
Malam itu, di satu dataran tinggi, di puncak sebuah bukit kecil, duduk beberapa orang di hadapan api unggun, bercakap-cakap sambil memandangi pemandangan di bawah kaki bukit sana. Diterangi nyala ai di sana-sini terlihat bayang-bayang jajaran tenda-tenda, gerobak, berbagai macam hewan ternak dan orang-orang yang berjaga.
“Sebentar lagi kita akan sampai di tujuan.”, ucap Rangga.
“Beberapa hari terakhir ini, sudah tidak ada lagi bandit yang berani mencoba mengambil keuntungan dari rombongan kita.”, sahut Rakryan Rangga Wirapati.
“Bagaimana dengan orang-orang yang sampai sekarang masih berdatangan ingin bergabung?”, tanya Rangga.
“Kami terus mengawasi dengan ketat keberadaan mereka. Sebagian besar adalah orang-orang muda, pengelana dan orang dunia persilatan. Mereka mendengar tentang kemenangan-kemenangan kita dalam berbagai pertempuran dan ingin menjadi bagian dari pasukan kerajaan ini.”, jawab Rakryan Rngga Wirapati kembali.
“Kami sudah mengatakan bahwa untuk saat ini, kita tidak ingin menambah jumlah pasukan kita, tapi sebagian besar dari mereka berkeras untuk mengikuti kita sambil menunggu waktu yang tepat untuk menunjukkan kemampuan dan membuat jasa.”, sahut Senapati Respati.
“Biarkan saja kalau begitu, kita juga tidak bisa memperlakukan orang yang ingin bergabung dengan tidak baik. Hanya saja, Paman Aswatama, aku harap bisa selalu mengawasi mereka, jangan sampai mereka memanfaatkan nama kita untuk berbuat sesuatu yang tak baik.”, ujar Rangga.
“Tentu saja Raden, kita terus memantau perilaku mereka. Beberapa terlihat memiliki adab yang baik, itu pun sudah kami catat, sehingga bisa kita dahulukan jika memang suatu saat Raden bersiap memperkuat barisan pasukan kita.”, jawab Rakryan Rangga Aswatama.
“Baguslah, sepertinya semua berjalan sesuai yang kita rencanakan.”, ujar Rangga puas.
“Tapi ada ucapan Raden Rangga yang sampai sekarang belum terjadi.”, tiba-tiba seseorang meyeletuk.
“Tuan Bayu Bayanaka, kau ini jangan membuat ribut yang tak perlu.”, seru Gajah Petak.
“Apa maksudmu membuat ribut? Aku tidak bilang ada masalah. Aku hanya bilang dari sekian yang sudah direncanakan dan diperkirakan Raden Rangga, masih ada satu yang belum terjadi. Kalau orang mengikuti sayembara, dari 10 pertanyaan, cuma satu yang belum berhasil dijawab apa jeleknya?”, sergah Bayu Bayanaka.
“Artinya tidak ada masalah kan? Jadi tidak perlu juga ditanyakan.”, debat Gajah Petak.
“Perlu, tentu saja perlu.”, Bayu Bayanaka tak mau kalah.
“Apa perlunya?”, Gajah Petak menimpali tak mau kalah.
“Supaya Raden Rangga bisa menjelaskan padaku, karena aku yakin Raden Rangga tidak mungkin salah. Jadi yang satu ini, tentu juga ada penjelasannya. Kalau orang yang otaknya kurang dipakai, cuma suka grusa-grusu berkelahi, tentu tidak ingin tahu. Aku kan beda...”, jawab Bayu Bayanaka sambil membusungkan dadanya.
“Apa maksudmu aku orang bodoh!?”, seru Gajah Petak bangkit berdiri.
“Hei hei sudah... Bayu Bayanaka, aku tidak bertanya, apa aku termasuk orang yang otaknya kurang dipakai?”, tanya Ki Ageng Aras.
Pendekar tua ini semakin hari, semakin menyatu dengan pengikut-pengikut Rangga yang sudah lebih dahulu mengabdi. Sehingga tidak canggung pula untuk ikut bercanda.
“Oh, tidak ki, beda. Aku tahu kalau Ki Ageng Aras tidak bertanya itu, karena Ki Ageng sudah paham. Kalau Gajah bengkak ini tidak bertanya, itu bukan karena sudah paham, tapi karena tidak kepikiran sejauh itu.”, ujar Bayu Bayanaka mengundang tawa yang lain.
Sebelum Gajah Petak sempat menjawab ejekan Bayu Bayanaka, Rangga cepat-cepat bertanya, “Paman Bayu Bayanaka, masalah apa ini yang paman ingin tanyakan? Sepanjang ingatanku, masih banyak rencana yang belum sempat kita jalankan dan perkiraanku yang belum terjadi.”
“Memang banyak Raden, lucunya Gajah Bengkak ini satu pun tidak ingat.”, Bayu Bayanaka menjawab sambil tertawa.
Tawanya terhenti tiba-tiba karena sesaat kemudian terdengar angin bekesiuran menyambar kepalanya. Tinju Gajah Petak yang besar itu menyambar, tapi dengan gesit pula Bayu Bayanaka mengelak.
“Eitss... benar kan, Gajah Bengkak ini tahunya cuma berkelahi.”, ujar Bayu Bayanaka sambil mengelak dengan gesit.
“Heh, bajing gendut kelebihan berat badan memang tak perlu dijawab, cukup digampar beberapa kali.”, jawab Gajah Petak sambil mengirimkan beberapa pukulan lagi.
Bayu Bayanaka memang lebih gesit dari Gajah Petak, tapi sebagai pendekar tentu Gajah Petak tidak mati kutu menghadapi kecepatan Bayu Bayanaka. Beberapa kali tangan mereka beradu dan Bayu Bayanaka menahan nyeri.
“Menurutmu, kali ini siapa yang akan menyerah duluan?” tanya Senapati Trengganu pada Senapati Wardaya yang kebetulan duduk di sebelahnya.
“Aku bertaruh untuk Kakang Gajah Petak, selama beberapa minggu ini, kudengar dia sedang mematangkan ilmu baru.”, Senapati Kalapati menyela.
“Benar begitu?”, Senapati Manggala ikut nimbrung.
“Tentu saja benar, kalau tidak percaya, coba tanya Adi Wisanggeni, dia juga tahu.”, jawab Kalapati.
“Hei, bocah-bocah sialan! Bukannya kalian melerai, malah bertaruh!”, seru Bayu Bayanaka yang mendengar percakapan mereka.
“Jangan kuatir kakang, ilmu kalian tak selisih jauh, tidak mungkin terjadi apa-apa dengan diri kakang.”, sahut Kalapati menjawab.
“Benar Kang, kalau rasanya memang sudah tidak mampu, lari saja kang, aku yakin Kakang Gajah Petak tidak akan mampu mengejar.”, ujar Senapati Suyuti memanas-manasi.
“Suyuti, sialan kau! Kenapa kau malah membela kesatuan lain!?”, geram Bayu Bayanaka yang sibuk menghindari serangan Gajah Petak.
“Asem! Yang kubilang itu kepentingan seluruh pasukan, kepentingan seluruh kerajaan, bukan kepentingan Gajah Bengkak! Aduh..!”, seru Bayu Bayanaka yang sekali lagi harus beradu tinju dengan Gajah Petak.
“Tapi perkelahian kalian berdua, menjadi tontonan yang menghibur senapati-senapati dari seluruh pasukan Kang.”, jawab Suyuti membuat para senapati yang lain tertawa.
“Aduh! Sialan! Dasar lidahmu licin, mestinya kau bergabung dengan kesatuan Adi Watu Gunung saja!”, seru Bayu Bayanaka.
“Hehehe... tak usah banyak mulut. Bagaimana bajing loncat? Siap mengaku kalah?”, ujar Gajah Petak sambil tertawa.
“Hemph...! Ilmu barumu memang aneh, bisa mempengaruhi kecepatan pergerakanku. Tapi jangan dikira kau bisa mengalahkanku dengan mudah.”, jengek Bayu Bayanaka.
Ki Ageng Aras yang duduk di sebelah Raden Rangga menonton pertarungan kedua senapati itu sambil sesekali menganggukkan kepala, “Hmmm.... ketekunan mereka melatih ilmu harus diacungi jempol. Dengan usia dan kedudukan yang sudah matang, mereka tidak kemudian malas untuk terus meningkatkan kemampuan.”
“Ki Ageng Aras sendiri memangnya sudah tidak tertarik dengan ilmu kanuragan?”, tanya Rangga yang ikut menonton tanding antara dua orang senapatinya.
Ki Ageng Aras terpekur sejenak sebelum menjawab. “Tidak..., mungkin karena usia.”
Rangga jadi ikut terdiam, pemuda itu menyadari kematian pamannya, punya pengaruh besar pada Ki Ageng Aras. Tiba-tiba pemuda itu berdebar memikirkan kematian.
Matanya menerawang memandangi para senapati yang dahulunya mengikuti ayahnya dan sekarang mengikuti dia, 'Jika aku mati sebelum cita-cita kami tercapai... apakah mereka juga akan kehilangan semangat, seperti juga Ki Ageng Aras?'
Seperti membaca kerisauan Rangga, Ki Ageng Aras berujar menambahkan, “Prabu Jaya Lesmana beruntung memiliki pewaris seperti Raden. Boleh percaya atau tidak, sebenarnya aku melihat cita-cita Prabu Anglang Bhuanna justru diwarisi Raden dan bukan oleh putera-puteranya sendiri.”
Tumenggung Widyaguna tiba-tiba ikut menimbrung, “Nah itu juga menjadi tugas Raden Rangga, yaitu mencari seorang ratu untuk kerajaan yang baru nanti, karena kita juga membutuhkan pangeran-pangeran Rangga kecil yang kelak mewarisi cita-cita pendahulunya.”
Mendengar gurauan Tumenggung Widyaguna itu, Bayu Bayanaka dan Gajah Petak yang sedang bertarung ikut-ikut berhenti dan menimbrung.
“Benar itu Raden. Ada baiknya Raden sudah mulai mencari-cari calonnya. Gajah tua ini saja sudah mulai main mata dengan salah satu anak gadis Kademangan Jati Asih.”, seru Bayu Bayanaka sambil melompat mendekat.
“Hmm...hmm... memang apa salahnya, beda umur tidak masalah asalkan suka sama suka. Lagipula tenagaku tak kalah dengan anak muda.”, dengus Gajah Petak sambil memamerkan otot-otot lengannya.
“Bah, puih puih, Gajah tua tak tahu malu.”, dengus Bayu Bayanaka.
“Hahaha, Kakang Gajah Petak, tak usah kau hiraukan Kakang Bayanaka, dia sedang kesal karena nasibnya tak seberuntung kau.” Senapati Sancaka menyeletuk.
“Adi Sancaka, kau...kau...”, Bayu Bayanaka melotot marah.
“Hehehe, Jangan salahkan Adi Sancaka, bilang saja kau iri, karena kau tak laku.”, Gajah Petak tertawa senang melihat Bayu Bayanaka kesal.
“Ah, sudah, aku malas berkelahi lagi denganmu.”, ujar Bayu Bayanaka sebelum berkelebat melompat pergi.
Kali ini Gajah Petak yang tak mau begitu saja melepaskan dia, “He, he, he, Bayanaka, lari ke mana kau?”
Gajah Petak pun ikut berkelebat pergi mengejar Bayu Bayanaka, diikuti tawa para senapati yang lain.
Mata Rangga yang tajam, melihat Bayu Bayanaka mengedip sekilas ke arah Sancaka dan sambil tertawa kecil menggeleng-gelengkan kepala. Entah apa yang sedang direncanakan Bayu Bayanaka. Ketika dia menengok ke arah Watu Gunung, dilihatnya Watu Gunung menunduk menahan tawa.
'Hmm... Watu Gunung yang mengepalai kesatuan telik sandi, tentu tahu sesuatu.', pikir Rangga dalam hati.
Meskipun beberapa orang senapati-nya suka membuat ulah, tapi Rangga tak kuatir mereka berlaku berlebihan. Apalagi jika kesatuan telik sandi tidak melaporkan apa-apa pada dirinya, artinya tidak ada yang penting menyangkut keseluruhan rencana mereka.
“Hahaha... dua orang itu tak habisnya membuat ulah, benar-benar sudah seperti kucing dan anjing. Bagaimana Raden Rangga? Apa Raden Rangga belum terpikir untuk mulai berkeluarga?”, tanya Tumenggung Widyaguna sambil menyaksikan kepergian dua orang senapati yang tak henti-hentinya membuat ulah itu.
Pertanyaan Tumenggung Widyaguna itu, dengan segera membuat perhatian para senapati dan yang hadir di situ kembali pada sosok Rangga. Di bawah tatapan mata mereka, Rangga tak jadi salah tingkah, pemuda itu tertawa saja.
“Hahaha.... paman-paman jangan kuatir, usiaku sudah tak bisa dikatakan muda lagi, segera setelah kerajaan yang kita dirikan cukup mapan, aku akan mencari seorang ratu, bagaimana?”, jawab Rangga dengan ringan.
“Sepertinya Raden Rangga sudah memiliki persiapan yang cukup matang, apa kira-kira sudah ada yang mengisi hati Raden Rangga?”, Tumenggung Widyaguna bertanya menyelidik.
Rangga mulai merasa pertanyaan-pertanyaan Tumenggung Widyaguna menjurus ke satu arah tertentu, sebuah ingatan berkelebat dalam benaknya. Sambil mengangkat sebelah alisnya, dia menatap ke arah Ki Ageng Aras.
Ki Ageng Aras yang menangkap tatapan Rangga itu tertawa, sambil menggosok\=gosok hidungnya yang tidak gatal, “Hehe... bagaimana ya... mereka ingin tahu kehidupanmu selamah dua puluh tahun ini. Lagipula bukan cuma aku yang tahu, penduduk kademangan pun banyak yang tahu.”
Rangga mendesah panjang, “Hahh..... ya.. tidak masalah, pun bukan suatu rahasia yang perlu ditutupi.”