
Tapakdara dan Gagak Seta tidak berani terburu-buru menyerang lawan, dengan senjata di tangan sedikit kesalahan bisa berakhir fatal.
Prajurit-prajurit yang lain menonton dengan tegang. Pertarungan kali ini lebih menegangkan dibanding pertarungan-pertarungan sebelumnya, karena kali ini keduanya sudah menarik senjata andalan mereka masing-masing.
Senjata tak punya mata, demikian salah satu perkataan dalam dunia persilatan.
Sebagian besar prajurit yang menonton tidak peduli siapa yang akan menang. Berbeda dengan prajurit-prajurit telik sandi Raden Rangga dan belasan orang yang selama ini menjadi semacam pengikut Tapakdara, meskipun Tapakdara tidak pernah membentuk perguruan atau persekutuan pendekar. Bagi mereka pertarungan ini memiliki pertaruhan yang lebih besar.
Namun bagi Gagak Seta dan Tapakdara, ribuan orang di sekeliling mereka tidak ada bagi mereka. Dalam dunia mereka hanya ada lawan di depan dan senjata di tangan lawan.
Tapakdara memiliki pengalaman yang lebih banyak dari Gagak Seta, dan Gagak Seta menyadari hal itu. Kesadaran itu membuat beban dalam hati Gagak Seta. Sebagai murid Ki Ageng Aras, dia merasa membawa beban untuk mencapai hasil yang terbaik bagi pasukan telik sandi mereka. Dia menyadari pada saat ini Tapakdara adalah tantangan terberat bagi mereka untuk meraih pangkat Senapati Muda.
Gagak Seta sudah mengambil keputusan, kalaupun dia tidak memenangkan pertarungan ini, dia harus berhasil menghentikan Tapakdara untuk melanjutkan sayembara ini.
Tapakdara menangkap ketegangan Gagak Seta dan menanti dengan konsentrasi penuh kesempatan yang dia yakin akan muncul setiap saat. Benar saja, pada sekejapan mata saja, dia melihat Gagak Seta kehilangan fokusnya.
Pada saat itu juga Golok Emas di tangan Tapakdara berkelebat cepat.
“Trang !!!”, meskipun terburu-buru, Gagak Seta masih sempat menggerakkan kerisnya untuk menahan sabetan golok Tapakdara.
Namun serangan Tapakdara tak berhenti dengan satu sabetan, susul-menyusul.
“Trang! Trang! Trang!”
Berkali-kali, mungkin belasan kali, susul menyusul terdengar benturan antara golok dan keris. Gagak Seta dipaksa terus menghindar mundur, terdesak semakin lama posisinya semakin buruk.
Semakin lama, gerakan Gagak Seta terlihat makin gugup dan kalah cepat setengah langkah dari serangan Tapakdara. Prajurit-prajurit telik sandi dari Kademangan Jati Asih menonton dengan keringat dingin membasahi punggung mereka.
Senapati Lesmana menoleh ke arah Senapati Rendra, “Harusnya kau menebak dari tadi Kakang, sekarang sudah terlambat untuk menebak.”
Senapati Rendra tersenyum tipis, “Ya... anak muda itu akan menang.”
Senapati Lesmana terkejut, “Maksud kakang?”
Senapati Rendra menghela nafas panjang, “Jadi kau pun tertipu?”
Senapati Rendra terdiam beberapa saat sebelum berkata, “Kalian berdua terlalu meremehkan anak muda itu, ketika aku mengamati gerak-geriknya, untuk sekilas aku menangkap kesan yang berbeda. Kukira anak muda itu tentu punya latar belakang yang tidak sederhana.”
“Maksud kakang?”, tanya Senapati Lesmana.
“Entahlah, mungkin hanya perasaanku saja, tapi seperti ada yang menyentuh batinku.”, jawab Senapati Rendra tak jelas.
Senapati Lesmana memandangi Senapati Rendra, tapi tak ada penjelasan lebih lanjut darinya, dan Senapati Lesmana pun kembali memusatkan perhatiannya pada pertarungan yang terjadi di tengah panggung, Kali ini dia mengamati dengan lebih serius.
Tapakdara dan Gagak Seta bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Tapakdara terus memburu Gagak Seta, sementara pemuda itu mati-matian berusaha menyelamatkan diri dari serangan Golok Emas milik Tapakdara. Golok Emas Tapakdara berkelebat makin lama makin cepat, dan Gagak Seta semakin kerimpungan dalam menghindarinya.
Kecepatannya setengah lapis di bawah kecepatan gerak Tapakdara, beruntung dia masih selalu sempat menghindar, terkadang dengan gerakan yang sembarangan dan akhirnya menempatkan dirinya dalam posisi yang buruk.
Di belasan tempat di tubuh, tangan dan kakinya sudah terlihat goresan-goresan luka bekas sabetan golok Tapakdara.
Rambutnya terurai awut-awutan, tali pengikat rambutnya sudah tertebas putus oleh golok Tapakdara beberapa gebrakan yang lalu. Demikian pula satu sandal kulit yang dipakai sudah terpotong setengahnya, menyisakan pula luka yang cukup dalam di telapak kaki Gagak Seta sehingga di permukaan panggung kali ini sudah dihiasi ceceran darah di mana-mana.
Untuk beberapa saat lamanya Senapati Lesmana mulai meragukan ketajaman mata rekannya yang lebih tua.
Namun beberapa saat kemudian, Senapati Lesmana merasa dadanya mencelos, tanpa sadar tangannya setengah bergerak meraih keris yang diselipkan di pinggang, “Kakang...”
Senapati Rendra menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari pertarungan yang terjadi, “Kau menyadarinya sekarang?”
“Tapakdara belum menyadarinya, setiap kali pemuda itu selalu berhasil menghindari serangan yang mematikan. Meskipun dengan demikian, dia juga menempatkan dirinya dalam situasi yang berbahaya, tapi sekarang dia sudah tahu seluruh kartu terbaik dari Tapakdara. Sementara dirinya sendiri masih menyimpan kejutan.”, ujar Senapati Lesmana dengan tatapan khawatir.
“Ya, Tapakdara terlalu dekat dengan permasalahannya, dia sudah terbawa dengan irama pertarungan kali ini, pikirannya sudah tenggelam dengan hawa membunuh. Setiap kali serangannya berhasil melukai lawan, setiap kali dia melihat darah lawan membasahi goloknya, semakin dia tenggelam dalam ilusi bahwa dia berada di atas angin, bahwa sedikit lagi dan lawan akan gugur di bawah serangan goloknya.”, desah Senapati Rendra.
Kedua senapati itu terdiam untuk beberapa saat, kemudian Senapati Rendra bertanya, “Tapakdara, apa dia orang yang kau siapkan untuk menjadi Senapati Pengiringmu?”
Senapati Lesmana menghela nafas panjang beberapa kali dan akhirnya menjawab, “Ya, tadinya aku berharap dia yang memenangkan sayembara ini dan menjadi Senapati Pengiringku. Dari semua orang yang punya kemampuan, dia yang paling menonjol dan latar belakangnya pun jelas.”
Senapati Rendra berpikir untuk beberapa saat lamanya, lalu berkata, “Kalau kau mau, aku bisa membantu Tapakdara diam-diam.”
“Kakang yakin tidak akan ketahuan?”, tanya Senapati Lesmana sambil menoleh ke arah Senapati Rendra penuh harap.
“Hmph... jika di antara mereka ada yang bisa menangkap getaran batin yang aku lontarkan, sudah pasti dia orang yang berkepandaian tinggi dan menyembunyikan kemampuannya. Tak perlu banyak tanya, langsung saja tangkap sebagai mata-mata. Hanya saja aku ingat, bahwa Gagak Seta ini sempat membuat Kakang Glagah Wiru tertarik.”, jawab Senapati Rendra sambil tersenyum sinis.
“Benar dan memang pemuda itu punya sikap yang tepat untuk dijadikan seorang prajurit, tapi latar belakangnya sebagai perantauan tak sejelas Tapakdara yang kita ketahui siapa orang tuanya, gurunya dan latar belakangnya selama belasan tahun ini.”, jawab Senapati Lesmana.
“Jadi bagaimana? Dalam situasi ini, jika aku ikut campur, kemungkinan besar pemuda itu akan kehilangan nyawanya.”, tanya Senapati Rendra menegaskan.
Senapati Lesmana mengamati pertarungan yang sengit di depannya itu, setiap saat bisa saja berarti akhir bagi salah satu dari mereka yang sedang bertarung, kemudian dia pun mengeraskan hati dan menjawab, “Baiklah kakang, jabatan Senapati Pengiring terlalu penting untuk dipegang orang yang tidak kita ketahui dengan jelas latar belakangnya.”
Namun belum sempat Senapati Rendra menjawab, dia yang terus mengawasi pertarungan itu dengan penuh perhatian, wajahnya tiba-tiba berubah. Senapati Lesmana pun buru-buru menengok kembali ke arah pertarungan antara Gagak Seta dan Tapakdara.
“Dug!”, jantung Tapakdara terasa seperti jatuh ke perutnya, ketika kedudukan kakinya menggeser di atas genangan darah yang licin, dan membuat dia kehilangan keseimbangan sekejapan mata saja.
Di saat yang sekejap mata itu, Tapakdara melihat pemuda yang dari tadi dia buru, seperti seekor kucing memburu seekor tikus, tiba-tiba matanya mencorong tajam.
Sorot mata mereka bertemu dan Tapakdara melihat sorot mata Gagak Seta yang tajam bagai elang dan tiba-tiba dia tersadar, sedari tadi bukan dia yang memburu Gagak Seta. Pemuda itu yang sedang memburu dia. Menanti saat yang tepat untuk melontarkan satu serangan penghabisan.
Kesadaran yang terlambat.
Ketika pikiran itu sedang berkelebat dalam benaknya, keris di tangan Gagak Seta berkelebat jauh lebih cepat lagi.
“Crass....!! Srkkk...!”, keris di tangan Gagak Seta meluncur tajam, memaku telapak kaki kanan Tapakdara ke atas panggung.
Begitu deras dan kuat tenaga yang dipakai Gagak Seta, hingga kerisnya menembus kaki Tapakdara dan masih terus bergerak menancap ke atas panggung, sampai seluruh bilahnya tertanam dan hanya gagangnya saja yang menyembul keluar dari telapak kaki Tapakdara.
“UAARHHH....!!”, terdengar teriakan Tapakdara menahan rasa sakit yang tak terperi.
Belum habis teriakan Tapakdara, tubuh Gagak Seta yang tadi bergulingan di atas lantai panggung, sekarang sudah melenting dengan gesit di udara. Tubuhnya melayang di atas tubuh Tapakdara yang setengah menunduk karena sebelumnya sedang menyabetkan golok ke arah Gagak Seta yang bergulingan di bawah.
Dua tangan Gagak Seta terkembang seperti seekor garuda, satu kakinya menekuk di depan dada melindungi tubuh, sementara satu kakinya lagi dengan sebat bergerak menendang ke bawah.
“DUG!”, tanpa bisa dihindari, kaki Gagak Seta menghantam punggung Tapakdara yang terbuka lebar.
Tubuh Tapakdara pun terhajar jatuh dengan wajah mencium lantai panggung, tapi Gagak Seta tidak berhenti di situ. Kesepuluh tangannya yang sudah membentuk cakar, bergerak cepat ke arah tangan Tapakdara yang masih menggenggam golok.
“CUKUP!!!”, tiba-tiba terdengar seruan dari arah Senapati Lesmana.
Hampir di saat yang bersamaan terdengar suara, “KRAAK!!”
Gagak Seta dengan tubuh terhuyung-huyung mundur ke belakang, sambil memandang ke arah Senapati Lesmana dan Senapati Rendra dengan wajah terkejut dan takut. Ya, anak muda itu benar-benar terlambat mendengar seruan Senapati Lesmana.
Ketika dia menyadari seruan Senapati Lesmana itu, kesepuluh jarinya sudah mengempos tenaga dan mematahkan lengan Tapakdara.
Senapati Lesmana melotot marah, tapi dia melihat ekspresi wajah Gagak Seta dan menyadari bahwa pemuda itu benar-benar tidak sengaja.
Senapati Rendra yang memiliki mata batin yang tajam juga menangkap ketulusan dari ekspresi wajah pemuda itu, dengan tak kentara dia menggamit lengan Senapati Lesmana dan berbisik, “Anak muda itu benar-benar tak sengaja.”
Senapati Lesmana dengan cepat menguasai dirinya. Bagaimana pun juga dia seorang senapati yang sudah terlatih bukan hanya dari segi ilmu kanuragan, tapi dari mental dan batinnya pun sudah tertempa.
“Tabib, cepat naik ke atas panggung, rawat kedua prajurit ini.”, serunya ke arah tabib-tabib yang sudah bersiap di bawah.”
Maka bergegaslah mereka yang bertugas melompat ke atas panggung dan dengan cekatan mulai merawat luka Tapakdara dan Gagak Seta. Sekilas mata Gagak Seta yang berdiri tak tegak, terlihat lebih parah dengan rambut awut-awutan, tubuh penuh luka dan pakaian sobek di mana-mana.
Namun mereka yang melihat akhir dari pertarungan mereka pun tahu, Tapakdara yang sekarang tertelungkup di atas panggung, menerima serangan yang lebih mematikan. Baju Tapakdara masih bersih dari darah, rambutnya masih terikat rapi. Bahkan dari seluruh tubuhnya hanya dari telapak kakinya saja ada luka dan darah mengucur, tapi pendekar itu sudah tak sadarkan diri dengan luka dalam yang parah dan tulang lengannya patah.
Senapati Lesmana berjalan mendekat dan bertanya, “Bagaimana?”
Tabib yang memeriksa keadaan Tapakdara, menengok ke arah Senapati Lesmana dan menjawab, “Nyawanya bisa diselamatkan, demikian pula tulang lengannya yang patah, dalam waktu beberapa bulan akan kembali seperti sedia kala.”
Senapati Lesmana menghela nafas panjang, dalam hatinya dia berpikir, 'Dalam beberapa bulan... sementara pasukan Rangga akan menyerang kurang dari sebulan lagi.'
“Baiklah, kau bawa dia turun dan rawat dia baik-baik.”, ujar Senapati Lesmana menahan rasa kesal.
Kemudian dia berjalan ke arah tabib yang merawat luka-luka Gagak Seta dan bertanya, “Bagaimana keadaan-nya?”
“Tidak parah Ki, luka-lukanya memang banyak, tapi kebanyakan hanya luka luar. Dalam hitungan hari akan pulih seperti sedia kala.”, jawab tabib tersebut sambil tak hentinya mengoleskan obat dan membebat luka-luka yang terbuka, untuk menghentikan pendarahan.
Gagak Seta dengan takut-takut bertanya pada Senapati Lesmana, “Bagaimana dengan keadaan Kakang Tapakdara Ki? Maafkan aku Ki, tadi aku terlambat mendengar seruan Ki Senapati.”
Senapati Lesmana menoleh, memandang ke arah Gagak Seta, melihat ekspresi anak muda itu, setengah dari kemarahannya menguap, dalam hati dia berpikir, 'Anak muda ini benar-benar tak sengaja. Sepertinya dia juga bukan mata-mata yang menyusup, jika dia mata-mata yang menyusup, kenapa pula dia harus merasa menyesal dan ketakutan telah melukai Tapakdara.'
“Jangan kuatir, menurut tabib, dalam beberapa bulan lagi Tapakdara akan pulih seperti sedia kala.”, jawab Senapati Lesmana dengan nada menghibur.
Kemudian dia menambahkan, “Kau pun tak perlu kuatir, kami paham dalam pertarungan, tak mudah menarik kembali serangan. Apalagi ketika kita sudah terbawa oleh suasana hati kita.”
“Terimakasih Ki Senapati, untuk pengertiannya.”, ujar Gagak Seta dengan lega.
Sekali lagi, ketika Senapati Lesmana melihat kewajaran dan kesungguhan pemuda itu dalam bersikap, dalam hatinya merasa semakin yakin bahwa Gagak Seta bukanlah seorang mata-mata.
Yang tidak dia ketahui, Gagak Seta sesungguhnya merasa takut dan kuatir, karena yang tertanam dalam benaknya adalah dia harus menjadi prajurit yang baik, yang mematuhi Senapati Lesmana sebagai pimpinan, agar dia bisa mendapatkan kepercayaan.
Ketika menyadari tanpa sengaja dia mematahkan lengan Tapakdara, padahal Senapati Lesmana memberikan perintah untuk berhenti bertarung, Gagak Seta berpikir dia sudah merusak rencana yang dibuat para senapati dan membuat malu nama gurunya. Melihat ternyata Senapati Lesmana bisa memahami situasinya, pemuda ini pun merasa lega.
Jadi memang dia benar-benar takut dan kuatir, tapi bukan untuk alasan yang dikira Senapati Lesmana. Kesalah pahaman ini, tentu saja masing-masing dari mereka tidak ada yang tahu.
“Bagaimana, kau ingin mencoba meneruskan pertandingan ini?”, tanya Senapati Lesmana pada Gagak Seta.
Gagak Seta berpikir untuk beberapa saat, Tapakdara sebagai penghalang terberat sudah tersingkir, apakah dia masih perlu melanjutkan?