
Kademangan Jati Waringin
Demang Jati Waringin berkuda memimpin sekelompok pemuda dari kademangan berpatroli mengelilingi wilayahnya. Mengikuti ayahnya meronda, dua orang anak laki-laki Demang Jati Waringin yang masih kecil-kecil, duduk di depan ayahnya.
Satu tangan Ki Demang yang kekar, melingkari pinggang kedua bocah laki-laki itu, menjaga mereka tetap aman di atas kudanya. Tangan yang lain memegang kendali kuda tunggangannya dengan tenang.
Kuda tunggangan Ki Demang bukan kuda biasa, sebelum menjadi demang Ki Demang Jati Waringin pernah bekerja sebagai pengawal barang. Kuda yang dia tunggangi saat ini, adalah kuda yang sama yang mengikuti dia malang melintang di dunia persilatan.
Seekor kuda perang yang sudah memiliki ikatan batin yang kuat dengan tuannya.
Ki Panji Sembrani, demikian nama kuda itu, sangat paham dengan setiap isyarat tubuh Ki Demang. Bukan hanya berfungsi sebagai tunggangan, Ki Panji Sembrani juga bisa ikut menyerang dan bertahan dalam sebuah pertempuran.
Mengikuti di belakang Ki Demang, tidak kurang dari tiga puluhan orang laki-laki, tidak seperti Ki Demang, mereka menunggang kuda biasa. Masing-masing membawa golok yang diselipkan di pinggang.
Mereka sampai di tapal batas kademangan, ketika tiba-tiba wajah Ki Demang berubah.
Pandangan matanya menyambar, jauh ke cakrawala, melintasi padang rumput yang luas. Wilayah gersang yang hanya ditumbuhi rumput-rumput liar.
Mereka yang mengikutinya tanpa sadar ikut mengalihkan perhatian mereka ke arah tersebut.
Tak perlu menunggu lama, mereka pun tahu apa yang membuat perhatian Ki Demang tertuju ke sana. Suara jerit tangis wanita dan anak-anak, diiringi gemuruh tawa dan kata-kata kasar.
“Dedemit penguasa Adyatma...”, bisik salah seorang pengawal kademangan yang mengikuti Ki Demang.
Seperti patung-patung yang membeku, Ki Demang dan pengikutnya terpaku di tempat mereka, garis batas wilayah Kademangan Jati Waringin.
“Hahaha, lari... ayo lari cah ayu! Lihat di depan, sebentar lagi kau sampai ke Kademangan Jati Waringin. Lihat! Lihat! Kalian sungguh beruntung, bukankah itu Ki Demang dan pasukannya?”, terdengar pemimpin dari sekelompok laki-laki dengan rambut panjang gimbal dan pakaian tak keruan itu berseru.
“Hahaha!! Goyang ayo goyang!”
“Kiri … kanan...Kiri.. kanan...”
Terdengar suara sorakan kasar dan tak seronok, mengikuti beberapa orang wanita yang berlarian. Beberapa sudah setengah umur, ada pula yang masih remaja. Pakaian mereka sudah compang-camping tak keruan.
Wajah Ki Demang terlihat mengeras, giginya terdengar berkeletukan menahan marah.
Kedua bocah laki-laki yang ikut menunggang di kudanya tak sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, tapi cukup mengerti bahwa kelompok bandit itu sedang mempermalukan kemanusiaan wanita-wanita yang berlarian mencari selamat itu.
“Ki Demang … , mereka masih berada di luar batas wilayah kekuasaan kita.”, bisik seorang pengikut Ki Demang, yang tertua usianya di antara yang lain.
“Ayah! Apakah kita akan diam saja menonton?”, bocah yang lebih muda usianya bertanya dengan keras pada ayahnya, Ki Demang Jati Waringin.
Wajah Ki Demang terlihat keruh, alisnya berkerut-kerut menahan perasaan.
“Ayah, orang-orang itu hanya mempermainkan korbannya saja. Kalau mau, mereka bisa menangkap wanita-wanita itu sejak dari tadi.”, bocah yang lebih tua berujar dengan nada yang lebih tenang, tapi tak kalah menekan dan menuntut, dibanding adiknya.
“Mereka sengaja memancing kita raden, supaya kita terlebih dahulu melanggar perjanjian dan mereka punya alasan untuk menyerang kademangan kita.”, ujar pengikut Ki Demang yang paling tua tadi, ketika Ki Demang tidak juga menanggapi anak-anaknya.
“Paman Walang! Paman mau menyuruh kita untuk diam di sini saja!? Menonton orang-orang kasar itu mempermalukan perempuan-perempuan itu di depan mata kita!?”, bocah laki-laki yang lebih muda menggeram marah mendengar perkataan pengikut Ki Demang itu.
Pengikut Ki Demang yang berusia sudah cukup lanjut itu menghela nafas, mulutnya terbuka hendak menjawab, tapi tak menemukan kata-kata yang tepat untuk diucapkan.
“Ayah!?”
“Ayah?!”
Berturut-turut kedua bocah laki-laki itu bertanya dengan nada menuntut pada ayahnya.
Namun sesaat kemudian, wajahnya tiba-tiba menjadi jernih.
“Kakang, kau bawa anak-anak kembali ke Kademangan.”, tiba-tiba Ki Demang berujar dengan nada tenang.
“Ayah, mengapa ayah mengirimkan kami pergi kembali ke rumah?”, tanya bocah yang lebih muda dengan marah.
Ki Demang tertawa mendengar kemarahan anaknya itu, lalu menjawab, “Kalau kalian berada di sini, bagaimana ayah bisa bertempur dengan tenang?”
“Maksud ayah? Ayah akan menolong mereka?”, tanya bocah laki-laki itu dengan gembira.
“Ya.”, jawab Ki Demang singkat.
Wajah pengikut-pengikut Ki Demang yang berusia sudah matang terlihat gelap, sementara yang berusia muda terlihat bersemangat.
“Bagus! Tapi kenapa kami harus pulang, kami juga ingin melihat ayah bertempur, membabat habis orang-orang kasar itu. Benar kan kakang?”, tanya bocah yang masih muda itu dengan bersemangat.
Bocah yang lebih tua tersenyum dan menjawab, “Sekarang kita pulang, agar ayah bisa bertempur dengan hati lapang. Pulang dan berlatih, supaya suatu saat nanti, kita juga bisa ikut bertempur bersama dengan ayah. Tidak lagi menjadi beban yang menyulitkan.”
“Yah... kakang...”, seru bocah yang lebih muda kecewa.
“Ayolah sudah, semakin lama kita di sini, semakin lama orang-orang malang itu menderita penghinaan dan ketakutan.”, jawab kakaknya yang dengan gesit kemudian melompat berpindah kuda.
Sambil menggerutu, bocah yang lebih muda itu pun menurut dan melompat dengan lincah ke kuda Ki Walang menyusul kakaknya yang lebih dulu sampai.
“Ki Demang …. hati-hati..”, pengikut Ki Demang yang paling tua itu berujar dengan berat.
“Ayo cepat paman, jangan menghambat kerja ayah!”, seru bocah yang lebih kecil dengan kesal.
Ki Demang dan pengikut-pengikutnya pun tertawa melihat kelakuan bocah itu.
“Walang, dengarkan kata bocah nakal itu.”, ujar Ki Demang sambil tertawa.
“Kalian yang lain, bersiaplah!”, ujarnya kemudian pada pengikut-pengikutnya yang lain.
--------- o ----------
Demikian Rangga bertutur cerita tentang pengalaman masa kecil ayahnya. Pengalaman yang kemudian nanti akan menentukan arah nasib seluruh Bhumi Adyatma.
Mereka yang mendengarkan, ikut larut dalam cerita. Mereka-mereka yang sudah sangat tua, yang masih sempat mengalami awal-awal berdirinya Kerajaan Watu Galuh, terlihat tercenung mengingat masa-masa itu.
Masa-masa sebelum munculnya Prabu Jaya Lesmana dan masa-masa setelahnya.
Sejenak lamanya Rangga berhenti bertutur, mengambil nafas dan memandang berkeliling. Sementara mereka yang mendengarkan bertanya-tanya dalam hati.
Apa yang terjadi dengan wanita-wanita malang itu? Berhasilkan Ki Demang Jati Waringin menyelamatkan mereka? Apakah kisah ini berakhir bahagia? Atau berakhir tragis?
Dalam cerita dongeng anak-anak, tentu pahlawan akan muncul sebagai pemenang, tapi dalam kisah-kisah nyata kepahlawanan, seringkali justru berakhir dengan tragis.
Bukankah Ki Demang Jati Waringin ragu-ragu untuk maju menolong wanita-wanita itu? Tentu ada sebabnya?
Apa pula yang dimaksud dengan melanggar perjanjian?
Mereka semua diam menanti, dengan perhatian masih sepenuhnya tertuju pada Raden Rangga.