
Ki Suroto dan Ki Badrawi saling pandang, tiba-tiba kedua orang itu merasa bersyukur tidak memilih menjadi pengikut Rangga. Meskipun mereka akan mengalami kerugian bila usaha Rangga mendiirkan kota di pesisir Selatan gagal, tapi kerugian mereka tidaklah sebesar kerugian yang dialami KiWaluyo dan Ki Tanumerta.
Diam-diam keduanya melirik ke arah Ki Bharata, ketika mereka melihat raut muka prihatin Ki Bharata, dalam hati mereka sedikit banyak terselip perasaan senang yang cepat-cepat mereka kubur dalam-dalam.
Sebelumnya kedua orang itu sempat menyesal tidak mengambil keputusan yang sama dengan tiga orang rekannya yang lain.
Ketika mereka melihat kecekatan Rangga dan para pengikutnya, serta kesetiaan penduduk yang mengikuti mereka, diam-diam mereka memuji ketajaman mata Ki Bharata. Semakin hari, mereka berdua semakin yakin bahwa mereka sudah salah mengambil pilihan.
Tanpa sadar terselip rasa iri dan kehilangan, tapi harus mereka pendam dalam-dalam, karena siapa yang bisa mereka salahkan kecuali diri mereka sendiri.
Ketika keadaan sekarang berbalik, berubah pula perasaan mereka.
“Bagaimana ini raden? Penjelasan Ni Sundari rasanya benar-benar mengena dengan situasi saat ini. Jika itu benar, artinya kita sekarang berada dalam bahaya.”, Ki Waluyo bertanya dengan nada khawatir.
“Jangan cemas.”, ujar Rangga dengan tenang.
Sesaat kemudian dia melanjutkan, “Kalaupun ketiga orang adipati itu benar akan menyatakan perang, hal itu tidak akan terjadi dalam hitungan hari. Sementara itu, kita pun tidak akan berdiam diri.
Kita perlu mencoba menjalin persahabatan dengan Adipati Surobledug dan Adipati Bajing Kuning. Meskipun kita tidak bisa mengharapkan perdamaian dengan ketiga orang adipati yang lain, kita masih bisa mencoba meyakinkan kedua orang adipati itu untuk mengikat persekutuan dengan kita.”
“Apakah kedua adipati itu akan menerima uluran tangan kita? Bukankah akan lebih menguntungkan bagi mereka jika terjadi pertempuran di pesisir selatan ini?”, tanya Ki Tanumerta ragu-ragu.
“Apakah persekutuan dengan kita akan mendatangkan keuntungan atau kerugian, itu bukanlah sesuatu yang pasti. Jika kita bisa meyakinkan mereka bahwa persekutuan dengan kita bisa mendatangkan keuntungan yang lebih pasti, bukan tidak mungkin keduanya akan setuju.”, jawab Rangga.
Ki Bharata yang sejak tadi diam bertanya, “Jika demikian siapa yang akan Raden Rangga utus untuk menemui kedua adipati itu? Siapa kira-kira yang bisa meyakinkan mereka untuk menjalin persekutuan dengan kita?”
Untuk beberapa lama, Rangga terlihat berpikir sesekali dia memandang ke arah salah seorang senapatinya, sesekali melihat ke arah Tumenggung Widyaguna.
Akhirnya dia terlihat menggelengkan kepala dan berkata, “Aku memerlukan Pamanda Tumenggung dan sekalian senapati untuk hal-hal yang berhubungan dengan militer. Apalagi dalam situasi sekarang ini, masalah pertahanan dan telik sandi menjadi penting.”
Ki Bharata dan rekan-rekannya diam-diam saling memandang. Jumlah perwira perang Rangga saat ini memang jauh berkurang. Jangankan para senapati, Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan pun ikut harus turun langsung memimpin pasukan mereka, apalagi sekarang ketika mereka harus menyiapkan pertahanan mereka menghadapi kemungkinan adanya serangan.
Ki Bharata pun berkata, “Jika Raden Rangga percaya, ijinkan hamba dan rekan-rekan hamba, mencoba sekali lagi.”
Rangga menatap Ki Bharata beberapa saat, seakan sedang menimbang-nimbang bobot orang setengah umur itu, dan berkata, “Ki Suroto dan Ki Badrawi sudah sempat mengunjungi kedua adipati itu, kali ini aku berharap Ki Bharata yang menjadi utusanku.
Bagaimana?”
Ki Bharata mengangguk dalam-dalam, “Sendhika dhawuh raden, jika memang demikian keputusan raden.”
Rangga mengangguk, “Baik, dengan demikian aku putuskan Ki Bharata yang mengemban tugas yang penting ini. Besok pagi-pagi aku harap Ki Bharata sudah mulai berangkat. Sementara Ki Bharata tidak ada di tempat, aku minta Ki Waluyo dan Ki Tanumerta bekerja sama menggantikan tugas-tugas Ki Bharata di tempat ini.”
“Siap raden, sendhika dhawuh.”, ujar ketiga orang yang disebut namanya itu secara serempak.
“Baiklah, pertemuan hari ini aku tutup sampai di sini, silahkan semuanya kembali pada tugasnya masing-masing. Hanya Ki Bharata dan Pamanda Tumenggung aku minta untuk tinggal sejenak, ada beberapa hal yang perlu aku sampaikan.”, ujar Rangga menutup pertemuan mereka.
Orang-orang itu bubar, meninggalkan Rangga, Ki Bharata dan Tumenggung Widyaguna bercakap-cakap. Para prajurit berjaga di sekitar tempat itu, memastikan tidak ada orang yang bisa ikut mendengarkan pertemuan tertutup itu.
------
“Bagaimana menurut pendapatmu?”, tanya Ki Badrawi pada Ki Suroto.
Saat ini kedua orang pedagang itu berada di sebuah rumah kayu yang baru dibangun sebagian. Sedikit terpisah dari bangunan-bangunan lain. Di luar bangunan itu tengah berjaga orang-orang mereka sendiri. Rencananya bangunan itu nantinya akan menjadi pusat usaha mereka berdua, setelah kota Rangga selesai berdiri nanti.
“Suram...”, jawab Ki Suroto lesu, “tapi setidaknya kerugian kita tidak sebesar Ki Bharata, Ki Waluyo dan Ki Tanumerta.”
“Jadi menurutmu, Ki Bharata akan gagal dalam misinya?”, tanya Ki Badrawi.
Tidak ada alasan kuat bagi Adipati Surobledug dan Adipati Bajing Kuning untuk menjalin persekutuan dengan kita.”
“Menurut pendapatmu sendiri bagaimana?”, Ki Suroto balik bertanya.
“Aku setuju dengan pendapatmu.”, jawab Ki Badrawi cepat.
Sambungnya, “Jika keduanya mengikat persekutuan dengan kita, bisa jadi ketiga adipati yang lain akan menahan diri dan tidak jadi menyerang. Lalu apa untungnya bagi kedua adipati itu? Porsi kue yang sudah terbagi, jadi terbagi makin kecil dengan keberadaan kita.
Jika tetap terjadi peperangan, yang sudah pasti mereka harus mengorbankan angkatan perangnya, padahal menang atau kalah belum tentu.”
Ki Suroto menganguk-angguk setuju, “Ini semua salah Ki Bharata, harusnya kita jangan mendengarkan perkataan-nya. Kalau bukan karena terbawa oleh pujian dia tentang prestasi dan kemampuan Raden Rangga, kita tidak akan meminjamkan sebagian harta kita untuk Raden Rangga dan pasukannya.”
“Jangan terburu-buru berputus asa Ki, bukankah sepanjang pengamatan kita Raden Rangga dan para pengikutnya memang memiliki kemampuan yang mumpuni?”, hibur Ki Badrawi.
“Heh... Jadi menurut Ki Badrawi, mereka masih punya kesempatan untuk berhasil?”, tanya Ki Suroto tersenyum kecut.
“Tentu saja, mereka sudah menunjukkan kemampuan mereka saat membawa seluruh penduduk Kademangan Jati Asih keluar dari Kerajaan Watu Galuh. Selain itu, bukankah Ki Bharata akan berangkat untuk menemui dua orang adipati itu?”, jawab Ki Badrawi dengan senyum terkulum.
Ki Suroto memandangi ekspresi wajah Ki Badrawi, mereka berdua sudah sering bekerja sama selama bertahun-tahun, “Ki Badrawi tentu tidak mengundang aku untuk bercakap-cakap hanya untuk membesarkan hatiku saja kan? Aku yakin Ki Badrawi punya satu rencana tertentu.
Tak perlu menghibur diri dengan kata-kata kosong, Raden Rangga mungkin punya kesempatan untuk menancapkan pengaruhnya di pesisir selatan ini, jika dia berhasil mendapatkan seorang sekutu di antara lima orang adipati yang sudah menguasai wilayah ini.
Tapi sulit membayangkan kita akan berhasil membangun sebuah kota, sementara ada kadipaten-kadipaten yang akan menyerang kita sewaktu-waktu.”
Ki Badrawi tertawa kecil, “Hehe... Ki Suroto memang bermata tajam, sekarang ini kuncinya ada pada Ki Bharata, apakah dia berhasil dalam misinya, atau gagal.”
Ki Suroto mengangguk dengan mata tak lepas mengamati rekannya itu, “Benar.”
“Jadi, untuk sementara, kita tunggu hasil dari perjalanan Ki Bharata.”, ujar Ki Badrawi.
“Lalu?”, tanya Ki Suroto mulai tak sabar.
“Jika Ki Bharata berhasil dalam misinya, maka kita akan tetap pada rencana semula. Bagaimanapun juga, kita sudah meminjamkan harta cukup banyak pada Raden Rangga,”, jawab Ki Badrawi.
“Tapi jika Ki Bharata gagal...?”, tanya Ki Suroto dengan suara rendah, setengah berbisik.
“Kita gunakan posisi kita dalam pasukan Rangga, untuk menjalin hubungan dengan Adipati Surobledug dan Adipati Bajing Kuning.”, jawab Ki Badrawi dengan mata berkilat-kilat.
Wajah Ki Suroto terlihat menegang, “Kau yakin?”
“Hemm... kau takut? Kali ini kita mempertaruhkan sebagian harta kita untuk membiayai Raden Rangga, apa tujuannya? Bukankah untuk memperluas usaha kita masuk ke pesisir Selatan? Ki Bharata dan yang lain lupa pada tujuan utama kita, aku tidak.”, jawab Ki Badrawi dengan penuh keyakinan.
“Apa tidak berbahaya?”, desis Ki Suroto.
“Bagaimana bisa meraih kesuksesan tanpa mengambil resiko? Sudah terlalu besar yang aku pertaruhkan untuk memperluas usahaku di pesisir Selatan ini..., aku tak rela kalau sampai gagal.”, geram Ki Badrawi.
“Bagaimana? Kau tertarik untuk bekerja sama?”, tanya Ki Badrawi.
Ki Suroto terdiam beberapa lama, tak langsung menjawab.
“Baiklah, katakan apa rencanamu.”, ujar Ki Suroto setelah berpikir cukup lama.
Wajah Ki Badrawi terlihat cerah, mendengar jawaban Ki Suroto, “Hahaha.... aku tahu aku bisa mengandalkanmu.”
Diam-diam, tanpa setahu kedua orang itu, di atap rumah itu, tersembunyi dalam gelapnya malam, sesosok laki-laki, diam mendekam dan menguping pembicaraan mereka.