Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab LXIV Adipati Sembiring



Untuk sejenak Rangga diam tak menjawab. Matanya dengan tekun membaca laporan dari medan perang. Sudah hampir empat puluh hari, terjadi pertempuran kecil-kecilan di wilayah terluar garis pertahanan mereka.


Menurut laporan pasukan telik sandi, yang menyerang bukan hanya berasal dari tiga kadipaten yang dengan jelas-jelas menyatakan permusuhan, tapi juga dari dua kadipaten yang bersikap lebih lunak. Kabar baiknya, hingga saat ini, belum ada gerakan dengan gelar perang terbuka yang besar, yang menggabungkan kekuatan dari lima kadipaten.


Setelah membaca laporan itu, Rangga menengok ke arah pengikutnya. Pandangannya terhenti pada Ki Bharata dan kawan-kawannya.


“Paman Bharata, bagaimana dengan usaha kita untuk membuka percakapan dengan lima kadipaten di pesisir selatan ini?” tanya Rangga.


Ki Bharata mengerutkan kening dan menghela nafas, “Maafkan aku raden, untuk bertemu pun Adipati Sembiringpun hamba belum berhasil.”


Ketika pandangan Rangga beralih ke Ki Waluyo dan Ki Tanumerta, terlihat keduanya menggelengkan kepala dengan malu. Rangga pun tak jadi bertanya.


Pandangannya beralih ke Ki Badrawi dan Ki Suroto.


Ki Badrawi terlihat ragu untuk menjawab, dia memandang ke arah Ki Suroto sebelum kemudian menundukkan pandangannya ke tanah.


Ki Suroto memberanikan diri untuk menjawab, “Saya dan Ki Badrawi berhasil menemui Adipati Suro Bledug dan Adipati Bajing Kuning, hanya saja belum ada jawaban yang menggembirakan.”


Rangga terdiam sejenak, lalu berkata, “Sepertinya aku harus menemui Adipati Sembiring sebagai pihak yang terkuat di daerah ini. Kalau perlu, kita menyatakan takluk di bawah kekuasaannya dan membayarkan upeti setiap tahun sebagai ganti ijinnya untuk menetap di daerah ini.”


Sikap Rangga yang tiba-tiba melemah ini membuat mereka yang hadir di pertemuan itu terkejut. Sebelum mereka sempat mengemukakan keberatan mereka, Rangga sudah membuka mulut untuk menjelaskan.


“Seperti yang sudah diutarakan oleh Paman Bharata, keadaan saat ini tidak menguntungkan bagi kita. Tekanan-tekanan tak langsung dari luar batas wilayah kita, akan terasa makin berat dengan berjalannya waktu. Mereka tidak perlu khawatir masalah perbekalan dan semangat pasukan.” ujar Rangga.


“Ucapan Raden Rangga benar, jauh lebih baik bagi kita, jika yang terjadi adalah gelar perang terbuka.”, sahut Tumenggung Widyaguna.


Ki Badrawi dan Ki Suroto diam-diam saling pandang, perkembangan ini di luar dugaan mereka. Ki Badrawi memberi kode dengan gerakan kepalanya pada Ki Suroto.


Buru-buru Ki Suroto menyela pembicaraan, “Maafkan saya Den, tapi menurut hemat saya, kita jangan dulu menyerah. Sudah begitu banyak pengorbanan kita untuk mewujudkan berdirinya kota ini. Kami, saya dan Ki Badrawi sudah hampir berhasil. Saya harap Raden Rangga bersedia menunggu, beri kami waktu untuk meyakinkan Adipati Surobledug dan Adipati Bajing Kuning.”


“Benar, Den, beri kami waktu lagi. Kami sudah hampir berhasil.”, Ki Badrawi buru-buru menambahkan.


Selintas Rangga bertukar pandang dengan Tumenggung Widyaguna, sementara yang lain menunggu-nunggu jawaban Rangga. Terutama Ki Suroto dan Ki Badrawi, mereka terlihat cemas menunggu jawaban Rangga.


“Kita tidak bisa menunggu terlalu lama, korban sudah mulai berjatuhan.” kata Rangga menatap kedua orang itu dengan pandangan mata yang tajam.


Ki Badrawi dan Ki Suroto terdiam berpikir, dan akhirnya Ki Suroto menjawab Rangga, “Beri kami waktu dua minggu lagi Den.”


Mereka menatap Rangga penuh harap.


Rangga terdiam cukup lama kali ini. Tidak ada yang berani mengganggu dia berpikir. Termasuk Tumenggung Widyaguna sebagai pengikut yang paling dekat dengan Rangga. Keputusannya bisa menentukan nasib belasan ribu orang.


“Aku beri kalian waktu satu bulan.” Rangga memberikan keputusan.


“Satu bulan?”, Ki Badrawi tak tahan berseru.


“Ya, satu bulan. Aku yakin pasukan kita masih bisa bertahan selama sebulan, demikian pula rakyat yang bekerja. Di lain pihak, menyadari sulitnya tugas kalian, waktu yang dua minggu itu terlalu singkat.” jawab Rangga.


Ki Badrawi dan Ki Suroto menerima keputusan itu dengan hati gembira, mereka tak sadar Tumenggung Widyaguna dan Rangga diam-diam mengamati gerak-gerik mereka berdua.


Ketika pertemuan itu berakhir, Rangga menahan Ki Bharata yang hendak beranjak pergi, “Paman Bharata, ada beberapa hal yang masih ingin aku diskusikan dengan paman.”


Ki Bharata mengangguk dengan hati berat, terbayang masalah tugasnya yang tak kunjung memberikan hasil.


Ketika sudah tinggal mereka bertiga, Rangga, Tumenggung Widyaguna, dan Ki Bharata, Rangga tidak berbasa-basi lagi.


“Paman Bharata, pasukan telik sandi kita, menemukan banyak bukti dan kecurigaan atas diri Ki Suroto dan Ki Badrawi.”, ujar Rangga dengan tegas.


“Hampir bisa dipastikan, kedua orang itu diam-diam berusaha menjalin kerja sama dengan Adipati Surobledug dan Adipati Bajing Kuning, untuk kepentingan mereka sendiri.” lanjut Rangga.


Wajah Ki Bharata pun berubah pucat mendengar kata-kata Rangga itu, “Ah... mereka... Raden, raden harus percaya, hamba tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.”


Perlahan detak jantung Ki Bharata kembali normal, perlahan dia mencerna informasi yang baru disampaikan Rangga, “Benar... pengkhianatan mereka secara tidak langsung justru menguntungkan kita.”


“Hmm... sekarang dinamikanya berubah, bukan kita melawan lima kadipaten, tapi ada tiga pihak yang saling mencari kesempatan saat ini, tapi bukan berarti keadaan kita sudah aman. Masih tergantung bagaimana Adipati Sembiring serta dua orang adipati yang lain menanggapi sikap dan gelagat yang ditunjukkan oleh dua adipati yang lain.” ujar Tumenggung Widyaguna.


“Di antara tiga kekuatan itu, kita masih yang terlemah.” kata Rangga meneruskan.


Pandang mata Ki Bharata yang sempat bersemangat kembali meredup mendengar perkataan Rangga itu.


Rangga menepuk bahu orang tua itu dan berkata, “Jangan takut, kesempatan akan terbuka, yang penting saat ini, Paman Bharata harus menemukan cara agar Adipati Sembiring bersedia menemui paman. Pertama-tama dia harus menyadari bahwa dua orang dari sekutunya memiliki rencana yang mereka rahasiakan dari dirinya. Bagaimana nanti kita memanfaatkan situasi ini, tergantung dari sikapnya setelah itu.”


Ki Bharata mengangkat wajahnya, pundaknya terasa berat oleh tanggung jawab, sambil menggertakkan rahang dia menjawab. “Siap raden, bagaimanapun caranya hamba akan membuat Adipati Sembiring bersedia menemui hamba.”


“Aku beri kau waktu 1 minggu, jika belum juga berhasil, aku sendiri yang akan pergi untuk menemuinya.”, ujar Rangga setelah menganggukkan kepala menerima janji dari Ki Bharata.


“Satu minggu...?” untuk sesaat Ki Bharata terpekur, tapi kemudian mengumpulkan semangatnya dan menjawab, “Siap raden!”


Hari itu Ki Bharata pulang ke rumah kediamannya dengan langkah-langkah yang berat.


Senyumnya terkembang dipaksakan, saat Ni Sundari, puteri kesayangannya menyambutnya di ruang tengah, sambil membawa wedang jahe kesukaannya.


“Bagaimana kabarmu nduk?” tanya Ki Bharata setelah menyeruput wedang jahe hangat itu.


Dadanya terasa sedikit longgar, ketika cairan yang manis dan pedas itu mengaliri tenggorokannya dan menyebarkan kehangatan di dadanya.


“Baik ayah, omong-omong hari ini ada kabar yang menggembirakan. Prajurit-prajurit kita berhasil menerobos barisan lawan dan membawa perbekalan tambahan dari luar.” Jawab Ni Sundari, sambil tak lupa menambahkan wedang jahe ke cangkir ayahnya yang sudah mulai kosong.


“Hmm... hmm... bagus...” Jawab Ki Bharata sambil merenungi wedang jahenya.


“Sepertinya ayah memiliki beban yang berat, apakah Raden Rangga marah pada ayah?” tanya Ni Sundari hati-hati.


“Tidak, sama sekali tidak.” Ki Bharata dengan cepat menjawab.


Ni Sundari diam membiarkan ayahnya yang terdiam merenungi cangkir di tangannya.


Setelah terdiam beberapa saat, Ki Bharata melanjutkan, “Hanya saja, hari ini aku disadarkan pada betapa pentingnya tugas yang sedang aku emban ini. Di saat yang sama, pikiranku sudah buntu, tak habis pikir lagi, dengan cara apa aku bisa membuat Adipati Sembiring bersedia menemuiku.”


Ni Sundari mengerutkan alis dan berkata, “Dari apa yang kudengar, Adipati Sembiring sangat kaku memegang perbedaan antar kasta. Terutama pandangannya pada keluarga dengan latar belakang pedagang seperti kita. Meski Raden Rangga sudah mengangkat ayah sebagai salah satu orang kepercayaannya, tak mudah membuat Adipati Sembiring menerima ayah sebagai lawan bicara yang sederajat.”


“Benar, ayah tidak menduga ada seorang adipati yang sedemikian keras kepala dan memandang rendah kaum pedagang. Tak bisa dibayangkan, bagaimana selama ini dia bisa menjalankan kadipatennya dengan sikap seperti itu.” keluh Ki Bharata.


Ni Sundari meremas lengan ayahnya, “Ayah harus lebih bersemangat. Menurut pemikiranku, Adipati Sembiring tentunya tak sekeras kepala itu. Jangan-jangan...”


Alisnya yang lentik berkerut, “...bisa jadi justru karena ayah menjadi utusan Raden Rangga, sehingga dia lebih keras kepala.”


Ki Bharata mendesah, “Itu yang ayah khawatirkan... Raden Rangga sendiri menyampaikan, bila dalam waktu satu minggu, ayah belum juga berhasil menemui Adipati Sembiring, maka dia sendiri yang akan pergi untuk menemui Adipati Sembiring.”


Ni Sundari menatap ayahnya dengan pandangan menyelidik, sesaat kemudian matanya berkilat, “Ah! Menurut ayah, itu kah yang diinginkan Adipati Sembiring?”


Ki Bharata mengangguk lesu, “Itu yang ayah khawatirkan. Sebagai pewaris sah Kerajaan Watu Galuh, kedudukan Raden Rangga lebih tinggi dari para adipati. Akan memalukan jika Raden Rangga harus datang untuk memohon bantuan, belum lagi kita tidak tahu bagaimana Adipati Sembiring akan memperlakukan dia.”


“Mungkin bukan hanya ingin mempermalukan, tapi Adipati Sembiring takut pada kharisma Raden Rangga. Kisah kemenangan Raden Rangga pada perang-perang sebelumnya sudah tersiar. Dengan memaksa Raden Rangga datang, Adipati Sembiring ingin mengirimkan pesan pada orang-orang.” ujar Ni Sundari perlahan.


“Ayah rasa kamu ada benarnya nduk, Adipati Sembiring sendiri terbukti tidak berani menggelar perang terbuka hingga hari ini, hanya serangan-serangan gelap yang dilancarkan terus menerus. Tidak mungkin menyingkirkan kita dari sini dengan serangan-serangan itu, tapi menjadi tekanan pada moral rakyat yang mengikuti Raden Rangga. Jika sampai Raden Rangga kemudian datang secara pribadi, bukan tidak mungkin Adipati Sembiring akan menggunakannya untuk menciptakan cerita yang bisa menjatuhkan reputasi Raden Rangga.” balas Ki Bharata melanjutkan.


Kedua ayah dan anak itu terdiam cukup lama. Sama-sama tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Keheningan itu pecah ketika tiba-tiba Ni Sundari berseru.


“Ayah! Aku kira aku bisa membuat Adipati Sembiring menemui ayah.”