalian tunggu? Bukankah sudah jelas, kali ini mereka tak sekuat dulu sewaktu Prabu Jaya Lesmana masih hidup.”, ujar Macan Gunung Awu.
Lowo Ijo pun bangkit berdiri dan memberi tanda pada anak buahnya, “Aku dan anak buahku siap, kapan pun kalian siap.”
Tiga belas kepala begal itu pun berdiri dengan mata menyala-nyala, seperti sekumpulan serigala yang kelaparan.