
Rombongan Rangga yang besar itu dengan mudah tersusul oleh rombongan yang lebih kecil. Tiga puluh orang yang berkuda itu semuanya berpakaian ringkas dan membawa perbekalan yang secukupnya saja.
Mereka memacu kuda tanpa berusaha menyembunyikan kedatangan mereka dari mata para pengintai.
Ketika sudah jelas rombongan itu bergerak menyusul mereka, maka Senapati Dadungwesi pun memutuskan untuk menemui rombongan tersebut. Diiringi oleh belasan orang prajurit, Senapati Dadungwesi memacu kudanya memapak tiga puluh orang bersenjata itu.
“Berhenti!”, seru Senapati Dadungwesi dengan suara tak terlalu keras, tapi tegas.
Tiga puluh orang itu, dengan patuh menghentikan kuda-kuda mereka. Sejak dari kejauhan pun, ketika melihat barisan prajurit yang dipimpin Senapati Dadungwesi menanti mereka, mereka sudah memperlambat laju kuda mereka masing-masing.
Seorang dari tiga puluh itu, mengarahkan kudanya maju beberapa langkah mendekat ke arah Senapati Dadungwesi dan menyapa, “Apa kabar Kisanak, namaku Bharata, jika aku boleh tahu, dengan siapa aku berhadapan?”
“Senapati Dadungwesi, panglima pasukan Raden Rangga Wijaya. Apa tujuan Ki Bharata mengejar rombongan kami?”, jawab Senapati Dadungwesi yang langsung balik bertanya.
“Ah, rupanya kisanak ini Senapati Dadungwesi yang namanya sudah menggetarkan Bhumi Adyatma. Senang berkenalan dengan Ki Senapati.”, ujar laki-laki yang bernama Bharata itu dengan ramah.
Ki Bharata yang memimpin rombongan kecil itu usianya terbilang muda, kalaupun sudah lewat tiga puluh, mestinya tak melampaui empat puluh tahun. Badannya ramping, mukanya sedikit kepucatan, cara bicaranya ramah dan suaranya lembut.
“Hemm.”, Senapati Dadungwesi mengangguk tanpa banyak kata.
Ekspresi wajahnya yang terbuka dan ramah tak berubah, meskipun menanggapi sikap Senapati Dadungwesi yang datar.
“Kami datang, karena ingin menemui Raden Rangga Wijaya, tanpa ada niatan buruk sama sekali.”, ujar Ki Bharata menjelaskan.
Sejenak kemudian dia menambahkan, “Kemenangan Raden Rangga yang cemerlang di Kerajaan Watu Galuh, sudah terdengar sampai jauh ke selatan. Membuat kami ingin mengenal lebih dekat dan menjalin persahabatan dengan Raden Rangga Wijaya.”
Selama Ki Bharata menjelaskan maksud kedatangan mereka, Senapati Dadungwesi mengamati tiga puluh orang itu dengan cermat. Selain Ki Bharata, ada empat orang lain yang tampaknya memimpin rombongan itu. Sementara sisanya lebih patas disebut sebagai pengawal mereka bertiga.
“Aku beri kalian dua pilihan. Pertama, pemimpin rombongan saja, bisa ikut aku untuk menemui Raden Rangga, sementara yang lain menunggu di sini.”, ujar Senapati Dadungwesi dengan tegas.
“Kedua, kalian semua bisa ikut menghadap Raden Rangga, tapi untuk sementara, kalian harus menyerahkan senjata kalian untuk kami simpan.”, sambungnya kemudian.
Setelah mendengar jawaban dari Senapati Dadungwesi, tanpa ragu Ki Bharata menengok ke belakang dan berkata, “Kakang Tanumerta, Kakang Waluyo, bersama dengan Ki Suroto dan Ki Badrawi, kita berlima menghadap. Sementara yang lain, kalian tunggu di sini.”
“Siap ki.”, jawab mereka yang harus tinggal, sedangkan ke-empat orang yang namanya disebut, mengarahkan kuda mereka mendekat.
Senapati Dadungwesi dengan sigap pula mengatur prajurit yang dia bawa, sebagian berjaga di dekat dua puluh lima orang yang menunggu. Sisanya mengikuti Senapati Dadungwesi mengantar Ki Bharata dan empat orang rekannya.
Tak lama kemudian, di satu tegalan yang cukup lapang, Rangga yang didampingi beberapa orang senapati, terlihat duduk bercakap-cakap dengan Ki Bharata dan empat orang rekannya. Meski Rangga hanya duduk di atas sebongkah batu besar, Ki Bharata dan rekan-rekannya menunjukkan sikap hormat dan sopan, seakan-akan menemui seorang Adipati di istana kadipaten.
Setelah usai berbasa-basi ala kadarnya, Rangga pun tidak membuang waktu lebih lama, katanya, “Jadi, Ki Bharata berlima ini adalah saudagar yang membuka usaha di kadipaten-kadipaten di selatan ini. Pertama-tama aku ucapkan terima kasih untuk dukungan yang kalian berikan pada kami, sepanjang perjalanan kami ini.”
“Yang kedua, aku yakin, kedatangan Ki Bharata tentunya bukan hanya sekedar ingin berkenalan. Silahkan Ki Bharata sampaikan, apa yang tersimpan di benak Ki Bharata. Siapa tahu, aku bisa memberikan jawaban yang memuaskan.”, lanjut Rangga dengan ramah, dengan tetap mempertahankan sikap yang berwibawa.
Tanpa mereka sendiri menyadari, Ki Waluyo, Ki Tanumerta, Ki Suroto dan Ki Badrawi selalu mengalihkan tatapan mata mereka ke arah Ki Bharata, ketika muncul pembicaraan mengenai hal yang penting. Sehingga dengan mudah Rangga dan para senapati bisa memastikan, siapa yang menjadi pemimpin yang sebenarny dari tiga puluh orang yang datang menyusul rombongan mereka ini.
Ki Bharata sendiri tidak menghindari tanggung jawab atas peran yang dia ambil ini, dengan lugas dia menjawab, “Benar sekali tebakan Raden Rangga, sesungguhnya kami datang karena membawa satu pertanyaan penting untuk disampaikan kepada raden.”
Rangga mengangguk tanpa banyak kata.
“Apa boleh kami tahu, di mana Raden Rangga berencana mendirikan kota yang nantinya akan menjadi pusat kekuasaan Raden?”, tanya Ki Bharata.
Raden Rangga bangkit berdiri, lalu melihat berkeliling, tak berapa jauh dari tempat mereka berbincang, dia melihat sebongkah batu seukuran anakan sapi.
“Ikuti aku.”, katanya sambil berjalan ke arah batu itu.
Ki Bharata dan yang lainm berjalan mengikuti Rangga, dengan hati bertanya-tanya. Ketika Rangga sampai di batu besar itu, dengan ringan tangannya bergerak menyapu permukaan batu itu. Bagian batu yang tersentuh telapak tangannya, pecah berhamburan menjadi debu dan tertiup angin yang lewat.
Dalam sekejapan mata, sebagian dari batu besar itu menjadi rata, serata permukaan meja.
Ki Bharata dan rekan-rekannya saling pandang dengan jantung berdebar, tanpa sadar menelan ludah untuk membasahi tenggorokan mereka yang tiba-tiba menjadi kering, Para senapati yang mendampingi Rangga tersenyum bangga.
Rangga tanpa mempedulikan reaksi mereka, mulai menggurat-gurat di atas permukaan batu yang telah rata itu dengan jarinya, “Di sini Gunung Awu, yang memanjang dari utara ke selatan, menjadi pembatas alami antara sisi barat dan sisi timur Bhumi Adyatma. Kemudian jauh di timur, dua pegunungan, Gunung Meruya dan Gunung Waliki, serupa seperti Gunung Awu, menjadi tembok alami di sisi timur Bhumi Adyatma.”
“Bersama dengan Pegunungan Pengayoman yang membatasi sisi selatan Kadipaten Laweyan di pesisir utara. Ke-empat pegunungan ini, membentuk satu wilayah besar yang sama sekali tak terjamah manusia.”, Rangga dengan tenang melanjutkan penuturannya, sembari jarinya terus mengukir di atas batu.
Mereka yang hadir di tempat itu, seperti tersihir, mengikuti penjelasan Rangga sambil memandangi peta yang perlahan-lahan tergambar di atas permukaan batu yang keras.
“Ankara Naga Loka...”, desis Ki Bharata sambil mengamati guratan-guratan tangan Rangga di atas permukaan batu besar itu.
“Benar.”, jawab Rangga tenang, dengan senyum tipis tersungging di wajahnya.
Ki Bharata terdiam cukup lama, bukan hanya dia, Ki Suroto, Ki Badrawi, Ki Waluyo dan Ki Tanumerta yang mengikuti dia pun seperti tertahan nafasnya. Ankara Naga Loka sudah dikenal sebagai daerah yang tak terjamah tangan manusia, sebuah wilayah yang menurut kepercayaan mereka adalah tempat tinggalnya makhluk-makhluk mistis yang mengerikan.
Sudah beratus tahun lamanya raja dan adipati bermunculan di Bhumi Adyatma, hutan-hutan dibuka, jadi tempat pemukiman. Padang-padang sarang hewan liar diubah jadi kota besar.
Namun belum ada yang berhasil membuka dan membangun sebuah peradaban di Ankara Naga Loka.
Selama ratusan tahun, Ankara Naga Loka tetap menjadi wilayah yang misterius. Tentu saja selalu ada beberapa petualang dan pendekar yang tak takut akan bahaya, yang berani merambah masuk ke Ankara Naga Loka.
“Apakah raden yakin akan mampu menaklukkan Ankara Naga Loka?”, tanya Ki Bharata dengan sikap hikmat, senyum yang tadinya selalu tersungging sudah hilang dari wajahnya.
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini.”, jawab Rangga.
Namun tak lama kemudian Rangga menyambung, “Untuk awalnya, kami akan memulai dengan membangun pusat kekuatan kami di daerah pesisir, di sisi selatan Alas Ankara Naga Loka. Saat ini, belum ada kadipaten besar seperti Kadipaten Laweyan di pesisir utara, pusat kekuatan kami yang baru nanti akan berusaha mengambil peran seperti peran Kadipaten Laweyan di utara.”
Mendengar penjelasan Rangga, ekspresi tegang di wajah Ki Bharata dan rekan-rekannya terlihat melunak, tanpa terasa mereka menghembuskan nafas lega.
Rangga tersenyum simpul melihat wajah mereka tak lagi tegang.
Melihat senyum Rangga, buru-buru Ki Bharata menjelaskan, “Mendengar rencana Raden Rangga, hati kami yang kerdil ini merasa gentar, sungguh di luar bayangan setiap orang, bahwa Raden Rangga memiliki impian untuk menaklukan Alas Ankara Naga Loka.”
“Hahaha, impian barulah impian, aku tidak akan berbicara lebih jauh lagi mengenai hal itu. Sekarang aku sudah menceritakan rencanaku pada Ki Bharata, sepertinya giliran Ki Bharata yang menyampaikan pemikiran Ki Bharata sekalian.”, jawab Rangga sambil tertawa lepas.
“Seperti yang sudah kami sampaikan di awal, kami mengagumi perjuangan Raden Rangga. Di lain sisi Den, kami juga menyadari beban yang tentunya harus Raden pikul saat ini. Oleh karena itu, muncul keinginan kami untuk membantu meringankan beban Raden Rangga.”, ujar Ki Bharata dengan luwesnya.
Rangga menganggukkan kepala dan menjawab singkat, “Lanjutkan.”
“Untuk membangun sebuah pusat kehidupan yang baru bagi jumlah penduduk yang sebesar ini, tentu akan membutuhkan biaya yang cukup besar. Bukan saja untuk membangun rumah-rumah dan fasilitas umum, tetapi juga untuk kebutuhan seperti sandang dan pangan, selama kota itu belum terbentuk.”, lanjut Ki Bharata.
“Karenanya kami berpikir, bila Raden tidak keberatan, bagaimana jika kami membantu menyediakan, apa-apa yang raden butuhkan, selama raden membangun di tempat yang baru itu?”, ujar Ki Bharata menyampaikan tawarannya.
“Hmm.... lalu apa yang Ki Bharata harapkan dari pihak kami?”, tanya Rangga dengan lugas.
Melihat Rangga tidak suka berputar-putar, Ki Bharata pun menjawab dengan lugas, “Yang kami harapkan hanya agar kami berlima nanti, akan mendapatkan pembebasan pajak saat berdagang di daerah kekuasaan Raden.”
Rangga menggelengkan kepala, “Maaf Ki, aku tidak bisa memenuhi harapan Ki Bharata dan kisanak sekalian.”
“Kami bisa mengerti Raden, bagaimana jika pengurangan setengah saja dari pajak yang raden tetapkan?”, ujar Ki Bharata, tanpa sedikitpun terusik oleh penolakan Rangga.
Rangga tertawa lepas dan menjawab. “Ki Bharata, menurut bayangan Ki Bharata apa yang akan terjadi setelah kami sampai di tempat yang kami tuju dan menetap di sana? Hanya membangun sebuah kademangan, lalu melanjutkan kehidupan kami seperti sebelumnya? Aku tidak punya waktu untuk duduk di sini setengah harian dan bolak-balik melakukan tawar menawar dengan Ki Bharata. Sekilas aku sudah memberikan gambaran, mungkin sebaiknya sekarang Ki Bharata juga membuka kartu di tangan Ki Bharata.”
Ki Bharata terdiam sejenak untuk berpikir, kemudian dengan berhati-hati bertanya, “Aku harap, Raden nantinya tidak tersinggung, bila aku mengungkapkan apa yang aku pikirkan.”
Rangga mengangguk, “Silahkan Ki Bharata berbicara dengan bebas, aku tidak akan tersinggung mendengarkan uraian yang jujur dan terbuka. Coba Ki Bharata pikirkan situasi kami saat ini, cuma orang yang bodoh yang akan menolak uluran tangan yang tulus. Jika Ki Bharata berpikir Rangga Wijaya adalah seorang yang tidak bisa berpikir panjang, apa tidak lebih baik jika Ki Bharata berpamitan sekarang juga?”
Ki Bharata tidak terburu-buru menjawab, terlihat jelas dia menimbang-nimbang apa yang hendak dia katakan dengan seksama.
Rangga menunggu dengan sabar.
“Raden sudah menggambarkan sekilas apa yang ada dalam benak raden.”, ujar Ki Bharata mulai membuka mulutnya.
“Dari apa yang raden gambarkan di atas batu itu, jelas yang ada dalam bayangan raden bukanlah sebuah kadipaten, tapi sebuah kerajaan. Sebuah kerajaan yang akan menempati satu wilayah besar yang akan mengontrol lalu lintas darat dari empat penjuru Bhumi Adyatma.”, ucap Ki Bharata sambil mengamati raut wajah Rangga.
Rangga mengangguk puas dan memberi tanda agar Ki Bharata melanjutkan uraiannya.
“Selama ini, pedagang dan orang-orang dari timur, untuk menuju ke sisi lain dari Bhumi Adyatma, harus memutar melewati jalur laut, menghindari Alas Ankara Naga Loka, demikian pula sebaliknya. Hal yang sama terjadi bagi mereka yang ada di pesisir utara, maupun sisi selatan. Hanya mulai dari Kerajaan Watu Galuh ke barat yang bisa dikatakan sudah terhubung dengan baik.”, Ki Bharata pun melanjutkan uraiannya.
Para senapati dan empat orang rekan Ki Bharata yang lain pun ikut mendengarkan penjelasan Ki Bharata dengan penuh perhatian. Hati mereka ikut tertarik mendengarkan penjelasan Ki Bharata, yang menjabarkan secara lebih jelas. Jika sebelumnya penjelasan Rangga menggerakkan hati mereka, tanpa bisa mereka pahami secara sempurna apa yang sedang mereka saksikan, maka penjelasan Ki Bharata seperti membuka tirai yang menutupi pemahaman mereka sebelumnya.
“Pelabuhan-pelabuhan besar yang ada, di barat dan di utara, sudah dikuasai dengan ketat oleh Kadipaten Laweyan dan Kerajaan Pakuan Pangandaran. Bukan itu saja, di barat ada kantor dagang par pedagang dari dunia barat. Di Kadipaten Laweyan meskipun persaingan lebih seimbang, tapi sudah tidak ada ruang untuk pedagang baru untuk masuk dan orang-orang dari Kekaisaran Khan menguasai 4 dari 10 bagian yang ada. Belum jika kita menghitung pula, kondisi laut yang berbahaya untuk diarungi oleh kapal-kapal kecil, atau ketika cuaca tidak mengijinkan.”, lanjut Ki Bharata semakin lancar.
“Dalam situasi ini, jika Raden Rangga berhasil membuka jalur yang aman di darat dan menguasainya, maka tanpa ada keraguan sedikitpun, Raden Rangga akan mampu mendirikan sebuah kerajaan yang besar di Bhumi Adyatma ini, tidak kalah besar dari Kerajaan Watu Galuh yang didirikan oleh ayahanda raden.”, kata-kata Ki Bharata tanpa disadari ikut menggugah semangat para senapati yang ikut mendengarkan.
“Ya, dan sebenarnya kurang lebih seperti itu pula Kerajaan Watu Galuh dulu berkembang, dengan menjadi penghubung antara berbagai wilayah yang tadinya terpisah oleh alam dan bahaya dari para bandit-bandit yang tersebar di berbagai jalur darat yang ada.”, ujar Rangga sambil tersenyum.
“Namun, pekerjaan itu terhenti sebelum waktunya. Kerajaan Watu Galuh berganti tampuk pimpinan sebelum berhasil menaklukkan Alas Ankara Naga Loka.”, lanjut Rangga dengan sendu.
Mereka terdiam membayangkan situasi Kerajaan Watu Galuh puluhan tahun yang lampau.
“Jadi, rencana Raden Rangga untuk menaklukkan Alas Ankara Naga Loka ini, sebenarnya untuk melanjutkan cita-cita ayahanda raden?”, tanya Ki Bharata dengan hati-hati.
Rangg mengangguk tanpa ragu, “Benar, saat ayahanda tumbuh besar, tidak ada kerajaan besar yang menguasai satu wilayah yang besar, hanya ada tanah-tanah perdikan, yang terpisah oleh hutan, gunung dan kelompok bandit yang mengintai setiap waktu. Kerajaan Watu Galuh berhasil menjadi kerajaan pertama di tanah ini yang bisa memberikan rasa aman pada penduduknya.”
“Namun cita-cita ayahanda bukan sebuah surga di tengah ancaman, impiannya adalah menjadikan seluruh Bhumi Adyatma menjadi tanah yang aman dan damai.”, ujar Rangga sebelum terdiam.
Yang lain ikut larut dalam diamnya Rangga.
“Tentu saja, ini pekerjaan besar yang tidak bisa selesai dalam satu generasi. Silahkan Ki Bharata melanjutkan, menjelaskan apa yang ada dalam pikiran Ki Bharata, yang membuat Ki Bharata ingin menemuiku.”, kata Rangga memecahkan kesunyian itu.
Ki Bharata tercenung mendengar itu, lalu berkata, “Raden, apa yang aku pikirkan sebelumnya, ketika kemudian aku memutuskan untuk pergi menemui raden, berbeda dengan apa yang aku pikirkan saat ini.”
“Ah... lalu?”, Rangga bertanya.
“Jika raden mengijinkan, aku ingin bertanya dan meminta penjelasan lebih banyak dari Raden Rangga.”, ujar Ki Bharata sambil memandang Rangga dengan serius.