
Hamba bersujud memohon ampunan dalam diam.
Nasehat dan tuntunan dariMu kami nantikan.
Ombak-ombak dalam kehidupan, membuat kami oleng kehilangan arah.
--- Bisik Tri Pingpitu dalam heningnya malam.
________________________________________
Gubug itu sederhana saja, hanya ada ruang tidur dengan satu ambin kecil dan satu ruang lagi berisi meja dan kursi.
Ki Ageng Aras sedang duduk sambil merenungi semangkok ramuan di atas meja. Ramuan itu masih mengepulkan asap, baru saja dituang, setelah dijerang di atas api yang kecil beberapa lama hingga airnya menguap setengah.
Kehidupan Ki Ageng Aras, tak kalah sederhana dan sepi dibanding Rangga Wijaya. Kesetiaan-nya dalam menjalankan tugas, tak kalah dari tiga puluh tiga orang kepercayaan Rangga.
Jika dibandingkan, mereka termasuk laki-laki dari spesies yang sama. Jenis laki-laki yang akan rela mengorbankan hidup mereka demi satu prinsip. Prinsip mereka pun tak jauh berbeda, yang membedakan adalah orang yang mereka percaya.
Ki Ageng Aras, percaya pada impian dan jalan yang dipilih Prabu Anglang Bhuanna, sementara di pihak yang berseberangan, percaya pada impian dan jalan yang ditempuh Prabu Jaya Lesmana, dan ketika Prabu Jaya Lesmana mangkat, sekarang kepercayaan yang sekaligus menjadi beban itu ada di pundak Rangga.
Jika Ki Ageng Aras sekarang merenung, bukan karena dia menyesali tahun-tahunnya yang terbuang dalam sepi. Ki Ageng Aras sedang menata kembali ingatannya.
Aneh dan lucu, masa lalu yang sama, ingatan yang sama, ternyata saat dia renungkan lagi dari sudut yang berbeda, memiliki arti yang berbeda, bahkan berbeda seratus delapan puluh derajat. Selama ini dia berpikir bahwa Prabu Anglang Bhuanna memandang Rangga Wijaya sebagai ancaman.
Namun, ketika dia mempertimbangkan kembali baik perintah, maupun kejadian-kejadian yang menggiring sejarah kerajaan hingga hari ini, perintah yang sama ternyata bermakna lain. Prabu Anglang Bhuanna justru menginginkan Ki Ageng Aras untuk melindungi keturunan satu-satunya dari Prabu Jaya Lesmana.
Tiba-tiba batin Ki Ageng Aras tergetar dan lamunannya pun buyar.
Ki Ageng Aras masih duduk tenang di kursinya, tapi panca inderanya mulai bekerja keras mengamati situasi di sekitarnya. Satu per satu, keberadaan Tumenggung Widyaguna dan rekan-rekannya, tertangkap oleh panca indera Ki Ageng Aras yang tajam.
Alisnya berkerut dan dalam hati dia bertanya-tanya, 'Hee... kenapa tiba-tiba berkumpul orang berilmu tinggi sebanyak ini di Kademangan Jati Asih?'
Ki Ageng Aras mulai berhitung, namun lawannya kali ini terlalu banyak dan mengepung dengan rapat. Sadar tak mungkin melarikan diri, Ki Ageng Aras justru merasa tenang. Terkadang tidak ada pilihan, membuat manusia lebih mudah berdamai dengan keadaan daripada memiliki terlalu banyak pilihan. Tentu saja Ki Ageng Aras bisa memiliki sikap hati demikian, karena sudah matang dalam memaknai hidup dan mati.
“Kisanak, mari silahkan masuk, tapi aku mohon maaf jika tidak ada cukup kursi untuk kalian berenam.”, ujar Ki Ageng Aras dengan lantang.
Terdengar suara tertawa, mendengar undangan Ki Ageng Aras. Wajah Ki Ageng Aras menjadi pucat untuk beberapa saat ketika mendengar suara itu. Namun sebagai seorang yang sudah matang, dengan cepat keseimbangannya kembali.
“Hahaha, nampaknya aku ini sudah mulai pikun. Maaf, kisanak, jika aku luput seorang dari kalian. Mari, aku undang kalian bertujuh untuk bertamu ke rumahku yang buruk ini.”, ujar Ki Ageng Aras sambil tertawa.
Ki Ageng Aras menajamkan telinga dan perasaannya, mengamati tamu-tamunya, ketika satu demi satu mereka masuk ke dalam rumah Ki Ageng Aras. Ketika giliran Bayu Bayanaka memasuki rumah Ki Ageng Aras, alis Ki Ageng Aras naik ke atas, dan matanya tajam mengamati Bayu Bayanaka. Bayu Bayanaka mengedikkan bahunya dan balas melotot.
Melihat perawakan, gerak-gerik dan kepribadian Bayu Bayanaka, Ki Ageng Aras pun teringat dengan tokoh yang satu ini. Dua puluh tahun bukan waktu yang singkat, masing-masing dari mereka sudah banyak berubah. Namun begitu Ki Ageng Aras mengenali Bayu Bayanaka, dengan cepat dia dapat mengenali ke-enam orang yang lain.
“Ah... hahaha, memang dasar mata tuaku yang sudah mulai lamur. Pantas langkah kaki dan gerakanmu begitu ringan, sampai telinga tuaku ini tak dapat menangkap keberadaanmu. Bayu Bayanaka, aku ingat kau sekarang.”, ujar Ki Ageng Aras sambil tertawa.
“He he he, baguslah kalau kau ingat, lalu apa maumu sekarang Ki Ageng Aras?”, sahut Bayu Bayanaka dengan nada mengejek.
“Tidak, aku tidak memiliki macam-macam kemauan. Hanya saja sekarang aku jadi ingat, siapa kalian semua ini. Benar-benar suatu kehormatan, dalam semalam tujuh orang pahlawan Prabu Jaya Lesmana datang bertamu ke rumah reotku ini.”, jawab Ki Ageng Aras, tak mau terpancing ejekan Bayu Bayanaka.
Tumenggung Widyaguna menepuk bahu Bayu Bayanaka, sebelum pendekar berangasan itu berkata apa-apa. Bayu Bayanaka pun menutup mulut dan mencari tempat untuk berdiri.
Cuma ada dua kursi dan dengan sendirinya Tumenggung Widyaguna-lah yang duduk di kursi itu, sementara yang lain berdiri di tempat pilihannya masing-masing. Mereka berdiri di sekeliling ruangan, dengan sendirinya Ki Ageng Aras dan Tumenggung Widyaguna berada di tengah, seakan terkepung oleh keenam pendekar itu.
Ki Ageng Aras menghela nafas dalam hati. Seandainya dia tidak berubah pikiran mengenai tugas yang diamanahkan Prabu Anglang Bhuanna pada dirinya, saat ini tentu dia sudah bertarung mengadu nyawa. Namun sekarang, Ki Ageng Aras berharap, pertemuan mereka ini bisa berakhir dengan damai.
“Ki Tumenggung Widyaguna, kulihat rambut dan jenggotmu sudah berwarna putih semua.”, ujar Ki Ageng Aras tanpa ada nada bermusuhan dalam suaranya.
Tumenggung Widyaguna juga seorang yang sudah sangat matang, telinga dan hatinya peka menangkap nada suara Ki Ageng Aras, sambil tersenyum dia menjawab, “Sama juga seperti dirimu bukan?”
“Hahaha, ya...ya... kita sudah sama-sama tua.”, jawab Ki Ageng Aras.
“Aku merasa aneh, mengapa Ki Ageng Aras, orang yang sakti mandraguna, kepercayaan seorang raja, biarpun raja yang telah mangkat, bisa tiba-tiba muncul di sebuah kademangan nun jauh di perbatasan?”, Tumenggung Widyaguna bertanya dengan sorot mata yang tajam menatap Ki Ageng Aras.
“Aku juga bisa menanyakan hal yang sama pada Ki Tumenggung.”, jawab Ki Ageng Aras dengan tenang namun nadanya berubah sedikit mengeras.
Ki Ageng Aras memang sudah memiliki pemikiran yang berbeda tentang Rangga, namun harga dirinya sebagai seorang pendekar rupanya tetap terusik mendengar pertanyaan Tumenggung Widyaguna yang menyelidik. Jika saat ini, mereka hanya berdua, mungkin hal itu justru tidak terjadi. Namun karena saat ini Ki Ageng Aras berada dalam situasi yang tidak mungkin menang, rasa kelelakiannya terusik. Ki Ageng Aras merasa hina, jika dia harus menjelaskan perubahan hatinya saat ini. Seakan-akan Ki Ageng Aras mencari selamat, takut mati menghadapi keroyokan lawan.
“Hmm, kami semua berada di sini, karena Raden Rangga berada di sini. Apa anehnya jika seorang prajurit, berada di dekat junjungannya? Yang aneh itu justru dirimu Ki Ageng Aras, tempatmu itu di ibukota Kerajaan Watu Galuh, bukan di Kademangan Jati Asih ini.”, jawab Tumenggung Widyaguna sambil tersenyum tipis.
Terasa pedih hati Ki Ageng Aras, diingatkan akan kematian Prabu Anglang Bhuanna. Saat ini dirinya seperti orang yang habis manis sepah dibuang. Setelah mengabdikan dirinya dengan setia, menghabiskan puluhan tahun dalam pengasingan demi tugas, sampai ketika akhirnya Prabu Anglang Bhuanna tutup usia dan digantikan puteranya, sama sekali tidak ada kabar dari junjungan-nya. Bahkan lebih menyakitkan, tidak ada lagi orang yang ingat akan dirinya. Tidak ada utusan yang mengabarkan mangkatnya Prabu Anglang Bhuanna. Tidak ada perintah baru dari Prabu Jannapati, atau setidaknya perintah yang menguatkan perintah yang lama.
Tumenggung Widyaguna dan rekan-rekannya tidak tahu apa yang sudah dialami oleh Ki Ageng Aras, mereka tidak bisa menebak apa yang sekarang bergejolak dalam hatinya.
Yang bisa mereka rasakan adalah perubahan sikap Ki Ageng Aras. Jika di awalnya Ki Ageng Aras terlihat bersahabat, saat ini terlihata kilatan kemarahan dalam tatapan matanya.
Namun, bagi Tumenggung Widyaguna dan yang lainnya, kemarahan Ki Ageng Aras itu justru sesuatu yang lumrah. Sejak Prabu Anglang Bhuanna mengambil kerajaan dari tangan Rangga, mereka sudah berada sebagai pihak yang berseberangan, bermusuhan. Jadi sikap Ki Ageng Aras yang sekarang inilah yang mereka pandang sebagai sejatinya sikap dan perasaan Ki Ageng Aras terhadap mereka.
“Aras...”, geram Bayu Bayanaka, “jaga mulutmu Aras!”
“Hehe, apa aku salah? Apa Prabu Jaya Lesmana meminta kalian untuk lari menyembunyikan diri? Ketika kami datang, kalian bukannya melindungi Raden Rangga dan apa yang menjadi hak-nya. Kalian justru pergi menghilang. Ha ha ha ha ha.”, Ki Ageng Aras menjawab sambil tertawa terbahak-bahak, dalam tawanya terselip kesedihan.
Harapan yang sempat muncul, ketika menyadari apa maksud titah Prabu Anglang Bhuanna yan sesungguhnya, meredup dan mulai padam.
Ki Ageng Aras merasakan sikap bermusuhan dari pengikut Rangga. Dia tidak melihat ada jalan bagi dirinya untuk keluar hidup-hidup, tanpa mengorbankan kehormatan dirinya.
Seandainya Rangga ada di sini, tentu berbeda yang terjadi.
Seandainya Rangga memberitahukan pada Bayu Bayanaka akan keberadaan Ki Ageng Aras, mungkin akan berbeda yang terjadi.
Apa mau dikata? Tumenggung Widyaguna dan pengikut Rangga yang lain, menemukan jejak keberadaan Ki Ageng Aras, sementara Rangga belum tiba di Kademangan Jati Asih untuk mendamaikan mereka.
Mungkin jika Ki Ageng Aras mau merendahkan diri, Tumenggung Widyaguna akan menahannya sampai Rangga tiba.
Namun harga diri Ki Ageng Aras tidak mengijinkan hal itu terjadi. Melihat penantian yang panjang tiba-tiba akan berakhir dengan kematian yang sia-sia, Ki Ageng Aras yang sudah berumur matang, tiba-tiba kehilangan keseimbangan jiwanya. Apalagi sebelum kedatangan Tumenggung Widyaguna, Ki Ageng Aras sempat melihat secercah harapan.
Seakan harapannya dibawa terbang tinggi, sebelum kemudian dihempaskan dengan keji.
Demikianlah tiba-tiba berbagai emosi yang gelap, merasuki hati dan pikiran Ki Ageng Arsa. Wajahnya perlahan-lahan berubah menjadi kelam. Hawa pembunuhan terasa pekat mengisi rumah itu.
“Tak perlu banyak bicara lagi Ki Tumenggung.”, ujar Ki Ageng Arsa, perlahan-lahan berdiri.
“Mari kita ke halaman depan, ruangan itu terlalu sempit untuk kita berolahraga.”, ujarnya sambil tersenyum mengejek.
Tumenggung Widyaguna mendengus, “Hmph... Ki Ageng Aras, menyerah sajalah. Saat Raden Rangga datang, mungkin dia akan jatuh kasihan padamu. Seorang tua yang terlunta-lunta. Kehilangan pijakannya.”
Delapan orang laki-laki di rumah itu, tak satupun ada yang tak pernah menumpahkan darah. Leher dan lutut mereka semuanya keras seperti karang, tak akan menunduk, tak akan berlutut.
Dua pihak dengan sifat yang sama kerasnya berbenturan dan api pertarungan memercik membakar darah mereka.
Kemarahan Ki Ageng Aras terasa meletup-letup keluar dari ujung kepalanya, “Widyaguna! Tutup mulutmu! Aku tahu tak mungkin bisa menang dari kalian bertujuh! Tapi jangan harap Ki Ageng Aras menundukkan kepalanya di depan kalian!”
Delapan orang itu pun sudah berdiri dengan seluruh panca indera, syaraf-syaraf dan otot-otot mereka dalam keadaan siap tempur.
Ki Ageng Aras menyipitkan matanya, pandang matanya menyapu ke kiri dan ke kanan, “Siapa dari kalian yang ingin maju lebih dahulu? Atau kalian ingin mengeroyok Ki Ageng Aras!? Heheheh, boleh.... boleh... majulah kalian bertujuh!”
“Cuih..! Kakang Tumenggung, biarkan aku yang menghajarnya!”, Gajah Petak yang berangasan berkelebat menyerang Ki Ageng Aras, mendahului yang lain.
Tubuhnya tinggi dan seluruh anggota tubuhnya berukuran besar, sesuai dengan namanya. Gerakannya tak selincah Bayu Bayanaka, namun dalam serangannya tersimpan tenaga yang besar dan seperti memenuhi udara. Namun Ki Ageng Aras tidak gentar untuk membenturkan tenaganya melawan Gajah Petak.
“BLAAR !”, ledakan udara akibat benturan dua tenaga raksasa, menghancurkan gubuk kecil itu.
Untuk sesaat lamanya, debu pasir, hujan ijuk dan serpihan bambu memenuhi tempat itu. Ketika suasana sudah mereda, terlihat sosok dua orang laki-laki yang saling berhadapan, dikelilingi enam orang laki-laki yang lain.
Ki Ageng Aras masih berdiri teguh di tempatnya, sementara Gajah Petak yang menyerang justru tersurut mundur beberapa langkah.
Senyum mengejek mengembang di wajah Ki Ageng Aras, “Gajah Petak... Gajah Petak... percuma kau memakai nama gajah. Panggilah kawanmu yang lain. Aku takut nanti tinjuku membuat wajahmu bengkak-bengkak dan seekor gajahpun akan lebih tampan darimu.”
Mata Gajah Petak membeliak membulat lebar, “Jangan sombong Aras! Aku robek mulutmu!”
Sekali lagi Gajah Petak bergerak menyambar, meskipun kemarahannya membakar ubun-ubun kepala, namun Gajah Petak tak kehilangan nalarnya. Serangan-nya tak sekuat tadi, namun dalam menyerang dia masih menyimpan pula sebagian tenaga untuk bertahan.
“Kakang Tumenggung, biarkan aku membantunya.”, Bayu Bayanaka melompat ke samping Tumenggung Widyaguna dan meminta ijin untuk terjun ke dalam pertarungan itu.
Tumenggung Widyaguna tidak perlu berpikir lama untuk mengangguk menyetujui permintaan Bayu Bayanaka. Gajah Petak bukanlah tandingan Ki Ageng Aras. Bayu Bayanaka mengangguk lega dan dengan segera melompat ke arah Ki Ageng Aras, kedua tangannya terbuka menyambar ke arah pundak Ki Ageng Aras.
“Gajah linglung, kubantu kau!”, serunya sambil menyerang.
“Bah! Bajang gendut, jangan menghalangi jalanku!”, sergah Gajah Petak sambil menyerang pula ke arah Ki Ageng Aras.
Keduanya saling beradu mulut, namun serangan mereka terjalin dengan rapi. Bayu Bayanaka dengan kecepatan dan cengkeramannya yang mengancam tempat-tempat yang lemah. Sementara Gajah Petak dengan serangan yang berat, yang menggempur lawan tanpa melihat apa yang menjadi sasarannya.
Namun Ki Ageng Aras ternyata masih mampu mengimbangi serangan mereka berdua. Gerakan dan serangannya tak kalah ganas dan sebat. Kedua lengannya sudah berwarna merah membara, membuat udara di sekitar dirinya terlihat berlekuk-lekuk.
“Ha ha ha ha ha ! Rangga! Rangga! Hari ini akan kucabut nyawa dua orang pengikutmu!”, suara tawa Ki Ageng Aras tertawa berkakakan sambil menggempur sepasang pendekar di depannya, terselip rasa sedih dan kecewa dalam tawanya.
Tumenggung Widyaguna mengerutkan alis, di luar dugaannya Ki Ageng Aras bukan hanya masih bisa mengimbangi Gajah Petak dan Bayu Bayanaka, bahkan serangan-serangannya tidak jarang membahayakan dua orang tersebut.
“Kakang?”, Watu Gunung dan Sentanu hampir serempak meminta pendapat dari Tumenggung Widyaguna.
Mata Tumenggung Widyaguna menyorot tajam, mengamati pertarungan tiga orang pendekar di hadapannya. Pembuluh darahnya terlihat menyembul dari dahi, berkedut-kedut menghadapi keadaan yang berkembang di luar dugaannya ini.
Tumenggung Widyaguna menggertakkan giginya, “Sentanu, Galah Cemani, Branjangan! Maju!”