
Hitam rambutmu, menari-nari ditiup angin senja.
Berlarian darah dalam nadiku, menyeru puisi-puisi cinta.
Detak-detak jantungku seperti deburan ombak di lautan, mengguncang-guncang kesadaranku.
Duh dinda pujaan, aku oleng hilang keseimbangan karena dirimu.
_____________________________________
Sepasang tangan yang terbuka lebar itu tinggal seruas jari saja dari pundak Rangga, ketika tiba-tiba tubuh Rangga menggeliat, melepaskan diri. Bau badan yang tajam menyengat hidung Rangga, saat bayangan itu lewat di sisinya.
“Eh!”, bayangan hitam itu terkejut.
Namun gerakan dan reaksinya tak kalah cekatan dari Rangga, kakinya menjejak batang pohon dan tubuhnya kembali meluncur ke arah Rangga.
Kali ini Rangga sudah bersiap, disambutnya serangan lawan dengan pukulan yang tak kalah cepat. Bayangan hitam itu, tak menarik serangan, sengaja ia ingin membenturkan telapak tangannya dengan tinju Rangga, menjajagi tenaga lawan di depannya.
“DUG!”
Keduanya mundur tersurut beberapa langkah. Bayangan hitam itu terkejut merasakan tenaga lawan yang masih muda. Matanya tajam mengamati lawan. Rangga terlihat tenang, menantikan serangan selanjutnya.
“Jangan pongah, aku hanya mengerahkan sedikit tenaga saja.”, dengus bayangan hitam itu kesal.
Rangga tertawa kecil, “Sama.”
Karena berhenti bertarung sejenak, Rangga jadi bisa mengamati lawannya kali ini. Dalam gelapnya hutan, tidak banyak yang terlihat, hanya rambut yang panjang sampai ke pinggang dibiarkan terurai menutupi sebagian wajahnya. Badan-nya yang gemuk dan gempal, tak sesuai dengan kecepatannya bergerak.
Mendengar jawaban Rangga yang terasa meremehkan, bayangan hitam itu menggeram marah, “GRRRR... bocah gemblung, kurobek mulutmu!”
Sekali lagi dia menyerang, dalam setarikan nafas saja, dua sampai tiga kali telapak tangan mereka beradu. Bayangan hitam itu memang cepat, tapi Rangga tak kalah cepat. Lengannya keras seperti baja, namun tangan Rangga tak kalah pula kerasnya.
Beberapa kali mereka beradu gebrakan, bayangan hitam itu bergerak semakin cepat. Rangga bisa merasakan, bayangan hitam ini seorang pendekar yang ahli dalam pertarungan jarak dekat. Cengkereman tangannya mengancam titik-titk persendian Rangga. Jika dia terus mengikuti irama lawan, niscaya dia akan mengalami kekalahan.
Lagipula Rangga sudah memastikan apa yang ingin dia pastikan.
Dalam satu kesempatan, Rangga berhasil melepaskan diri dari libatan lawan. Tubuhnya menyurut mundur dengan cepat. Tangannya merogoh ke saku bajunya.
Bayangan hitam itu baru saja hendak memburu kembali Rangga dan bertarung dalam jangkauan yang dia suka, ketika Rangga melemparkan pisau kecil ke arahnya. Jantungnya serasa turun ke perut, menerima serangan yang mendadak itu.
“Pengecut!”, serunya sambil melompat surut ke depan.
Tangannya bergerak cepat melindungi dada, namun sekejap kemudian dia tertawa, “Wha ha ha... bocah ingusan, kau belajarlah lagi sepuluh tahun melempar senjata rahasia. Seranganmu tak ubahnya permainan gundhu anak kecil.”
Pisau kecil itu menyambar terlalu lemah, dan mudah saja bagi bayangan hitam itu untuk menangkap gagangnya. Serangan gelap Rangga, tak sedikitpun membahayakan nyawa bayangan hitam itu.
Bayangan hitam itu pun sedang bersiap melontarkan ejekan lain, ketika jari-jarinya merasa ukiran pada gagang pisau itu. Dadanya seperti digedor palu godam. Bayangan hitam itu tertegun memandangi pisau kecil yang ada di tangannya. Sesekali dia melemparkan pandangan ke arah Rangga yang berdiri dengan tenang, membiarkan dirinya mengamati pisau kecil itu.
Hutan itu terlalu lebat, sinar rembulan hampir-hampir tak menembus tebalnya pepohonan. Keduanya mampu bertarung dalam gelap, membuktikan ketajaman rasa dan panca indera mereka. Setelah meraba ukiran pada gagang pisau kecil itu, barulah bayangan hitam itu terbuka pikirannya. Jika sebelumnya dia hanya berpikir untuk menyerang, sekarang barulah dia bisa menyadari kelebihan-kelebihan lawan di depannya itu dari kebanyakan orang.
Berulang kali dia mengamati pisau itu, jari-jarinya cukup peka untuk merasakan ukiran di gagang pisau.
Namun hatinya masih terasa gamang. Sudah dua puluh tahun lebih dia menanti di hutan ini. Dua puluh tahun dalam ketidak pastian. Hampir-hampir dia sudah lupa, untuk apa dia berada di hutan ini. Ketika kesadarannya sendiri semakin kabur oleh liarnya alam, kejadian malam ini benar-benar menggoncangkan batinnya kembali pada budi yang lama dilupakan.
Ragu-ragu bayangan hitam itu bertanya, suaranya pun terdengar hormat, hilang sudah kejumawaan-nya yang tadi dipertontonkan, “Bolehkah.... bolehkah hamba menyalakan api?”
“Tentu saja.”, jawab Rangga singkat.
Mendengar nada dan sikap bayangan hitam itu ketika bertanya, Rangga tahu, tujuannya sudah tercapai. Tanpa ragu dia berjalan mendekati bayangan hitam yang sedang berusaha menyalakan api itu.
“Kau perlu bantuan?”, tanya Rangga.
Laki-laki gemuk dengan rambut terurai panjang itu sedang berjongkok dan berusaha menyalakan seonggok daun-daun dan ranting kering.
“Tidak raden, tidak perlu.”, jawabnya.
Api belum sempat menyala, namun bayangan hitam itu tak lagi mempedulikan, baik batu api di tangannya, ataupun ukiran pada gagang pisau kecil yang menunggu nyalanya api.
Dilemparkannya kedua barang itu ke tanah, dan laki-laki itu berlutut memeluk kaki Rangga sambil menangis tersedu-sedu, “Raden Rangga... raden... raden....”
Rangga membungkuk dan memeluk laki-laki itu. Laki-laki itu memeluk kakinya begitu erat hingga dia kesulitan untuk mengangkat laki-laki itu berdiri. Akhirnya Rangga pun membiarkan laki-laki itu menangis tersedu-sedu sambil memeluk kakinya. Rangga yang selalu bersikap masa bodoh, tak mampu menahan air mata. Bau badan menyengat yang menguar dari laki-laki itu sedikitpun tak dia rasakan. Dadanya terasa tercekat, memikirkan pengorbanan yang sudah diberikan atas nama kesetiaan.
Perlahan sedu sedan laki-laki itu pun mereda.
“Paman, bangkitlah. Bangun paman.”, ujar Rangga sambil mengangkat laki-laki itu berdiri.
“Bisa tertawa seluruh pendekar di Bhumi Adyatma jika mereka mendengar Senapati Bayu Bayanaka menangis tersedu-sedu seperti bocah kehilangan gundhu.”, sambung Rangga sambil menekan isakan yang ingin terlontar dari dadanya.
Senapati Bayu Bayanaka, malang melintang di dunia persilatan selama belasan tahun sebagai perampok tunggal, sebelum akhirnya takluk di tangan ayah Rangga. Prabu Jaya Lesmana waktu itu menangkapnya dalam satu pertarungan satu lawan satu. Bayu Bayanaka dihajar berhari-hari, diseret dari satu rumah ke rumah lain, dipaksa untuk melihat kerusakan dan penderitaan akibat perbuatannya.
Laki-laki sangar yang namanya ditakuti oleh seluruh penduduk Kerajaan Watu Galuh pada saat itu, ternyata seorang yang keras di luar, tapi lembut hatinya.
Terlalu panjang untuk diceritakan, bagaimana Prabu Jaya Lesmana menyelidiki masa lalu Bayanaka dan melihat setitik kebaikan dalam diri perampok ini. Namun sejak saat itu, Bayu Bayanaka menjadi satu dari sekian senapati yang rela mati demi Prabu Jaya Lesmana.
Kematian Prabu Jaya Lesmana menjadi pukulan yang berat bagi senapati ini. Daya hidupnya kembali terbakar, ketika Rangga mengumpulkan dan memberikan satu misi pada mereka yang setia pada ayahnya,
Dua puluh tahun lamanya tiga puluh orang senapati, dua orang rangga dan seorang tumenggung, menghilang dari keramaian dunia. Hidup dalam kesendirian, menunggu junjungan mereka, Pangeran Rangga, Putera Mahkota pewaris sejati Kerajaan Watu Galuh, putera tunggal dari junjungan mereka Prabu Jaya Lesmana, memanggil mereka keluar dari pengasingan.
Panggilan, yang mungkin saja tidak akan pernah terjadi, dan mereka harus menghabiskan sisa hidup mereka dalam penantian yang sia-sia.
Rangga yang saat itu baru berusia dua belas tahun, tidak bisa membayangkan beratnya tugas yang dia berikan pada 33 orang yang setia pada ayahnya itu. Otaknya sangat cerdas bagi anak seumur dia, bahkan tidak kalah tajam dibandingkan pamanda-nya Pangeran Israya. Namun pengalaman hidupnya tidaklah banyak, hingga saat itu tak terbayang dalam benak Rangga, seberapa berat beban tugas yang dia perintahkan bagi seorang manusia.
Umumnya laki-laki, memiliki kebutuhan, dari tataran yang paling rendah seperti memenuhi kebutuhan nafsu badannya. Kemudian semakin beradab beranjak naik memiliki kebutuhan akan derajat, dan seterusnya sampai pada puncaknya kebutuhan untuk memiliki hidup yang bermakna.
Semua itu dia renggut dari mereka, atas nama kesetiaan dan nilai-nilai kekesatriaan.
“Maafkan aku paman.”, kata Rangga dengan sungguh-sungguh, matanya menatap lurus memandang Bayu Bayanaka.
Bayu Bayanaka yang sudah bisa menenangkan hatinya menjawab dengan tegas, “Tidak ada yang perlu dimaafkan raden. Perintah raden itu juga untuk kepentingan yang lebih besar.”
Rangga mengangguk-angggukan kepala, “Syukur kalau paman bisa mengerti.”
“Raden tidak perlu kuatir, kami semua menerima perintah raden dengan pikiran yang terang benderang dan nurani bersih.”, jawab Bayu Bayanaka tanpa ragu.
“Meski... kuharap mereka semua baik-baik saja.”, ujarnya lirih.
Wajah Rangga ikut berawan mendengar itu, “Semoga mereka semua baik-baik saja paman.”
“Sekarang apa rencana raden? Apakah sudah saatnya raden akan memimpin kita semua, mengangkat panji dan menghajar pergi baik Israya itu dari istana?”, tanya Bayu Bayanaka dengan berapi-api.
Rangga tertawa sambil menepuk-nepuk pundak Bayu Bayanaka, “Tidak paman, untuk saat ini, cukup bila kita semua berkumpul dan menyiapkan diri. Sedikit kabar untuk paman, lima hari yang lalu Pamanda Israya sudah mangkat.”
“Mati!? Bagus! Bang...”, mata Bayu Bayanaka melotot dan mulutnya menyeringai, hendak tertawa lebar mendengar kematian Prabu Anglang Bhuanna dan memaki-makinya sampai puas.
Namun Rangga buru-buru menyela Bayu Bayanaka, “Jangan maki-maki dia lagi paman, sepertinya ada yang perlu diluruskan lebih jauh tentang hal ini.”
“Apa maksud raden?”, gerutu Bayu Bayanaka.
“Dengarkan aku baik-baik paman. Selama dua puluh tahun ini aku sudah menimbang-nimbang, menyelidiki dan mencari berita. Menurutku kecurigaan kita pada Pamanda Prabu Anglang Bhuanna itu sudah salah tempat.”, Rangga berusaha menjelaskan.
Wajah Bayu Bayanaka berkerut-kerut, terlihat jelas dia tidak bisa menerima penjelasan Rangga tersebut. Namun yang di hadapannya itu adalah junjungannya, tak sampai hati dia menyanggah.
“Aku tahu, ini sulit diterima. Tapi, yang penting sekarang tugas paman adalah membantuku untuk memanggil yang lain dan menungguku di sekitaran Kademangan Jati Asih. Jangan membuat gerakan apa-apa, sampai aku kembali pulang ke sana.”, ujar Rangga dengan tegas.
Waktunya tidak banyak, dengan bergegas dia menjelaskan rencana perjalanannya menuju ke ibu kota, dan siapa saja yang akan dia temui sepanjang perjalanan itu. Sementara sisanya, merupakan tugas Bayu Bayanaka untuk mengatur bagaimana menyampaikan pesan dari Rangga.
“Ingat paman, begitu kalian berkumpul di sekitar Kademangan Jati Asih, jangan terburu memunculkan diri. Tunggu isyarat dariku.”, Rangga menegaskan sekali lagi, dia teringat akan Ki Ageng Aras yang juga berdiam di sekitar Kademangan Jati Asih.
“Jangan kuatir raden, menunggu dua puluh tahun sudah kami lewati, masakan rusak hanya karena tak mau menunggu beberapa hari?”, jawab Bayu Bayanaka sambil menyeringai, denyut kehidupan mengaliri kembali darahnya yang sudah lama mendingin.
“Bagus.”, jawab Rangga pendek.
Malam itu juga Rangga meninggalkan Bayu Bayanaka, sepanjang perjalanan satu per satu orang-orang yang dia kirim untuk menjadi setan-setan di pegunungan dia bangunkan dari mimpi buruk mereka. Selama tiga hari Rangga menempuh perjalanan sampai ke ibu kota, pesannya pun menyebar dengan cepat seperti api yang merambat di padang rumput yang kering.
Tidak semua pengikutnya mengasingkan diri sendirian. Ada yang membawa keluarganya, ada yang membawa orang kepercayaan, dan ada pula yang dalam dua puluh tahun itu diam-diam mengumpulkan pengikutnya sendiri.
Ketika kaki Rangga akhirnya menginjak ibu kota Kerajaan Watu Galuh, nun jauh di berbagai sudut kerajaan, bergerak setan-setan dari pegunungan.
Rangga menatap istana yang menjulang di tengah-tengah bangunan yang lain.
“Aku pulang...”, ucapnya setengah berbisik.