
“Jadi bagaimana menurut pendapat Raden Rangga?”
Tumenggung Widyaguna, Rakryan Rangga Wirapati dan Rakryan Wangga Aswatama diam menunggu keputusan Rangga. Tidak perlu waktu lama bagi Rangga untuk memutuskan, pertimbangan-pertimbangan yang diberikan Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan Rangga sudah cukup jelas.
“Pamanda sekalian benar, meskipun akan berakibat semakin lamanya waktu yang dibutuhkan, kita tidak bisa mengabaikan kondisi pasukan kita saat ini.”, ujar Rangga tanpa perlu berpikir panjang.
“Paman Aswatama, apakah pamanda sudah menemukan tempat yang tepat untuk kita berhenti beberapa waktu?”
“Dari laporan Senapati Bayu Bayanaka, ada beberapa tempat yang layak dijadikan tempat perhentian sementara. Ada sumber air, dekat pula dengan hutan yang cukup padat dengan binatang buruan.”, jawab Rakryan Rangga Aswatama dengan cepat.
“Coba tunjukkan lokasinya.”, kata Rangga sebelum memutuskan.
Rakryan Rangga Aswatama berjongkok dan menggunakan sebatang ranting untuk menggambar di atas tanah. Rangga, Tumenggung Widyaguna dan Rakryan Rangga Wirapati, ikut berjongkok untuk mengamati corat-coret Rakryan Rangga Aswatama.
“Ini raden, lokasi-lokasi yang menurut Senapati Bayu Bayanaka bisa jadi tempat perhentian yang layak. Saat ini kita berada di sini.”, ujar Rakryan Rangga Aswatama setelah selesai menggambar di atas tanah.
Peta yang digambar Rakryan Rangga Aswatama memang hanya gambaran kasar, namun lengkap dengan simbol-simbol yang menggambarkan kondisi geografi seperti arah mata angin, gunung, sungai, hutan dan mata air.
Rangga mempelajari peta itu beberapa lama, sebelum kemudian menunjuk ke satu lokasi, “Besok kita menuju ke tempat ini, lalu berdiam di sana untuk satu-dua minggu lamanya. Menurut paman berapa lama waktu yang kita butuhkan untuk sampai di tempat itu? Dan apakah kita bisa menghidupi seluruh rombongan dengan sumber daya yang ada di sekitar tempat itu?”
“Mengapa mengambil jalan memutar? Dan selama itu kah Raden memutuskan untuk menghentikan perjalanan?”, Tumenggung Widyaguna mengerutkan alis.
Rangga menepuk pundak Rakryan Rangga Aswatama, “Karena Pamanda Aswatama benar, dengan kecepatan kita sekarang, saat kita akan menghadapi sergapan lawan, dan korban akan berjatuhan. Penduduk Kademangan Jati Asih harus belajar mempertahankan diri mereka sendiri, untuk mengurangi jumlah jatuhnya korban.”
Rangga memalingkan wajah ke arah Rakryan Rangga Aswatama, “Kirim perintah ke Paman Bayu Bayanaka sekarang juga, aku ingin sebelum besok malam tiba, sudah ada laporan dari Paman Bayu Bayanaka.”
“Siap raden.”, jawab Rakryan Rangga Aswatama dengan sigap.
------
Beratus kilometer jauhnya dari perkemahan itu, di salah satu ruang pertemuan yang ada di Istana Kerajaan Watu Galuh, terlihat dua orang dengan hormat menghadap Prabu Jannapati.
“Jadi bagaimana hasil penyelidikanmu?”, tanya Prabu Jannapati, sorot matanya tajam menyambar senapati yang duduk bersila dengan hormat di hadapannya.
Senapati yang bertugas untuk mengirimkan telik sandi ke Kademangan Jati Asih itu sudah berkeringat dingin. Untuk sesaat dia menoleh ke arah Patih Nandini. Sebelum mereka menghadap ke Prabu Jannapati, dia sudah lebih dahulu melapor ke Patih Nandini. Tapi kali ini Patih Nandini tidak membantunya untuk menjawab pertanyaan Prabu Jannapati.
Prabu Jannapati sudah mulai hilang kesabarannya, untung senapati ini buru-buru menjawab ketika melihat Patih Nandini hanya duduk diam mendengarkan.
“Kademangan Jati Asih sudah kosong, seluruh penduduknya memilih untuk mengikuti Raden Rangga dan pengikut-pengikutnya, pergi ke tempat yang baru. Telik sandi yang tertangkap, ditinggalkan begitu saja. Kami berhasil menemukan lalu membebaskan mereka.”, senapati itu buru-buru melapor.
“Oh... ?” Prabu Jannapati sedikit terkejut mendengar telik sandi yang mereka kirimkan masih hidup.
“Semua telik sandi ditahan di tempat yang sama? Apa hanya kita yang mengirim telik sandi ke sana?”, tanya Prabu Jannapati.
“Benar gusti, mereka semua terkumpul di salah satu rumah dalam keadaan terikat erat. Ada beberapa petugas telik sandi yang bukan berasal dari Kerajaan Watu Galuh, gusti.”, jawab senapati tersebut.
“Hmm...? Di mana mereka sekarang?”, tanya Prabu Jannapati tertarik ingin tahu.
“Semuanya kami tangkap dan interogasi. Sekarang mereka ada di ibukota, di penjara kerajaan.”, jawab senapati tersebut.
Prabu Jannapati terlihat berpikir beberapa saat, matanya berkilat-kilat, tak lama kemudian dia berkata, “Bebaskan mereka semua.”
“Eh?”, senapati itu terkejut, tapi belajar dari pengalaman-nya yang lalu, buru-buru dia menjawab, “Siap laksanakan! Apakah gusti prabu ingin hamba membebaskan mereka sekarang juga?”
Prabu Jannapati mengangguk sambil tersenyum kecil, “Panggil dan tugaskan salah seorang bawahanmu untuk membebaskan mereka, lalu segera kembali untuk melanjutkan laporanmu.”
“Siap laksanakan baginda.”, jawab senapati itu tegas, lalu bergegas dia pamit dan meninggalkan ruangan.
“Baginda tidak kuatir, salah seorang dari mereka yang mengawasi Kademangan Jati Asih akan membantu Rangga?”, tanya Patih Nandini sesaat setelah tinggal mereka berdua saja di ruangan itu.
“Tidak.”, jawab Prabu Jannapati dengan penuh keyakinan.
“Kalaupun ada, aku yakin jumlahnya tidak akan terlalu banyak. Mereka dulu diam ketakutan saat ayahanda mengambil takhta kerajaan, apa bedanya dengan sekarang? Saat ini aku justru ingin air kolamnya makin keruh, biar ikan-ikan yang biasanya bersembunyi di dasar kolam, keluar semua.”, lanjut Prabu Jannapati menjelaskan.
“Hati-hati baginda, jangan sampai baginda salah mengukur kekuatan sendiri.”, ujar Patih Nandini dengan alis berkerut.
“Hehehe... Nandini, apa kau jadi penakut sekarang?”, ejek Prabu Jannapati.
“Hamba harap baginda lebih berhati-hati, itu saja.”, jawab Patih Nandini sambil menghela nafas.
Prabu Jannapati mengangguk tak sabar, “Sudah cukup, aku mengerti. Apa yang sudah dilaporkan senapati tadi?”
“Namanya Senapati Arya Pameling--”, Patih Nandini hendak menjawab.
“Aku tidak peduli siapa namanya! Dan tidak usah kau ulang laporan dia, kau ceritakan saja kesimpulanmu.”, tegas Prabu Jannapati memotong.
Patih Nandini menggeleng-gelengkan kepala, terkadang dia merasa putus asa dengan sifat junjungannya ini, tapi akhirnya dia tetap menjawab juga, “Rangga sudah pasti berkumpul kembali dengan pengikut-pengikut setianya. Tumenggung Widyaguna, Rakryan Rangga Wirapati, Rakryan Rangga Aswatama, dan tiga puluh senapati, bersama mereka sekitar enam sampai tujuh ratus prajurit.”
“Hmm...”, Prabu Jannapati memperhatikan dengan seksama.
“Jika seluruh penduduk kademangan mengikuti dia, artinya sekitar tiga puluh ribu orang mengikuti dia, katakan seperlima dari mereka adalah laki-laki dewasa, maka setidaknya ada enam ribu tambahan.”, Patih Nandini melanjutkan.
“Hmm... enam ribu orang yang belum pernah pergi berperang, aku bisa memimpin lima ratus orang prajurit pilihan dan membantai bersih mereka.”, ujar Prabu Jannapati merendahkan.
Patih Nandini menggelengkan kepala, “Baginda jangan lupa, penduduk pertama Kademangan Jati Asih adalah prajurit Prabu Jaya Lesmana.”
“Orang-orang tua yang sudah bau tanah.” sahut Prabu Jannapati dengan cepat.
“Hmmm....”, Prabu Jannapati berpikir.
“Kadipaten kecil tidak bisa menghentikan mereka.” gumam Prabu Jannapati.
Patih Nandini menganggukkan kepala setuju, lalu diam membiarkan Prabu Jannapati berpikir dengan tenang.
“Kirimkan orang untuk menemui para kepala begal di Gunung Awu. Terserah cara apa yang mau kau pakai, aku ingin mereka menyerang rombongan Rangga itu. Runtuhkan semangatnya, buat mereka berdarah sedikit demi sedikit...”, Prabu Jannapati masih bergumam sambil berpikir.
“Apa kalian sudah bisa menduga ke mana mereka akan pergi?”, tiba-tiba Prabu Jannapati bertanya.
“Mereka bergerak ke arah selatan. Dugaan hamba mereka akan mengitari Gunung Awu dan hutan di lereng Gunung Awu, menjauhi kita, kemudian ke arah timur, di mana masih banyak wilayah tak bertuan.”, jawab Patih Nandini.
“Ke arah selatan? Kau yakin mereka tidak punya rencana untuk bergabung dengan Adiyasa?”, tanya Prabu Jannapati sambil mengerutkan alis.
Patih Nandini dengan yakin menjawab, “Hamba rasa tidak, jika mereka terus ke selatan, maka mereka akan memasuki Kadipaten Jambangan, namun dengan situasi saat ini, Adipati Jalak Kenikir, tidak akan berani menghadang dia--”
“Karena takut Adipati Panjalu dan Adipati Guntur Aji bisa menyerang kadipatennya.”, potong Prabu Jannapati sambil memukul lututnya.
“Benar, Adipati Panjalu dan Adipati Guntur Aji juga tidak akan berani menghadang dia, karena artinya pasukan mereka akan masuk terlalu dalam ke wilayah kita.”, lanjut Patih Nandini.
“Hee.... bagaimana misalnya kalau kita berdiam diri dan tidak melakukan tekanan ke bajingan-bajingan tua itu?”, Prabu Jannapati bertanya.
“Tidak... tidak... tidak..., percuma saja, karena keberadaan kita sudah menjadi ancaman sendiri. Jika kita tidak mengirim pasukan ke perbatasan, lebih menguntungkan bagi mereka untuk menyerang dan menguasai wilayah kita, daripada menyerang Rangga yang hanya lewat.”, Prabu Jannapati menjawab pertanyaannya sendiri.
Patih Nandini mengangguk setuju. Prabu Jannapati tertawa lebar karena bisa menebak jalan pikiran Rangga, namun sesaat kemudian dia merengut marah, “Sial!”
Patih Nandini baru hendak membuka mulut ketika Prabu Jannapati berdiri dan dengan mata menyala-nyala memberi perintah, “Dengarkan aku Nandini, aku perintahkan kau untuk menyiapkan pasukan untuk menyerang bajingan-bajingan tua yang memanfaatkan Adi Adiyasa dalam waktu sesingkat-singkatnya. Kita akan menyerang mereka sedemikian ketat, sampai mereka hanya bisa bertahan. Kemudian tugaskan Adipati Jalak Kenikir untuk menghabisi Rangga dan seluruh mereka yang mengikuti dia.”
Patih Nandini menatap wajah Prabu Jannapati yang merona merah, matanya menyala-nyala dan rahangnya bergemeretak keras. Patih Nandini pun tahu, tidak akan ada kata-kata yang mampu mengubah keputusan Prabu Jannapati.
Patih Nandini pun membungkuk hormat dalam-dalam dan menjawab, “Siap laksanakan paduka.”
----
Di salah satu hutan kecil, di lereng Gunung Awu, terlihat ratusan rumah-rumah panjang sementara yang dibangun cepat-cepat dan ala kadarnya. Anak-anak kecil bermain di tepian sungai, sesekali terdengar mereka berteriak-teriak, berebut ingin mengambil peran menjadi salah satu jagoan yang ceritanya mereka dengar setiap malam.
Di dataran rumput yang luas, di sisi lain dari Sungai Serayu, ribuan laki-laki yang mampu mengangkat senjata, terlihat berlatih perang-perangan di bawah arahan prajurit-prajurit yang berpengalaman.
“Jangan terpisah dari kelompokmu!”
“Pemimpin kelompok, selalu perhatikan panji-panji!”
“Ingat, empat orang bertahan, satu orang mencari kesempatan untuk menyerang!”
“Pertahankan formasi!”
Sayup-sayup terdengar teriakan-teriakan di tengah gelanggang pertempuran yang cukup besar. Rangga dan para panglimanya lebih menitik beratkan latihan pada kerja sama dan pengenalan akan berbagai macam formasi dalam medan perang.
Di sebuah bukit kecil, Rangga dan Ki Ageng Aras memperhatikan latihan perang-perangan yang terjadi.
“Tidak buruk den, bagaimana pun juga, sebagian dari mereka dulunya adalah prajurit. Sebagian lagi adalah keturunan prajurit, mereka sudah memiliki dasar-dasar keprajuritan. Latihan formasi perang seperti ini menambal apa yang kurang dari mereka.”, kata Ki Ageng Aras.
Rangga mengangguk dengan seulas senyum di wajahnya, “Benar...”
“Sepertinya raden masih menyimpan beban.”, tanya Ki Ageng Aras melihat awan di wajah Rangga.
Rangga menoleh ke arah Ki Ageng Aras dan keduanya berpandangan beberapa saat. Rangga menghela nafas dan menjawab, “Beri mereka waktu beberapa bulan dan mereka akan siap untuk pertempuran, tapi apa kita punya waktu beberapa bulan?”
“Prabu Jannapati akan disibukkan dengan Prabu Jayabhuanna... setidaknya mungkin untuk satu-dua bulan ke depan.”, ujar Ki Ageng Aras ragu-ragu.
“Dan kita harus sudah berada jauh dari Kerajaan Watu Galuh sebelum perang di antara mereka usai.”, sambung Rangga.
Mereka berdua terdiam, memandang ribuan laki-laki yang sedang berlatih perang-perangan jauh di bawah sana. Pada saat perang yang sesungguhnya, korban akan berjatuhan.
Mereka berdua masih terdiam dengan pikirannya masing-masing, saat terdengar suara kuda menderap cepat ke arah mereka. Rangga dan Ki Ageng Aras menoleh ke arah datangnya suara. Seorang prajurit memacu kudanya, tanpa melambat sedikitpun. Baru ketika dia mencapai kaki bukit, dia mengurangi kecepatan.
Beberapa langkah jauhnya dari Rangga, dia melompat turun dari kudanya dan berlutut di depan Rangga.
“Bangunlah...., kabar apa yang kau bawa?”, ujar Rangga dengan sopan.
Prajurit itu bangkit berdiri dan melaporkan kabar yang dia bawa sesingkat dan selengkap mungkin, lalu diam menunggu perintah dari Rangga. Prajurit itu adalah bagian dari kesatuan yang menjadi pengintai dan mengamankan wilayah di sekitar tempat perhentian. Menurut kabar yang dibawa prajurit itu, selama satu hari itu sudah terjadi belasan kali bentrokan kecil-kecilan dengan beberapa begal dan bandit dari arah Gunung Awu.
Senapati Respati yang memimpin mereka, meminta bantuan untuk mengamankan keadaan. Selain itu dia juga menduga, akan ada serangan yang lebih besar.
Ki Ageng Aras bergumam, “Sepertinya memang ada upaya untuk menguji dan mencari-cari lubang kelemahan dalam pertahanan kita.”
Rangga dengan cepat mengambil keputusan, “Ki Ageng Aras, mohon sampaikan perintahku pada Tumenggung Widyaguna, tugaskan dua kesatuan lagi untuk membantu Senapati Respati. Setelah itu, minta Pamanda Widyaguna, Wirapati dan Aswatama, juga para senapati yang sedang tidak bertugas segera menemuiku di sini untuk memikirkan rencana yang lebih matang.”
“Baik raden”, jawab Ki Ageng Aras dan tanpa membuang waktu, berkelebat pergi ke arah salah satu bangunan di seberang Sungai Serayu.
Rangga kemudian memberi perintah pada prajurit itu, “Katakan pada Senapati Respati, bantuan akan segera datang. Tunggu sampai datang perintah berikutnya. Pastikan kalian selalu meninggalkan tanda-tanda, agar kami mudah menemukan kalian.”
“Siap laksanakan raden.”, jawab prajurit itu, dan tanpa membuang waktu dia pun melompat dan memacu kudanya, ke tempat di mana Senapati Respati menunggu.