Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XX. Pembantaian Besar-Besaran.



Begal-begal itu sudah seperti mau menetes saja air liurnya, membayangkan kemenangan yang ada di depan mata, mereka yang hanya diperalat oleh pimpinannya itu tak tahu apa-apa tentang rencana yang sesungguhnya.


Yang ada di benak mereka saat ini hanyalah harta dan wanita.


Sesekali mata mereka yang liar menangkap sosok-sosok wanita di antara penduduk kademangan yang berlarian menjauh. Melihat pinggul yang bergoyang, membuat mereka makin terpacu.


Luka-luka yang terbuka, mengumbar bau darah ke seluruh medan pertempuran dan membuat mereka semakin beringas.


Berbeda lagi dengan pimpinan mereka, mata mereka nyalang memandang senapati yang menjadi sasaran mereka, nafsu untuk membunuh memenuhi dada mereka. Tandang mereka lebih terukur, namun perbawa yang memancar dari diri mereka jauh lebih kelam dan mengerikan.


Jika begal-begal dari Gunung Awu itu sudah berubah bak setan kelaparan, maka di sisi lain pasukan Rangga terlihat tenang dalam menghadapi pertempuran itu.


Memang tekanan yang mereka rasakan sekarang jauh lebih berat, tetapi di lain pihak dengan mundurnya anak-anak muda Kademangan Jati Asih, membuat mereka lega. Pendekar-pendekar ini ternyata jauh lebih mengkhawatirkan nyawa pemuda-pemuda itum daripada nyawa mereka sendiri.


Ketika melihat anak-anak Kademangan Jati Asih sudah mundur masuk ke dalam garis pertahanan, maka kerisauan di dalam hati mereka pun sirna. Tinggal ketetapan hati sebagai seorang prajurit, yang rela meregang nyawa demi keyakinan dan cita-cita. Rangga dan Ki Ageng Aras bisa melihat itu. Para senapati bisa merasakan itu.


Bahkan penduduk kademangan yang berlindung di belakang punggung-punggung para pahlawan itu pun bisa merasakannya.


Anak-anak kademangan yang tadinya mundur ketakutan, perlahan menemukan kembali keseimbangan jiwanya dan merasa malu. Jika bukan Ki Demang dan Ki Jagabaya yang melarang, mungkin mereka sudah ikut melurug maju saat ini.


Namun Ki Demang dan Ki Jagabaya, tahu rencana Rangga dan menahan mereka untuk maju.


Hanya begal-begal yang sudah dikuasai nafsu dan setan itu saja yang tidak bisa merasakan perubahan dari diri para prajurit yang ada di depannya.


Para prajurit berkonsentrasi pada lawan di depannya, sementara Rangga, Ki Ageng Aras dan para senapati menanti-nanti tahap berikutnya dari rencana mereka.


Rangga sesekali mencuri pandang ke arah hutan tempat Tumenggung Widyaguna bersembunyi.


Dalam hatinya dia berhitung, 'Satu'


'Dua'


'Sekarang'


“Serrrrr......... Serrr.......... Serr......Serr.........!!!”


Tiba-tiba ratusan anak panah memenuhi langit. Para begal yang seluruh perhatiannya hanya tertuju ke depan, tak menyadari apa-apa sampai kemudian dari arah belakang mereka, suara teriak kesakitan teman-temannya, menembus kabut nafsu yang menguasai pikiran mereka.


Ketika mereka menoleh, terlihatlah rekan-rekan mereka bergelimpangan meregang nyawa.


Mereka masih memandangi mayat-mayat itu dengan pandangan mata bingung, ketika sekali lagi langit dipenuhi oleh ratusan anak panah.


“Serrrrr......... Serrr.......... Serr......Serr.........!!!”


“Serrrrr......... Serrr.......... Serr......Serr.........!!!”


“Serrrrr......... Serrr.......... Serr......Serr.........!!!”


Gelombang panah demi panah memenuhi langit, Tumenggung Widyaguna dan pasukannya tak memberi kesempatan bagi para bandit-bandit itu untuk mempertahankan diri. Baru ketika tak ada lagi yang bisa menjadi sasaran panah tanpa membahayakan rekan-rekan mereka, Tumenggung Widyaguna menghentikan serangan.


Pada saat itu jumlah kumpulan begal itu sudah berkurang hampir separuh.


Mereka yang masih hidup pun sudah terserak ke segala penjuru. Serangan panah dari arah yang tak pernah mereka duga itu seperti guyuran air dingin yang menyadarkan mereka.


Bahkan setan-setan tua seperti Lowo Ijo, Ki Paryadji, Sugriwa dan rekan-rekannya pun langsung kehilangan semangat untuk bertempur. Tiba-tiba kejadian puluhan tahun yang lalu ketika Prabu Jaya Lesmana dan perwira-perwira pilihannya menghajar mereka muncul kembali dalam ingatan.


Hati mereka pun dicekam ketakutan yang tak bisa mereka jelaskan.


Keadaan pun berbalik seratus delapan puluh derajat, di pihak Rangga semangat mereka membubung setinggi-tingginya. Sementara lawan mereka sudah kehilangan nafsu untuk menyerang, mereka hanya berusaha mencari lubang untuk melarikan diri.


Namun hutan tempat perlindungan mereka, sekarang justru jadi sumber bencana yang mengerikan. Tekanan pada pasukan Rangga jauh berkurang. Para senapati dan prajurit pun mendapat kesempatan untuk menarik nafas dan mengatur barisan.


Ki Demang dan Ki Jagabaya yang tadinya melihat situasi di medan perang dengan hati berdebar-debar dan wajah pucat, sekarang wajah mereka bersemu kemerahan.


Mereka pun berseru-seru, mengatur seluruh anak-anak muda dari Kademangan Jati Asih yang masih bisa mengangkat senjata, “Cepat berbaris!”


“Bersiap-bersiap!”


“Kau masih terluka, kembali ke tempatmu!”


Berbagai seruan terdengar dari dalam barisan panjang penduduk Kademangan Jati Asih. Rangga mengamati keadaan di sekelilingnya dengan dada yang terasa longgar rasa lega. Ketegangan yang sejak tadi menekan hatinya terangkat sudah. Ketika dilihatnya anak-anak muda Kademangan Jati Asih sudah mulai memasuki kembali barisan, Rangga melompat ke atas kudanya dan menderap ke depan barisan.


Dengan suara menggelegar dia berseru, “PASUKAN BERSIAP !!!”


“SIAAAAAAAAAAAP!!!!!”, suara ribuan orang seperti suara gunung yang rubuh, memenuhi medan pertempuran.


Tak lama kemudian, terdengar suara Tumenggung Widyaguna tak kalah menggelegar dari dalam hutan, “PASUKAN BERSIAP!!!”


“SIAAAAAAAAAAAAAP!!!!”, suaran ratusan orang yang bersembunyi di hutan mengguruh merobek langit.


“SERAAANG !!!!”


“SERAAANG!!!”


Saling bersahutan, teriakan Rangga dan teriakan Tumenggung Widyaguna, dan seperti ombak di lautan pasukan mereka menyerang dari dua arah. Para begal yang sudah kehilangan semangat, hanya berpikir bagaimana mereka harus melarikan diri.


Beberapa yang tak sanggup lagi menghadapi tekanan, memilih untuk berlutut memohon ampun. Namun prajurit-prajurit Rangga sudah mendapat pesan.


Tanpa ragu seorang prajurit menebas putus kepala seorang bandit yang berlutu memohon ampun di hadapannya. Saat dia berbalik, dia melihat beberapa orang anak muda yang bersamanya, memandangi dia dengan wajah tertegun. Terlihat rasa kaget dan takut bercampur baur.


“Raden Rangga sudah memerintahkan, tidak ada ampun untuk mereka.”, ujarnya singkat.


Dia tidak menjelaskan lebih panjang lebar, tapi langsung berbalik untuk mencari lawan yang lain. Medan pertempuran itu berubah menjadi medan pembantaian. Ki Lowo Ijo berkali-kali terdesak mundur oleh serangan Ki Ageng Aras. Pembantu-pembantu andalannya beberapa orang sudah mati, yang lain pun sedang terdesak mundur di bawah serangan senapati-senapati yang sekarang bebas bergerak.


Ki Paryadji, Macan Gunung Awu, tidak bernasib lebih baik. Menghadapi Tumenggung Widyaguna semua ilmu kesaktiannya sama sekali tak berguna.


Satu per satu mereka yang puluhan tahun malang melintang sebagai kepala rampok, pembunuh, tokoh dunia hitam yang disegani, meregang nyawa di bawah tangan pengikut Rangga.


Meskipun beberapa di antara mereka sudah berteriak menyatakan takluk, berjanji dan bersumpah segala macam permohonan, semua pengikut Rangga tak ada yang menjawab sepatah kata pun. Rengekan dan permohonanpun berubah jadi sumpah serapah, dan pengikut Rangga masih terus bertempur tanpa banyak kata.


Rangga sendiri duduk tegak di atas kudanya, matanya menatap ke depan, mengawasi medan pertempuran tanpa banyak kata. Di sisinya ada Senapati Hanggamurti dan Senapati Aryasuta yang membawa busur.


Sesekali Rangga menunjuk ke satu arah, dan tak lama kemudian sebatang panah akan meluncur dan menyelamatkan nyawa seseorang dari mereka, dan sebagai gantinya satu nyawa begal Gunung Awu melayang.


Sesekali mereka memanah tanpa menunggu perintah dari Rangga.


Pembantaian itu tidak berlangsung terlalu lama. Jumlah mereka yang berada di bawah pimpinan Rangga jauh lebih besar dibanding lawan yang tersisa, setelah sebelumnya sebagian besar dari mereka sudah mati dihujani panah dari belakang.


Anak-anak muda dari Kademangan Jati Asih, terguncang melihat keganasan prajurit-prajurit yang biasanya menjadi pelatih mereka, yang menjadi pelindung mereka beberapa saat sebelumnya.


Meskipun demikian, guncangan itu tak sampai membuat mereka kehilangan akal dan melawan perintah. Mereka tetap bergerak sesuai arahan prajurit-prajurit yang memimpin mereka. Ki Lowo Ijo akhirnya mati dengan dada hangus dihantam telapak tangan Ki Ageng Aras.


Ki Paryadji yang pernah malang melintang di ujung barat Kerajaan Watu Galuh, tak berapa lama kemudian menyusul, setelah tak mampu menghentikan tombak pendek Temenggung Widyaguna yang meluncur deras dan melubangi dahinya.


Dengan matinya dua tokoh terkuat dari begal-begal Gunung Awu, selesai pula pembantaian itu.


Medan pertempuran yang beberapa saat sebelumnya masih ramai riuh rendah dengan suara pertempuran, sekarang menjadi hening. Sunyi tanpa suara sedikitpun.


Tak ada sorak kemenangan dari prajurit-prajurit Rangga, mereka dengan tenang membawa anak-anak muda yang masih tecekam oleh pembantaian yang baru saja mereka lihat, berbaris rapi menurut kesatuan mereka masing-masing.


Mayat-mayat yang bergelimpangan dan menghalangi mereka, diangkat dan dilemparkan menjadi satu tumpukan.


Para lurah, bekel dan senapati, berdiri sesuai kedudukan mereka. Mengikuti di belakang mereka gabungan prajurit dan anak-anak muda Kademangan Jati Asih.


Berbaris rapi di depan Rangga yang diapit oleh Tumenggung Widyaguna dan Ki Ageng Aras. Berdiri di belakang mereka, kedua Rakryan Rangga.


Sedikit jauh di belakang Rangga, ada penduduk kademangan yang masih terguncang oleh pertempuran yang baru saja terjadi. Apalagi melihat Rangga yang selama ini dikenal sebagai pemuda pemalas yang ramah tamah, sekarang terlihat berwibawa, bahkan menakutkan.


Meskipun samar-samar, tapi sedikit banyak mereka mendengar tentang perintah yang diberikan Rangga.


Di dalam hati mereka, tak sedikit yang terselip pertanyaan, 'Apa tidak salah sudah memilih untuk mengikut Rangga?'


Di tengah medan pertempuran yang hening itu, suara bisik-bisik di antara penduduk kademangan terdengar seperti suara sekumpulan lebah yang mendengung. Namun suara-suara itu perlahan mereda, begitu melihat Rangga mengangkat tangannya.


Rangga melihat berkeliling, matanya menatap wajah-wajah yang ada di sekelilingnya dengan sorot mata yang jernih dan tajam. Sikap tubuhnya tegak dengan tangan dan dada terbuka, tak ada yang disembunyikan.


“Kalian lihat orang-orang ini.”, kata Rangga sambil menunjuk ke arah mayat-mayat yang menumpuk di depan mereka.


Mata setiap orang mengikuti jari telunjuk-nya dan berhenti pada tubuh-tubuh tak bernyawa. Beberapa dengan luka di beberapa tempat. Beberapa tak lengkap anggota tubuhnya. Beberapa dengan luka menganga yang masih mengalirkan darah.


“Semasa hidup mereka melakukan berbagai macam kejahatan. Mencuri, merampok, memperkosa dan membunuh. Merusak tatanan hidup rakyat Kerajaan Watu Galuh, sampai kemudian sebagian dari kalian, bersama dengan mendiang ayahanda mengusir mereka pergi.”


Rangga tidak berteriak, tapi suaranya terdengar jelas.


“Masih ingatkah apa yang dikatakan mendiang Prabu Jaya Lesmana pada orang-orang ini?”, tanya Rangga mengingatkan mereka yang dahulu ikut membuka hutan dan membangun Kademangan Jati Asih.


“Kuberi kalian kesempatan untuk hidup! Tapi jangan sekali-sekali berani melangkahkan kaki kalian memasuki perbatasan Kerajaan Watu Galuh dengan niat buruk!', suara Rangga tegas mengulang kata-kata yang dulu pernah diucapkan oleh ayahnya.


Hati anak-anak muda dan penduduk kademangan yang sebelumnya masih terasa kisruh dan bertanya-tanya, menjadi tenang dan paham, mengapa Rangga memberikan perintah yang keras.


“Kalian lihat baik-baik mereka dan camkan baik-baik dalam ingatan kalian.”, suara Rangga terdengar tegas dan keras, membuat jantung penduduk Kademangan Jati Asih berdebar-debar.


“Saat ini kita sedang dalam perjalanan menuju satu tempat yang baru, bukan hanya sekedar pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Bukan sekedar mencari selamat dari bahaya yang datang mengancam kehidupan kita.”


Kata-kata Rangga seperti membuka pikiran penduduk Kademangan Jati Asih, samar-samar mereka merasakan sesuatu yang besar di balik perjalanan mereka.


“Perjalanan kita ini adalah perjalanan untuk membangun satu negara yang baru, dengan tatanan yang baru. Suatu masyarakat yang adi luhung dan berjiwa mulia. Di mana setiap insan dijaga dan dihormati hak serta martabatnya.”


Untuk sejenak Rangga diam dan membiarkan kata-katanya meresap.


“Dan tak ada tempat bagi orang-orang seperti mereka!”, kata Rangga dengan keras sambil menunjuk ke arah begal-begal Gunung Awu yang sekarang tinggal jasadnya saja.


“Kepada mereka yang tahu menghargai hak sesamanya, yang memiliki rasa kemanusiaan, aku janjikan segenap kemampuanku dan segenap hidupku untuk melindungi kalian. Tetapi bagi kalian yang kehilangan kemanusiaannya, ini akhir yang menanti kalian.”


Berbagai macam perasaan hinggap dalam hati penduduk Kademangan Jati Asih. Selama dua puluh tahun mereka mengenal Rangga. Meski sebagian dari mereka tahu latar belakang pemuda itu, tapi keramahan dan kerendah hatiannya tanpa sadar membuat mereka lupa.


Hari itu, mereka melihat sisi yang lain dari Rangga. Sisi dirinya sebagai seorang raja dari sebuah kerajaan. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba satu per satu dan semakin lama diikuti semakin banyak orang, seluruh penduduk Kademangan Jati Asih berlutut di hadapan Rangga.


Ada satu perasaan yang sulit dijelaskan, ketika mereka merasa menjadi bagian dari satu perjuangan yang lebih besar. Ketika sosok di depan mereka, mewakili harapan dan cita-cita yang ingin mereka raih dalam hidup.


Satu nilai-nilai yang utama, satu tatanan yang mengangkat harkat dan derajat kemanusiaan mereka. Ketika hidup bukan sekedar mencari makan dan memuaskan hasrat. Ketika mati pun memiliki arti.


“Hidup baginda Prabu Rangga Wijaya! Hidup baginda Prabu Rangga Wijaya! Hidup baginda Prabu Rangga Wijaya!”, suara mereka pun bergema di kaki Gunung Awu, menandai lahirnya sebuah kerajaan baru.