
Hujan malam itu diiringi angin yang kencang. Langit nampak gelap gulita karena ditutupi awan tebal. Api obor bergoyang menerangi sebuah kuil kecil sebelum dimatikan oleh hempasan air hujan.
-Penggalan cerita Papat Pingpitu
____________________________________
Taman Nawa Kama, Keraton pribadi Prabu Jannapati, Kerajaan Watu Galuh. Luasnya beberapa hektar, dikelilingi tembok tebal setinggi dua kali orang dewasa. Pada bagian terluar mengelilingi bangunan utama, adalah barak dari 500 prajurit pilihan yang siap mati demi Pangeran Puguh yang sekarang bergelar Prabu Jannapati.
Sepanjang dinding tembok pembatas, setiap beberapa puluh meter berdiri menara penjaga, dengan setidaknya dua orang prajurit di dalamnya.
Setiap waktu, selalu ada dua belas regu prajurit, masing-masing regu beranggotakan sepuluh orang prajurit, dipimpin seorang lurah prajurit.
Total keseluruhan kesatuan di Taman Nawa Kamma, terdapat lima ratus orang prajurit, terbagi menjadi 50 kelompok kecil yang masing-masing dipimpin seorang lurah prajurit. Kemudian 50 kelompok itu dibagi menjadi dua, bagian luar dan bagian dalam, masing-masing dipimpin oleh seorang bekel.
Yang memimpin mereka semua adalah Senapati Arya Penggiling, yang bertanggung jawab langsung pada Prabu Jannapati.
Meski gelarnya hanyalah seorang senapati, tapi seorang tumenggung pun tidak berani menghalangi tugasnya. Selain Prabu Jannapati, hanya Patih Nandini yang punya hak untuk memberinya perintah.
Di bagian terdalam Taman Nawa Kama, terdapat sebuah danau kecil buatan, dengan taman yang diatur asri di sekelilingnya. Di sisi barat danau itu, dibangun sebuah pendapa kecil tak berdinding. Bau harum bunga samar-samar tercium seiring hembusan angin yang bertiup melewati pendapa itu.
Suara kicauan ratusan burung yang dilepas hidup bebas di antara pepohonan dalam taman itu, mengiringi dengus nafas seorang lelaki bercampur desah manja seorang wanita, di latar belakangi derit amben yang bergoyang berirama.
Sepasang kaki yang jenjang padat berisi, melingkar di pinggang Prabu Jannapati. Kulitnya yang putih membentuk kontras dengan kulit Prabu Jannapati yang gelap. Tubuh yang tampak lunak dan rapuh di bawah serangan tangan liar Prabu Jannapati itu meronta menggoda, diiringi erangan, menggetarkan hati Prabu Jannapati.
Tubuh-tubuh ramping, kulit yang putih dan kaki yang jenjang, khas wanita dari tanah seberang, memabukkan Prabu Jannapati dengan kecantikan dan kegenitan mereka. Sepasang kakak-beradik, hadiah dari utusan khan yang agung.
Di sekeliling pendapa itu, berbaris puluhan penjaga membelakangi pendapa. Raut wajah mereka yang keras, tak berubah sedikitpun meski telinga mereka mendengar erangan yang bisa membangkitkan nafsu dan bayangan yang liar.
Mata dan telinga mereka tertutup dari segala apa yang terjadi di dalam pendapa. Tugas mereka hanya satu, memastikan tidak ada orang atau apapun mengganggu Prabu Jannapati menyelesaikan “tugas”nya.
Pada saat Prabu Jannapati sedang menunaikan “tugas”, Rangga sedang duduk menikmati kopi hangat di salah satu bangunan dalam istana, tempat abdi dalem tinggal. Bajunya sudah berganti dengan baju yang meskipun bukan baju yang mewah, tapi jauh lebih baik dari yang biasa dia pakai. Rambutnya yang panjang sedikit basah, tersisir rapi. Tidak terlihat bahwa sebelumnya dia menempuh perjalanan selama tiga hari tiga malam.
Sepasang suami isteri yang sudah sangat tua, dengan telaten meladeni pemuda itu. Wajah kedua orang tua mengamati setiap gerak-gerik Rangga penuh perhatian.
“Bagaimana den? Kata orang itu namanya kopi, orang-orang berkulit pucat itu membawanya dari negeri dewa-dewa berasal.”, kata kakek tua.
“Pahit kan ya den? Tapi tumenggung-tumenggung, bahkan katanya Patih Nandini, setiap hari pasti menyempatkan diri untuk minum kopi itu.”, sambung isterinya.
“Hmm... pahit kek, nek, tapi ditambah gula aren jadi pas rasanya.”, jawab Rangga sambil menyisip kopi itu dengan nikmatnya.
Kakek dan nenek itu pun tersenyum senang mendengar jawaban Rangga.
“Kalau Den Rangga mau, kakek menyimpan satu kantung penuh kopi yang sudah digoreng dan digiling, jadi tinggal diseduh saja pakai air panas.”, ujar kakek tua itu dengan bersemangat.
“Jangan kek, nanti kalau ada yang memeriksa gudang, kakek bisa kena masalah.”, ujar Rangga menggelengkan kepala.
“Jangan kuatir den, yang ini tidak bakal ketahuan. Setan tua ini mengumpulkan kopi ini sedikit-sedikit setiap ada pengiriman baru dari orang kulit pucat itu. Nanti kalau sudah terkumpul sekantung kecil, ditukarnya kopi lama itu dengan sekantung kecil kopi yang baru datang. Lama kelamaan terkumpul cukup banyak juga.”, sahut si nenek sambil terkekeh.
“Hmm... pokoknya raden jangan kuatir. Aman den.”, timpal suaminya dengan mata berbinar.
“Hahahaha, baiklah kalau begitu. Aku akan menikmati hasil perjuangan kakek ini dengan penuh rasa syukur.”, tertawa dan mengacungkan jempol pada kakek itu.
Sepasang kakek dan nenek itu pun terlihat senang dan bangga, bisa melakukan sesuatu untuk Rangga.
“Jadi sudah sejak beberapa hari ini Adimas Puguh mengurung diri dalam Taman Nawa Kamma?”, Rangga bertanya, waktunya tak banyak dan meskipun dia menghargai sepasang suami isteri tua tersebut, tapi kedatangan-nya kali ini bukan untuk sebuah silaturahmi.
“Benar den, pertama-tama Pangeran Puguh mengundang beberapa orang adipati untuk menemui dirinya dalam sebuah pertemuan tertutup. Keesokan harinya dia mengumpulkan sekalian pejabat dan mengumumkan bahwa dirinya akan menutup diri, tirakat selama dua minggu dalam Taman Nawa Kama.”, kakek tua itu menjelaskan.
Isterinya mendengus dengan nada mengejek, saat si kakek mengatakan Pangeran Puguh bertirakat di dalam Taman Nawa Kama. Rangga tersenyum sambil menepuk-nepuk pundak nenek tua itu. Lalu mengangguk ke suaminya untuk meneruskan cerita.
“Selang beberapa hari kemudian satuan-satuan pasukan dari kadipaten-kadipaten, yang adipatinya diundang dalam pertemuan tertutup itu satu per satu mulai berkumpul, mendirikan perkemahan di sekitaran ibu kota.”, demikian kakek tua itu menyelesaikan laporannya.
Rangga mendesah panjang, wajahnya tampak muram. Sambil berpikir, disesapnya kopi yang masih hangat. Kedua pasang suami isteri tua itu tak berani mengganggu Rangga yang sedang termenung-menung itu.
“Kakek bilang, Patih Nandini selalu mendatangi Taman Nawa Kamma setidaknya satu hari sekali?”, Rangga keluar dari lamunannya dan bertanya.
“Benar raden, setelah selesai segala urusan pemerintahan, tentu di akhir hari Patih Nandini akan menyempatkan diri menemui Pangeran Puguh.”, jawab kakek tua.
“Hmm... baiklah, aku akan mencoba menemuinya.”, Rangga mengambil keputusan.
“Hati-hati raden, Patih Nandini adalah orang yang pilih tanding, dan dia juga sangat setia pada Pangeran Puguh.”, kakek tua itu terkejut mendengar keputusan Rangga.
“Benar den, menurut cerita yang kami dengar, saat Patih Nandini masih remaja, dia terlunta-lunta di sebuah kadipaten. Mengemis di jalanan... dan Pangeran Puguh-lah yang menolong dan mengangkat derajatnya.”, isterinya menimpali.
“Bagi Patih Nandini, Pangeran Puguh sudah seperti orang tuanya sendiri.”, suaminya menambahkan.
“Jangan kuatir kek... nek... itu artinya dia orang yang tepat untuk kutemui.”, Rangga bangkit berdiri dan menenangkan mereka dengan senyumannya.
Rangga berjalan hendak keluar rumah dari pintu belakang. Sepasang suami dan isteri yang sudah renta itu mengikutinya dengan hormat. Mata si nenek tua, terlihat berkaca-kaca. Suaminya meremas tangan si nenek, dan menepuk-nepuk punggungnya lembut.
“Oh ya, haha, sebelum aku lupa, mana kopinya kek. Mungkin aku akan segera kembali ke Kademangan Jati Asih setelah aku bertemu dengan Patih Nandini, tanpa sempat menemui kalian kembali.”, ketika hampir sampai di pintu.
“Ah ya benar, bagaimana aku bisa lupa. Nek, cepat ambilkan kopinya.”, ujar si kakek sambil menepuk kepala.
“Oalah, ki ki... kamu sekarang jadi pelupa.”, ujar isterinya sambil terkekeh, bergegas pergi ke dalam untuk mengambil kopi yang diminta Rangga.
Ketika nenek itu sedang pergi ke dalam kamar, Rangga berkata dengan suara rendah, “Kek... aku berusaha agar tidak terjadi pertumpahan darah, pecah perang antar kerabat, namun menilik sifat Adimas Puguh, hal itu akan sulit dihindari.”
“Lalu bagaimana den?”, kakek itu bertanya dengan nada prihatin.
Rangga terdiam beberapa lama sebelum menjawab, “Aku tidak tahu kek... kali ini aku tidak bisa memikirkan jalan yang terbaik. Jika kakek dan nenek pergi dari ibukota, bisa jadi hal itu justru mengundang kecurigaan Dimas Puguh dan membawa petaka bagi kalian, tapi...”
Kakek itu dengan tangan bergetar menyentuh lengan Rangga, “Raden, biarkan kami yang membuat keputusan. Sama seperti dua puluh tahun yang lalu, ketika raden bertanya pada kami.”
“Aku berhutang banyak pada kalian berdua.”, desah Rangga sedih.
“Hahaha, tak sebanyak hutang kami pada ayah dan ibu raden. Lagipula kami sudah renta, seberapa panjang lagi kami masih hidup, tidak terlalu banyak bedanya.”, ujar kakek tua itu dengan ringan.
“Benar kata dia itu den... justru raden yang masih muda, masih menyimpan banyak harapan dan menanggung banyak tugas yang harus menjaga diri raden baik-baik. Jangan mengambil tindakan yang membahayakan diri raden”, sambung isterinya yang berjalan keluar sambil membawa sekantung kopi di tangan.
“Hahaha... nenek tak perlu kuatir, di seluruh Bhumi Adyatna ini, tidak ada yang bisa menyentuhku seujung kuku-pun tanpa aku kehendaki.”, Rangga tertawa menyombongkan diri, bola matanya bergerak kocak, menggoda si nenek.
Nenek tua itu berusaha tersenyum, namun matanya berkaca-kaca. Untuk beberapa saat lamanya, mereka hanya saling berpandangan saja. Tak ada kata yang bisa terucap.
“Aku pergi...”, akhirnya Rangga berpamitan.
Kemudian sambil mengangkat kantung kopi di tangannya dia tertawa, “Hahaha, aku sudah bisa membayangkan betapa nikmatnya minum kopi ini di pagi hari, sambil teringat dari mana kopi ini berasal. Hahaha, kakek, sesekali kau campurkanlah tai kering tikus dalam biji kopi mereka.”
Bagi Rangga tak sulit melompati tembok halaman belakang yang tak seberapa tinggi itu, dan dengan cepat dia menghilang di antara lorong rumah-rumah panjang. Mereka yang tinggal di perkampungan kecil ini hanyalah abdi dalem istana biasa, tidak ada yang bisa melihatnya di luar kemauannya.
Ketika Rangga sudah pergi beberapa lama, terdengar suara nenek tua itu terisak.
“Lho lho, kenapa nyi... jangan ditangisi Den Rangga sudah tumbuh besar, jadi laki-laki yang tanggon. Tidak ada yang perlu ditangisi.”, ujar suaminya berusaha menghibur.
“Oalah ki...ki... seluruh kerajaan ini mestinya itu jadi milik dia, tapi sekarang dia cuma pergi bawa kopi. Piye to ki... ki..”, nenek itu berkata sambil menangis sesenggukan, suaminya hanya bisa memeluk isterinya, sambil mengusap air mata yang menetes.
Tiba-tiba si kakek menggeram dan berlari ke dapur.
“Ki.. ki... mau apa kamu?”, isterinya terkejut dan heran.
“Mau cari tai kering tikus, buat kucampur ke kopi untuk pejabat-pejabat tak punya malu itu.”, sahut si kakek dari dalam dapur.
Isterinya pun bergegas memburu ke dalam sambil mengomel, “Ngawur... ngawur.. Den Rangga itu cuma guyon. Jangan sembarangan cari masalah.”
-----
Patih Nandini hanya ditemani dua orang pengawal pribadi, ketika dia meninggalkan gedung balai pertemuan dan pergi berjalan kaki menuju Taman Nawa Kama. Usianya masih sangat muda bagi seorang yang menduduki jabatan tertinggi dalam sebuah kerajaan. Sebagai seorang patih, bisa dikatakan seluruh kekuasaan pemerintahan ada di tangannya, hanya Prabu Jannapati yang punya hak untuk mengoreksi atau membatalkan keputusannya.
Wajahnya cakap dan berwibawa, tubuhnya tinggi tegap berisi. Kemampuannya dalam bermain politik sudah teruji saat Pangeran Adiyasa berusaha mengambil alih kedudukan Prabu Jannapati sebagai putera mahkota. Kemampuannya dalam tata pemerintahan juga sudah dia tunjukkan selama beberapa minggu ini dia menjalankan tugas. Hanya dalam hal ilmu kanuragan, yang belum pernah sungguh-sungguh teruji.
Di tengah perjalanan, Patih Nandini melihat seorang abdi dalem sedang membawa tongkat kayu dan berusaha meraih sebuah sarang tabuhan yang tergantung di satu ranting pohon yang tinggi. Beberapa ekor tabuhan terlihat keluar masuk sarangnya, tapi untung tongkat kayu itu belum sampai kena ke sarang mereka.
“Hei!”, seru Patih Nandini pada laki-laki itu.
Mendengar seruan-nya laki-laki itu pun berhenti, dan ketika dia melihat bahwa yang memanggilnya adalah Patih Nandini, maka buru-buru dia berlari mendekat sambil memberi hormat.
“Jangan kau lakukan itu. Apa kau tidak tahu bahayanya mengganggu tabuhan?”, tanya Patih Nandini.
“Apa bedanya dengan tawon biasa?”, tanya laki-laki itu.
“Tentu saja beda, sengat tabuhan jauh lebih berbahaya, lagipula mereka bisa menyengat berkali-kali, tidak seperti tawon biasa. Jika tidak mengganggu, sebaiknya biarkan saja.”, jawab Patih Nandini dengan sabar.
“Mengganggu sih tidak, tapi bikin sepet mata kalau melihatnya.”, sahut laki-laki itu sambil nyengir lebar.
“Dasar tidak tahu sopan santun, kau tahu sedang bicara dengan siapa!?” Salah seorang pengawal Patih Nandini kehilangan kesabaran, tangannya sudah bergerak seperti hendak menarik senjata di pinggang, membuat laki-laki yang ditegur itu, menyurut mundur ketakutan dan jatuh terduduk di tanah.
Patih Nandini dengan tangkas menangkap pergelangan tangan pengawalnya itu. “Tahan.”
Kemudian berbalik ke arah laki-laki yang terduduk di tanah itu, Patih Nandini berusaha menenangkan dia, “Tidak usah takut, tidak ada apa-apa. Hanya saja sebaiknya kau mendengarkan nasihatku, biarkan tabuhan itu hidup dengan tenang, jangan kau ganggu.”
Dengan terbata-bata, laki-laki itu menganggukkan kepala berkali-kali sambil mengiyakan, “Baik den, benar den, kalau tidak mengganggu ya jangan diganggu. Toh tabuhan itu diam saja di sarangnya, tidak mengganggu aku. Kalau aku ganggu, justru nanti disengatnya aku.”
Patih Nandini tersenyum, “Benar, toh dia tidak mengganggumu, jadi kenapa kau membahayakan dirimu dengan mengganggu dia.”
“Benar den, benar sekali, bodoh sekali aku tadi. Buat apa aku mengutak-atik tabuhan yang tidak bersalah apa-apa itu.”, keluh laki-laki itu sambil memukul kepalanya sendiri.
“Tadi aku merasa terancam melihat sarang tabuhan yang besar itu. Lama-lama aku merasa sebal melihatnya,” ujar laki-laki itu berusaha menjelaskan.
“Hmm... tabuhan tidak akan menyengatmu, asal kau juga jangan mengganggu-nya. Sekarang pergilah, tidak usah kau usik lagi sarang tabuhan itu.”, kata Patih Nandini sembari memberi tanda pada laki-laki itu untuk pergi.
“Baik den.” Ujar laki-laki itu dengan hormat.
Patih Nandini dan kedua pengawalnya pun melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba dada Patih Nandini berdebar keras, sebuah ingatan berkelebat dalam benaknya. Buru-buru dia berbalik, namun laki-laki itu sudah tak terlihat. Wajah Patih Nandini terlihat tegang, matanya tajam berkeliling menyelidik, berusaha menangkap sosok laki-laki tadi. Kedua pengawalnya jadi ikut tegang melihat gerak-gerik Patih Nandini, dengan tangan siap di gagang senjata, mereka ikut mengamati keadaan di sekitar mereka.
“Apakah kalian bisa mengingat wajah laki-laki tadi?”, Patih Nandini menegakkan tubuhnya, matanya masih sesekali dengan tajam menyapu ke sekelilingnya.
“Laki-laki yang mana Ki Patih?”, salah satu pengawal balik bertanya, tapi baru saja dia selesai bertanya, wajahnya berubah menjadi pucat.
“Setan...”, desisnya marah, marah bercapur rasa takut.
“Bagaimana denganmu, kau juga lupa tentang laki-laki barusan?”, Patih Nandini bertanya pada pengawal yang lain.
Pengawal itu menggelengkan kepala, susah payah dia meneguk ludah dan menjawab, “Iya Ki Patih, jika Ki Patih tidak bertanya, tentu aku sudah lupa sama sekali.”
Kedua pengawal itu saling berpandangan, mereka bukan orang yang tidak berilmu. Sebagai orang yang dipilih secara pribadi oleh Patih Nandini, tentu mereka memiliki kelebihan dibanding prajurit kebanyakan. Meski mereka lebih banyak menekuni ilmu kanuragan, dibanding menekuni ilmu kebatinan, tapi latihan-latihan yang mereka jalani membuat batin mereka cukup kuat.
“Apa kita perlu mencarinya Ki Patih?”, tanya mereka.
“Lupakan saja, orang itu sudah tidak ada di sini.”, ujar Patih Nandini menenangkan kedua pengawalnya.
Melihat mereka masih terguncang oleh peristiwa yang baru saja terjadi, Patih Nandini berkata pada mereka, “Orang itu tidak memiliki niat jahat terhadap kita, sehingga keberadaan-nya tidak memancing naluri pertahanan kita. Itu sebabnya dengan mudah dia bisa membuat kita larut dalam ilusi yang dia ciptakan.”
Kedua pengawal itu merasa sedikit lega mendengar penjelasan Patih Nandini. Meskipun demikian barulah ketika bersama Patih Nandini mereka meninggalkan tempat itu, mereka benar-benar merasa lega.
Sepanjang perjalanan, Patih Nandini tenggelam dalam benaknya sendiri, 'Siapa dia? Apa tujuannya mencegat kami tadi?'