
Beberapa hari kemudian, terlihat barisan panjang keluar meninggalkan perbatasan Kerajaan Watu Galuh. Ribuan pasukan berkuda dengan persenjataan lengkap mengawal barisan panjang itu. Puluhan gerobak kayu, membawa bekal makanan berada di antara barisan.
Jumlah pasukan jauh menyusut dibandingkan sebelum pertempuran melawan pasukan Kadipaten Jambangan. Bukan hanya prajurit-prajurit yang berasal dari anak-anak muda Kademangan Jati Asih saja yang gugur di medan tempur. Senapati Dalawangsi yang menderita luka berat dalam pertempuran di ibukota Kadipaten Jambangan, akhirnya sehari kemudian gugur karena luka-lukanya yang terlalu berat.
Meskipun suasana duka menyelimuti barisan itu, tapi raut-raut wajah anak-anak muda itu, sekarang terlihat jauh lebih matang dan dewasa. Mereka bukan hanya tahu rasanya kemenangan, tapi juga sudah merasakan pahitnya kegagalan.
Sementara Gagak Seta diangkat menjadi senapati, membantu Senapati Trimukti yang menggantikan posisi Senapati Dalawangsi.
---------
Beberapa hari sebelumnya, ketika Senapati Gajah Petak bertanya, ke mana tujuan mereka,
Rangga menjawab dengan tegas, “Ke timur, ke daerah tak bertuan, di sebelah selatan Kadipaten Sendang Wungu. Sebuah daerah yang subur, tapi juga liar, belum terjamah tangan manusia.”
---------
Beratus kilometer jauhnya dari barisan panjang itu. Di hutan tempat Senapati Subangsana gugur dalam tugasnya mengawal perbekalan pasukan Kerajaan Watu Galuh, terlihat beberapa orang prajurit memeriksa bekas-bekas hutan yang terbakar.
“Tidak terlihat bekas padi, jagung ataupun bahan makanan lain yang terbakar.”, ujar seorang dari mereka.
“Benar, hanya bekas mayat-mayat prajurit dan gerobak-gerobak kosong yang hangus terbakar.”, sahut yang lain.
“Kami menemukan jejak barisan kuda meninggalkan tempat ini. Dilihat dari jejak yang dalam, sepertinya selain membawa penunggangnya, kuda-kuda itu tentu membawa beban lain yang cukup berat.”, ujar salah satu dari mereka menyampaikan apa yang mereka temukan.
Kelompok kecil prajurit itu terdiam untuk beberapa saat.
Akhirnya pimpinan mereka memecahkan kebisuan itu, “Kukira semua bukti yang kita kumpulkan, mengerucut pada kesimpulan yang sama. Pasukan Raden Rangga berhasil membawa kabur, bukan hanya ribuan kuda, tapi juga seluruh perbekalan. Apa ada yang punya pendapat berbeda?”
-------------
Di saat yang sama, pertempuran yang sengit masih terjadi di ibukota Kadipaten Jambangan. Adipati Karangpandan memandangi tembok kota yang dipertahankan oleh ribuan pasukan kadipaten yang bertempur dengan semangat tinggi, meski sudah beberapa hari terkepung.
“Sialan.... Kalau tahu begini, lebih baik kita biarkan Rangga bertempur habis-habisan lebih dahulu.“, desisnya marah.
“Dan merebut Kadipaten Jambangan? Ingat kita sudah terikat perjanjian untuk tidak saling menyerang.”, sahut Adipati Panjalu yang berdiri di sampingnya.
“Tidak perlu mengeluh, dalam hitungan minggu, Kadipaten Jambangan akan jatuh ke tangan kita. Dua kadipaten besar berhasil kita kuasai, semangat pasukan meningkat, demikian juga dukungan dari para adipati.”, kata Adipati Gading Kencana.
“Bagaimana dengan Rangga? Apa akan kita biarkan saja mereka berlalu?”, tanya Adipati Karangpandan.
Adipati Gading Kencana diam-diam menghela nafas, sifat Adipati Karangpandan terkadang bisa membuat dia merasa lelah, “Untuk saat ini, lupakan Rangga. Prabu Jannapati tak akan diam saja dua kadipatennya kita rebut. Kita harus menembus pertahanan Kadipaten Jambangan secepatnya, sebelum Prabu Jannapati berhasil menyusun kembali pasukannya.”