Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab X. Bangkitnya Trah Prabu Jaya Lesmana



Hambar rasanya ciumanmu seperti air teh tak bergula.


Nelangsa rasa hatiku, mencinta dewi nawangwulan, keluh Tarub.


Olok-olok tetangga membuat kupingku panas,


tapi kasihan orok yang masih kecil.


--- Dalang Papat Pingpitu bercerita hikayat Jaka Tarub.


___________________________________________


Hari itu menjadi salah satu hari yang tidak terlupakan bagi rakyat Kademangan Jatih Asih. Mereka yang cukup tua untuk mengalami masa-masa awal berdirinya Kademangan Jati Asih, terkenang masa ketika mereka babad alas. Bagi mereka yang lebih muda, hari ini membuat cerita-cerita ayah mereka tentang masa lalu menjadi nyata di depan mata mereka.


Hari itu, Rangga membawa tiga puluh tiga pengikut setianya dan ratusan pengikut mereka masuk ke dalam Kademangan Jati Asih.


Duduk di atas tandu yang dipanggul empat orang laki-laki dengan wajah keras dan badan tegap. Wajahnya masih sedikit pucat, lengannya yang patah sudah diperban dan ditahan dua lembar papan kayu, menggantung di bahunya. Ada yang berbeda dalam penampilannya, Rangga tidak lagi tampil asal-asalan. Rambutnya diikat dan digelung rapi. Dia memakai baju lengkap dengan kain halus menutupi bagian atas badannya dan ikat pinggang berhias rantai emas dan bertatahkan permata.


Sebilah keris terlihat diselipkan di pinggangnya. Para tetua Kademangan Jati Asih mengenal keris itu, Keris Jaya Bramanti, keris sakti milik Prabu Jaya Lesmana yang tak pernah lagi terlihat sejak Prabu Jaya Lesmana mangkat.


Memimpin di depan rombongan itu, adalah Tumenggung Widyaguna. Mendampinginnya, berjalan beberapa langkah di belakang Tumenggung Widyaguna, ada Ki Ageng Aras.


Dua tangan kiri dan kanan Tumenggung Widyaguna, Rakryan Rangga Wirapati dan Rakryan Rangga Aswatama, memimpin puluhan prajurit, berbaris di sisi kiri dan kanan tandu yang membawa Rangga. Mengikuti di belakang tandu, ada tiga puluh senapati dan pengikut mereka, berbaris jauh memanjang.


Seluruh rombongan, memakai pakaian resmi keprajuritan Kerajaan Watu Galuh. Panji-panji yang mewakili tiap-tiap kesatuan, berkibaran di udara.


Dua puluh tahun, para senapati ini hidup seperti orang liar. Tidak sedikit di antara mereka yang memimpin pengikut-pengikutnya hidup sebagai sekelompok begal. Meskipun demikian, bahkan yang terliar dari mereka, tidak ada satupun yang melupakan kedisiplinan keprajuritan.


Munculnya Rangga dan perintah untuk berkumpul, menyalakan kembali ingatan mereka akan masa lalu, harga diri mereka sebagai prajurit yang terkubur jauh di dalam hati, dan menyalakan harapan pada kejayaan di masa depan.


Itu sebabnya, dalam waktu singkat mereka menemukan kembali sikap-sikap mereka di masa lalu.


Ikatan batin rakyat Kademangan Jati Asih dan Rangga, serta wibawa yang memancar dari barisan itu, membuat rakyat Kademangan Jati Asih, tanpa diperintah, minggir dan dengan rapi berjajar, berlutut di sisi kiri dan kanan jalan.


Anak-anak kecil, sambil berlutut, memandangi barisan panjang itu dengan mulut ternganga dan mata terbuka lebar penuh kekaguman. Para pemuda memandang kegagahan prajurit yang berjalan tegap di depan mereka dengan dada ikut menyala-nyala. Jangankan mereka yang masih muda, banyak laki-laki tua yang menyala kembali kebanggaannya sebagai prajurit, apalagi mereka mengenal tokoh-tokoh seperti Tumenggung Widyaguna, Rangga Wirapati, Rangga Aswatama, Senapati Bayu Bayanaka, dan banyak lagi yang lainnya.


Sebagian besar barisan Rangga bergerak menuju ke tempat kediamannya, tapi di tiap-tiap titik tertentu, ada kesatuan-kesatuan kecil yang memisahkan diri dan bergerak ke lokasi yang sudah ditentukan.


Ketika Rangga dan para pengikutnya sudah duduk di dalam rumah kediaman Rangga, kesatuan-kesatuan kecil, sudah pula menyebar dan berjaga di seluruh lokasi-lokasi penting Kademangan Jati Asih.


Jika ada telik sandi dari pihak manapun, yang kebetulan berada di dalam Kademangan Jati Asih, jangan harap bisa keluar dari kademangan untuk memberi kabar.


Seorang senapati diutus pergi untuk menyampaikan undangan pada Demang, pamong dan para tetua Kademangan Jati Asih.


Setiap gerakan, setiap langkah satu per satu dilaksanakan mengalir tanpa jeda. Tiap senapati, tiap kesatuan, bergerak tanpa diperintah. Menunjukkan kedatangan Rangga dan pengikutnya hari itu sudah direncanakan dengan matang.


Ki Demang Jati Asih, Ki Jagabaya, diikuti beberapa orang tetua kademangan, dengan bergegas memenuhi panggilan Rangga. Meskipun terburu-buru, tapi mereka datang dengan memakai pakaian terbaik mereka.


Saat mereka tiba, penampilan pekarangan Rangga sudah berubah drastis. Tak ada manusia yang sempurna, tapi kesigapan sebuah kesatuan prajurit terlihat tanpa cacat. Dalam waktu yang singkat pekarangan yang luas itu, berubah menjadi sebuah perkemahan militer.


Rangga dan pengikut-pengikut kepercayaan-nya, sudah duduk di dalam sebuah tenda besar. Ki Demang dan rombongannya, berjalan masuk takut-takut.


“Ki Demang, Ki Jagabaya, masuklah, jangan sungkan-sungkan. Maaf, bila kedatangan kami terlalu mendadak. Karena keadaan yang mendesak kami tak sempat menghubungi Ki Demang terlebih dahulu.”, ujar Rangga dengan ramah.


“Tidak den, tidak masalah. Eh... bagaimana kami harus memanggil raden sekarang?”, Ki Demang buru-buru menjawab dengan hormat dan takut-takut.


“Panggil saja seperti biasa.”, jawab Rangga.


“Eh...”, Ki Demang ragu-ragu, matanya memandang ke kiri dan kanan, pada pengikut Raden Rangga yang berjajar dengan berwibawa.


Tumenggung Widyaguna tersenyum, “Ki Demang, kami semua berterima kasih, karena Ki Demang sudah membantu Raden Rangga selama masa-masa pengasingannya, dan meskipun masa pengasingan Raden Rangga telah berakhir, bukan berarti hubungan kekeluargaan antara Raden Rangga dan Kademangan Jati Asih berakhir.”


“Ki Demang, Ki Jagabaya, dan sekalian tetua, silahkan, mari duduk bersama. Ada beberapa hal yang ingin kami sampaikan, yang akan menyangkut masa depan Kademangan Jati Asih.”, ujar Ki Ageng Aras.


Rangga mengangguk ke arah Tumenggung Widyaguna.


Tumenggung Widyaguna sedikit membungkuk dengan hormat, sebelum menyampaikan dengan singkat tentang keadaan Kerajaan Watu Galuh saat ini, dan keputusan yang diambil Rangga tentang itu. Dua hari yang lalu, di lokasi yang tersembunyi, di lereng Gunung Awu, setelah Rangga beristirahat sehari semalam lebih dan keadaan-nya sudah membaik, dia mengumpulkan seluruh pengikut utamanya, beserta Ki Ageng Aras.


 


“Bagaimana keadaan raden?”, tanya Ki Ageng Aras penuh perhatian.


Segera setelah Rangga cukup kuat untuk meninggalkan rumah Ki Ageng Aras, Tumenggung Widyaguna dan yang lain membawa Rangga ke tempat persembunyian mereka. Ki Ageng Aras pun ikut bersama dengan mereka, meskipun demikian selama Rangga dalam perawatan, Ki Ageng Aras tidak diijinkan untuk mendekati tempat Rangga memulihkan diri.


“Keadaanku sudah membaik ki, setidaknya tidak ada masalah untuk kegiatan sehari-hari.”, jawab Rangga dengan ramah.


Sikap bermusuhan pengikut Rangga terhadap Ki Ageng Aras sudah jauh berkurang. Pertemuan mereka itu berlangsung di ruang terbuka, tapi baik yang terlihat, maupun yang tak terlihat, menyebar penjagaan yang ketat memenuhi sebagian lereng Gunung Awu itu.


Rangga dengan singkat menceritakan apa yang dia lihat di ibu kota.


“Hmp... bagus, senang hatiku, orang-orang tak punya prinsip itu, memang selayaknya mati seperti anjing.”, tukas seorang senapati, kulitnya hitam legam, membuat giginya terlihat putih berkilat tiap kali dia membuka mulut.


“Aku setuju dengan perkataan Jalak Ireng.”, Gajah Petak menyahut, senapati-senapati yang lain pun terlihat menganggukkan kepala menunjukkan sikap mereka.


Untuk beberapa saat terdengar kasak-kusuk di antara mereka. Tumenggung Widyaguna, Raryan Rangga Wirapati dan Rakryan Rangga Aswatama, duduk dengan tenang, dengan perhatian penuh pada Rangga. Sementara Ki Ageng Aras merasa sedikit tak nyaman, sebagai bekas pengikut Prabu Anglang Bhuanna.


Watu Gunung menggamit tangannya dan berucap, “Ki Ageng Aras, kami benci sifat tidak setia. Bagi kami sikap Ki Ageng Aras yang mengabdi dengan setia pada Prabu Anglang Bhuanna, adalah sikap yang patut diteladani.”


Jalak Ireng menyahut, “Benar, kita dulu berdiri di barisan yang berbeda, tapi dalam jiwa kita, terpatri nilai-nilai keprajuritan yang sama.”


Senapati yang lain menganggukkan kepala, mendukung ucapan mereka.


“Heheh, dua puluh tahun mengasingkan diri dalam sepi, tanpa pujian, jauh dari kemuliaan, siapa dari orang-orang yang berada di sini yang tidak tahu seperti apa rasanya?”, seorang senapati yang lain menyeletuk.


Ucapannya menyentuh hati semua yang hadir di situ, dan dengan satu ucapan itu, terasa satu ikatan yang kuat menghubungkan mereka semua. Menyatukan para senapati dan Ki Ageng Aras yang pernah berdiri sebagai lawan. Menyatukan mereka dengan Rangga, sebagai junjungan. Tidak terlihat, tapi terasa, sebuah semangat bergolak dalam dada setiap yang hadir di situ.


Mereka yang hadir di situ, beragam dalam usia. Yang termuda, tentu saja adalah Rangga, yang berusia dua belas tahun, sewaktu memasuki masa pengasingan. Kemudian ada tiga orang senapati yang saat itu masih berusia sangat muda, belum menginjak dua puluh tahun ketika mereka menjabat sebagai senapati.


Watu Gunung, Galah Cemani dan Aryasuta. Mereka bertiga bisa diterima dalam kelompok elit perwira pengikut Prabu Jaya Lesmana, bukan saja karena kelebihan yang mereka miliki, namun juga karena ada orang dalam yang membawa mereka menemui Prabu Jaya Lesmana. Watu Gunung ditemukan oleh Tumenggun Widyaguna dalam salah satu misinya. Galah Cemani adalah adik seperguruan Sentanu. Sementara Aryasuta adalah putera sulung dari Rakryan Rangga Wirapati.


Kemudian sebagian senapati berusia dua puluhan, sebagian yang lain berusia tiga puluhan, dan sebagian kecil sudah berusia empat puluhan saat masa pengasingan itu dimulai.


Tumenggung Widyaguna dan Ki Ageng Aras adalah yang tertua dari mereka yang hadir di situ, saat ini mereka sudah berusia tujuh puluh lebih.


Ada beberapa berita duka dari antara mereka yang mengasingkan diri ini, ada empat orang yang gugur selama masa pengasingan. Namun, tugas dan kepercayaan itu tidak terputus. Masing-masing mereka yang gugur itu, saat ini digantikan oleh putera mereka. Saat ini empat orang itu, sedikit lebih muda usianya dari Rangga.


Tumenggung Widyaguna segera meresmikan kedudukan mereka, sebagai senapati, setara dengan senapati-senapati yang lain, sebagai bentuk penghormatan terhadap rekan mereka yang gugur dalam tugas.


Tentu saja, dia dengan sangat tegas mengingatkan empat orang itu tanggung jawab dan prinsip-prinsip keprajuritan yang harus mereka pegang.


“Bagaimana keputusan Raden Rangga sekarang? Bila raden menghendaki kembalinya hak sah raden atas Kerajaan Watu Galuh, kami semua yang ada di sini, siap untuk berdiri bersama raden, sampai nafas penghabisan kami.”, ujar Tumenggung Widyaguna setelah percakapan di antara pada senapati mereda.


Mendengar pertanyaan Tumenggung Widyaguna itu, perhatian segenap orang yang hadir pun tertuju pada Rangga.


Samar-samar terasa semangat yang berapi-api memenuhi tempat itu. Tidak ada wajah khawatir, ragu apalagi takut.


Rangga melihat berkeliling dengan perasaan bangga dan puas. Inilah wajah-wajah kumpulan perwira yang mewakili semangat keperwiraan ayahnya. Dalam diri mereka, tertanam benih cita-cita, idealisme dan impian yang ditanamkan ayahnya lewat perkataan, tindakan dan teladan hidup.


Inilah warisan yang dia terima dari ayahnya.


Bukan kekuasaan, bukan harta kekayaan.


Impian, cita-cita, dan satu idealisme, itulah yang menjadi warisan dari ayahnya.