
Tiga prajurit yang jadi lawan Gagak Seta berhasil menempatkan Gagak Seta di tengah kepungan. Sebaik-baiknya Gagak Seta mengambil posisi, hanya dua orang yang bisa dia amati, yang seorang lagi berada di belakangnya.
“Bagaimana? Kau serahkan surat itu atau tidak?”, tanya seorang prajurit yang ada di depannya.
Gagak Seta baru saja membuka mulut hendak menjawab, ketika matanya yang awas melihat kilatan di mata lawan. Dengan gesit dia bergerak ke samping, hampir sekejapan sebelum dia mulai bergerak telinganya yang tajam mendengar kesiuran angin dari arah belakang.
Serangan lawan datang begitu cepat, beruntung Gagak Seta bergerak sebelum mendengar serangan lawan.
Tendangan prajurit yang ada di belakangnya itu mendesir, melewati tubuh Gagak Seta. Dia tidak menyangka serangannya yang tiba-tiba dan dari arah belakang itu bisa dihindari Gagak Seta dengan sempurna.
Melihat kaki lawan tepat berada di sampingnya, Gagak Seta tidak membuang kesempatan, tangannya terbuka, sambil menerapkan ilmu yang baru dia pelajari dari salah satu gulungan lontar yang dia terima. Seiring dengan laju tangannya yang terbuka menangkap kaki lawan, samar-samar seperti terlihat bayangan membentuk cakar Garuda. Jurus pertama dari Sembilan Cakar Garuda, ilmu warisan yang diturunkan Ki Ageng Aras untuk para prajurit yang terpilih menjadi prajurit telik sandi.
Tanpa bisa dicegah lawan, pergelangan kakinya tertangkap dan terkunci oleh jurus Gagak Seta. Dengan mudah Gagak Seta menyusulkan sebuah sapuan, membuat lawan terhuyung jatuh ke atas tanah.
Dengan sekali putar, Gagak Seta membalikkan tubuh lawan, menginjak punggungnya, sementara satu kaki lawan masih terkunci erat oleh lima jarinya yang dengan kokoh menancap di pergelangan kaki lawan.
“Cukup!”, tiba-tibat terdengar suara bentakan dari arah bangunan yang terjaga ketat itu.
Gagak Seta, tiga prajurit yang menjadi lawan-nya, dan prajurit-prajurit lain yang menonton pertarungan mereka, menoleh ke arah suara tersebut berasal.
Senapati Glagah Wiru berdiri dengan mata menyala-nyala, di belakangnya terlihat beberapa orang bekel dan lurah. Salah satunya adalah Ki Lurah Basuki yang memberikan tugas pada Gagak Seta untuk mengantarkan surat ke Kadipaten Serayu.
Melihat Senapati Glagah Wiru dan Ki Lurah Basuki, Gagak Seta pun bernafas lega, cepat dia melepaskan prajurit yang tertangkap olehnya.
Kemudian dengan hormat dan sigap dia berjalan ke depan menyampaikan gulungan lontar di tangannya, “Hormat pada Ki Senapati, hamba membawa pesan dari Kadipaten Serayu, sesuai dengan tugas yang diembankan Ki Lurah Basuki.”
Senapati Glagah Wiru menoleh ke Ki Lurah Basuki yang ada di sampingnya dan Ki Lurah Basuki menganggukkan kepala, membenarkan keterangan Gagak Seta tersebut.
Senapati Glagah Wiru pun memberi tanda pada Ki Lurah Basuki, “Ambil.”
Bergegas Ki Lurah Basuki mengambil gulungan lontar yang diajukan Gagak Seta.
Ketika Ki Lurah Basuki sudah kembali di sisi Senapati Glagah Wiru, semua orang pun masih berdiri diam, menunggu perintah Senapati Glagah Wiru yang selanjutnya. Dengan mata masih menyala-nyala, Senapati Glagah Wiru memandang ke sekelilingnya. Ketika tatapan matanya jatuh kepada tiga orang prajurit yang menghadang Gagak Seta, ketiga prajurit itu pun tertunduk takut.
“Jelaskan.”, ujar Senapati Glagah Wiru singkat.
Dengan terbata-bata seorang dari tiga prajurit itu menjelaskan. Meski dia tidak berani berbohong di depan Senapati Glagah Wiru, tapi sedikit banyak penjelasannya lebih menekankan kesalahan pada Gagak Seta. Wajah Gagak Seta dan prajurit-prajurit yang baru saja diterima menjadi pasukan Adipati Jalak Kenikir terlihat masam.
Senapati Glagah Wiru mengerutkan alis, bukan hanya pandangan matanya yang tajam, sebagai seorang senapati yang pilih tanding, ke empat orang senapati andalan Adipati Jalan Kenikir, semuanya terlatih ilmu kanuragan dan ilmu batinnya.
Senapati Glagah Wiru bisa merasakan garis yang memisahkan prajurit yang lama dan prajurit yang baru. Para lurah dan bekel pun, diam-diam sudah sering menyampaikan situasi ini pada para senapati.
Setelah selesai prajurit itu menyampaikan cerita dari sisinya, Senapati Glagah Wiru tampak berpikir sejenak. Kemudian dia mengalihkan pandangan ke arah Gagak Seta yang menunggu dengan hormat. Memang terlihat rasa kesal di wajahnya, namun pemuda itu dengan sabar menjaga mulutnya dan tidak melontarkan sanggahan.
Ketika dari gerombolan prajurit-prajurit yang menonton, terdengar bisik-bisik ketidak puasan, Gagak Seta yang menjadi korban justru memilih diam.
'Hmm... bukan hanya memiliki ilmu kanuragan yang cukup tangguh, pengendalian dirinya pun cukup baik. Jauh lebih baik daripada pendekar-pendekar dan pengelana yang lain.', pikir Senapati Glagah Wiru dalam hatinya.
Ketika pandangan matanya melihat prajurit-prajurit lama, Senapati Glagah Wiru bisa merasakan ketidak sukaan dan kecemburuan mereka pada prajurit-prajurit yang baru bergabung. Ada sikap merendahkan dan kecurigaan dalam pandangan mata mereka. Adipati Jalak Kenikir memang terlalu bernafsu saat berusaha mengembangkan kekuatan militer Kadipaten Jambangan, tapi itu bukannya tanpa alasan.
Akhirnya Senapati Glagah Wiru pun mengambil keputusan, dengan pandangan mata yang tajam dia memadang ke arah Gagak Seta, “Hmm... melaksanakan tugas dengan baik, tapi melanggar disiplin militer dengan berkelahi sesama prajurit.Ki Lurah Basuki dia anak buahmu kan? Tangkap dia dan kurung di ruang pendisiplinan prajurit selama tiga hari sebagai hukuman!”
Tanpa banyak cakap Senapati Glagah Wiru berjalan kembali masuk ke dalam bangunan yang terjaga itu. Sementara keputusannya itu pun mengundang perbincangan dari antara prajurit yang masih menonton.
Para prajurit lama memandang ke arah Gagak Seta dan prajurit-prajurit yang baru dengan dada membusung dan wajah terangkat.
Suara Senapati Glagah Wiru memiliki perbawa tak kalah dengan bentakan Raden Rangga saat memimpin prajuritnya dalam pertempuran melawan begal-begal dari Gunung Awu.
Suara itu membawa perbawa yang menggetarkan hati mereka yang mendengarnya. Meski masih terdengar suara-suara tidak puas berbisik-bisik, tapi tak ada yang berani melangkah lebih dari itu. Kerumunan itu pun bubar menuju ke tempat mereka bertugas masing-masing. Sementara Ki Lurah Basuki bersama beberapa orang prajurit, mengawal Gagak Seta menuju ke tempat prajurit-prajurit yang melanggar disiplin dikurung.
Sambil menggirin Gagak Seta ke tempat dia akan menjalani hukuman, Ki Lurah Basuki berusaha menenangkan pemuda itu, “Gagak Seta, kau jangan berkecil hati. Bukankah Ki Senapati tidak menjatuhkan hukuman badan? Hanya hukuman kurungan saja. Jadi menurutku yang sudah mengenal baik sifat Ki Senapati, beliau punya kesan yang baik terhadapmu.”
“Terima kasih Ki Lurah, aku juga tidak merasa keberatan dengan hukuman ini. Memang nyatanya aku sudah melanggar disiplin keprajuritan dengan berkelahi melawan rekan sesama prajurit.”, jawab Gagak Seta dengan rendah hati.
Prajurit yang menyertai Ki Lurah Basuki mendengus merendahkan. Ki Lurah Basuki menghela nafas, tapi saat dia melihat Gagak Seta tidak terpengaruh, Ki Lurah Basuki pun makin merasa kagum pada ketenangan pemuda itu. Tak lama mereka berjalan, mereka pun sampai ke sebuah bangunan kokoh yang terlihat suram, hanya ada satu pintu dan tidak ada jendela sama sekali.
Di depan pintu terlihat dua orang penjaga. Tanpa banyak cakap, mereka membuka pintu untuk Ki Lurah Basuki.
Di dalam bangunan itu, terlihat berderet ruang-ruang kecil yang tertutup rapat. Hanya ada dua lubang angin yang kecil saja di atas pintu, dan satu lubang kecil di bagian bawah pintu.
Saat akan menutup pintu, Ki Lurah Basuki berpesan, “Kau sabarlah, tiga hari mungkin terasa lama, tapi aku yakin kau bisa melaluinya.”
“Jangan kuatir Ki.”, jawab Gagak Seta sambil tersenyum.
Ki Lurah Basuki ingin mengatakan sesuatu yang bisa menguatkan Gagak Seta, tapi setelah berpikir beberapa saat, dia tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat. Akhirnya dia hanya menganggukkan kepala, sebelum menutup pintu dan meninggalkan Gagak Seta dalam ruangan yang kecil dan gelap itu.
Gagak Seta berdiri dalam kegelapan, terdengar suara pintu yang berat tertutup dengan keras, disusul suara palang pintu dipasang.
Ruangan itu kecil, bau lembab bercampur samar-samar bau bekas kotoran manusia. Lantai ruangan itu hanya berupa tanah yang dipadatkan. Dengan lubang yang kecil saja, udara di dalam ruangan itu terasa pengap.
Gagak Seta menghela nafas panjang dan berdiri diam untuk beberapa lama. Setelah menunggu beberapa saat, matanya mulai bisa melihat bentuk ruangan tersebut. Ruangan itu benar-benar kosong, ukurannya hanya 4 x 3 langkah. Perlahan-lahan Gagak Seta berjalan dan memilih lokasi yang paling kering dan rata.
Dengan tenang pemuda itu pun duduk bersila dan mulai menutup mata.
Tiga hari waktu yang cukup panjang dan sejak Senapati Glagah Wiru memberikan keputusan, dia sudah tahu apa yang akan dia lakukan selama tiga hari itu.
Saat dia diangkat menjadi prajurit telik sandi, ada tiga gulungan lontar berisi ilmu yang diberikan padanya. Selama beberapa hari pertama, Gagak Seta sudah selesai membaca dan menghafalkan isi dari ketiga gulungan lontar itu.
Gulungan lontar pertama berisi ilmu meringankan tubuh, gulungan kedua berisi ilmu tombak pendek dan gulungan ketiga berisi ilmu cengkeraman tangan. Dari tiga ilmu itu, Gagak Seta hanya bisa meraba kulit luarnya saja.
Dengan tugas yang ada di tangan, Gagak Seta tak bisa menemukan waktu untuk menekuni satu pun dari ilmu itu.
Waktu tiga hari bisa terasa panjang, tapi bagi Gagak Seta, waktu tiga hari justru terasa kurang panjang, karena dia memiliki satu tujuan yang ingin dia capai. Meskipun tiga ilmu yang tertera di gulungan lontar itu hanya merangkum tingkatan-tingkatan dasarnya saja, tapi untuk menekuni sungguh-sungguh dan menamatkan ketiga ilmu itu Gagak Seta merasa dia akan butuh waktu yang cukup panjang, bahkan mungkin satu atua dua tahun, sebelum dia bisa benar-benar menguasainya dengan sempurna.
Karena itu Gagak Seta mengambil keputusan untuk menekuni salah satu saja dari tiga ilmu yang sudah dia hafalkan saat ini.
Dari tiga ilmu itu, Gagak Seta akhirnya memutuskan untuk mempelajari jurus-jurus cengkeraman tangan. Dia merasa ada kecocokan antara ilmu itu dengan dirinya. Ilmu ini melatih kecepatan gerak tubuh dan pemanfaatan ruang dalam pertarungan. Dalam hal serangan, ilmu ini menitik beratkan serangan dengan menggunakan seluruh bagian tangan siku, jari, telapak dan tinju. Selain berisi penjelasan mengenai gerak badan dan serangan. Dalam gulungan lontar itu juga dijelaskan tehnik-tehnik untuk menguatkan lengan, siku, telapak tangan dan jari-jari.
Tidak ada jalan singkat untuk mencapai kekuatan, hanya dengan latihan bertahun-tahun secara tekun dia bisa menyempurnakan kekuatan lengan, telapak dan jari tangan.
Namun sejak dia membaca gulungan lontar itu, Gagak Seta sudah mulai melatih lengan, telapak tangan dan jari-jarinya sesuai dengan tehnik yang diajarkan dalam gulungan lontar. Dia pun sudah merasakan perubahan pada bagian yang dia latih, meskipun masih jauh dari gambaran yang diberikan dalam gulungan lontar itu.
Waktu yang tiga hari ini, sudah dia putuskan untuk mematangkan jurus serangan pertama dari Sembilan Cakar Garuda. Satu jurus saja memiliki penjelasan yang cukup panjang, mengenai kembangan dan penggunaannya, menyesuaikan situasi dan lawan.
Dalam gelap dan kesunyian itu, mulailah Gagak Seta dengan sabar berusaha memahami penjelasan yang sudah dia hafalkan.
Sesekali dia akan berdiri dan mulai bergerak sesuai apa yang dia pahami.
Ketika dia sudah mulai lelah, dia akan kembali duduk bersila, mengatur nafas sambil merenungkan jurus pertama dari Sembilan Cakar Garuda itu.