Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab LXII Kisah Prabu Jaya Lesmana (part-1)



Belasan ribu orang masih berdiri tegak di tempat masing-masing. Suara yang baru saja menggemuruh, perlahan-lahan mereda. Rangga masih duduk tegak di atas kudanya.


Ketika suasana menjadi hening, perhatian setiap orang perlahan kembali pada Rangga.


Wajah Rangga yang biasanya tenang, hari ini terlihat mendung. Perlahan semangat yang menggelora di dada tiap-tiap orang mereda. Suasana di tempat itu menjadi hening, batin tiap orang pun mengendap seperti air danau yang tenang.


Ketika Rangga mulai berbicara, setiap pasang telinga mendengarkan dengan penuh perhatian, “Kalian meninggalkan kehidupan kalian yang lama, mempercayakan masa depan kalian di tanganku.”


Suaranya tak lagi meledak-ledak, Rangga berbicara dengan tenang, ngelangut, seperti sedang berbicara pada diri sendiri.


“Apakah tidak ada di antara kalian yang bertanya dalam hati, mengapa kalian harus berkorban, meninggalkan kehidupan yang sudah baik dan mempertaruhkan masa depan kalian pada sesuatu yang tidak pasti?


Sebagian besar dari kalian, mungkin memutuskan untuk mengikutiku, karena kesetiaan kalian pada ayahanda prabu. Sebagian lagi yang lebih muda, mungkin karena mendengar kisah kejayaan di masa ayahanda prabu. Mungkin ada yang meninggalkan Kademangan Jati Asih karena ancaman dari raja Watu Galuh yang baru, dan berbagai macam alasan lainnya.”


Suasana senyap, masing-masing orang yang mendengarkan Rangga, dalam hati mulai bertanya-tanya. Sebagian mulai merenungkan alasan mengapa mereka sekarang ada di sini. Sebagian yang lain ada yang memandangi Rangga dengan hati bingung, mengapa anak muda itu tiba-tiba seperti ingin melemahkan semangat mereka.


Anak-anak yang masih terlalu kecil, hanya bisa mendengarkan dengan tatapan mata mereka yang jernih, dan pikiran yang polos.


“Aku tidak akan pernah tahu, mengapa kalian pada akhirnya berada di sini.”, ujar Rangga dengan suara lirih.


Setelah terdiam beberapa saat, wajahnya terlihat muram, dengan berat Rangga melanjutkan,“Dalam hari-hari di depan ini, kita akan menghadapi banyak tantangan. Sepanjang perjalanan dari Kademangan Jati Asih, sampai ke tempat ini, sudah ada mereka yang harus mengorbankan nyawanya demi perjuangan kita ini.


Akhirnya kita sampai di tempat tujuan kita. Akhirnya kita mulai membangun rumah yang akan menjadi tempat bagi kita dan anak cucu kita. Sebuah negara yang adil dan makmur, toto tentrem kerto raharjo, gemah ripah loh jinawi.


Namun di saat-saat kemenangan ini, tiba-tiba datang bahaya yang mengancam. Para adipati yang terlebih dahulu berdiam di wilayah ini, tak rela jika kita babad alas di tempat ini. Meski wilayah yang kita bangun ini bukanlah wilayah milik mereka. Meski tanah yang kita garap ini, bukanlah tanah mereka.


Utusan-utusan sudah dikirimkan untuk menjalin tali persahabatan, mengikat persatuan, tapi jawaban mereka jelas dan tegas.”


Untuk beberapa saat Rangga diam, lalu melanjutkan dengan nada pahit dan marah, “Pergi.”


“Ya, pergi, mereka mengusir kita pergi dari wilayah ini.”, sambung Rangga dengan senyum pahit.


Mereka yang mendengarkan Rangga, merasa ikut marah dan geram. Teringat perjalanan yang panjang dari rumah yang mereka tinggalkan, sampai akhirnya sampai di tanah yang mereka


Dengan nada marah, seakan mewakili kemarahan mereka yang mendengarkan, Rangga melanjutkan, “Kita tidak mengambil sejengkalpun tanah mereka. Kita tidak mengambil sedikitpun harta mereka. Kita datang memperkenalkan diri sebagai pendatang baru. Sekarang mereka justru mengusir kita pergi, mengancam dan menakut-nakuti kita!


Haruskah kita kembali membawa anak-anak dan orang tua, melalui perjalanan yang jauh, ke tempat lain yang kita sendiri tak tahu harus pergi ke mana lagi?


Atau kita akan melawan? Kita tegakkan harga diri dan hak kita!?”


“LAWAN! LAWAN!”, bertalu-talu rakyat yang mengikuti Rangga menjawab dengan penuh amarah.


Rangga mengitarkan pandangan ke sekelilingnya, dalam hati dia merasa bersalah, menghitung-hitung dan menerawang membayangkan, berapa banyak wajah-wajah yang masih akan dia temui kembali setelah peperangan berakhir.


Sejenak kemudian Rangga mengangkat tangannya dan perlahan suara kemarahan mereka mereda, lanjutnya, “Rakyatku sekalian, di hari-hari ke depan ini, tantangannya jauh lebih berat, bahayanya jauh lebih besar.


Akan ada lebih banyak lagi darah tertumpah sebelum landasan yang sekarang kita bangun ini akan berdiri dengan kokoh .


Kali ini kita tidak bisa lagi lari menghindar, seperti saat kita masih berada di Kademangan Jati Asih dan dalam perjalanan menuju ke tempat ini. Kalian sendiri bisa menimbang, berapa banyak biaya yang telah kita keluarkan selama perjalanan.


Pilihannya hanya berhasil, atau musnah.”


Ledakan semangat yang sebelumnya menggelora, untuk sesaat seakan teredam, tapi seiring waktu berjalan, semangat mereka tidak lagi meletup-letup, tapi perlahan mengendap dan mengeras. Sorot mata para pengikut Rangga, terlihat mencorong tajam.


“Agar kita berhasil menegakkan keberadaan kita di tanah ini, mau tidak mau, tumbal-tumbal demi tegaknya cita-cita kita ini pasti berjatuhan, tanpa dapat dihindari.


Mungkin orang tua kita, mungkin sebagian dari anak-anak kita, sanak saudara kita. Darah akan tertumpah, air mata akan tercurah.


Untuk apa itu semua?”, pertanyaan Rangga menggema tanpa ada jawaban.


Dalam keheningan itu, suara Rangga terdengar jernih, “Kalian sudah sering mendengar berbagai macam cerita keprajuritan dan cerita kepahlawanan, sepanjang perjalanan ini.


Ada Ki Dalang-Ki Dalang yang selalu hadir dengan berbagai macam kisah.


Kali ini aku ingin berkisah, bukan kisah khayalan, bukan pula kisah tentang kejadian yang jauh di masa lampau.”


Mendengar Rangga hendak berkisah, seperti ada yang menarik kesadaran mereka, perhatian orang pun tanpa mereka sadari, perlahan teralihkan dari rasa kuatir dan takut, bercampur marah dan berbagai emosi yang tadinya menggelegak.


“Ini kisah tentang masa kecil Ayahanda Prabu Jaya Lesmana.”, ujar Rangga membuka kisahnya.