
Jauh sebelum Prabu Jannapati dan para adipati yang menjadi lawannya melihat kepulan asap dari terbakarnya perbekalan Kerajaan Watu Galuh, Rangga dan para pimpinan yang lain sudah mendapat kabar lebih dahulu.
Senapati Branjangan yang berlari cepat, menyampaikan berita.
“Sebentar lagi, kira-kira sepenanakan nasi lagi, rombongan perbekalan itu mungkin sudah sampai.”, ujar Senapati Branjangan melapor pada Raden Rangga.
Raden Rangga mengangguk, “Bagus, paman sekarang ingin beristirahat dulu? Atau bergabung dengan kita untuk bertempur?”
“Tentu saja bertempur Raden.”, jawab Senapati Branjangan cepat.
Raden Rangga tersenyum, “Kalau begitu, paman ikut jadi senapati pengiringku.”
“Siap raden”, jawab Senapati Branjangan.
Tidak membuang waktu lagi, Rangga menggerakkan kudanya maju ke depan barisan, dan berbalik menghadap ke arah pasukannya yang berbaris rapi. Sekilas barisan Senapati Lesmana tak kalah rapi, tapi jika mau melihat lebih teliti akan terlihat bedanya. Sikap disiplin dan semangat yang menyatu tergambar dengan jelas dari pasukan Raden Rangga.
“Pasukan! Bersiap!”, suara Rangga lantang terdengar, anak-anak muda yang menjadi prajurit dengan segera memasang telinga baik-baik.
“Dengar! Dalam beberapa kali pertempuran sebelumnya, kita beruntung tak banyak dari kita yang gugur...”, kata Rangga dengan suara yang jernih mencapai sudut-sudut yang terjauh dari pasukannya.
“Namun jangan pernah berpikir, ada perjuangan tanpa pengorbanan. Jangan pernah bermimpi kita akan mencapai cita-cita sebagai sebuah bangsa, tanpa ada darah yang tertumpah.”, seru Rangga dengan serius.
“Sekarang kalian lihat di depan kalian, ribuan prajurit yang menghadang jalan kita untuk mencapai masa depan yang lebih baik. Mereka berdiri, berbaris di sana dengan senjata di tangan, bukan karena kita menyerang mereka! Bukan karena kita mengancam kehidupan mereka! Bukan karena suatu perjuangan atau cita-cita! Mereka berdiri di sana dengan senjata di tangan, karena perintah tuannya! Karena kedegilan dan keserakahan tuan mereka!”, seru Rangga membakar emosi pasukannya.
Senapati Lesmana yang mendengar seruan Rangga pada prajurit-prajuritnya tak mau tinggal diam, dengan suara lantang dia berseru, “Jangan berbohong Rangga! Kau menggerakkan pasukanmu untuk menyerang Kadipaten Serayu! Rumah kami! Penduduk yang sekarang berlindung di belakang tembok kota akan menjadi korban kekerasan jika kami tidak menghentikan kau di sini!”
Raden Rangga berbalik menghadap ke arah Senapati Lesmana, tertawa dan menyahut, “Kalau begitu, kalian mundurlah ke dekat tembok kota, dan lihat bagaimana kami hanya akan berjalan melewati Kadipaten Serayu tanpa sedikitpun menyerang kalian!'
“Hah! Aku tak percaya pada kata-katamu!”, jawab Senapati Lesmana.
“Jadi bagaimana? Kau meminta kami diam di sini? Menunggu Prabu Jannapati membantai kami?”, tanya Rangga dengan nada mengejek.
Tanpa menunggu Senapati Lesmana menjawab, Rangga berbalik kembali menghadap ke arah prajuritnya, “Kalian lihat, mereka tidak akan menyingkir, sementara masa depan kita ada di depan sana! Akan tetapi yang kita hadapi kali ini adalah pasukan yang utuh, bukan seperti gerombolan begal yang pernah kita hadapi sebelumnya.”
“Apa kalian merasa takut!?”, Rangga bertanya menantang pasukannya.
“TIDAK!”, jawab seluruh prajurit dengan serempak.
“Beberapa orang dari kita akan menderita luka, bahkan mungkin harus menyerahkan nyawa, menjadi tumbal bagi masa depan kita semua. Apa kalian takut!?”, tantang Rangga untuk kedua kalinya.
“TIDAK!”, jawab seluruh prajurit dengan bergemuruh.
“Bagus! Sekarang pasukan, bersiap! Pasukan perisai maju ke barisan depan!”, seru Rangga memberikan perintah.
“Pasukan panah! Berbaris di lapis kedua!”
“Pasukan bertombak! Lindungi sayap kanan dan kiri!”
Berturut-turut Rangga memberikan perintah. Tiap perintah juga dibarengi panji-panji yang menandakan kesatuan mana yang ditugaskan berkibar bergantian. Pasukannya bergerak dengan cepat, namun tidak membuat barisan mereka berantakan. Senapati Lesmana mengamati dari kejauhan, dalam hati dia menimbang-nimbang.
Mungkin ini kesempatan untuk mengirimkan serangan yang cepat, mencuri kesempatan ketika barisan Rangga belum tertata.
Senapati Lesmana ragu-ragu, dilihatnya pasukan Rangga bergerak dengan rapih, tak memberikan kesan mereka akan bubar berantakan jika diserang. Selain itu ada kesatuan-kesatuan Rangga di sayap barisan yang bisa bergerak bebas dan bisa menerima perintah setiap saat.
'Hmm... apa aku harus berbalik menjadi penyerang...', Senapati Lesmana tak bisa memutuskan.
Sebagai pasukan yang bertahan, memberi dia waktu dan kesempatan untuk memilih posisi yang terbaik di medan pertempuran. Jika Rangga ingin menerobos garis pertahanan mereka, dia harus mengorbankan pasukannya hanya untuk bergerak memasuki jarak serang.
Saat ini mungkin kesempatan yang baik untuk memberikan satu pukulan pada pasukan Rangga, tapi jika dia mengirim kesatuan yang tidak cukup kuat, tidak akan ada gunanya. Jika dia mengirimkan seluruh pasukan, maka dia harus meninggalkan posisi pertahanan yang sudah baik ini.
'Mereka bergerak sangat cepat...', Senapati Lesmana berseru dalam hati dengan perasaan terkejut.
Dalam waktu yang relatif sangat singkat, pasukan Rangga sudah berubah formasi sesuai dengan perintah-perintah yang diberikan. Inilah hasil latihan selama berbulan-bulan. Berulang-ulang melatih mereka bagaimana berbaris, bagaimana mengikuti instruksi dan sebagainya. Secara orang per orangan, mungkin prajurit Rangga tak sekuat prajurit yang dipimpin Senapati Lesmana.
Namun sebagai satu kesatuan, mereka bekerja dengan ketepatan, kecepatan dan kedisiplinan, yang jauh lebih baik.
“Pasukan! Serang!”, seru Rangga sambil berderap maju ke depan, sebagai pemimpin dia memilih memimpin di depan seluruh pasukan.
Seperti gelombang ombak, ribuan orang berbaris maju dengan serempak.
Rangga mengatur barisannya menyebar dalam garis yang memanjang. Butuh kepemimpinan yang kuat dari masing-masing pimpinan kesatuan agar garis yang panjang itu bisa berbaris maju dalam satu garis yang lurus, tapi mereka berhasil melakukannya.
Gerakan yang serempak, membuat ribuan orang itu tampak bukan seperti ribuan prajurit, tapi satu raksasa yang bergerak maju.
Baru kali ini prajurit-prajurit di bawah pimpinan Senapati Lesmana menghadapi lawan yang seperti itu. Selama ini mereka mengunggulkan kehebatan pribadinya masing-masing. Bahkan ketika bertarung sebagai satu kelompok, melawan kelompok lain, yang terjadi adalah sekian puluh orang, melawan sekian puluh orang.
Bukan seperti saat ini, ribuan orang prajurit Rangga seakan melebur, menjadi satu eksistensi, satu kekuatan yang tidak terpisahkan.
Bayangkan bedanya menghadapi ribuan batu-batu kecil yang terserak, sebanyak-banyaknya mereka, mereka tetaplah batu. Tetapi jika mereka tersusun, bahkan melebur menjadi satu kesatuan, mereka menjadi bukit batu.
Pasukan Rangga tampak seperti satu kekuatan raksasa yang tidak bisa ditaklukkan.
Prajurit-prajurit di bawah pimpinan Senapati Lesmana, tiba-tiba merasa dirinya kecil di hadapan pasukan Rangga. Merasa tidak aman, meskipun mereka berada dalam satu barisan bersama ribuan prajurit yang lain.
Senapati Lesmana berseru keras, “PASUKAN BERSIAP!”
Meskipun tidak menghilangkan rasa takut dalam hati prajuritnya, setidaknya seruan itu menggugah mereka untuk kembali menjejak bumi.
“Siapkan panah!”, seru Senapati Lesmana.
Di pihak Rangga, pasukannya berbaris maju tanpa terburu-buru, berbaris dalam langkah-langkah yang tetap dan tegap.
“Pasukan perisai bersiap menghadang serangan panah lawan!”, seru Rangga pada pasukannya.
Tiba-tiba dari beberapa tempat yang terpisah-pisah, di antara barisan pasukan Kadipaten Jambangan, terlihat puluhan panah meluncur menyerang ke arah pasukan Rangga. Prajurit Kadipaten Jambangan yang sudah menunggu dengan perasaan tegang, saat itu juga mulai melepaskan serangan panah ke arah pasukan Rangga.
“BERHENTI!”, seru Rangga sambil mengankat tangan.
Para pimpinan kesatuan dengan sigap, memberikan komando pada prajurit di bawah pimpinan mereka masing-masing, “Satu...dua.... Berhenti!”
“Satu.. dua... berhenti!”
Demikian terdengar dengan serempak di sepanjang barisan, seluruh barisan yang panjang itu pun, dalam dua langkah setelah Rangga memberikan perintah, berhenti. Seluruhnya berhenti dengan serempak.
Diam, tegap, tidak ada suara, tidak ada yang berdiri sambil bergoyang atau apa pun. Benar-benar diam, sementara di atas langit, ribuan panah berterbangan.
Senapati Lesmana terkejut melihat prajurit-prajuritnya mulai memanah pasukan Rangga tanpa aba-aba dari dirinya. Namun yang membuat dia tertegun lebih lama, bukanlah ketidak disiplinan prajuritnya sendiri, yang sedikit banyak sudah dia ketahui.
Yang membuat dia tertegun dan lupa memerintahkan pasukannya untuk berhenti memanah adalah kedisiplinan pasukan Rangga. Bagaimana dengan satu perintah, ribuan orang berhenti bergerak, tidak ada yang mundur, tidak ada yang bergeming, melihat ribuan, bahkan belasan ribu anak panah terbang di atas langit.
Untuk sesaat seperti awan yang terbang dengan pesat, belasan ribu panah itu membuat sebagian langit terlihat hitam.
Dan sesaat kemudian mereka mulai berjatuhan seperti tetesan air hujan.
“Pu! Pu! Pu! Pu! Pu! Pu! Pu! Pu!”
Anak-anak panah itu meluncur menancap ke atas permukaan tanah, beberapa langkah jauhnya dari pasukan Rangga.
Pasukan Rangga hanya diam menatap lurus ke depan. Rangga, Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan yang memimpin jauh di depan, dengan tenang memutar senjata mereka masing-masing dan beberapa anak-anak panah yang menuju ke arah mereka dengan mudah mereka jatuhkan.
Namun masih ada pemandangan yang lebih menggetarkan Senapati Lesmana.
Belasan atau puluhan anak panah, meluncur lebih jauh dari anak panah yang lain. Maklum karena prajurit-prajuritnya yang asal memanah, sehingga sasaran mereka pun asal sesuai dengan hati mereka yang gundah itu.
Belasan anak panah ini meluncur cukup jauh dan mencapai barisan lawan.
Namun semua prajurit Rangga tetap diam tak bergerak, sesuai dengan perintah yang diberikan.
“Serr.... wzz....!”, sebatang panah lewat dekat, menggores paha seorang prajurit sebelum menancap ke atas tanah, dekat kaki prajurit yang satu barisan di belakang prajurit tersebut.
Namun keduanya tetap diam dan berdiri tegak, dengan sorot mata tajam menatap ke arah barisan lawan.
“Serr... crap! Ugh..!”, sebatang anak panah meluncur dan menancap di telapak kaki seorang prajurit di barisan depan.
Prajurit itu pun sempat terbungkuk menahan sakit, tapi dengan segera dia kembali berdiri tegak. Prajurit-prajurit lain di sekitarnya, tetap diam dan berdiri tegak. Tatapan mata mereka tak goyah, menatap tajam barisan lawan.
Demikian di beberapa tempat terjadi hal yang kurang lebih sama, dan tak ada prajurit Rangga yang goyah oleh kejadian itu.
Raden Rangga menengok ke beberapa prajurit yang berdesis menahan sakit dan memberi perintah, “Seluruh pasukan! Diam di tempat! Para pimpinan kesatuan! Rawat prajuritmu yang luka, yang tidak mampu bertempur, kirim ke garis belakang!”
Segera pimpinan kesatuan yang terkecil, memeriksa keadaan prajuritnya, mencabut anak panah yang menancap, membebat luka jika perlu dibebat, dan sebagainya. Hanya sedikit riak di antara barisan yang panjang itu.
Di pihak lain, Senapati Lesmana pun berteriak-teriak, “HENTIKAN SERANGAN! HENTIKAN SERANGAN! MEREKA MASIH TERLALU JAUH!”
Perlahan-lahan prajurit-prajurit itu pun berhenti memanah, tapi selain membuang puluhan ribu anak panah dengan sia-sia, efek yang terbesar adalah tekanan psikologis yang mereka rasakan. Pasukan Rangga terlihat semakin membesar dan semakin menakutkan, dalam benak mereka.
Dari jarak yang sudah semakin dekat itu, mereka bisa melihat wajah-wajah yang keras seperti batu, dengan sorot mata yang menyala-nyala.
Mereka tidak terlihat manusiawi, tapi prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan saat ini merasa seperti berhadapan dengan barisan malaikat pencabut nyawa yang tak punya rasa takut, tak punya rasa sakit.
“Barangsiapa berani melepaskan panah tanpa aba-aba, aku penggal kepala kalian!”, seru Senapati Lesmana dengan marah.
Belum selesai dia berucap, di seberang sana sudah terdengar. “PASUKAN MAJU!”
Barisan yang panjang itu pun kembali berderap maju. Langkah kaki mereka terdengar seperti gemuruh ombak di lautan. Jantung prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan, serasa ikut melompat-lompat, seirama dengan derap kaki pasukan Rangga.