
Ki Ageng Aras tercenung untuk beberapa lama, memikirkan pertanyaan Senapati Manggala. Sesekali pendekar tua itu menghela nafas, sesekali menoleh ke arah Gagak Seta yang masih tekun berlatih. Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala bercakap-cakap dengan suara rendah, agar tidak mengganggu mereka yang masih berlatih.
Saat ini Gagak Seta tidak lagi duduk bersila, sambil perlahan-lahan melatih jurus-jurus Cakar Garuda, Gagak Seta mengalirkan hawa murni ke bagian-bagian tubuhnya, sesuai yang diajarkan Ki Ageng Aras.
“Ki Ageng Aras tak perlu menjawab, jika tidak berkenan. Maafkan aku ki, bukan pertanyaan yang penting, hanya keceplosan saja aku bertanya.”, ujar Senapati Manggala merasa tak enak.
Ki Ageng Aras menggelengkan kepala, “Tak apa Ki..., aku hanya berpikir saja, apa mungkin aku terlalu terburu-buru. Hanya saja... seperti ada dorongan untuk mengangkat dia menjadi murid. Mungkin karena melihat bakatnya, atau karena saat melihat dia, aku teringat dengan usiaku yang perlahan-lahan mendekati batasnya.”
“Aku kira Ki Ageng Aras tidak salah memilih murid. Terus terang selama dia menjalankan tugasnya, kami sebagai atasannya langsung, tak pernah mendapati sifat yang buruk atau sikap yang mencurigakan dari anak itu.”, ujar Senapati Manggala berusaha menghibur Ki Ageng Aras.
Ki Ageng Aras membuang nafas panjang, seakan ingin melonggarkan dadanya dari beban, lalu menoleh ke arah Senapati Manggala dan tertawa, “Hahaha, ya... kuharap juga demikian. Lagipula masih panjang waktunya sebelum aku mulai mewariskan ilmu-ilmu simpananku. Selama dia mempelajari dasar-dasar ilmuku, masih ada banyak waktu untuk mengamati.”
“Benar, benar. Juga seperti yang sudah aku sampaikan, sepanjang yang kami tahu, dia memiliki sikap yang baik.”, sahut Senapati Manggala.
Kedua orang pendekar itu pun mengalihkan perhatian mereka ke prajurit lain yang juga sedang berlatih. Sesekali mereka berjalan untuk mengamati salah seorang prajurit lebih dekat. Memastikan mereka baik-baik saja.
Satu per satu dari mereka merasa menemui jalan buntu, atau merasa tak kuata menahan kantuk dan memutuskan sudah saatnya untuk kembali ke barak.
Terkadang ada pula yang mengajukan pertanyaan dan melanjutkan kembali latihannya setelah merasa pertanyaannya terjawab. Namun tidak ada yang bisa melawan batasan dari fisik seorang manusia, dan akhirnya tidak ada yang tersisa selain Gagak Seta.
Itu pun dia hanya duduk beristirahat, sambil menunggu gurunya selesai dengan tugasnya. Ki Ageng Aras membiarkan anak muda itu menunggu. Sampai setelah orang terakhir meninggalkan tempat itu, dan tersisa Ki Ageng Aras, Senapati Manggala dan Gagak Seta, barulah Ki Ageng Aras mengalihkan perhatiannya ke pemuda itu.
“Lelah?”, tanya Ki Ageng Aras sambil tertawa.
“Ya guru... badanku rasanya sudah pegal semua, ingin berbaring di tempat tidur dan memejamkan mata.”, jawab Gagak Seta tak menyembunyikan rasa lelahnya.
“Hahahaha..., ya sudah, kembalilah ke barakmu untuk beristirahat.”, ujar Ki Ageng Aras melambaikan tangannya.
“Guru, apa tidak ada tugas khusus?”, tanya Gagak Seta.
“Tidak ada, kau pergunakan waktumu sebaik-baiknya untuk mencerna apa yang sudah aku ajarkan malam ini. Tiga hari lagi, aku ingin melihat sejauh mana kau bisa memahami.”, jawab Ki Ageng Aras.
Setelah berpamitan, Gagak Seta pun kembali ke baraknya.
Tiga hari dua malam, waktu yang pendek bagi prajurit-prajurit telik sandi muda itu untuk mencerna apa yang sudah mereka dapat. Di luar bekal yang diberikan Ki Ageng Aras juga ada pelatihan-pelatihan dan tugas dari Senapati Lesmana dan bawahan-bawahannya. Belum lagi tugas mereka untuk diam-diam menebarkan pengaruh mereka di antara prajurit-prajurit baru Kadipaten Jambangan.
Maka masing-masing dari mereka punya caranya sendiri-sendiri dan prioritasnya sendiri-sendiri.
----
Di perbatasan Kadipaten Jambangan, beberapa orang prajurit berkuda sedang duduk mengobrol sambil menikmati wedang jahe yang mereka seduh di atas satu api unggun kecil.
“Jaga jangan sampai terlalu banyak asap.”, ujar pimpinan mereka.
“Kang, kalaupun mereka ada yang lihat juga tidak masalah. Orang-orang Kademangan Jati Asih itu tidak berani keluar terlalu jauh dari sarang mereka.”, jawab prajurit yang agak muda sambil memastikan agar api unggunnya tak terlalu berasap.
“Jangan meremehkan mereka, tiga puluh senapati andalan Prabu Jaya Lesmana itu sudah terkenal selama puluhan tahun, demikian pula tiga pimpinan mereka. Orang-orang kademangan itu mungkin tidak ada apa-apanya, tapi beda ceritanya dengan pengikut inti Rangga Wijaya.”, ujar pemimpin prajurit itu.
“Kabarnya mereka berhasil menumpas ribuan orang begal Gunung Awu.”, ujar seorang prajurit yang lain.
“Apa kau jadi takut kang?”, goda prajurit yang muda tadi.
“Cis.. jangan sembarangan ngomong kau, Japra, kutendang nanti kau sampai terkaing-kaing.”, sahut prajurit yang digoda dengan kesal.
“Tidak salah perkataan Wardiman itu, di bawah pengaruh dan bimbingan pengikut inti Rangga, penduduk Kademangan Jati Asih jadi kekuatan yang perlu diperhitungkan. Meskipun aku yakin kita tidak akan kalah, tapi akan jatuh banyak korban dari pihak kita. Itu sebabnya Ki Adipati menarik prajurit-prajurit baru dalam jumlah besar, mereka bisa jadi perisai hidup buat kita yang dianggap sebagai kesatuan utama.”, pimpinan prajurit itu menjelaskan.
“Makanya kalian tidak perlu mencari gara-gara dengan prajurit-prajurit baru itu.”, ujar seorang prajurit yang sudah agak berumur.
“Tapi sikap mereka itu Kang, mengesalkan, ugal-ugalan tak punya disiplin. Kadang kalau lihat tingkahnya pingin aku tempeleng saja.”, jawab prajurit yang lebih muda, yang dipanggil Japra tadi.
“Ya jangan kau lihat, sekarang kan Ki Adipati sudah memisahkan barak mereka, agak jauh di perbatasan.”, jawab prajurit yang lebih tua.
“Asal mereka tidak mencari gara-gara saja.”, gumam si Japra tadi.
“Sudah diam, lihat itu, bukankah itu Semampir? Ini belum waktunya pergantian jaga kan? Ruki dan Uyat juga tidak terlihat. Pasti ada sesuatu.”, ujar pimpinan sekumpulan prajurit itu sambil berdiri.
“Kalian tunggu saja di sini.”, ujarnya sambil melompat naik ke atas kuda, lalu memacu kudanya menemui anak buahnya yang datang dari kejauhan.
“Apa ada sesuatu Kang? Menurut Kakang bagaimana?”, tanya Japra sambil melihat ke kejauhan.
“Bisa jadi...., bisa jadi mereka mulai bergerak. Kau ingat kabar dari Kadipaten Serayu yang sempat kita diceritakan Ki Rusadi? Cadangan makanan mereka mungkin tidak akan tahan sampai dua bulan. Jika mereka terus menunggu, pada akhirnya mereka akan mati kelaparan.”, jawab prajurit yang sudah berumur.
“Baguslah kalau mereka mulai bergerak sekarang, tanganku sudah gatal ingin mencoba kepandaian anak-anak Kademangan Jati Asih itu.”, jawab si Japra.
Prajurit yang tadi diejek Japra melirik ke arah anak muda itu dan bertanya, “Kau tidak gatal ingin mencoba menjajal kepandaian prajurit intinya Raden Rangga Wijaya?”
Si Japra meleletkan lidah sambil menjawab, “Kalau mereka, itu bagian kalian yang lebih senior, aku cukup menjajal anak-anak muda Kademangan Jati Asih saja.”
“Bah, dasar, sialan kau.”, jawab prajurit tadi sambil tertawa kecil.
Pimpinan prajurit itu memacu kudanya dan dalam waktu yang singkat sudah sampai ke tempat yang lain menunggu.
Tanpa melompat turun dari kudanya dia memberikan perintah, “Sendang, Japra, kalian ikut aku kembali ke kadipaten. Yang lain tetap berjaga di sini seperti tugas semula, Wastu, kau yang jadi pimpinan selama aku pergi.”
“Baik Ki, siap. Ada kabar apa dari Semampir Ki?”, tanya prajurit yang berumur tadi.
“Orang-orang Kademangan Jati Asih mulai bergerak.” Jawab Ki Rusadi, pimpinan prajurit-prajurit itu, sebelum dia memacu kudanya ke Kadipaten Jambangan, diikuti oleh dua orang prajuritnya yang dengan buru-buru melompat ke atas kuda mereka dan memacunya mengikuti Ki Rusadi.
-----
Kabar bergeraknya penduduk Kademangan Jati Asih dipimpin oleh Rangga dan pengikutnya ini dengan cepat sampai ke telinga Prabu Jannapati dan juga pada adipati yang dipimpin oleh Adipati Gading Kencana.
Di Kadipaten Serayu, di depan kemah utama tempat Prabu Jannapati tinggal dalam perang melawan adiknya sendiri yang dijadikan raja boneka oleh Adipati Gading Kencana. Terlihat Patih Nandini diikuti Senapati Arya Pameling di belakangnya, menemui pimpinan penjaga raja.
“Ada berita yang penting, mohon sampaikan pada baginda prabu, Nandini ingin menghadap.”, ujar Patih Nandini dengan sopan.
Beberapa orang prajurit yang sedang berjaga itu saling berpandangan, kemudian pimpinannya mengambil keputusan, “Kau sampaikan dulu pada Putri Gading Kuning, agar beliau yang menyampaikan pada baginda prabu.”
Kemudian berbalik pada Patih Nandini, “Mohon kiranya Ki patih berkenan menunggu sejenak.”
“Tentu saja.”, Jawab Patih Nandini dengan senyum yang menenangkan.
Salah seorang dari prajurit yang berjaga masuk ke dalam. Di dalam tenda, masih ada beberapa tirai pemisah yang memisahkan ruang dalam tempat Prabu Jannapati beristirahat dari pintu masuk yang terluar.
Sekilas dari antara celah tirai yang menutupi bagian dalam, pengawal tadi melihat pemandangan yang membuat jantungnya berdebar.
Cepat-cepat dia mengalihkan pandangan, menunduk ke bawah dan tak berani mengangkat kepalanya. Meski begitu, bayangan lekuk tubuh yang sintal dan kulit yang putih mulus, tidak mudah dia singkirkan dari benaknya. Sedikit yang terlihat, tapi dengan rajin otaknya bekerja untuk melengkapi apa yang tidak dia lihat.
Di depan tirai untuk masuk ke ruangan yang paling dalam, ada ruangan yang cukup luas.
Tidak ada prajurit yang berjaga di situ. Ruangan itu dihiasi cukup mewah dan nayaman. Hanya ada empat orang wanita cantik berkulit putih dengan alis lentik dan mata yang sipit. Yang sedang duduk bersantai dan sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing.
“Ada apa pengawal?”, tanya salah seorang dari mereka dengan aksen yang janggal di telinga.
“Lapor tuan puteri, ada Ki Patih Nandini dan Ki Senapati Arya Pameling di luar yang ingin bertemu dengan baginda prabu.”, jawab prajurit itu dengan hormat.
“Hmm... apa sebegitu pentingnya? Baginda prabu sedang beristirahat. Coba kau tanyakan pada Patih Nandini, ada berita apa sehingga harus mengganggu istirahat baginda prabu.”, jawab puteri tersebut.
“Ah... tapi...”, prajurit itu terlihat ragu-ragu.
Namun ketika melihat tatapan mata yang tajam dari lawan bicaranya, buru-buru dia mengangguk hormat dan berkata, “Siap tuan puteri, akan hamba tanyakan sekarang.”
Tanpa banyak membuang waktu, prajurit itu bergegas keluar dan menyampaikan pesan dari dalam pada pimpinannya. Pimpinan pengawal itu memandang ke arah Patih Nandini dengan rasa bersalah.
“Maaf Ki... seperti yang Ki Patih dengar.”, ujarnya ragu-ragu.
“Tidak apa-apa, aku mengerti, sampaikan bahwa ada berita tentang pergerakan Raden Rangga beserta seluruh penduduk yang mengikutinya.”, ujar Patih Nandini dengan sabar.
“Terima kasih ki.”, ujar pimpinan pengawal raja itu dengan lega, buru-buru dia menengok ke bawahannya dan berkata, “Kau dengar itu kan, cepat sampaikan.”
“Siap Ki.”, ujar anak buahnya yang segera masuk kembali untuk menyampaikan pesan.
Senapati Arya Pameling mengerutkan alis, merasa tak suka dengan apa yang dia lihat, tak tahan dia bergumam, “Harusnya baginda prabu tidak mengajak mereka ke medan perang.”
Patih Nandini menengok ke arahnya dan tersenyum, “Bukankah dahulu Kakang Tumenggung Sanajaya juga sempat mengajukan keberatan, tapi kemudian kelima orang puteri itu membuktikan bahwa mereka punya ilmu kanuragan yang tak kalah dengan seorang senapati sekalipun.”
Senapati Arya Pameling menghela nafas, merasa tak senang, tapi juga tak tahu harus menjawab apa.
“Sabar saja, baginda prabu bukan orang yang bodoh. Kelima orang puteri itu pun demikian juga.”, ujar Patih Nandini.
Tak lama kemudian pengawal raja yang tadi masuk pun keluar, “Ki Patih dan Ki Senapati harap menunggu sebentar, baginda prabu sedang bersiap.”
Dari dalam tiba-tiba terdengar suara merdu mendayu dengan aksen yang janggal, “Ki Patih silahkan menunggu di dalam, sebentar lagi baginda prabu akan menemui kalian berdua.”
Para pengawal pun bergeser dan memberikan jalan bagi Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling untuk masuk ke dalam. Sementara pengawal yang tadi menyampaikan pesan dalam hati menggerutu, betapa berbeda nada suara puteri itu saat berbicara dengan dirinya tadi.
Ketika Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling masuk ke dalam, di ruangan sebelum ruang tidur Prabu Jannapati itu, sudah ditata dengan rapi, meja hidangan dan tempat duduknya. Sementara dari celah tirai terlihat, tiga orang puteri membantu Prabu Jannapati mengenakan pakaian. Dua orang puteri yang lain, dengan sopan dan luwes menuangkan minuman untuk Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling.
Salah seorang dari mereka, entah sengaja atau tidak, mengerling ke arah Senapati Arya Pameling. Ketika tatapan mata mereka bertemu, jantung Senapati Arya Pameling pun berdebar lebih cepat.
Buru-buru dia menundukkan wajahnya.
Terdengar tertawa kecil yang merdu dari salah satu selir Prabu Jannapati itu ketika dia berjalan meninggalkan mereka.
“Jangan kau goda mereka. Nanti aku cemburu.”, terdengar suara Prabu Jannapati dari dalam, disambut tertawa cekikikan dari para selirnya.
Prabu Jannapati pun keluar menemui Patih Nandini dan Senapati Arya Pameling, dengan suara lantang dia bertanya. “Nandini, kudengar Rangga akhirnya bergerak juga? Cepat sampaikan laporanmu!”