
Jauh di ujung paling barat dari Kerajaan Watu Galuh, menjadi sebuah daerah batas antara Kerajaan Watu Galuh dengan Kerajaan Pakuan yang menguasai ujung barat Bhumi Adyatma, adalah Kadipaten Penambang.
Sebuah kadipaten yang luas dan dihormati kadipaten-kadipaten lain di sekitarnya.
Memiliki ikatan yang erat dengan Kerajaan Watu Galuh sejak berkuasanya Prabu Jaya Lesmana, dan di luar banyak dugaan orang, masih terus berlanjut setelah Prabu Jaya Lesmana digantikan oleh adiknya Prabu Anglang Bhuanna.
Adipati Merak Salaka dengan cermat menekuni gulungan lontar yang melaporkan keadaan di Kerajaan Watu Galuh, bersama dengan beberapa adipati dari kadipaten tetangga. Mereka terjalin dalam satu persekutuan bersama, Kekuatannya mungkin sejajar dengan kekuatan satu kerajaan kecil.
“Bagaimana kakang, jika di Kerajaan Watu Galuh sampai pecah perang saudara, ada kemungkinan Prabu Jannapati akan mengirim utusan dan meminta kita mengirimkan bantuan. Apa yang harus kita lakukan?”, tanya salah seorang adipati.
“Benar kakang, kami semua punya pertanyaan yang sama seperti pertanyaan Adi Gelang Wesi.”, seorang adipati yang lebih tua ikut menguatkan.
Adipati Merak Salaka menghela nafas panjang dan memijit-mijit dahinya yang dihiasi garis-garis penanda usia dan uban, “Ananda Prabu Jannapati terlalu keras sifatnya...”
Suasana jadi hening, tak ada yang berbicara. Semua laporan sudah disampaikan dengan lengkap. Adipati-adipati yang lain sekarang menunggu keputusan Adipati Merak Salaka dengan sabar. Memang seperti inilah adat kebiasaan Adipati Merak Salaka. Yang tidak kenal dia mungkin akan menganggap Adipdati Merak Salaka lamban dan tak pantas jadi pemimpin. Kenyataan-nya adipati yang sudah berusia mendekati 90 itu, berhasil menjaga kedaulatan kadipatennya melalui masa-masa sulit.
Selama ratusan tahun, sejak Bhumi Adyatma terpecah-pecah menjadi banyak kerajaan kecil dan kadipaten-kadipaten yang merdeka, ketupan-letupan besar dan kecil tak pernah sepi dari waktu ke waktu.
Baru setelah naiknya Prabu Jaya Lesmana menjadi raja Kerajaan Watu Galuh dan kemudian dilanjutkan Prabu Anglang Bhuanna, perang kecil dan besar mulai mereda. Kedua raja ini berhasil menguasai kira-kira seperempat wilayah Bhumi Adyatma yang berpenduduk, baik lewat perang maupun diplomasi.
Posisi-nya yang di tengah-tengah pulau yang besar ini, membuat kedudukannya seakan mengancam semua pihak. Sehingga sisa-sisa kadipaten dan kerajaan kecil yang tidak tunduk pada Kerajaan Watu Galuh tidak berani berperang di antara mereka sendiri, karena siapapun pemenangnya, akan menjadi santapan yang mudah bagi Kerajaan Watu Galuh.
Sendiri-sendiri mereka tidak cukup kuat untuk mengancam Kerajaan Watu Galuh. Untuk bersatu juga tidak mau, apalagi Kerajaan Watu Galuh juga dengan aktif membangun persekutuan dengan beberapa kadipaten dan kerajaan kecil lain di Bhumi Adyatma.
Salah satunya adalah persekutuan sebagian adipati-adipati di Bhumi Adyatma bagian barat, yang dipimpin oleh Adipati Merak Salaka ini.
Adipati Merak Salaka menutup mata, seperti tertidur pulas, sementara para adipati yang lain diam menunggu dengan sabar.
Lama sekali akhirnya Adipati Merak Salaka berujar, “Kita jangan ikut terjun dalam air yang keruh ini. Jika sampai ada utusan dari Prabu Jannapati, katakan pada mereka untuk menemuiku. persekutuan tujuh kadipaten ini, aku yang memimpin dan aku yang memberi keputusan.”
“Baik kakang”, jawab para adipati serempak dan dengan hormat.
Tidak banyak penjelasan dari Adipati Merak Salaka, hanya sebuah keputusan. Namun, keputusan yang tanpa penjelasan itu seperti jadi pegangan bagi adipati-adipati yang lain, menyapu kekhawatiran yang tadi menaungi wajah-wajah mereka.
Sementara itu di ruang dalam Kerajaan Pakuan Pangandaran, terlihat Prabu Sanjaya sedang mengadakan pertemuan dengan para menteri dan panglima perangnya.
“Dalam hitungan bulan atau bahkan minggu, udara di Bhumi Adyatma akan kembali memanas. Pangeran Adiyasa hampir bisa dipastikan akan didukung dengan belasan kadipaten yang selama ini terpecah-pecah di sekitaran selatan Kerajaan Watu Galuh.”, ujar salah seorang dari menteri yang hadir.
“Ini kesempatan kita, selama ini posisi Adipati Merak Salaka menjadi aman dengan Kerajaan Watu Galuh berjaga di belakangnya. Sekarang Pangeran Adiyasa mendapat sokongan dari kadipaten-kadipaten di luar Kerajaan Watu Galuh. Prabu Jannapati pasti akan menuntut Adipati Merak Salaka dan sekutu-sekutunya untuk membantu dia.”, seorang panglima perang menimpali.
Prabu Sanjaya mendengarkan dengan tenang, tapi terlihat jari-jarinya mngetuk-ngetuk kursi dengan bersemangat.
Kesempatan yang sudah lama ditunggu akhirnya tiba, tapi Prabu Sanjaya tidak mau terbutu-buru, dia melihat ke arah pejabat-pejabat yang lain, “Menurut kalian bagaimana?”
“Hamba kira tidak demikian, jika persekutuan tujuh kadipaten itu berani menggerakkan prajurit mereka membantu Prabu Jannapati, mereka akan terjebak dalam peperangan yang memakan waktu, biaya dan nyawa. Adipati Merak Salaka pasti paham benar akan hal ini, hamba kira, dia pasti menolak permintaan Prabu Jannapati untuk mengirimkan bala bantuan.”, ujar seorang menteri yang sudah lanjut usia.
“Hamba setuju dengan apa yang dikatakan Rakryan Tumenggung Hadikesuma. Adipati Merak Salaka mungkin pekewuh kalau yang meminta bantuan itu mendiang Prabu Jaya Lesmana. Mungkin dia gentar jika yang meminta bantuan itu Prabu Anglang Bhuanna. Tapi dia tidak punya alasan untuk takut, ataupun sungkan pada Prabu Jannapati.”, seorang menteri mendukung ucapan Tumenggung Hadikesuma.
Alis Prabu Sanjaya berkerut, “Paman patih, bagaimana menurut paman?”
Patih Dyah Jumenang tersenyum sinis, “Apa yang sulit? Kedudukan Adipati Merak Salaka bisa menjadi kuat, karena di belakangnya ada tembok yang kuat, sehingga dia bisa memusatkan seluruh kekuatan mereka untuk mengawasi kita.”
Prabu Sanjaya tersenyum puas, patihnya ini tidak pernah mengecewakan dia, “Ha.. paman benar, jadi bagaimana paman?”
Patih Dyah Jumenang berdiri dengan dada terbuka lebar, “Hamba rasa, apa yang dikatakan Tumenggung Hadikesuma itu benar. Menilik sifat Adipati Merak Salaka, dia pasti memilih jalan yang paling aman bagi wilayah kekuasaannya.”
Para menteri dan panglima diam mendengarkan, mereka yang memiliki kedekatan dengan Tumenggung Hadikesuma merasa dadanya mengembang. Sementara Prabu Sanjaya terlihat tak sabar ingin mendengar penjelasan Patih Dyah Jumenang lebih lanjut, yang dia inginkan adalah menyingkirkan Adipati Merak Salaka yang sudah jadi batu sandungan selama puluhan tahun bagi Kerajaan Pakuan Pangandaran.
“He hee... tapi tembok yang melindungi punggunnya itu sekarang sudah melemah, itu kenyataan yang tidak bisa dia hindari. Pada saat tembok itu runtuh, saat itu pula titik mula keruntuhan tujuh kadipaten itu, dan tembok itu sudah pasti akan runtuh!”, ujar Patih Dyah Jumenang dengan nada suara yang makin lama makin tinggi.
“Bagus!”, seru Prabu Sanjaya.
“Tapi bagaimana Pamanda patih yakin bahwa Kerajaan Watu Galuh pasti runtuh? Kudengar Prabu Jannapati adalah seorang yang garang, dia dibantu pula oleh patihnya yang cakap dalam berbagai ilmu.”, tanya Prabu Sanjaya dengan ragu-ragu sesaat kemudian.
“Adipati Gading Kencana adalah seorang tua yang licik, tak kalah liciknya dengan Adipati Merak Salaka, dia akan jadi lawan yang menyulitkan bagi Prabu Jannapati.”, ujar Patih Dyah Jumenang.
“Selain itu apa paman?”, Prabu Sanjaya bertanya dengan penuh rasa ingin tahu.
“Hehehe, tangan dan kaki Adipati Merak Salaka terikat oleh kita, tak bisa bergerak membantu Prabu Jannapati. Tapi kita... hehehe, kita masih punya ruang gerak untuk memastikan Kerajaan Watu Galuh runtuh.”, jawab Patih Dyah Jumenang.
“Apakah kita akan mengirim pasukan ke sana?”, tanya Prabu Sanjaya terkejut.
“Hehehe, tidak perlu..., sama sekali tidak perlu. Kita hanya perlu mengirim surat ke Jendral Van Der Loewig di Ujung Kulon.”, mata Patih Dyah Jumenang terlihat berkilau licik saat berkata.
“Jendral Van Der Loewig dengan senang hati akan mengulurkan bantuan untuk siapa pun di antara dua pihak yang sedang berseteru, yang mau menjalin kerja sama dengan dirinya. Tentu dengan harga yang sangat mahal. Setiap kali pergi berperang, pasukan pilihan-nya menghabiskan biaya yang tidak sedikit.”, Patih Dyah Jumenang menjelaskan, beberapa wajah menteri dan panglima perang terlihat mulai paham.
Prabu Sanjaya pun perlahan-lahan mulai mengerti, “Hahahaha, paman benar-benar cerdas, tak salah kalau gelar ahli strategi nomer satu disandang Pamanda Patih. Begitu Jenderal Van Der Loewig ikut campur, salah seorang dari mereka pasti akan menanda tangai perjanjian dengan dirinya, karena siapa yang menolak bantuannya, bisa dipastikan akan mengalami tekanan yang berat.”
Patih Dyah Jumenang menganggukkan kepala sambil tersenyum puas, “Benar sekali baginda, yang perlu kita siapkan hanyalah mengamankan jalan dari Ujung Kulon menuju Kerajaan Watu Galuh. Sekaligus pula kita melebarkan sayap kita ke selatan.”
“Dan Adipati Merak Salaka hanya bisa menonton sambil menghitung hari. Hahahahaha.”, Prabu Sanjaya menepuk-nepuk lututnya sambil tertawa terbahak-bahak.
Para menteri dan panglima perang tentu saja ikut tertawa. Akhirnya kerikil yang keras kepala dan tak mau pergi dari dalam sepatu mereka bakal tersingkir. Adipati Merak Salaka sudah berkali-kali membuat manuver militer dan politik yang membuat mereka harus menahan diri dan mundur dengan malu.
Sekarang akhirnya mereka bisa melihat Adipati Merak Salaka bertekuk lutut di hadapan Kerajaan Pakuan Pangandaran.
Hari-hari itu pula, di pesisir utara Bhumi Adyatma, di sebuah kota pelabuhan yang besar, dengan kapal-kapal pedagang dari negeri seberang berjajar di dermaga.
Pendapatan terbesar Kadipaten Laweyan berasal dari pajak pelabuhan yang selalu ramai oleh pedagang dari berbagai penjuru dunia. Beberapa negeri seberang bahkan memiliki kantor dagang mereka sendiri-sendiri. Sebagai kadipaten di mana berbagai negara datang berkunjung dan berdagang, untuk menjaga agar situasi tetap kondusif, Kadipaten Laweyan pun harus memiliki kekuatan armada laut dan darat yang disegani.
Sebuah benteng dari batu, dengan meriam-meriam berjajar menghadap ke arah laut, adalah bangunan yang menjadi kebanggaan rakyat Kadipaten Laweyan.
Di salah satu ruangan dalam benteng itu, terlihat Adipati Pradnaja, para senapati, serta menteri-menteri kepercayaan-nya. Ruang itu bertembok tebal dengan beberapa lubang ventilasi di sisi luar. Langit-langitnya sangat tinggi, dan cahaya matahari kesulitan untuk menerangi ruangan.
Pintu ruangan itu terbuat juga dari kayu jati yang tebal.
Saat pintu sudah tertutup seperti sekarang ini, maka tak ada sedikitpun suara yang menyelusup keluar dari ruangan itu. Di luar ruangan sedari tadi terasa hening, padahal di dalam ruangan itu baru saja terjadi perdebatan sengit.
Di dalam ruangan, wajah beberapa orang senapati masih terlihat merah padam. Adipati Pradnaja duduk dengan tegak di kursinya, tatapan matanya menyambar ke kiri dan ke kanan. Tak ada yang berani membuka mulut.
Baru ketika emosi para senapati dan menteri terlihat mereda, Adipati Pradnaja membuka mulutnya, “Jangan sampai kita bertengkar di antara diri kita sendiri. Ingat, kita ini orang Kadipaten Laweyan, bukan orang dari sebrang timur, barat, atau manapun. Tanah yang kita injak dan menghidupi kita adalah Tanah Laweyan!”, tegas Adipati Pradnaja dengan keras.
“Jangan pula kalian pernah berpikir utusan-utusan dari negara lain itu tidak memikirkan kepentingan mereka sendiri? Dalam setiap uluran persahabatan dan kerja sama, pasti yang mereka dahulukan adalah kepentingan negara mereka. Bukan kepentingan kita! Kitalah yang harus memperjuangkan kepentingan Tanah Laweyan ini!”, Adipati Pradnaja tidak menyembunyikan kemarahan dalam tiap kata-katanya.
Para senapati dan menteri pun menunduk mendengarkan teguran Adipati Pradnaja. Entah apakah di dalam hati mereka, mereka itu sepakat atau tidak, yang pasti di depan Adipati Pradnaja tidak ada yang berani menyanggah kata-katanya itu.
Setelah cukup lama mereka terdiam, salah seorang menteri memberanikan diri bertanya, “Jadi bagaimana keputusan Adipati mengenai geger di Kerajaan Watu Galuh?”
“Dasar anak-anak muda bau kencur...”, gumam Adipati Pradnaja kesal sambil mengerutkan alis.
Adipati Pradnaja tidak segera menjawab, tapi para abdi dalemnya pun tidak ada yang berani menyela, beberapa saat kemudian Adipati Pradnaja berkata, “Kadipaten Laweyan bisa hidup dengan tenang, karena adanya Kerajaan Watu Galuh, karena itu, dengan cara apapun Kerajaan Watu Galuh harus tetap berdiri, menancap dengan kuat di pusat Bhumi Adyatma.”
“Di pihak siapa kita akan berdiri?”, tanya salah seorang menteri.
“Sudah pasti di pihak Prabu Jannapati. Di belakang Pangeran Adiyasa ada adipati-adipati yang bermain, bila dia menang, maka keadaan Kerajaan Watu Galuh hanya akan tambah kacau saja. Prabu Jannapati mungkin terlalu keras, tapi Kerajaan Watu Galuh yang dipimpin dengan tangan besi akan menguntungkan kita. Aku tidak perduli apakah rakyat Kerajaan Watu Galuh sejahtera atau tidak, yang aku inginkan adalah kestabilan di kerajaan itu.”, jawab Prabu Jannapati.
“Apakah tidak melemahkan kekuatan militer kita di Kadipaten Laweyan jika kita mengirim pasukan membantu Prabu Jannapati?”, tanya salah seorang senapati.
“Hmm... angkatan laut kita memang banyak ditempa di medan yang sesungguhnya, membereskan perompak yang terkadang mengganggu wilayah di Laut Utara. Tapi sebaliknya angkatan darat kita lebih banyak berlatih di sanggar dan lapangan, daripada di medan laga yang sesungguhnya. Perang ini bisa kita gunakan untuk mengasah kemampuan mereka.”, jawab Adipati Pradnaja.
“Tapi.... akan ada banyak korban berjatuhan...”, salah seorang senapati berujar ragu-ragu, dia salah seorang senapati yang memimpin angkatan dara Kadipaten Laweyan.
“Hmph! Lebih baik aku menghidupi seratus orang prajurit yang kenyang makan asam garam peperangan, daripada seribu gentong nasi.”, jawab Adipati Pradnaja, matanya menyorot tajam menatap senapati yang berucap tadi.
“Maksud Senapati Rengganis bukan demikian Ki Adipati.... hanya saja untuk menjaga kedaulatan Kadipaten Laweyan yang luas juga butuh jumlah yang tidak sedikit.”, buru-buru seorang senapati yang lebih tua membantu rekannya yang salah ucap itu.
“Tidak ada masalah, pada saat nanti perang sudah dimulai, buka kesempatan yang sebesar-besarnya, bagi siapapun yang ingin mengabdi pada Kadipaten Laweyan sebagai prajurit. Janjikan mereka kehidupan yang layak, tapi itu nanti, setelah mereka lulus ujian.”, Adipati Laweyan tersenyum meremehkan.
“Lulus ujian di medan peperangan yang sesungguhnya.”, lanjut Adipati Laweyan dengan sorot mata dingin.