
Jauh di luar tembok pertahanan, jauh di dalam lebatnya hutan, Gagak Seta berdiri dijaga tiga orang prajurit. Hari sudah malam dan hanya nyala api obor yang menari-nari yang menerangi mereka.
Gagak Seta memang sering berlaku ugal-ugalan, tapi di depan prajurit-prajurit ini dia tidak berani menunjukkan sikap yang asal-asalan.
Selain ada rasa jeri, juga ada rasa hormat. Dahulu mungkin dia tidak memiliki perasaan tertentu, tapi sejak mengikuti Rangga, sejak sering menonton pagelaran wayang, melihat sikap dan perilaku para prajurit, dalam hatinya timbul rasa hormat. Ketika dia gagal diterima dalam ujian, Gagak Seta dilanda rasa kecewa. Dia yang tadinya sempat melihat secercah harapan, suatu tujuan dan cita-cita, tiba-tiba kehilangan arah.
Namun hal itu tidak mengikis rasa hormatnya pada orang-orang di hadapannya ini, orang-orang yang menghayati nilai-nilai seorang prajurit yang sejati. Apalagi dia mengenal salah seorang di antara tiga prajurit itu.
Setelah cukup lama melakukan perjalanan bersama-sama, sebagian besar penduduk Kademangan Jati Asih sudah mulai mengenal tiga puluh orang senapati yang mengikuti Rangga. Bagaimana mungkin, Gagak Seta yang mengidolakan mereka ini tidak tahu nama-nama mereka?
Yang berdiri di hadapannya kali ini adalah Senapati Watu Gunung.
“Nama?”, tanya Watu Gunung datar.
“Gagak Seta.”, jawab Gagak Seta dengan sopan.
“Orang tua?”, tanya Watu Gunung.
“Eh..sudah meninggal.”, jawab Gagak Seta sedikit ragu, tak mengerti kenapa Watu Gunung bertanya tentang orang tuanya, tapi kemudian dia berpikir, mungkin Watu Gunung ingin memperingatkan orang tuanya tentang perilaku-nya yang tak patut.
“Ada keluarga lain?”, tanya Watu Gunung.
Gagak Seta menghela nafas, “Ada keluarga paman dan bibi, tapi Ki... mohon tidak perlu merepotkan mereka. Ini sungguh semuanya salahku.”
Watu Gunung tidak menanggapi permintaan Gagak Seta, dia lanjut saja bertanya, “Bagaimana hubunganmu dengan mereka? Dekat?”
Gagak Seta berpikir sejenak, “Tidak terlalu dekat, saat aku berusia tiga belas tahun, aku kabur dari rumah.”
“Mereka tidak mencarimu?”, tanya Watu Gunung.
“Paman sempat mencariku, saat akhirnya bertemu, aku sudah bekerja sebagai pengangkut barang di sebuah pasar. Melihat aku sudah bisa hidup mandiri, akhirnya dia hanya berpesan agar aku berhati-hati.”, Gagak Seta sempat terdiam agak lama sebelum dia akhirnya menjawab, sementara Watu Gunung menunggu dengan sabar.
“Hmm... dia mencarimu artinya dia peduli, tapi ketika melihat kau bekerja di pasar dia tidak memaksamu pulang. Menurutmu kenapa demikian?”, tanya Watu Gunung.
Lagi-lagi Gagak Seta tercenung beberapa saat sebelum menjawab, tapi kali ini dia bsia menjawab lebih lancar, “Paman dan ayah adalah dua bersaudara, sementara aku adalah keturunan satu-satunya. Sejak kecil aku sering membuat ulah, membuat paman sering harus bertengkar dengan isterinya. Meskipun demikian dia tidak pernah menelantarkanku.”
“Lalu setelah hari itu, kau masih sering bertemu dengan pamanmu?”, tanya Watu Gunung lagi.
“Beberapa kali bertemu, setidaknya setahun sekali dia pergi mencariku di pasar itu. Sampai kemudian aku memutuskan untuk pergi merantau dan sampai di Kademangan Jati Asih ini.”, jawab Gagak Seta.
“Jadi kau bukan orang asli Kademangan Jati Asih?”, tanya Watu Gunung.
Gagak Seta menggelengkan kepalanya.
“Tapi mengapa kau mendaftarkan diri untuk menjadi prajurit? Padahal masa depan belum pasti, sementara nyawa sudah harus kau pertaruhkan lebih dahulu. Wajar jika kau penduduk Kademangan Jati Asih. Memiliki keluarga yang ingin kau lindungi. Memiliki kedekatan sejarah dengan Raden Rangga.”, tanya Watu Gunung.
Kali ini mata Watu Gunung menatap lekat Gagak Seta, setiap gerak-gerik dan perubahan wajah Gagak Seta tidak lepas dari pengamatannya.
Gagak Seta tidak langsung menjawab, untuk sesaat dia pun ragu dan berpikir, 'Benar... mengapa aku ingin mempertaruhkan nyawa untuk sesuatu yang belum pasti? Jika ingin menjadi prajurit, kenapa tidak mengabdi pada seorang Adipati? Atau bahkan raja? Kenapa aku ingin bergabung dengan seseorang yang wilayah pun tak punya?'
“Aku... itu karena...”, Gagak Seta ingin menjawab namun ragu.
Lalu pemuda itu kembali terdiam dan Watu Gunung pun dengan sabar menunggu.
“Awalnya keluarga kami hidup bahagia.”, tiba-tiba Gagak Seta mulai bercerita.
“Kemudian ibu jatuh sakit dan tidak ada yang tahu apa penyakit, apalagi apa obatnya.”, matanya menatap kosong, jauh ke satu masa dalam hidupnya.
“Ayah pun pergi untuk mencari obatnya. Namun sebelum dia pulang, ibu sudah meninggal. Ketika ayah kembali dan menemukan ibu telah meninggal, dia berubah... Dia sering diam dan melamun. Kadang aku melihatnya memandangiku dengan tatapan yang aneh.”, suara Gagak Seta semakin lirih.
“Setahun kemudian, dia menitipkanku pada adiknya, dan sejak itu aku tak pernah lagi melihatnya.”, sambung Gagak Seta dengan suara hampir tak terdengar.
Pemuda itu kemudian menegakkan kepalanya dan menatap lurus ke arah Watu Gunung, “Sejak itu aku seperti kehilangan arah, tak tahu hidup ini untuk apa. Sampai ketika aku mengikuti barisan ini. Dalam nilai-nilai keprajuritan yang aku pahami, aku merasa menemukan nilai yang ingin aku pegang dan hayati.”
Watu Gunung mengangguk, “Bagus, syukurlah kalau kau sudah berhasil menemukan jalan hidupmu.”
Gagak Seta tiba-tiba merasakan satu kelegaan besar. Selama beberapa hari ini dia tidak bisa memahami dirinya sendiri. Tidak paham kenapa dia tiba-tiba merasakan satu harapan baru dalam hidupnya. Tidak paham mengapa dia merasa segala sesuatunya menjadi gelap dan hatinya dipenuhi oleh amarah, saat dia gagal lolos uji keprajuritan.
Sekarang dia paham.
“Tapi itu belum menjawab, kenapa harus kami? Kenapa bukan menjadi prajurit di satu kadipaten, atau satu kerajaan? Atau mungkin karena kebetulan kami yang terdekat?”, tanya Watu Gunung.
Kali ini Gagak Seta tidak perlu berpikir lama untuk menjawab, dengan dada tegak dia menjawab, “Mungkin ada banyak prajurit, tapi nilai keprajuritan yang aku lihat pada diri paman-paman sekalian inilah yang benar-benar menggetarkan hatiku. Mungkin ada banyak raja dan adipati, tapi semangat yang dibawa Raden Rangga, tatanan masyarakat yang dia cita-citakan. Bagiku... untuk mewujudkan cita-cita itu...”
“Ya... untuk ikut mewujudkan cita-cita itu, aku rela mempertaruhkan nyawaku ini.”, ujarnya dengan penuh keyakinan.
Untuk pertama kalinya Watu Gunung tersenyum, “Bagus...”
Gagak Seta pun ikut tersenyum. Ketika dia akhirnya menyadari bahwa dia sudah menemukan apa yang selama ini dia cari dalam hidup ini, di saat itu hilanglah semua ketakutannya. Jika untuk cita-cita itu dia rela kehilangan nyawa, maka apa artinya sedikit hukuman badan?
Dua prajurit yang ikut berjaga pun terlihat tersenyum.
“Tahukah kau? Sebenarnya dalam uji keprajuritan itu kau sudah bisa memenuhi semua syarat.”, kata Watu Gunung membuat Gagak Seta terkejut dan bingung.
“Rakryan Rangga Aswatama mengamatimu dan meminta penguji untuk tidak meluluskan dirimu. Di saat yang sama, dia pula mengirim orang untuk mengawasi tindak-tandukmu setelah penolakan itu.”, jawab Watu Gunung.
Tentu saja itu tidak menjawab pertanyaan Gagak Seta dan pemuda itu menatap Watu Gunung dengan tak sabar, “Lalu...”
“Kau ditolak, karena Rakryan Rangga Aswatama berpikir kau lebih cocok untuk penugasan yang lain. Bukan menjadi pasukan yang terjun dalam peperangan.”, jawab Watu Gunung.
“Tugas yang lain? Tapi aku ingin menjadi prajurit...”, Gagak Seta ragu-ragu.
“Gagak Seta, prajurit itu pun ada macam-macam. Kalau kau lihat kesatuan di bawah Senapati Sentanu, atau Senapati Bayu Bayanaka misalnya, mereka sering mendapatkan tugas untuk mengintai keadaan di sekitar, membaca jejak, menelusuri hutan, gunung dan sungai. Mencari tempat-tempat yang penting, dan sebagainya.”, Watu Gunung menjelaskan dengan sabar.
“Ada pula kesatuan seperti kesatuan Senapati Gajah Petak, yang isinya prajurit-prajurit dengan tenaga fisik yang kuat dan daya dobrak yang besar. Atau kesatuan Senapati Dalawangsi yang memiliki kemampuan untuk menyerang dengan cepat dan mematikan, namun lemah dalam pertahanan.”
Gagak Seta pun mengangguk-anggukkan kepala, antara paham dan tidak paham, mengapa dirinya berbeda. Dia melihat pemuda-pemuda lain memang diatur dan ditempatkan pada kesatuan-kesatuan yang berbeda, sesuai dengan kelebihan dan kelemahan mereka. Jika dia dikatakan memenuhi syarat, mengapa dia ditolak?
“Ada kesatuan yang terlihat, ada pula kesatuan yang tidak terlihat dan Rakryan Rangga Aswatama berpikir kau cocok untuk masuk bergabung pada kesatuan yang tidak terlihat.”, ujar Watu Gunung yang melihat Gagak Seta masih bingung.
“Jadi... aku diterima sebagai prajurit.”, Gagak Seta masih ragu-ragu.
Watu Gunung mengangguk, “Saat itu belum, bagi kesatuan yang tidak terlihat ini, perlu ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi. Tapi malam ini, ya, kau diterima. Tentunya jika kau bersedia menerima tawaran kami.”
“Aku bersedia.”, jawab Gagak Seta dengan tegas.
“Kau tidak bertanya tentang tugasmu?”, tanya Watu Gunung.
“Ehm... yang Ki Senapati maksudkan itu.. prajurit telik sandi?”, tanya Gagak Seta dengan berhati-hati.
“Hahahaha... bagus-bagus, kau memang cerdas.”, jawab Watu Gunung sambil menepuk-nepuk pundak Gagak Seta.
Mendengar kata-kata Watu Gunung itu, dada Gagak Seta pun terasa mengembang. Memang yang ditawarkan padanya saat ini, jauh di luar bayangannya, tapi rasa pencapaian, telah terpilih untuk satu tugas yang istimewa membuat dia merasa sangat puas.
“Bagus kalau kau bersedia, tapi kau harus ingat, tugas ini menuntutmu untuk bersembunyi dalam bayangan. Tidak ada penghormatan yang selayaknya diberikan bagi seorang pahlawan yang mempertaruhkan hidupnya demi satu perjuangan. Bagi orang lain, kau bukanlah seorang prajurit, bahkan bukan bagian dari kerajaan yang nanti kita dirikan.”, Setelah membiarkan perasaan setiap orang mengendap, Watu Gunung dengan sungguh-sungguh mengingatkan Gagak Seta.
“Aku siap Ki.”, jawab Gagak Seta dengan teguh.
“Baik, kalau begitu, aku akan menjelaskan tugasmu kali ini. Untuk sementara ini, keberadaanmu sebagai prajurit telik sandi hanya aku dan dua bekel di sampingku ini yang tahu. Jadi jika kau ingin melaporkan sesuatu tentang tugasmu, hanya boleh kau sampaikan, pada kami, atau pada kedua rakryan. Ki Tumenggung dan Raden Rangga sendiri, jika memang benar-benar terpaksa.”, kata Watu Gunung dengan sungguh-sungguh.
Wajah Gagak Seta menjadi tegang, membayangkan kerahasiaan dari sifat tugas dan kedudukan yang dia emban.
“Jangan kuatir, seiring dengan berkembangnya waktu, kesatuan telik sandi kita pun akan semakin besar dan kau akan memiliki rekan-rekan dalam engkau mengerjakan tugas-tugasmu. Hanya saja untuk saat ini, kita membutuhkan waktu untuk membentuk kesatuan yang kuat dengan orang-orang yang bisa kita percaya.”, Watu Gunung berusaha menghibur Gagak Seta.
Gagak Seta terdiam dan berpikir sejenak, “Uhm... aku mengerti ki dan aku siap.”
“Bagus...bagus... Kau tidak bertanya mengenai apa yang menjadi hak dan imbalan bagi mereka yang terpilih menjadi prajurit telik sandi?”, tanya Watu Gunung sambil tersenyum.
“Eh... oh...”, Gagak Seta tergagap, tak pernah berpikir tentang masalah itu sebelumnya.
“Raden Rangga dan Tumenggung Widyaguna menyadari beratnya bertugas dalam kesepian, karena itu mereka membatasi penugasan prajurit telik sandi secara aktif hanya berlaku sampai usia mereka menginjak 30.”, Sambil tersenyum Watu Gunung menjelaskan.
“Setelah menginjak usia 30, kalian akan diberi pilihan, apakah ingin terus melanjutkan tugas kalian sebagai petugas telik sandi yang aktif di lapangan. Atau memilih untuk bertugas di garis belakang. Bisa juga bila kalian menghendaki, kami akan menempatkan kalian pada penugasan yang berbeda. Demikian tiap 5 tahun sekali setelah kalian menginjak usia 30, penugasan kalian akan kita rundingkan kembali.”, melihat Gagak Seta tidak memberikan komentar apa-apa, Watu Gunung melanjutkan penjelasannya.
“Apakah untuk penjelasan ini sudah cukup jelas?”, Tanya Watu Gunung.
“Cukup jelas Ki.”, jawab Gagak Seta, dalam hati dia merasa tersentuh karena kepedulian para pimpinan pada mereka yang bertugas.
“Kemudian sebagai bekal kalian bertugas, maka Raden Rangga, Ki Ageng Aras dan Ki Tumenggung Widyaguna memutuskan untuk menurunkan satu-dua ilmu simpanannya pada kalian. Tentunya untuk itu membutuhkan waktu yang tidak singkat, sementara kalian pun saat ini sudah memiliki tugas di depan mata.”, kata Watu Gunung yang tersenyum melihat kilatan mata Gagak Seta.
Sebagai seorang yang gemar berpetualang dan berlatih ilmu kanuragan, sudah jamak bila seorang pendekar itu gila akan ilmu. Apalagi mendengar ilmu ini diturunkan dari orang-orang yang digdaya. Gagak Seta juga tidak luput dari penyakit yang sama.
Watu Gunung kemudian menyerahkan, satu buntal kain pada Gagak Seta, “Di dalamnya berisi beberapa setel pakaian, sekantung uang dan tiga gulungan daun lontar yang berisi ilmu yang kami harap bisa memperkuat bekalmu sebagai seorang prajurit telik sandi.”
Gagak Seta menerima buntalan kain itu dengan hati berdebar-debar.
Watu Gunung mengambil sebuah gelang tangan dan memberikannya pada Gagak Seta, “Ini akan menjadi penanda bagimu, pada saatnya nanti mungkin kami akan mengirimkan seseorang untuk menghubungimu dan dia akan memakai gelang yang sama. Karenanya kau perhatikan baik-baik tiap ukiran dan ciri dari gelang ini.”
Gagak Seta menerima gelang itu, setelah mengamatinya sebentar, dia segera memakai gelang itu. Situasi saat itu terlalu gelap, sehingga dia tidak bisa mengamati dengan jelas gelang yang saat ini dia pakai.
“Sekarang, apakah kau siap dengan tugas pertamamu?”, tanya Watu Gunung.
Gagak Seta mengangguk, tapi kemudian bertanya ragu-ragu, “Tentu aku siap Ki Senapati, tapi... apa ini artinya aku sudah menjadi prajurit telik sandi dari Raden Rangga Wijaya? Tidak ada upacara penerimaan, atau pengucapan sumpah.... ya... yang semacam itu?”
Tiga prajurit di depannya tertawa kecil, sementara Gagak Seta merasa wajahnya panas karena rasa malu.
Watu Gunung bertanya, “Apa kau merasa itu perlu?”
Gagak Seta dengan terbata menjawab, “Eh... tidak, tidak perlu.”
Watu Gunung menjawab, “Benar, kita yang bekerja sebagai telik sandi, harus jauh lebih luwes dibanding mereka yang menjadi prajurit biasa. Ada situasi-situasi, di mana yang penting adalah prinsip dan tugas yang kita pegang.”
Gagak Seta mengganguk, “Mengerti Ki.”
Ekspresi Watu Gunung berubah menjadi serius, “Kalau begitu, dengarkan baik-baik, tugasmu yang pertama adalah...”