
Senapati Arya Pameling menyampaikan laporannya sesingkat mungkin tanpa menghilangkan detail-detail yang penting. Prabu Jannapati mendengarkan dengan bersemangat, beberapa kali dia menepuk pahanya dan berseru.
“Bagus... Bagus... Nandini, kau beri perintah pada Jatiyudha, tarik semua kesatuan Darespati. Sementara kau Pameling, tetap awasi pergerakan mereka dari kejauhan.”, ujar Prabu Jannapati setelah selesai mendengarkan laporan Senapati Arya Pameling.
“Siap baginda, apakah ada perintah yang lain?”, jawab Patih Nandini.
Prabu Jannapati berpikir sebentar, lalu menjawab. “Tak perlu, untuk saat ini cukup itu saja. Hanya saja aku berpesan padamu, pasukan telik sandi kita harus lebih cermat dalam bekerja.”
“Siap baginda.”, ujar Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling hampir bersamaan.
Ketika mereka berdua sudah berjalan cukup jauh meninggalkan tenda tempat Prabu Jannapati beristirahat, Senapati Arya Pameling bertanya pada Patih Nandini, “Ki Patih, kenapa Prabu Jannapati menghentikan perintah bagi Kesatuan Darespati untuk berhenti mengganggu mereka?”
Patih Nandini yang lebih mudah diajak berbicara daripada Prabu Jannapati dengan sabar menjelaskan, “Prabu Jannapati menurunkan Kesatuan Darespati untuk mengganggu pasukan Rangga, tujuan utamanya bukan untuk melemahkan mereka. Tujuan pertama adalah untuk memperlambat perjalanan mereka, supaya Adipati Jalak Kenikir memiliki kesempatan untuk memperkuat pasukannya. Hal ini dilakukan karena dari pertempuran mereka melawan begal-begal Gunung Awu, kami sadar bahwa kekuatan pasukan mereka ternyata jauh di atas perkiraan kita.”
Senapati Arya Pameling mendengarkan dengan rasa tertarik, “Lalu apa ada alasan yang kedua?”
Patih Nandini tersenyum, “Yang kedua, diputuskan setelah pasukan Rangga memilih untuk meminimalkan korban dengan menghentikan perjalanan mereka dan membangun pertahanan sementara. Prabu Jannapati tidak ingin pasukan Kadipaten Jambangan terlalu lemah, sehingga gagal menghentikan pasukan Raden Rangga. Namun di saat yang sama, Prabu Jannapati juga tidak ingin pasukan Kadipaten Jambangan punya waktu untuk menjadi terlalu kuat bagi pasukan Raden Rangga. Dengan mengganggu penduduk Kademangan Jati Asih untuk mengumpulkan makanan, Prabu Jannapati membatasi waktu mereka untuk diam bertahan.”
Senapati Arya Pameling mengangguk-angguk paham, “Ah... saya paham sekarang, dan segala sesuatunya berjalan seperti keinginan Prabu Jannapati. Kekuatan Kadipaten Jambangan dan pasukan Raden Rangga sudah cukup berimbang, yang kalah jadi abu, yang menang jadi arang.”
Setelah mereka berjalan beberapa jauhnya, tiba-tiba Senapati Arya Pameling bertanya, “Tapi bagaimana Prabu Jannapati yakin tujuannya bisa tercapai? Misalnya, bagaimana kalau Raden Rangga memilih untuk tetap bertahan, sementara pasukan Kadipaten Jambangan menjadi semakin kuat.”
“Mudah saja, jika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana, artinya kita harus mengubah strategi kita. Itu sebabnya tugasmu sebagai pemimpin satuan telik sandi sangatlah penting, karena dari berita-berita yang kalian kumpulkan, kami sebagai pimpinan bisa selalu mengetahui situasi yang terakhir dan sebenar-benarnya.”, jawab Patih Nandini.
Setelah berhenti sejenak, Patih Nandini menambahkan, “Selain itu, kecil kemungkinan Raden Rangga tidak bergerak sementara cadangan makanan mereka menipis. Yang sedikit di luar perkiraan adalah, mereka bergerak sekarang.”
Senapati Arya Pameling menoleh ke arah Patih Nandini, “Maksud Ki Patih, mereka bergerak terlalu cepat? Atau terlalu lambat?”
Patih Nandini mengerutkan alis, “Terlalu cepat dan terlalu lambat.... Kenapa tidak secepat mungkin memukul Kadipaten Jambangan ketika mereka belum siap? Kenapa sekarang ketika kekuatan Kadipaten Jambangan sudah mengimbangi mereka, mereka justru bergerak ke arah Kadipaten Jambangan?”
Senapati Arya Pameling ikut mengerutkan alis, “Menurut Ki Patih, Raden Rangga menyembunyikan sesuatu?”
Patih Nandini mengangguk, “Ya, karena itu tugasmu jadi lebih berat. Tidak mungkin Raden Rangga bergerak menyerang Kadipaten Jambangan jika dia tidak punya rencana rahasia, yang saat ini belum kita ketahui.”
Senapati Arya Pameling menggertakkan rahang dan berkata, “Aku akan berusaha mengungkap rencana itu Ki.”
Patih Nandini menepuk pundaknya, “Sebaiknya demikian, sebelum semuanya terlambat.”
------
Beberapa hari kemudian Senapati Arya Pameling duduk di dalam tendanya, dengan serius membaca laporan yang dia terima dari pasukan telik sandi yang mengawasi gerak-gerik pasukan Rangga. Di depannya berdiri seorang prajurit.
“Kau yakin dengan laporanmu ini?”, tanya Senapati Arya Pameling pada prajurit yang ada di hadapannya.
“Kami belum memastikan Ki Senapati, tapi setelah beberapa hari mengamati, banyak dari kami yang merasa seperti itu.”, jawab prajurit tersebut.
Senapati Arya Pameling berpikir cukup lama, jarinya mengetuk-ngetuk meja tak berani terlalu cepat mengambil keputusan.
Akhirnya dia memberikan perintah, “Kerahkan lebih banyak orang dan kali ini kalian pastikan apa benar jumlah mereka dari hari ke hari memang menyusut. Selain itu, jika benar jumlah mereka menyusut, maka lacak, cari tahu ke mana sejumlah orang itu menghilang.”
“Siap laksanakan ki.”, jawab prajurit itu.
“Aku ingin kalian memberikan laporan setiap hari. Apa pun hasil yang kalian dapatkan, sedikit apapun, atau bahkan ketika tidak ada perkembangan sekalipun, aku ingin ada yang melapor. Sampaikan itu pada semua Lurah prajurit yang bertugas.”, ujar Senapati Arya Pameling sebelum mengirim prajurit itu kembali ke lapangan.
Setelah prajurit itu pergi, Senapati Arya Pameling berjalan mondar-mandir di dalam tendanya, sebelum kemudian berjalan bergegas keluar dan berseru pada dua pengawal yang berjaga, “Ikuti aku, kita pergi ke tempat Ki Patih Nandini.”
------
Dua hari kemudian adegan yang hampir sama terjadi, tapi kali ini wajah Senapati Arya Pameling dan prajurit yang melaporkan, jauh lebih serius dari beberapa hari sebelumnya.
Senapati Arya Pameling sedikit bergetar ketika dia membaca laporan yang tertulis di atas gulungan lontar itu, “Ratusan orang, bahkan mungkin lebih dari seribu orang menghilang dari pasukan Raden Rangga, dan sebagian besar adalah prajurit yang sudah mengikuti para senapati selama belasan bahkan puluhan tahun.”
“Benar Ki...”, jawab prajurit itu.
“Kau yakin dengan jumlah ini?”, Senapati Arya Pameling bertanya.
Prajurit itu sedikit ragu-ragu sebelum menjawab, “Tidak Ki, kami tidak bisa yakin dengan pasti mengenai jumlah, tapi setelah kami berdiskusi, menurut kami setidak-tidaknya tujuh ratus orang dan tidak mungkin lebih dari dua ribu orang.”
“Dari prajurit yang tersisa dalam rombongan pasukan Raden Rangga, itulah yang kami tangkap Ki. Selain itu ada belasan Senapati yang tak terlihat lagi di antara rombongan pasukan Raden Rangga yang berbaris menuju Kadipaten Jambangan.”, jawab prajurit itu.
“Kau ikut aku dengan sekarang untuk menghadap Ki Patih Nandini.”, ujar Senapati Arya Pameling dengan wajah pucat.
Tidak lama kemudian, Senapati Arya Pameling dan prajurit telik sandi yang membawa pesan, sudah berada di hadapan Patih Nandini. Patih Nandini membaca laporan yang tertulis di atas gulungan lontar itu dengan seksama, sambil mendengarkan penjelasan Senapati Arya Pameling.
Cepat saja Patih Nandini membaca isi gulungan lontar itu, setelah itu perhatiannya tertuju penuh untuk mendengarkan penjelasan Senapati Arya Pameling. Patih Nandini tidak terburu-buru memotong penjelasan Senapati Arya Pameling. Dia mendengarkan dengan seksama hingga Senapati Arya Pameling menyelesaikan semua laporannya.
“Selidiki, ke mana mereka menghilang, sebarkan anak buahmu ke semua penjuru. Jangan berpikir tempat ini tidak mungkin, tempat ini yang paling mungkin, dan seterusnya. Sebarkan anak buahmu, pasang mata dan telinga.”, Patih Nandini dengan tegas mulai memberikan perintah.
“Bagaimana dengan mereka yang mengawasi perjalanan rombongan pasukan dan penduduk Kademangan Jati Asih?”, tanya Senapati Arya Pameling.
Patih Nandini berpikir sebentar sebelum menjawab, “Prioritaskan anak buahmu untuk menyebar dan mencari jejak prajurit yang menghilang dari rombongan utama. Sisakan satu-dua kesatuan kecil saja untuk mengikuti dan mengamati rombongan pasukan Raden Rangga yang berjalan menuju Kadipaten Jambangan.”
Patih Nandini masih memberikan beberapa arahan lagi pada Senapati Arya Pameling, sebelum membiarkan Senapati Arya Pameling pergi untuk melakukan tugasnya.
Kemudian tanpa ragu-ragu, Patih Nandini pergi menemui Prabu Jannapati untuk melaporkan temuan pasukan telik sandi mereka.
------
Malam itu, di tempat perhentian sementara penduduk Kademangan Jati Asih, di dalam salah satu tenda para prajurit yang cukup besar, terlihat belasan orang prajurit yang ditempatkan di tenda itu menggali dua lubang di tanah. Tiap lubang kira-kira seukuran tubuh orang dewasa.
Semua dikerjakan diam-diam, tak terlihat dari luar.
“Cukup, cukup, sudah cukup dalam. Sekarang semuanya beristirahat, ingat setelah aku tidak ada bersama kalian, maka Jaka Segaran yang menjadi pimpinan kesatuan kecil ini. Patuhi dan ikuti perintahnya.”, ujar seorang prajurit yang sudah berumur, salah satu prajurit yang sudah puluhan tahun mengikuti salah seorang senapati.
Bukan hanya di satu tenda itu saja, di tenda-tenda lain tempat prajurit Rangga beristirahat, terjadi hal yang sama.
Kemudian keesokan paginya, pagi-pagi sekali ketika orang-orang belum bangun dari tidurnya, dua orang prajurit merebahkan diri di dalam lubang itu. Mereka menggigit buluh di mulut mereka, kemudian rekan-rekannya yang lain mulai menutupi tubuh mereka dengan tanah.
Setelah mereka terkubur di dalam tumpukan tanah yang tidak terlalu padat itu, prajurit yang lain mulai meratakan tanah galian yang masih tersisa sampai tak terlihat lagi ada bekas galian di dalam tenda mereka.
Perlahan-lahan matahari menunjukkan sinarnya, perkemahan itu pun penuh dengan suara kesibukan mereka yang berbenah, memasak dan bersiap untuk melanjutkan perjalanan.
Tanpa ada penduduk Kademangan Jati Asih yang menyadari, rombongan besar itu pun beranjak pergi, melanjutkan perjalanan mereka menuju ke tempat di mana mereka akan mendirikan kerajaan yang baru.
Mereka tidak tahu, ke mana Rangga akan membawa mereka pergi. Mereka tahu jauh di depan sana, setidaknya satu bulan perjalanan jauhnya, ada pasukan besar yang sedang bersiap untuk menghentikan perjalanan mereka. Namun mereka mempercayakan masa depan dan keselamatan mereka di tangan Rangga.
Lama setelah rombongan itu pergi. Lama setelah para pengintai yang ditugaskan Senapati Arya Pameling untuk mengikuti rombongan pasukan Rangga itu berlalu. Hampir setengah hari lamanya tidak terjadi apa-apa di tanah lapang itu.
Hanya ada kesunyian, bekas api unggun, dan jejak-jejak yang ditinggalkan puluhan ribu orang.
Ketika matahari sudah hampir tenggelam, tiba-tiba terlihat tanah-tanah berterbangan ke udara. Tangan, kaki menyembul muncul dari tanah. Tak lama kemudian tidak kurang dari lima puluhan orang bermunculan dari dalam tanah.
“Rapikan, usahakan serapi mungkin, sampai tidak terlihat bekas lubang.”, terdengar seruan setengah berbisik dari beberapa tempat.
Lima puluh orang prajurit, sebagian adalah prajurit veteran yang sudah berpengalaman, dan sebagian lagi prajurit-prajurit muda yang terpilih dari antara prajurit muda yang lain. Tanpa banyak suara prajurit-prajurit itu bekerja menghilangkan jejak mereka.
Kemudian dalam senyap pula, mereka menghilang dalam lebatnya hutan.
-----
Sekitar dua minggu sejak penduduk Kademangan Jati Asih dan pasukan Rangga mulai bergerak, Senapati Arya Pameling, setengah berlari menuju ke tenda Patih Nandini.
“Ki Patih, ada berita penting.”, serunya begitu dia diijinkan oleh penjaga untuk masuk ke dalam tenda dan melihat Patih Nandini.
“Tenang dulu Ki, silahkan duduk, dan sampaikan laporanmu perlahan-lahan.”, ujar Patih Nandini tetap tenang.
Senapati Arya Pameling menenangkan dirinya, ketika dia hendak membuka mulut, dia melihat Patih Nandini mengangkat tangannya sedikit dan memberi tanda agar dia tidak buru-buru bicara. Setelah beberapa tarikan nafas panjang, barulah Senapati Arya Pameling menyampaikan laporannya.
Waktu jeda sebelum dia menyampaikan laporan itu, membuat dia cukup tenang dan berhasil menyampaikan laporan dengan baik.
Patih Nandini mendengarkan dengan sabar, sesekali dia bertanya, dan Senapati Arya Pameling menjawab apa yang ditanyakan. Ketika Senapati Arya Pameling selesai menyampaikan seluruh laporannya, Patih Nandini berdiri dan memuji Senapati Arya Pameling, “Bagus Ki, kau berhasil mendapatkan berita yang sangat penting. Sepertinya kita sudah berhasil memecahkan rahasia apa yang membuat Raden Rangga mulai menggerakkan pasukannya.”
Kemudian dia berjalan ke arah luar tenda sambil menepuk pundak Senapati Arya Pameling, “Mari, ikut aku menghadap Prabu Jannapati.”