Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab LXIII Ancaman Membayang Di Depan Mata



“Menurut kalian, apa yang akhirnya terjadi dengan Ki Demang Jati Waringin?”, Rangga bertanya.


Tak buru-buru menjawab, Rangga membiarkan pertanyaan itu meresap beberapa lama.


“Ki Demang Jati Waringin memenangkan pertempuran itu dan berhasil menyelamatkan perempuan-perempuan yang hampir saja menjadi korban keganasan kelompok begal yang berkuasa di sekitar Kademangan Jati Waringin.


Namun, tidak lama kemudian, Kademangan Jati Waringin harus menerima bencana. Para bandit-bandit dari berbagai tempat dan kelompok, berkumpul dan menyerang Kademangan Jati Waringin.


Bukan itu saja, ada beberapa Demang lain, justru memanfaatkan kesempatan itu. Mereka bekerja sama dengan para bandit-bandit itu untuk menyerang Kademangan Jati Waringin, dengan tujuan memperluas wilayah kekuasaan mereka.”


Cerita Rangga itu terdengar aneh bagi mereka yang masih muda dan belum mengalami hidup di masa sebelum berdirinya Kerajaan Watu Galuh.


Namun sangat mengena di hati generasi yang lebih tua.


Di sana sini, terdengar beberapa orang berbisik-bisik. Yang muda bertanya pada kakek atau nenek mereka. Yang tua menjelaskan situasi di masa itu pada mereka-mereka yang bertanya. Rangga diam membiarkan mereka saling bertukar cerita.


Sebelum berdirinya Kerajaan Watu Galuh, tidak ada pemerintahan resmi yang berkuasa dengan wilayah yang cukup besar.


Sebagian besar Bhumi Adyatma masih merupakan hutan-hutan liar yang dihuni oleh hewan buas dan kelompok begal. Sementara mereka yang berusaha hidup dalam tata aturan membentuk kelompok-kelompok kecil, setingkat desa dan yang terbesar setingkat kademangan.


Namun antar mereka yang memerintah pun terjadi persaingan. Sehingga demi menjaga keamanan penduduknya, tidak jarang seorang demang kemudian mengikat perjanjian dengan kelompok-kelompok begal yang saat itu dikuasai beberapa tokoh kuat yang merajai dunia persilatan.


Merekalah penguasa sesungguhnya dari Bhumi Adyatma saat itu.


Dengan menerima upeti tertentu, maka mereka akan menjamin keamanan wilayah seorang demang atau kepala desa.


Demi menolong beberapa orang wanita yang sedang teraniaya itu, Demang Jati Waringin melanggar salah satu isi perjanjian dengan mengerahkan pasukannya di luar batas wilayahnya.


Akibat kejadian itu, beberapa orang pengikut setianya gugur dalam peperangan. Dia sendiri terluka dan beberapa wilayah di bawah perlindungannya akhirnya melepaskan diri untuk bergabung dengan demang-demang lain di sekitar itu.


Demi keselamatan penduduk Kademangan Jati Waringin, Demang Jati Waringin akhirnya menerima hukuman serta merelakan sebagian besar harta benda yang miliknya dan milik penduduk kademangan.


Secara singkat Rangga menjelaskan akhir yang tragis dari Demang Jati Waringin dan keadaan di masa itu. Mendengar cerita Rangga, suasana pun menjadi sunyi.


Diam-diam banyak dari mereka yang melihat ke sekeliling, ke arah tanah-tanah terbuka dengan bangunan yang belum terbangun sempurna.


Hutan-hutan liar di kejauhan.


Bayangan gelap Gunung Awu di kejauhan, terlihat seperti raksasa bengis yang mengancam. Membuat perasaan takut diam-diam menyelip ke dalam hati mereka.


“Ayahanda Prabu Jaya Lesmana dan Pamanda Prabu Anglang Bhuanna adalah anak-anak dari Demang Jati Waringin. Kekalahan tragis yang dialami oleh ayah mereka, menjadi pelecut bagi mereka untuk membuka jaman yang baru.”, suara Rangga menggugah orang-orang itu dari lamunan.


“Mereka merintis perjuangan tanpa kenal lelah.


Perlahan-lahan wilayah kekuasaan mereka meluas dan pengaruhnya pun terasa sampai ke seluruh Bhumi Adyatma.


Bersama mereka bisa menunjukkan, betapa tatanan masyarakat yang berdasarkan hukum bukan hanya berdasarkan kekuatan, bisa lebih kuat dari gerombolan orang liar.


Satu per satu, tokoh-tokoh besar mulai menyatukan wilayah kekuasaan yang lebih besar dengan satu tatanan kehidupan yang lebih baik.”


Orang-orang yang tua mengangguk-anggukkan kepala mendengar perkataan Rangga itu.


“Mereka sudah memulai, tapi pekerjaan ini belum usai.”, sekali lagi suara Rangga terdengar mengatasi bisik-bisik di antara penduduk.


Mata mereka kembali tertuju pada Rangga.


“Kita yang akan menyelesaikannya. Aku, kalian, bersama-sama akan membangun sebuah kerajaan yang pengaruhnya akan menyebar, meluas sampai ke ujung-ujung Bhumi Adyatma! Sampai tak ada seluruh Bhumi Adyatma diterangi oleh kebenaran dan tak tersisa seujung kukupun bagi kegelapan!”, suara Rangga kembali menggelora.


“Kita akan berdiri di sini, mengucurkan darah dan keringat. Mempertaruhkan jiwa dan raga. Bukan hanya demi masa depan anak cucu kita, tapi demi masa depan sleuruh Bhumi Adyatma!”, seru Rangga disambut dengan teriakan bergemuruh dari mereka yang mendengarnya.


Di hutan yang tersembunyi, mereka yang diam-diam mengamati Rangga dan pengikutnya, mendengarkan dengan seksama tanpa banyak bicara.


Sebagian ada yang mendengarkan dengan senyum mengejek tersemat di muka.


Ada pula yang mendengarkan dengan wajah hikmat dan terlihat ikut terpengaruh oleh ucapan-ucapan Rangga.


Berbeda dengan mata-mata dari kadipaten yang lain, Adipati Bajing Kuning dan Adipati Surobledug, kebetulan berada langsung untuk mengamati Rangga dan pengikutnya.


Namun keduanya sudah cukup matang dan tak ada yang bisa membaca apa isi hati mereka.


Adipati Bajing Kuning tiba-tiba menggamit tangan Adipati Surobledug, “Aku kira sudah cukup kita mengamati, bagaimana menurut Adi?”


“Hemm”, jawab Adipati Surobledug singkat.


Diam-diam kedua orang adipati itu pun pergi sambil diikuti oleh beberapa orang pengawal mereka.


-------- o --------


Pertemuan malam itu seakan membuka babak baru dalam perjuangan Rangga dan pengikut-pengikutnya.


Kelompok-kelompok prajurit yang pergi berpatroli, pulang ke barak dengan luka besar dan kecil. Setiap hari selalu ada prajurit telik sandi yang berpacu keluar masuk menemui Rangga dan para pimpinan.


Terkadang kemudian disusul dengan berangkatnya pasukan utama berpacu meninggalkan markas utama mereka, dan setengah hari kemudian pulang dengan wajah tegang dan lelah.


Perlahan-lahan bangunan-bangunan panjang yang disiapkan untuk prajurit yang terluka mulai terisi, semakin lama semakin penuh oleh prajurit yang terluka.


Demikian juga prajurit yang berangkat bertugas, dari hari ke hari, terlihat diisi oleh prajurit-prajurit yang tubuhnya dihiasi dengan luka-luka ringan yang sudah diperban.


Mereka yang tidak pergi berperang pun, tak kalah menguras tenaga. Tidak sedikit pula terjadi kecelakaan kerja yang membuat mereka dikirimkan ke bangunan panjang, untuk dirawat bersama prajurit yang terluka.


Canda dan tawa, menjadi semakin jarang terdengar.


Orang-orang terlalu lelah untuk sekedar tertawa dan bercanda. Setiap saat mereka punya waktu untuk beristirahat, mereka memilih untuk menutup mata dan mengumpulkan tenaga, karena esok masih ada banyak pekerjaan yang menunggu mereka.


Dari puncak bukit, Rangga dan beberapa orang pimpinan mengamati keadaan di bawah mereka.


“Raden... sampai berapa lama kita akan menunggu? Moral pasukan dan penduduk memang masih tinggi, namun seberapa lama mereka bisa menanggung tekanan saat ini dalam posisi yang pasif?”, tanya Ki Bharata.


Berbeda dengan wajah para pemimpin pasukan yang masih terlihat tenang, wajah Ki Bharata dan sahabat-sahabatnya terlihat khawatir dan mulai kehilangan ketenangannya.