Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab III. Rangga vs Ki Ageng Aras



Tanah terasa terguncang dan pasir-pasir berhamburan, saat sepasang kaki Ki Ageng Aras menjejak tanah, berkelebat menghadang Raden Rangga yang berusaha melewati dirinya. Jika gerakan Ki Ageng Aras tak ubahnya seekor harimau yang perkasa, maka gerakan Rangga lebih mirip gerakan seekor monyet yang lincah.


Tiap kali Ki Ageng Aras berkelebat mengejar, tentu hentakan kakinya menghamburkan debu tanah yang dipijak. Demikian pula, pukulan dan tendangan Ki Ageng Aras, setiap serangan selalu membawa suara angin berkesiuran.


Sementara itu Rangga berlompatan dengan lincah dalam menghadapi serangan-serangan Ki Ageng Aras. Terkadang selama beberapa gebrakan, kakinya bahkan sama sekali tak menapak tanah. Menggunakan momentum dari benturan antara dirinya dan Ki Ageng Aras, Rangga mampu bergerak dari satu posisi ke posisi lain.


Mereka sama lincahnya, tapi sudah sekian lama mereka berkelahi, belum satu kalipun Rangga balik menyerang.


Bukan berarti Ki Ageng Aras merasa dirinya di atas angin, justru sebaliknya pendekar tua itu merasa dipermainkan. Diam-diam di antara serangan-serangannya, secara sembunyi-sembunyi Ki Ageng Aras menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya sambil merapal mantra dalam hati.


Setiap kali dia selesai merapal mantra, seulas warna kemerahan menyapu telapak tangan Ki Ageng Aras, dan hawa panas memancar keluar.


Sedikit demi sedikit, hawa panas semakin kuat memancar dari kedua telapak tangan Ki Ageng Aras. Sampai akhirnya seluruh lengannya dari siku sampai ujung jari merah membara.


Warna langit sudah mulai berubah kemerahan. Permukaan tanah di sekitar gapura Kademangan Jati Asih berlubang-lubang, porak poranda oleh gempuran Ki Ageng Aras. Hawa udara pagi yang harusnya dingin, terasa panas dan kering. Samar-samar tercium juga bau seperti daging terbakar.


Lengan baju Rangga, terlihat robek dan hangus di beberapa tempat. Serangan Ki Ageng Aras memang tidak ada yang telak mampir ke tubuhnya. Namun setiap kali dia terpaksa menangkis pukulan Ki Ageng Aras, lengannya yang bersentuhan dengan lengan Ki Ageng Aras terasa seperti tersengat besi panas.


Keringat sudah membasahi tubuh kedua pendekar itu, nafas mereka pun mulai memburu. Ki Ageng Aras yang berumur lebih lanjut, mulai kesulitan untuk mempertahankan kegarangannya, serangannya tak lagi sederas tadi. Tentu saja Rangga tidak mengijinkan pendekar tua itu mengambil nafas, ketika serangan Ki Ageng Aras mengendur, Rangga mulai nelancarkan serangan.


Tidak mudah bagi Rangga untuk mendaratkan serangan, karena dia harus berhati-hati dengan kedua lengan Ki Ageng Aras yang membara.


Namun Rangga tak kurang akal, serangannya berganti-ganti sasaran, terkadang mengarah ke bagian atas, dan seringkali pula mengarah ke kuda-kuda Ki Ageng Aras.


Seperti umumnya pendekar, otot-otot kaki Ki Ageng Aras pun liat seperti akar pepohonan, sementara tulangnya keras seperti batu karang. Meski demikian, tulang kaki Rangga pun tak kalah kerasnya. Jika di awal-awal pertarungan hampir-hampir tak terdengar suara benturan, saat ini tiap beberapa kali tarikan nafas, terdengar ledakan-ledakan kecil, akibat benturan antara kaki Rangga dengan kaki Ki Ageng Aras.


Setapak demi setapak, Ki Ageng Aras yang mulai terdorong mundur. Tulang keringnya terasa pedih dihajar tendangan Rangga. Kuda-kudanya mulai goyah.


Ki Ageng Aras yang tahu Rangga tak ingin membentur lengannya yang berbalutkan Ajian Gumbala Geni, tak lagi membiarkan kakinya beradu dengan kaki Rangga. Pendekar tua itu merendahkan kuda-kudanya dan mengadu tendangan Rangga dengan kedua lengannya yang memancarkan sinar kemerahan.


Jika sebelumnya Rangga menghindari lengan Ki Ageng Aras, kali ini pemuda itu memilih menahan pedihnya sengatan lengan Ki Ageng Aras, daripada menarik kembali serangannya.


Ki Ageng Aras pun dipaksa bertarung dengan kuda-kuda yang sangat rendah, sementara serangan Rangga datang dari berbagai arah dan memaksa pendekar tua itu untuk terus berpindah-pindah dengan posisi tubuh seperti itu.


Dalam satu kesempatan, kaki Ki Ageng Aras menginjak tanah yang berlubang, dan pendekar tua itu kehilangan keseimbangannya.


Tenaganya sudah jauh berkurang, saat dia kehilangan pijakan, kakinya pun tak kuat menahan gerak luncur tubuhnya. Ki Ageng Aras pun jatuh terduduk. Rangga tak menyia-nyiakan kesempatan, kaki-nya meluncur dengan deras menghantam pelipis Ki Ageng Aras.


Tubuh pendekar tua itu pun terpelanting berputaran.


Serangan-serangan Rangga tak juga berhenti menyambar setiap ruang yang terbuka dari pertahanan Ki Ageng Aras. Satu-dua kali Ki Ageng Aras mampu menangkis serangan Rangga, namun kedudukannya sudah tak lagi mantap.


Hantaman kaki Rangga membuat kepalanya terasa pening dan pandangan matanya nanar. Serangan-serangan Rangga tak mampu sepenuhnya dia ikuti. Semakin lama, semakin banyak serangan Rangga yang menghajar tubuh tua Ki Ageng Aras. Namun pendekar tua itu belum juga menyerah. Ki Ageng Aras bukan anak kemarin sore yang menangis dan berlari pulang hanya karena sedikit hajaran.


Sampai ketika sebuah pukulan Rangga menghajar tepat di ulu hatinya. Tanpa bisa ditahan, Ki Ageng Aras pun jatuh berlutut. Untuk beberapa saat, nafasnya terhenti dan Ki Ageng Aras harus berjuang untuk menguasai tubuhnya.


Kali ini Rangga berdiri menunggu, sambil mengatur nafasnya yang memburu.


Cukup lama Ki Ageng Aras terdiam dan mengatur nafas, menormalkan kembali fungsi kerja tubuhnya. Kedua pendekar itu sadar, dalam kondisinya saat ini, Ki Ageng Aras tidak akan mampu melawan sama sekali.


Ki Ageng Aras sudah siap menerima kematian, pasrah pada keadaan. Namun setelah beberapa tarikan nafas, Rangga tidak juga melancarkan serangan, pendekar tua itu pun tahu dia sudah lolos dari lubang kematian.


Atau lebih tepatnya, sejak awal memang tidak ada keinginan Rangga untuk merenggut nyawanya.


Ki Ageng Aras tidak menunggu sampai keadaan tubuhnya pulih benar. Saat dia merasa sepersepuluh tenaganya sudah kembali, pendekar tua itu pun membuka mata dan berdiri menegakkan badan. Meski kalah di bawah tangan lawan yang lebih muda, Ki Ageng Aras tak kemudian kehilangan kejantanannya. Matanya masih menyala dan suaranya masih terdengar tegas.


“Namun harap Raden Rangga jangan salah mengerti, tak mampu bukan berarti Ki Ageng Aras akan jadi orang yang melupakan tugas dan sumpahnya. Selama Raden Rangga masih berada di luar Kademangan Jati Asih, tentu aku yang tua ini akan terus berusaha mengejar dan menghadang setiap gerak-gerik raden.” ucap pendekar tua itu dengan gagah.


Rangga tersenyum dan menjawab, “Tentu saja, tapi kali ini, mau tak mau Ki Ageng Aras harus menunggu tiga-empat hari sebelum mengejarku lagi.”


Ki Ageng Aras tersenyum kecut, kenyataan memang tak selalu sejalan dengan niatan hati. Rangga yang berdiri di depannya sudah bernafas dengan normal. Meski pakaiannya masih basah oleh keringat, namun tenaganya sudah pulih kembali.


Sebaliknya Ki Ageng Aras harus mengakui, jangankan berlari cepat mengejar Rangga. Untuk berlari kecil-kecil saja saat ini dia sudah tak mampu, dan kira-kira besok pagi, sekujur badannya akan mengerang kesakitan setelah otot-ototnya dipaksa mengerahkan tenaga berlebihan.


Ki Ageng Aras pun akhirnya terpaksa menerima kenyataan itu, “Jika sampai seminggu Raden Rangga belum kembali ke rumah. Aku pasti akan mencari raden sampai ketemu.”


Rangga menganggukkan kepala, “Kuharap semua urusanku akan selesai kurang dari seminggu.”


Ki Ageng Aras menengok melihat langit yang sudah bertambah terang, sebentar lagi orang akan mulai lalu lalang, melewati tempat itu.


“Kau pergilah sekarang. Semoga Sang Hyang Esa menyertaimu.”, ujar Ki Ageng Aras.


“Semoga ki, semoga...”, Rangga menjawab dengan hikmat, sebelum berbalik pergi dan dalam hitungan yang tak sampai sepeminuman teh, sudah menghilang dari pandangan mata Ki Ageng Aras.


Ki Ageng Aras masih berdiri di tempat itu untuk beberapa waktu lamanya. Kemudian sambil tertatih-tatih dia berjalan menuju ke tempat dia bernaung, mengawasi perbatasan Kademangan Jati Asih, selama ini.


Sembari dia berjalan, terngianglah kembali titah Prabu Anglang Bhuanna ketika itu.


“Ki Ageng Aras, aku memberi tugas padamu. Sepanjang kau masih hidup, kau harus menjaga Rangga. Jangan biarkan dia selangkah pun meninggalkan Kademangan Jati Asih.”


“Bila kelak anak itu sudah beranjak dewasa dan hendak meninggalkan Kademangan Jati Asih, maka tugasmu untuk menghentikan dia. Jika tak bisa dengan kata-kata, hentikan dengan kekuatan. Jika kau tak bisa menghentikannya, maka ikuti dia ke mana pun dia pergi, jangan pernah lepaskan dia dari pengawasanmu.”


“Akan tetapi sebaliknya, bila ada orang yang datang memasuki Kademangan Jati Asih dengan niatan buruk, maka tugasmu pula untuk menghentikan orang tersebut.”


Langkah kaki Ki Ageng Aras pun terhenti, tiba-tiba seakan-akan ada secercah cahaya yang melintasi benaknya.


'Apakah aku salah memahami titah Gusti Prabu?', tanya Ki Ageng Aras dalam hati.


Ki Ageng Aras memandangi ujung jalan, tempat di mana sosok Rangga menghilang dari pandangan mata. Jantung-nya mulai berdebar-debar.


'Apakah aku salah memahami titah Gusti Prabu?', sekali lagi Ki Ageng Aras bertanya dalam hati.


Untuk sejenak, pendekar tua itu ingin berlari menyusul Rangga. Namun dadanya yang terasa nyeri setiap kali dia menarik nafas menyadarkan dia.


Sambil menggertakkan rahangnya dan tangan terkepal kuat, pendekar tua itu mendesis, “Satu minggu lagi... satu minggu lagi Rangga. Jika kau belum juga pulang dalam waktu satu minggu itu, sampai ke ujung dunia pun aku akan mengejarmu.”


-------


Sementara Ki Ageng Aras bergumul dengan pikiran dan kenangannya sendiri, Rangga sudah jauh meninggalkan Kademangan Jati Asih. Sengaja dia memilih untuk memotong jalan, meski harus melewati daerah-daerah yang tak dihuni manusia.


Waktunya tak banyak, pada Ki Ageng Aras dia berjanji akan kembali dalam waktu satu minggu. Dengan berkuda saja, tak cukup waktu empat hari untuk menempuh jarak dari Kademangan Jati Asih ke ibu kota Kerajaan Watu Galuh. Namun Ki Ageng Aras bisa mengira-ngira ilmu apa saja yang ada dalam diri Rangga. Bagaimana pun juga ayahnya adalah seorang raja yang terkenal akan kesaktiannya di medan perang.


Seharian Rangga terus berlari. Beberapa kademangan sudah dia lampaui, ketika malam tiba, dan di depannya kali ini menanti hutan yang lebat.


Rangga tidak sedikitpun mengurangi kecepatannya berlari. Dalam hitungan detik, dia sudah memasuki hutan yang lebat itu. Tiba-tiba ketika dia melewati sebuah pohon beringin besar, satu sosok hitam menyambar dari puncak pohon. Sepasang tangan dengan sepuluh jari terbuka lebar siap mencengkeram pundak Rangga.


Ibukota kerajaan masih beberapa hari jauhnya. Masih ada banyak hutan dan wilayah-wilayah angker yang harus Rangga lewati. Mampukah dia menepati janjinya pada Ki Ageng Aras?