
“Tumenggung Widyaguna !?”
Nama itu membuat gempar suasana dalam ruang pertemuan, tidak ada satu pun di antara mereka yang tidak mengenal nama Tumenggung Widyaguna. Meskipun dia sudah menghilang selama dua puluh tahun, namanya masih membuat mereka yang hadir di situ tergetar hatinya.
Adipati Gading Kencana dengan cepat berhasil menguasai diri dan dengan suara yang tenang membalas sapaan Tumenggung Widyaguna, “Rupanya Kakang Widyaguna yang datang, silahkan masuk kakang. Tentu saja pintu kami selalu terbuka lebar untuk kakang.”
Adipati Gading Kencana tidak berteriak, namun suaranya terdengar jelas sampai di luar, di mana Tumenggung Widyaguna menunggu.
Prajurit-prajurit yang berjaga dengan rapat, mendengar suaranya dan segera membuka jalan untuk Tumenggung Widyaguna. Datang bertiga dengan dua orang senapati, Senapati Respati dan Senapati Dadungwesi.
Tiga orang jagoan tua itu berjalan dengan tenang, tanpa rasa takut, meskipun mereka hanya bertiga, memasuki sebuah perkemahan besar pasukan berkekuatan puluhan ribu orang.
Tumenggung Widyaguna dengan sopan mengangguk menyapa setiap orang yang ada di dalam tenda tersebut. Beberapa orang adipati tanpa sadar menundukkan kepala saat terbentur sorot matanya. Termasuk Prabu Jayabhuanna, ketika Tumenggung Widyaguna dan kedua senapati menghaturkan hormat padanya, tanpa disengaja sorot mata mereka bertemu dan pemuda tampan itu merasa jantungnya berdebar-debar, seperti bertemu seekor harimau liar di dalam hutan.
Adipati Panjalu dan Adipati Karangpandan yang melihat hal itu, saling berpandangan dengan seulas seringai mengejek.
Wajah Prabu Jayabhuanna terasa panas, menyadari sikap merendahkan dari adipati-adipati yang seharusnya mengabdi padanya. Namun Prabu Jayabhuanna bukan seorang yang sangat bodoh, lemah iya, bodoh tidak.
Setelah segala sesuatunya berjalan sejauh ini, Prabu Jayabhuanna pun sadar dirinya hanya menjadi boneka bagi adipati-adipati yang berkumpul di tempat ini.
Prabu Jayabhuanna menguatkan hati untuk menatap balik Tumenggung Widyaguna dan dengan setenang mungkin menerima penghormatan Tumenggung Widyaguna.
Adipati Gading Kencana dengan hormat mempersilahkan tiga orang itu untuk duduk bersama mereka. Beberapa orang prajurit yang berjaga dengan tangkas menyediakan tiga buah kursi untuk tiga orang tamu yang datang tanpa diundang itu.
“Kakang Tumenggung Widyaguna berkenan untuk bertamu, ini sebuah kehormatan bagi kami. Namun tak urung perasaanku jadi berdebar-debar, entah kira-kira ada kabar apa yang Kakang Tumenggung bawa kali ini?”, ujar Adipati Gading Kencana membuka percakapan.
“Hmm... semua yang hadir di sini adalah orang-orang yang sibuk, orang-orang yang memegang tanggung jawab yang besar. Jadi jika kalian tidak keberatan, aku tidak akan membuang waktu dan langsung menuju pada tujuan kami datang ke tempat ini.”, jawab Tumenggung Widyaguna sambil mengitarkan pandangan-nya ke arah para adipati dan Prabu Jayabhuanna.
Adipati Gading Kencana menganggukkan kepala, “Silahkan...”
Tumenggung Widyagunasambil tersenyum tipis, berpura-pura tidak mendengar jawaban Adipati Gading Kencana, dia justru menatap ke arah Prabu Jayabhuanna dan menunggu jawaban darinya.
Prabu Jayabhuanna terkejut dan sedikit tergagap, selama ini para adipati berdebat dan berdiskusi tanpa pernah berusaha mencari tahu pendapatnya sebagai raja. Adipati Karangpandan mendengus kesal, tapi tidak berkata apa-apa.
“Tentu.., tentu saja, aku persilahkan paman menyampaikan kepentingan paman datang ke tempat ini.” jawab Prabu Jayabhuanna.
Setelah mendapat jawaban dari Prabu Jayabhuanna, Tumenggung Widyaguna mengangguk hormat pada sang prabu dan barulah dia mulai menyampaikan tujuannya datang ke tempat itu.
“Aku kira, apa yang terjadi di Kademangan Jati Asih tentunya tidak luput dari pendengaran sekalian yang hadir di tempat ini. Situasi kami saat ini, aku yakin kalian juga sudah tahu. Kita punya musuh yang sama, sementara tujuan dan kepentingan kita tidaklah berbenturan. Kami ingin melepaskan diri dari cengekeraman Prabu Jannapati, sedangkan kalian ingin menegakkan hak dari Prabu Jayabhuanna.”, kata Tumenggung Widyaguna sambil mengamati reaksi tiap-tiap orang yang hadir di tempat itu.
Adipati Karangpandang menjawab, “Kakang Tumenggung, penjelasanmu itu benar, yang kutangkap dari pembukaanmu, tentu kau ingin mengajukan satu kerja sama untuk menghadapi Prabu Jannapati, tapi apakah kalian yakin bahwa kalian punya cukup modal untuk menjadi bagian dari persekutuan kami?”
Tumenggung Widyaguna dengan tenang menjawab, “Tentu saja, saat ini kami memiliki kekuatan tidak kalah dengan satu kadipaten. Bahkan aku berani bertaruh, pasukan kami tidak akan kalah jika diminta untuk bertempur melawan pasukan dari Kadipaten Pring Kuning*.”
*Kadipaten yang dipimpin oleh Adipati Karangpandan.
“Hehe.... kau yakin sekali dengan kemampuanmu kakang.”, mata Adipati Karangpandan berkilat tajam.
Tumenggung Widyaguna tersenyum saja mendengar nada ancaman dalam suara Adipati Karangpandan, dia mengalihkan perhatiannya kembali ke Prabu Jayabhuanna, “Aku yakin sekalian semua yang di sini tentu tahu apa yang terjadi di Kadipaten Jambangan saat ini. Jika bukan karena keberadaan kami, maka pasukan yang ada di Kadipaten Jambangan tentu menjadi tambahan kekuatan yang akan mengubah keseimbangan kekuatan antara pasukan kalian dan pasukan Prabu Jannapati.”
“Kakang apa kau mengancam kami?”, tanya Adipati Karangpandan.
“Tidak mengancam tapi keadaan kami kalian tentu juga sudah bisa membayangkan. Jika yang ada hanya dua pilihan, antara menyerah dan menyelamatkan nyawa belasan ribu nyawa penduduk Kademangan Jati Asih, atau terus bertahan sementara kesempatan untuk menang tidak ada? Mengorbankan belasan ribu nyawa hanya demi harga diri segelintir orang? Kalian pertimbangkan sendiri, kira-kira pilihan apa yang akan kami ambil?”, jawab Tumenggung Widyaguna dengan tenang.
Adipati Gading Kencana memberi tanda pada Adipati Karangpandan untuk menahan diri. Kemudian beralih pada Tumenggung Widyaguna, “Apa tawaran yang kakang bawa untuk kami?”
“Kami akan menciptakan kesempatan bagi kalian untuk menyerang garis pertahanan di sepanjang Kadipaten Serayu. Apakah nanti kalian bisa menggunakan kesempatan itu untuk merebut Kadipaten Serayu atau tidak, itu tergantung pada kemampuan kalian.”, kata Tumenggung Widyaguna.
“Sebagai imbalannya, apa yang kalian inginkan?”, tanya Adipati Gading Kencana.
“Hampir tidak ada, yang kami inginkan hanyalah sebuah perjanjian tertulis dan dibacakan secara terbuka ke umum, bahwa kita tidak akan saling menyerang.”, jawab Tumenggung Widyaguna.
Mendengar jawaban Tumenggung Widyaguna, para adipati pun merasa terkejut. Diam-diam mereka saling berpandangan, tawaran Tumenggung Widyaguna terlalu bagus untuk ditolak.
Adipati Gading Kencana terdiam untuk beberapa saat lalu berkata, “Kakang Widyaguna, kurasa kami butuh waktu untuk mempertimbangkan tawaranmu ini.”
Tanpa banyak cakap, Tumenggung Widyaguna dan kedua orang senapati yang mengiringi dia pun berdiri. Adipati Gading Kencana segera memerintah seorang senapati untuk mengantarkan mereka ke tenda yang lain.
Di tenda yang sudah disediakan untuk mereka bertiga, Senapati Dadungwesi bertanya pada Tumenggung Widyaguna, “Menurut Kakang Tumenggung, apa mereka akan menerima tawaran kita ini?”
Tumenggung Widyaguna tertawa kecil, “Hahaha, hanya orang bodoh yang akan menolak tawaran ini. Raden Rangga sudah memperhitungkan semuanya, kecil sekali kemungkinannya Adipati Gading Kencana akan menolak tawaran ini.”
Sementara itu di tempat pertemuan para adipati dan Prabu Jayabhuanna pun terjadi diskusi antara para adipati.
“Tidak mungkin mereka mengajukan tawaran kerja sama tanpa mengharapkan apa-apa.”, ujar Adipati Karangpandan.
“Tentu saja tidak, ketika pasukan kita sedang bertempur habis-habisan dengan pasukan Prabu Jannapati, mereka tentu menggunakan kesempatan itu untuk mengambil keuntungan tertentu.”, ujar Adipati Guntur Aji.
“Tapi jika memang kesempatan yang mereka berikan itu, memungkinkan kita untuk merebut Kadipaten Serayu, tidak ada salahnya pula kita menerima tawaran ini.”, ujar Adipati Panjalu.
“Benar kata Ki Panjalu, aku rasa tidak ada ruginya menerima tawaran mereka ini. Yang penting kita berhati-hati saat menggerakkan pasukan untuk menyerang perbatasan Kerajaan Watu Galuh. Kukira, Raden Rangga tidak akan bermain-main, karena di antara kekuatan yang bertikai saat ini, kedudukannya-lah yang paling lemah.”, ujar Adipati Gading Kencana.
Adipati Karangpandan dengan senyum keji berkata, “Kenapa bukan kita saja yang bersandiwara? Kita pura-pura menyerang pasukan Prabu Jannapati, tapi sebelum pertempuran berlangsung lama, kita mundur. Pada saat itu, apa pun yang sedang dilakukan oleh Rangga, pasukan Prabu Jannapati bisa membereskannya.”
Adipati Gading Kencana menggelengkan kepala, “Tidak, tidak bisa. Itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Ingat, jangan lupa bahwa Kadipaten Jambangan saat ini sedang memperkuat pasukannya secara besar-besaran dan itu adalah untuk menghadapi kekuatan Rangga. Jika Rangga hilang dari perhitungan, maka tekanan itu akan diarahkan pada diri kita.”
Adipati Karangpandan menjawab, “Kita bisa dengan diam-diam menjalin hubungan dengan Adipati Jalak Kenikir.”
Adipati Gading Kencana menggelengkan kepala, “Tumenggung Widyaguna menuntut agar perjanjian kita dengan Rangga sudah disepakati dan diumumkan, sebelum mereka melaksanakan rencana mereka. Apa pikiran Adipati Jalak Kenikir jika dia mendapatkan tawaran dari kita? Apakah seseorang yang sudah dan sedang mengkhianati sebuah perjanjian bisa dipercaya kata-katanya?”
“Selain itu, jika memang Adipati Jalak Kenikir memiliki keinginan untuk berpihak pada kita, maka sudah sejak awal ketika kita mengumumkan perang terhadap Prabu Jannapati, tentunya dia sudah bergabung dengan kita di sini.”, ujar Adipati Panjalu menambahkan.
Adipati Karangpandan mendengus kesal, “Jadi kita biarkan saja mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan?”
Adipati Gading Kencana terdiam dan berpikir, sementara adipati-adipati yang lain menunggu jawaban darinya.
“Hmm.... menurut kalian, mengapa dia menuntut perjanjian untuk tidak saling menyerang?”, tanya Adipati Gading Kencana, seulas senyum licik terbentuk di wajahnya.
Para adipati itu terdiam mencoba berpikir, tak lama kemudian Adipati Guntur Aji dan Adipati Karangpandan dalam waktu yang hampir bersamaan berucap, “Kadipaten Jambangan!”
Adipati Gading Kencana tertawa, “Hahaha, benar, dugaanku sama dengan dugaan kalian. Bukan rahasia lagi bahwa saat ini cadangan makanan mereka pasti sudah menipis. Raden Rangga butuh wilayah kekuasaan untuk menanamkan pengaruhnya di Bhumi Adyatma ini. Kadipaten Jambangan yang terletak di antara wilayah kekuasaan kita dan wilayah kekuasaan Prabu Jannapati adalah tempat yang tepat.”
Adipati Karangpandan menganggukkan kepala, “Benar... dasar licik mereka, mengambil kesempatan ketika kita sedang berperang. Baik Prabu Jannapati, maupun kita tidak memiliki kesempatan untuk membagi dua perhatian kita.”
Prabu Jayabhuanna yang hanya diam mendengarkan itu berpikir dalam hati, 'Karangpandan.... dasar gila, justru kau orang yang paling licik yang aku kenal. Aku harap Kakang Rangga berhasil mendapatkan Kadipaten Jambangan.'
“Jadi bagaimana rencana kakang?”, tanya Adipati Panjalu.
“Raden Rangga ingin mengikat perjanjian untuk tidak saling menyerang, agar dia bisa membangun kekuatannya dengan aman di Kadipaten Jambangan, setelah membantu kita mendapatkan Kadipaten Serayu.”, Adipati Gading Kencana menjawab dengan perlahan-lahan.
“Hehehehe..... tapi bagaimana nasibnya, jika kita berhasil mendapatkan Kadipaten Jambangan lebih dahulu?”, tanya Adipati Gading Kencana sambil tertawa licik.
Perkataan Adipati Gading Kencana itu pun dengan segera menarik perhatian semua orang.
“Sepertinya Kakang Gading Kencana sudah menyiapkan rencana yang menarik... hehehe.”, mata Adipati Karangpandan berkilat-kilat mendengar jawaban Adipati Gading Kencana tersebut.
Demikian juga adipati-adipati yang lain, perhatian mereka pun terpusat pada Adipati Gading Kencana, yang dengan bangga mulai membeberkan rencananya.
Prabu Jayabhuanna hanya bisa duduk diam di singgasana-nya, mendengarkan rencana licik Adipati Gading Kencana tanpa bisa berbuat apa-apa. Raja boneka yang masih muda ini diam-diam merasa menyesal sudah terjebak oleh kata-kata manis Adipati Gading Kencana.
------
Tumenggung Widyaguna dan kedua senapati yang menyertai masih menunggu di tenda yang disediakan. Hanya bisa menanti jawaban dari Adipati Gading Kencana dan tak sedikitpun tahu tentang apa yang sedang dibicarakan oleh para adipati tersebut.
Cadangan makanan pasukan dan pengikut Rangga sudah makin menipis. Bisakah mereka lolos dari bahaya kelaparan? Sementara di ujung setiap jalan yang ada di hadapan mereka, serigala-serigala yang kelaparan sedang menanti.
Di Kadipaten Jambangan ada Adipati Jalak Kenikir, di Kadipaten Serayu ada Prabu Jannapati dan di luar perbatasan adipati-adipati yang dipimpin oleh Adipati Gading Kencana, yang diharapkan bisa menjadi kunci untuk melonggarkan tekanan, justru sedang mengatur rencana yang bisa menggiring mereka pada situasi yang tidak mungkin ditolong lagi.