Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab VII. Kawan Lama



Hikmat datang dari ajaran yang benar.


Narasi yang agung dapat mencerahkan hati.


Olah kepekaan dan ketajaman akal budimu.


Olah juga kekuatan dan kebesaran jiwamu.


Kata Tri Pingpitu


________________________________


Di utara Kademangan Jati Asih, memanjang hutan yang lebat, seakan menjadi pagar Gunung Awu yang menjulang tinggi, menjadi tembok pembatas antara Kademangan Jati Asih dengan wilayah liar, wilayah tak bertuan yang tak terjamah oleh jangkauan tangan-tangan peradaban.


Dahulu Kademangan Jati Asih pun termasuk wilayah yang berbahaya, tempat bandit, begal dan berbagai macam orang-orang buangan melarikan diri.


Barulah ketika di masa pemerintahan Prabu Jaya Lesmana, dikeluarkan titah untuk membersihkan daerah itu dari pada kelompok begal yang sering menyusahkan rakyat. Memimpin beberapa orang senapati dan pasukannya, Prabu Jaya Lesmana turun tangan sendiri babat alas. Tandang-nya ngregisi, saat itu tak ada ampun bagi para pemimpin begal yang masih nekat bercokol di Alas Sakaloka ini.


Pilihannya hanyalah keluar dari wilayah Kerajaan Watu Galuh, atau mati. Karena memang tidak ada pemukiman di daerah itu, kecuali para begal dan orang yang menyembunyikan diri dari hukum, maka Prabu Jaya Lesmana pun dengan sederhana memberi perintah, babat alas, dan siapapun orang di luar pasukan Kerajaan Watu Galuh yang ditemukan, akan dihukum mati. Bisa dikatakan, inilah awal nama Prabu Jaya Lesmana mengguncang empat penjuru Bhumi Adyatma.


Tentu saja pada awalnya raja-raja begal yang bercokol di Alas Sakaloka tidak tinggal diam, tapi Prabu Jaya Lesmana turun tangan sendiri, bersama dengan belasan senapati dan tumenggung yang dia andalkan.


Sementara pasukan kerajaan bekerja keras membuka hutan, orang-orang pilihan dan kesatuan-kesatuan khusus ditugaskan untuk menjaga mereka.


Dengan semakin luasnya alas yang dibabat, semakin sempit pula ruang begal-begal itu untuk bergerak.


Beberapa kali terjadi pertarungan yang dahsyat, yang mengirimkan beberapa orang raja begal menemui Dewa Yama di neraka. Setelah dipaksa untuk mengakui kesaktian Prabu Jaya Lesmana dan senapati-senapati pilihannya, begal-begal itu pun memilih mundur, lebih jauh lagi memasuki hutan dan menjauh dari daerah yang dibuka oleh Prabu Jaya Lesmana.


Prabu Jaya Lesmana pun tidak mendesak dan menutup jalan lari mereka, kepentingan Prabu Jaya Lesmana hanya pada mengamankan wilayah kedaulatan Kerajaan Watu Galuh.


Setelah babat alas itu selesai, Prabu Jaya Lesmana menganugerahkan tanah tersebut pada pasukan kerajaan sudah yang bekerja membuka lahan. Mereka yang bersedia untuk tinggal, akan mendapatkan tanah, persediaan makan, bibit, uang dan berbagai macam bantuan lain. Sepanjang masa pemerintahannya, Prabu Jaya Lesmana tidak pernah lupa untuk mengirimkan satu-dua orang senapati, untuk mengawasi sisa-sisa Alas Sakaloka, bagaimanapun juga, di atas Gunung Awu itu masih banyak tempat menjadi sarang penyamun dan begal.


Setelah mangkatnya Prabu Jaya Lesmana, ada Rangga Wijaya yang tinggal menetap di kademangan itu. Keberadaannya juga mampu menghadirkan rasa aman bagi penduduk kademangan tersebut.


Itu sebabnya, Kademangan Jati Asih, memiliki tempat yang khusus di hati Prabu Jaya Lesmana dan Rangga. Demikian pula sebaliknya, kedua orang itu memiliki tempat yang khusus di hati penduduk Kademangan Jati Asih.


----


Malam itu, di salah satu tebing di Gunung Awu, terlihat empat sosok orang berbaju hitam sedang mengamati Kademangan Jati Asih yang terlihat jauh di bawah kaki gunung.


“Berapa lama kita harus menunggu?”, salah seorang dari mereka bertanya.


“Tidak lama lagi”, jawab seorang yang lain, tubuhnya gemuk gempal, dia Bayu Bayanaka.


“Aku menyesal mengikuti kata-katamu, seharusnya aku bergegas menuju ibu kota, mengawal keselamatan Raden Rangga.”, laki-laki tadi mengomel.


“Kau mau melawan perintah Raden Rangga?” Bayu Bayanaka balik bertanya dengan kesal.


“Aku hanya mengkhawatirkan keselamatan Raden Rangga, tidak seperti dirimu yang membiarkan dia menghadapi bahaya sendirian.” Laki-laki tadi balik menjawab dengan ketus.


“Gajah Petak, jangan memaki orang sembarangan. Atau mungkin kau ingin mencicipi telapak tanganku?”, geram Bayu Bayanaka yang merasa tersinggung oleh ucapan laki-laki yang rupanya bernama Gajah Petak itu.


“Diam.”, seorang yang lain menegur pendek keduanya.


Suaranya dingin dan tegas. Rambut dan jenggotnya yang panjang sudah memutih, namun badannya tinggi tegap berisi. Dia berdiri tegak dengan tangan bersilang di depan dada, sorot matanya melekat erat ke arah Kademangan Jati Asih yang berada nun jauh di bawah sana.


“Bukan aku yang mulai kakang”, jawab Bayu Bayanaka setengah bersungut-sungut.


“Menurut pendapat kakang bagaimana? Haruskah kita terus menunggu di sini? Bagaimana jika ternyata saat ini Raden Rangga sedang mengalami kesulitan di ibu kota?”, Gajah Petak bertanya.


“Adi Bayu, kau yang sudah bertemu dengan Raden Rangga, bagaimana menurut pendapatmu tentang kemajuan ilmu Raden Rangga saat ini?”, laki-laki tadi bertanya pada Bayu Bayanaka.


“Ilmu Raden Rangga sudah semakin matang, kami bertarung dalam gelap dan dalam jarak dekat. Aku pun sudah mengerahkan 7-8 bagian kekuatanku, tapi Raden Rangga mampu mengimbangi.”, jawab Bayu Bayanaka menjelaskan.


“Kalau ilmumu yang dipakai untuk mengukur, rasanya kurang berguna.”, ejek Gajah Petak.


“Gajah Petak...”, Bayu Bayanaka menggeram dengan tangan mengepal.


“Kakang Bayu, bukan maksudku mengejek. Namun, sesungguhnya kau malang melintang di dunia persilatan, karena kecepatanmu.”, seorang yang lain menimpali.


“Watu Gunung, apa kau sekarang jadi pengikut Gajah Petak?!”, Bayu Bayanaka mendengus kesal dengan mata melotot.


“Bukan begitu kakang, tapi Kakang Gajah Petak juga ada benarnya. Pada dasarnya kita semua di sini, berkumpul karena kita setia pada Raden Rangga.”, jawab Watu Gunung dengan sabar.


“Kakang Tumenggung Widyaguna, menurut kakang bagaimana?”, Watu Gunung mengalihkan perhatian mereka semua, kembali ke laki-laki yang berambut dan berjenggot putih tadi.


“Hmm... Raden Rangga memang sengaja menempatkan Bayu Bayanaka di sana karena kecepatannya. Jika kau perhatikan bagaimana Raden Rangga menempatkan kita semua, mereka-mereka yang punya ilmu meringankan tubuh yang mumpuni, ditempatkan sedemikian rupa, sehingga bila ada perintah dari Raden Rangga, maka dengan cepat perintah itu akan sampai pada kita semua.”, jawab Tumenggung Widyaguna dengan berwibawa dan bijak.


Bayu Bayanaka menjadi ragu, “Jadi menurut Kakang Tumenggung... apakah sebaiknya kita menyusul ke ibu kota?”


Gajah Petak memasang telinganya baik-baik, menanti jawaban dari Tumenggung Widyaguna.


Tumenggung Widyaguna terdiam cukup lama sebelum akhirnya menjawab, “Tidak.”


Gajah Petak menghela nafas kecewa.


Watu Gunung tertawa kecil dan berkata, “Kakang Gajah Petak, apa kau merasa lebih cerdik dari Raden Rangga? Ketika dia berusia sepuluh tahun, dia sudah mengalahkanmu berkali-kali dalam permainan catur.”


Bayu Bayanaka terkekeh geli mendengar itu, sementara wajah Gajah Petak sedikit memerah mendengar tawa Bayu Bayanaka dan mendengus kesal, “Apa yang kau tertawakan? Ketika Raden Rangga berumur enam tahun pun kau sudah tidak mampu mengalahkannya bermain catur.”


“Tapi setidaknya aku tahu diri.”, jawab Bayu Bayanaka tak mau mengalah.


Tumenggung Widyaguna dan Watu Gunung tertawa saja mendengarkan keduanya bersilat lidah. Mata Tumenggung Widyaguna masih menatap jauh ke bawah. Tiba-tiba dia menajamkan matanya untuk beberapa saat, sebelum kemudian kembali seperti tidak ada apa-apa. Tidak seperti Gajah Petak dan Bayu Bayanaka, Watu Gunung cukup peka untuk menangkap perubahan Tumenggung Widyaguna. Namun cukup lama dia berusaha mengamati kegelapan di depan mereka, sebelum akhirnya menemukan apa yang dilihat Tumenggung Widyaguna.


Semuanya ini tidak lepas dari pengamatan Tumenggung Widyaguna, terlihat seulas senyumnya melihat kepekaan Watu Gunung pada keadaan sekitar.


Tidak berapa lama kemudian, tiga orang laki-laki bergabung dengan mereka.


“Kakang Tumenggung..”, ujar tiga orang itu sambil memberi hormat pada Tumenggung Widyaguna.


“Hmm..”, Tumenggung Widyaguna menganggukkan kepala kepada mereka, lalu bertanya, “apa yang berhasil kalian temukan?”


“Semuanya aman Tumenggung, tidak terlihat ada bahaya yang mengancam kademangan ini. Hanya saja ada satu kejutan kecil.”, jawab seorang dari mereka.


“Kejutan? Kejutan apa Kakang Sentanu? Jangan terlalu lama berteka-teki.”, tanya Bayu Bayanaka tak sabar, di sampingnya Gajah Petak ikut menanti jawaban Sentanu.


“Ternyata di dekat kademangan ini, ada kawan lama.”, jawab Sentanu sambil tersenyum-senyum.


“Keparat, sudah dibilang jangan berputar-putar.”, dengus Gajah Petak.


“Hehehe, sepasang badut ini sudah seperti sepasang suami isteri tua.”, ujar seorang yang lain mengundang tawa.


“Ah setan tua kau Branjangan!”, sergah Bayu Bayanaka.


“Branjangan kau sudah bosan hidup!?”, geram Gajah Petak di saat yang bersamaan.


Menyadari kekompakan mereka, Gajah Petak dan Bayu Bayanaka saling berpandangan dengan mata melotot, kemudian mendengus dan membuang muka.


Mereka pun tertawa melihat kedua badut itu.


“Sudah cukup, Sentanu, lanjutkan laporanmu.”, ujar Tumenggun Widyaguna meredakan tawa mereka.


“Adi Galah Cemani, menemukan Ki Ageng Aras tinggal di sebuah hutan bambu dekat perbatasan Kademangan Jatih Asih.”, jawab Sentanu.


Berita itu tentu saja menarik perhatian Gajah Petak dan Bayu Bayanaka. Namun belajar dari pengalaman sebelumnya, mereka berdua menahan mulut mereka untuk bertanya.


“Ki Ageng Aras?”, tegas Tumenggung Widyaguna, pandangan matanya beralih tertuju pada Galah Cemani.


“Benar kakang, aku sudah mengamati cukup lama dan memastikan bahwa orang itu adalah Ki Ageng Aras, sebelum melapor kembali pada Kakang Sentanu.”, jawab Galah Cemani dengan mantap.


“Kakang Tumenggung, bagaimana pendapat kakang, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Sentanu.


Bayu Bayanaka dan Gajah Petak belum berani bersuara. Namun mata mereka mulai berapi-api, mendengar kabar tentang keberadaan Ki Ageng Aras di dekat Kademangan Jati Asih.


Tumenggung Widyaguna tanpa ragu menjawab, “Kita kunjungi kawan kita itu malam ini juga.”


“Bagus!”, desis Gajah Petak dan Bayu Bayanaka bersamaan.


Keduanya kembali saling berpandangan dengan mata melotot, sebelum membuang muka. Watu Gunung, Sentanu dan yang lain, tertawa kecil melihat kekompakan kedua orang badut itu. Sementara tanpa menunggu yang lain, Tumenggung Widyaguna mulai berjalan menuruni lereng Gunung Awu.


“Galah Cemani, kau tunjukkan jalannya.”, seru Tumenggung Widyaguna.


“Baik Kakang”, jawab Galah Cemani yang dengan sigap segera mendahului di depan.


Yang lain, buru-buru mengikuti di belakang.


Gajah Petak tak tahan berdiam diri dan bertanya, “Kakang Tumenggung, apa tidak perlu memberi kabar pada saudara-saudara yang menunggu?”


Tumenggung Widyaguna bertanya balik, “Apa kau mau kembali ke sana?”


“Bukan, kan ada Bayu Bayanaka yang larinya cepat.”, ujar Gajah Petak dengan cepat.


“Setan kau!?”, Bayu Bayanaka terkejut dan kesal mendengar itu.


“Tidak perlu membuang waktu, biarkan mereka yang di perkemahan beristirahat dengan tenang. Tidak akan perlu waktu lama untuk membereskan Ki Ageng Aras.”, ujar Tumenggung Widyaguna sambil menepuk pundak Bayu Bayanaka.


Bayu Bayanaka menyengir dan meleletkan lidah ke arah Gajah Petak. Gajah Petak hanya megedikkan bahu, tak menanggapi lebih jauh ejekan Bayu Bayanaka. Ketujuh orang itu memiliki ilmu kanuragan yang tinggi. Jalan yang terjal dan gelap, mereka lalui dengan mudah.


Galah Cemani membawa mereka ke satu hutan bambu, beberapa pal jaraknya dari gapura perbatasan Kademangan Jati Asih.


Ketika mereka sudah mendekati kediaman Ki Ageng Aras, mereka berhenti berlari. Dengan langkah kaki ringan tanpa suara, mereka berjalan ke arah tempat tinggal Ki Ageng Aras. Samar-samar tercium bau ramuan obat-obatan.


Tumenggung Widyaguna tanpa suara memberikan perintah pada yang lain. Mereka sudah saling mengenal bertahun-tahun lamanya. Lagipula, Prabu Jaya Lesmana sudah mengembangkan serangkaian isyarat khusus untuk orang-orang kepercayaan-nya ini. Tanpa perlu kata-kata, dengan mudah mereka saling memahami.


Tujuh orang itu pun bergerak mengepung rumah Ki Ageng Aras.