
Kedudukan tinggi, tanggung jawab besar, Raden Rangga dan Tumenggung Widyaguna harus menanggung dan memikirkan nasib belasan ribu orang yang menaruh harapan dan masa depan mereka di pundak Raden Rangga.
Kedudukan rendah, lebih sedikit yang dipikirkan, tetapi bukan berarti tanggung jawab-nya tidak besar.
Seperti roda gigi yang kecil dalam jam mekanik yang besar, kalau satu saja gigi rodanya patah, jarum jam pun bisa menolak untuk berputar.
Gagak Seta tidak tahu secara gamblang kesulitan yang saat ini dihadapi Raden Rangga, yang dia tahu hanyalah menyelesaikan tugasnya saat ini, menyusup menjadi salah satu prajurit di Kadipaten Jambangan.
Sifatnya yang berandalan harus dia tundukkan, agar bisa meraih simpati dari perwira-perwira di Kadipaten Jambangan. Di saat yang sama, sikap keras kepalanya harus dia jaga, agar bisa meraih simpati dari rekan-rekannya sesama prajurit yang baru masuk.
Saat ini Gagak Seta duduk bersila, badannya sudah penuh dengan keringat. Di dalam ruangan itu tidak ada cahaya matahari yang bisa masuk dari luar. Lubang angin yang ada, posisinya berada di dalam bangunan. Gagak Seta tidak tahu apakah hari sudah memasuki senja, atau malam, dia pun tidak berusaha mencari tahu. Hanya ada secarik cahaya masuk dari lubang-lubang angin, cahaya itu berasal dari beberapa obor yang menyala dan menerangi sepanjang koridor.
Dia sudah memutuskan untuk memfokuskan seluruh waktunya untuk berlatih.
Saat ini tenaganya sudah terperah habis, tenggorokannya terasa kering, bahkan dadanya pun terasa sedikit sesak oleh udara di dalam ruangan yang makin panas dan pengap, karena sejak tadi dia berulang-ulang melatih jurus pertama dan kedua dari gerakan Sembilan Cakar Naga.
“Rasanya sudah cukup lama aku berada di dalam, mestinya sebentar lagi akan ada orang yang mengantar makanan dan minuman.”, gumam Gagak Seta pada dirinya sendiri.
Belum lama dia berpikir, terdengar suara pintu dibuka, diikuti suara orang berjalan mendekat.
“Tak.. tak... tak...”, suara tapak kaki terdengar jelas dan menggema di lorong bangunan yang kosong dan gelap itu, lalu berhenti tepat di depan ruangan tempat Gagak Seta dikurung.
“Glotak..glotak...”, terdengar suara sesuatu dimasukkan lewat lubang di bagian bawah daun pintu.
Gagak Seta masih duduk bersila dan menunggu, perlahan suara tapak kaki terdengar menjauh, diiringi suara daun pintu yang berat ditutup dan dipalang dari luar.
Mata Gagak Seta sudah beradaptasi dengan gelapnya ruangan itu, samar-samar dia bisa melihat kotak makanan yang baru saja diantarkan. Dengan ragu-ragu Gagak Seta berjalan mendekat, perutnya sudah lapar, tapi dari kotak makanan itu tercium bau yang tak sedap.
Semakin dekat dengan kotak makanan itu, bau tak sedap itu pun tercium makin kuat.
Wajah Gagak Seta pun berseru tertahan dengan kemarahan menyala-nyala, “Setan...!”
Tidak salah lagi, makanan yang diberikan oleh penjaga itu bercampur pula dengan kotoran kuda. Gagak Seta merunduk meraih kotak makanan itu, kemudian lewat lubang yang ada, dia melemparkan kotak makanan itu kuat-kuat ke arah pintu masuk bangunan.
Terdengarlah suara berkelontangan, saat kotak makanan itu terlempar dan berhamburan menabrak dinding.
Gagak Seta masih berdiri dengan dada naik turun menahan emosi-nya yang meledak. Perutnya sudah lapar, tenggorokannya sudah kering menahan haus. Sekian lama berusaha menahan diri, ketika mendapati makanan yang dibawakan bercampur kotoran kuda, habis juga batas kesabaran Gagak Seta.
Tidak ada suara dari luar, sunyi senyap.
Perlahan emosinya mereda, bukan berarti rasa marah-nya sudah hilang, tapi setidaknya otaknya bisa berputar dengan normal.
'Setan.... keparat kalian orang-orang Kadipaten Jambangan...', geram Gagak Seta dalam hati.
Perlahan dia berjalan menuju ke tempat dia tadi duduk bersila, sambil berpikir. Rusak sudah rencananya untuk mendalami jurus pertama dari Sembilan Cakar Garuda. Jika setiap hari, makanan dan minuman yang dikirimkan bercampur kotoran kuda, maka tubuhnya tidak akan dapat memulihkan diri setelah memeras tenaga.
Gagak Seta kembali bersila, dengan mata terpejam dia perlahan-lahan mengatur nafasnya. Seiring dengan berjalannya waktu, emosinya pun mengendap dan pikirannya jadi lebih jernih.
'Hmm... tak mungkin aku membuang waktu percuma selama tiga hari.', Gagak Seta mulai berpikir.
'Sampai sekarang, aku belum mempelajari gulungan lontar yang pertama, Ajian Braja Apsara, karena salah satu syarat awalnya adalah berpuasa tiga hari, tiga malam. Lagipula dituntut untuk menemukan pusat-pusat kekuatan yang ada dalam tubuh manusia.', dalam hati Gagak Seta akhirnya mengambil keputusan.
Sebenarnya Gagak Seta tidak terlalu tertarik dengan ilmu-ilmu yang mengarah pada penggunaan tenaga dalam, ataupun olah kebatinan. Pemuda itu merasa lebih senang menggerakkan tubuh, memaksa otot-ototnya bekerja dan tulang-tulangnya menahan hantaman. Saat dia merasakan penempaan pada tubuh wadagnya ini, seperti muncul semacam kepuasan ketika dia berhasil melaluinya.
Berdiam diri, berusaha mengheningkan cipta dan menajamkan rasa, sungguh bukan sesuatu yang biasa dia lakukan.
Namun kali ini dia tidak memiliki pilihan lain, dengan tidak adanya makanan dan minuman yang bisa dia konsumsi. Pilihannya hanyalah menghabiskan waktu tiga hari rebahan saja dan sia-sia. Atau melatih dirinya dengan latihan yang paling tidak dia sukai.
Buat Gagak Seta, pilihannya jelas.
Maka pemuda itu perlahan-lahan berusaha mengingat penjelasan yang tertulis pada gulungan lontar yang mengajarkan Ajian Braja Apsara.
Setelah mengulangi lagi beberapa kali penjelasan yang pernah dia baca, sampai dia benar-benar yakin tidak ada yang salah, barulah Gagak Seta memulai usahanya untuk menguasai tahap pertama dari Ajian Braja Apsara. Penjelasan yang tertulis di gulungan lontar itu benar-benar dimulai dari hal-hal yang paling mendasar.
Sebagai seorang yang belum pernah menyentuh sisi ini dalam olah kanuragan, Gagak Seta seperti orang buta yang dilemparkan ke suatu wilayah yang benar-benar baru sama sekali. Namun sifat keras kepalanya membuat dia tidak terpikir sedikitpun akan menyerah.
Mengikuti berjalannya waktu, pikirannya semakin tenggelam pada latihan yang dia lakukan. Rasa lelah, haus dan lapar pun terlupakan.
-----
Tiga hari akhirnya berlalu, Senapati Glagah Wiru diam-diam tidak lupa untuk mengingatkan rekannya, Senapati Lesmana untuk memastikan Gagak Seta dikeluarkan dari tempat kurungan. Bukan hanya Senapati Glagah Wiru yang menyimpan kesan yang baik terhadap Gagak Seta.
Ketika Ki Lurah Basuki bertemu dengan Senapati Lesmana yang saat itu sudah resmi ditugaskan menjadi pimpinan kesatuan yang baru dibentuk, Ki Lurah Basuki dengan hormat menyampaikan perihal keadaan Gagak Seta.
Singkat cerita, hari itu Ki Lurah Basuki pergi seorang diri membawa surat tugas untuk mengeluarkan Gagak Seta dari kurungan.
Prajurit yang berjaga tidak mempersulitnya, memang ada ketidak sukaan dalam hati mereka, melihat tiba-tiba ribuan orang-orang baru datang bergabung, sebagian besar dari mereka keras kepala dan ugal-ugalan. Tak mengerti tata keprajuritan dan mengukur segala sesuatunya dengan kekuatan.
Lebih tak suka lagi karena banyak berita burung yang beredar, dari antara prajurit-prajurit yang baru itu akan diangkat perwira-perwira mulai tingkat bawah, sampai tingkat menengah. Tentu saja hal ini menimbulkan kecemburuan, bagi mereka yang sudah lama mengabdi.
Sebagian dari prajurit-prajurit lama, tentu memahami kesulitan yang dihadapi oleh Adipati Jalak Kenikir dan para senapati, seperti misalnya Ki Lurah Basuki. Ada banyak prajurit, terutama yang sudah berpangkat, memahami situasi yang dihadapi Kadipaten Jambangan saat ini. Pada akhirnya prajurit-prajurit yang baru masuk itu, tak lebih akan menjadi pion-pion yang pertama kali dimajukan di medan perang, menjadi garis pertama yang gunanya hanya untuk menguras pasukan lawan.
Namun ada banyak juga yang tidak mau memahami situasi, lebih condong hanya merasa iri pada kesempatan yang dimiliki oleh prajurit-prajurit baru itu, tidak memandang resiko yang juga harus ditanggung.
Apalagi disebabkan karena Adipati Jalak Kenikir ingin memperkuat kekuatan militernya dalam waktu sesingkat mungkin, maka ada banyak tawaran-tawaran yang menggiurkan, demi menjaring sebanyak-banyaknya orang, terutama yang sudah membawa bekal ilmu. Tentu saja ini menambah kecemburuan prajurit yang lebih awal mengabdi.
Perwira-perwira seperti Ki Lurah Basuki berusaha meredam kecemburuan mereka dengan berbagai cara, tapi kurang berhasil.
Demikianlah hingga akhirnya para senapati dan Adipati Jalak Kenikir, diam-diam memasang Senapati Glagah Wiru untuk menekan prajurit-prajurit yang baru masuk, menjadi saluran bagi ketidak sukaan prajurit-prajurit yang lama dan menyatukan mereka di bawah panjinya.
Sementara Senapati Lesmana akan bertindak yang sebaliknya, dan menyatukan prajurit-prajurit yang baru di bawah panjinya.
Tiga hari selama Gagak Seta berada di dalam kurungan, diam-diam terjadi banyak pergolakan yang terjadi di kesatuan militer Kadipaten Jambangan. Senapati Lesmana diresmikan sebagai pimpinan atas kesatuan militer yang baru. Hal ini menarik banyak gosip tak sedap atas dirinya. Sebagai senapati yang termuda, dia dianggap memiliki ambisi yang besar dan mengambil kesempatan dengan membujuk Adipati Jalak Kenikir untuk menyatukan seluruh prajurit yang baru ke bawah pimpinannya.
Hanya para senapati dan Adipati Jalak Kenikir yang benar-benar paham latar belakang munculnya kesatuan yang baru ini.
Idealnya tentu saja prajurit yang baru, secara perlahan-lahan diintegrasikan menjadi bagian dari kesatuan-kesatuan yang sudah ada sebelumnya. Namun hal ini tidak mungkin mereka lakukan karena jumlah prajurit yang baru terlampau banyak. Ditambah lagi prajurit-prajurit yang baru masuk ini memiliki individualisme dan harga diri yang tinggi. Tak mudah membuat mereka merasa hormat terhadap prajurit yang lama.
Hal ini tentu jauh berbeda dengan yang terjadi dalam pasukan Rangga. Anak-anak muda kademangan Jati Asih yang sebagian besar tidak memiliki pengalaman bertempur ataupun berkelana, memandang dengan hormat dan kagum pada prajurit-prajurit yang datang bersama para senapati.
Demikian juga nama-nama tiga puluh tiga perwira yang datang itu bukan jagoan kandang, nama mereka sudah harum dan terkenal di dunia persilatan berpuluh tahun lamanya.
Berbagai faktor inilah yang membuat Rangga dengan mudah menambah jumlah pasukannya, tanpa terjadi goncangan dan gesekan. Sungguh jauh berbeda dengan situasi yang saat ini dihadapi Adipati Jalak Kenikir.
Bukan berarti Adipati Jalak Kenikir dan ke-empat senapatinya adalah orang-orang yang bodoh. Situasi ini pun sudah mereka perhitungkan dan bagi mereka inilah harga yang siap mereka bayar. Mereka pun sejak awal sudah menempatkan prajurit-prajurit yang baru ini tak ubahnya anak panah yang bisa dibuang setelah selesai dipakai.
Mereka tak ragu membayar mahal dan menjanjikan banyak hal, dengan perhitungan sebagian besar dari prajurit-prajurit baru ini akan gugur dalam pertempuran melawan Rangga.
Mereka tak ingin mengorbankan kekuatan inti mereka, demi memuaskan keinginan Prabu Jannapati.
Namun mereka juga berharap bisa mempertahankan mereka-mereka yang memiliki potensi yang bagus untuk di-intergrasi-kan dengan kesatuan yang menjadi inti kekuatan militer mereka. Prajurit-prajurit seperti Gagak Seta sebisa mungkin harus dipertahankan.
Itulah salah satu tugas yang diemban Senapati Lesmana.
Ki Lurah Basuki sampai pula di tempat Gagak Seta dikurung, dengan surat yang dia bawa, prajurit-prajurit yang berjaga tidak mempersulitnya. Tanpa banyak pertanyaan, mereka membuka pintu dan mempersilahkan Ki Lurah Basuki masuk.
Ki Lurah Basuki memasuki gedung itu dengan hidung berkerenyit mencium bau yang busuk.
Tanpa harus mencari tahu, Ki Lurah Basuki sudah bisa membayangkan apa yang terjadi selama tiga hari itu. Cahaya matahari yang masuk dari pintu yang terbuka, menyinari bekas makanan yang masih mengotori lantai.
Ki Lurah Basuki menghela nafas panjang, meskipun bersimpati pada Gagak Seta, dia juga tak ingin menyinggung rekan-rekan yang sudah bersama mengabdi selama bertahun-tahun.
Ki Lurah Basuki menuju ke tempat Gagak Seta dikurung, membuka palang dan membuka pintu dengan hati-hati.
“Gagak Seta..., kau baik-baik saja?” Tanya Ki Lurah Basuki dengan hati-hati, matanya berusaha mencari sosok Gagak Seta dalam ruangan yang gelap itu.