Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab L Adipati Gading Kencana Beraksi



'Mereka sudah sampai...', hampir serentak Rangga dan para pemimpin pasukannya di medan pertempuran berpikir hal yang sama.


Sadar atau tidak, semangat mereka pun berubah.


Senapati Lesmana yang memperhatikan terus dengan cermat situasi di medan perang bisa merasakan hal itu. Senapati Glagah Wiru dan kedua orang senapati yang lain juga bisa merasakan hal itu.


“Celaka! Ki Adipati, perintahkan Adi Lesmana untuk mundur masuk ke dalam kota.”, seru Senapati Rendra.


“Ijinkan aku untuk memimpin pasukan melindungi jalan mundur mereka”, ujar Senapati Glagah Wiru sebelum Adipati Jalak Kenikir sempat menjawab.


Adipati Jalak Kenikir terkejut, “Tapi... --”


Ketika dia melihat ekspresi wajah ketiga orang senapati-nya, Adipati Jalak Kenikir dengan segera menyadari bahwa keadaan mereka saat ini tidak mengijinkan penundaan waktu berlama-lama. Dengan segera Adipati Jalak Kenikir menganggukkan kepala.


“Laksanakan!”, ujar Adipati Jalak Kenikir dengan tegas.


Senapati Glagah Wiru tanpa membuang waktu segera berlari turun, sesekali melompati beberapa anak tangga sekaligus. Senapati Rendra pun dengan segera memerintahkan prajuritnya untuk memberi aba-aba bagi Senapati Lesmana untuk mundur masuk ke dalam kota. Sangkakala ditiup memberi tanda perintah untuk mundur bagi pasukan Kadipaten Jambangan.


Perintah itu tidak mengejutkan bagi Senapati Lesmana yang bisa merasakan perubahan pada lawan mereka di medan tempur.


“ATUR BARISAN! JANGAN MUNDUR SEMBARANGAN!”, seru Senapati Lesmana dengan suara keras, melihat beberapa prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan yang mulai berhamburan lari ke dalam kota dan membuat barisan mereka tak teratur.


Dalam keadaan yang berbahaya bagi pasukan Kadipaten Jambangan itu, tiba-tiba gerbang kota terbuka dan lima ratus prajurit berkuda, dipimpin oleh Senapati Glagah Wiru berderap maju. Tanpa banyak bicara, tiba-tiba Senapati Glagah Wiru memutar pedang dan memenggal kepala seorang prajurit yang kebetulan berlari paling depan untuk masuk ke dalam ibukota kadipaten.


“KEMBALI KE DALAM BARISAN!”, seru Senapati Glagah Wiru dengan mata melotot, membuat langkah kaki prajurit-prajurit yang berhamburan hendak masuk ke dalam kota terhenti.


Di depan sana, Senapati Lesmana juga bekerja keras untuk mengatur pasukannya yang sempat porak poranda.


“Ki Jumantri! Bentuk garis pertahanan!”


“Ki Saroja! Pertahankan sayap kiri!”


Demikian Senapati Lesmana berkuda dari satu sisi ke sisi yang lain, mengatur barisan pasukannya, sementara Senapati Glagah Wiru dengan cepat menyusul ke depan membantu dia mengatur pasukan. Beruntung bagi pasukan Kadipaten Jambangan, karena di saat yang sama, Rangga memilih untuk memastikan para senapati lepas dari kepunngan dan kembali ke barisan mereka.


“Atur kembali barisan! Jangan memburu lawan!”, teriak Rangga menahan pasukannya yang hendak memburu ke depan.


Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana dengan terampil memimpin pasukan mereka mundur teratur masuk kembali ke dalam kota. Dari atas tembok kota, Senapati Rendra dan Senapati Nakula mengatur prajurit-prajurit yang ada di atas tembok untuk mengganggu pasukan Rangga dengan anak panah-anak panah mereka.


Senapati Glagah Wiru memimpin pasukan berkudanya untuk bergerak dari satu tempat, ke tempat lain, mengganggu pasukan Rangga, sementara Senapati Lesmana dengan tangan besi mengatur mundurnya pasukan masuk kembali ke dalam kota.


Sementara kepulan debu yang terlihat di kejauhan itu, semakin lama semakin besar.


“Pasukan berkuda”, gumam Senapati Nakula.


“Dan jumlah mereka ribuan banyaknya.”, sambung Senapati Rendra.


“Pasukan Rangga yang menghilang itu, tak lebih dari seribu orang dan mereka bukan pasukan berkuda.”, ujar Adipati Jalak Kenikir dengan alis berkerut, ada sedikit nada sumbang dalam dia berujar.


“Rangga dan para pemimpin pasukan Kademangan Jati Asih tentu yang paling tahu. Ada sesuatu yang tak kita mengerti, tapi kita bisa merasakan perubahan semangat pasukan Rangga.”, ujar Senapati Rendra menjelaskan.


“Maksud Ki Rendra?”, tanya Adipati Jalak Kenikir ragu-ragu.


“Kita tidak tahu siapa yang datang, tapi Rangga dan pimpinan-pimpinan pasukan Kademangan Jati Asih tahu, jika mereka sama tidak tahunya dengan kita, maka kedatangan pasukan itu tentunya akan menimbulkan was-was dalam hati mereka.”, ujar Senapati Rendra menjelaskan.


“Namun yang terjadi adalah sebaliknya, kita bisa melihat ketegangan yang menekan mereka menguap dengan datangnya pasukan itu. Artinya ada kepastian dalam diri mereka, bahwa pasukan yang datang adalah bala bantuan.”, sambung Senapati Nakula.


“Siapa mereka?”, tanya Adipati Jalak Kenikir sambil matanya mengawasi pasukan berkuda yang makin terlihat jelas itu.


“Bisa seribu pasukan yang menghilang itu, bisa pula bala bantuan dari Adipati Gading Kencana. Bisa juga Raden Rangga dan para pimpinan pasukan Kademangan Jati Asih salah menduga. Tapi kita tidak bisa mengambil resiko, mempertaruhkan nyawa Adi Lesmana.”, jawab Senapati Rendra.


Sementara mereka bercakap-cakap, pasukan Kadipaten Jambangan sudah sampai di dekat gerbang kota. Pasukan berkuda Senapati Glagah Wiru mendahului masuk ke dalam, sedangkan Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana sendiri, memimpin kesatuan yang lain untuk membentuk garis pertahanan di sekitar gerbang yang terbuka lebar.


Kesatuan demi kesatuan mulai mundur masuk ke dalam kota, sementara pasukan pemanah yang ada di atas tembok kota tidak membiarkan pasukan Rangga dengan mudah mendesak masuk.


Pertempuran sengit terjadi di sekitar gerbang kota Kadipaten Jambangan. Rangga bersama Tumenggung Widyaguna dan beberapa orang senapati yang tidak terluka, memimpin prajurit-prajurit pilihan untuk menembus pertahanan pasukan Kadipaten Jambangan yang dipimpin oleh Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana.


Di saat pasukan Rangga bertempur dengan sengit berusaha menembus pertahanan pasukan Kadipaten Jambangan dan menerobos masuk melalui gerbang kota, tiba-tiba dari arah lain sayup-sayup terdengar derap suara pasukan berkuda.


Dengan terkejut Adipati Jalak Kenikir dan kedua orang senapati yang mendampingi dirinya, mengok ke arah datangnya suara derap kuda tersebut. Dari tempat mereka mengamati situasi, mereka melihat barisan panjang prajurit berkuda, dengan panji-panji dan umbul-umbul berkibaran.


“Adipati Karangpandan!”, seru Adipati Jalak Kenikir terkejut.


“Pasukan Prabu Jayabhuanna!”, seru Senapati Nakula dalam waktu yang hampir bersamaan.


Wajah Senapati Rendra memucat, senapati tua itu pun berseru tak mengerti, “Apa yang terjadi di Kadipaten Serayu!? Mengapa pasukan mereka bisa berada di sini!?”


Bukan hanya pihak Kadipaten Jambangan yang terkejut, dari pihak pasukan Rangga pun terdengar seruan Rakryan Rangga Wirapati berseru, “Pasukan, tahan serangan!”


Tiba-tiba pertempuran antara pasukan Rangga dan pasukan Kadipaten Jambangan terhenti.


Pasukan yang baru datang itu mendekat dengan cepat, derap kaki kuda semakin keras, bahkan tanah pun terasa bergetar.


Di belakang pasukan berkuda itu, terlihat pula menyusul ribuan pasukan berbaris ke arah Kadipaten Jambangan. Adipati Jalak Kenikir melihat ke arah ribuan pasukan yang baru datang itu dengan mata terbelalak.


Jika di atas menara, di balik tembok ibukota Kadipaten Jambangan, Adipati Jalak Kenikir dan kedua senapati mengawasi kedatangan pasukan yang besar itu dengan hati tak karuan, di bawah sana, Rangga dan Tumenggung Widyaguna saling berpandangan untuk beberapa saat.


“Tahan serangan! Mundur!”, seru Rangga keras.


Pertempuran di depan pintu gerbang ibukota Kadipaten Jambangan itupun terhenti sejenak. Rangga menghela nafas dan mengalihkan pandangannya ke arah Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana.


“Ki Glagah Wiru!”, seru Rangga memanggil.


“Apa maumu Raden Rangga!?”, tanya Senapati Glagah Wiru dengan suara lantang.


“Gencatan senjata!”, seru Rangga menjawab tak kalah lantang.


Senapati Glagah Wiru saling berpandangan dengan Senapati Lesmana. Tanpa kata, mereka sudah mengerti maksud satu sama lain, Senapati Lesmana pun mengangguk tanda setuju.


Senapati Glagah Wiru menjawab Rangga, “Baiklah, tapi kau tarik mundur dahulu pasukanmu.”


“Tentu saja.”, jawab Rangga singkat.


“Pasukan telik sandi! Tugas kalian selesai, kembali pada pasukan!”, seru Rangga keras.


Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana pun dengan hati berdebar-debar, melihat belasan Bekel dan Lurah Prajurit dari antara pasukan mereka berlarian keluar dan bergabung dengan pasukan Rangga. Di antara mereka, terdapat pula Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras yang diam-diam menyusup dan menyamar menjadi prajurit Kadipaten Jambangan. Wajah Senapati Lesmana merah padam menahan marah, tangannya sudah bergerak ketika dengan cepat Senapati Glagah Wiru menyambar dan menahannya.


“Sabar Di...”, ujar Senapati Glagah Wiru dengan tegas, matanya dengan tajam, tak lepas mengamati pasukan Rangga.


Senapati Lesmana melihat ke arah Rangga, dan dia melihat Rangga, Tumenggung Widyaguna dan para senapati, juga sedang mengawasi setiap gerak-gerik mereka dengan sorot mata yang tajam.


“Bagus sekali Raden Rangga...”, ujar Senapati Lesmana menahan geram.


Rakryan Rangga Aswatama tertawa kecil, “Kalian beruntung, jika pasukan dari arah Serayu itu datang lambat beberapa menit saja...”


Senapati Lesmana dan Senapati Glagah Wiru terdiam membayangkan, keringat dingin membasahi punggun mereka, membayangkan jika hal itu terjadi. Dalam waktu singkat, seluruh prajurit telik sandi sudah kembali bergabung dengan pasukan Rangga.


“Pasukan! Kembali ke barisan utama!”, seru Rangga dengan lantang.


“Mundur! Cepat mundur!”, dari pihak Senapati Glagah Wiru dan Senapati Lesmana pun terdengar perintah yang sama, dengan buru-buru mereka memimpin pasukan mereka memasuki pertahanan ibukota Kadipaten Jambangan.


Ketika pasukan Kadipaten Jambangan sedang bergegas masuk ke dalam kota, pasukan Rangga pun bergerak cepat mundur, menjauh dari ibukota Kadipaten Jambangan, bergerak kembali ke arah penduduk Kademangan Jati Asih yang menunggu di kejauhan. Rangga dan Tumenggung Widyaguna, bersama beberapa orang senapati berjaga di barisan belakang sambil memandangi pasukan pihak ketiga yang dengan cepat bergerak mendekat.


Terlihat Adipati Karangpandan berderap mendekati mereka, memimpin sepasukan prajurit berkuda.


“Raden Rangga! Hendak pergi ke mana!?”, serunya dengan suara lantang dengan senyum mengejek.


“Setan!”, desis seorang senapati.


Dengan cepat Rangga menyambar tangan senapati itu.


“Jangan tanggapi paman.”, ujar Rangga dengan tenang.


“Benar, abaikan saja orang itu. Toh ini semua masih termasuk dalam perhitungan kita.”, ujar Tumenggung Widyaguna dengan tenang, meskipun sorot matanya yang tajam tak lepas mengawasi Adipati Karangpandan yang sedang tertawa berkakakan di kejauhan.


“Lupakan Kadipaten Jambangan.”, ujar Rangga dengan tegas.


“Sebisa mungkin, segera kumpulkan rekan-rekan yang gugur dalam pertempuran ini. Sebelum matahari tenggelam, aku ingin kita sudah meninggalkan perbatasan ibukota Kadipaten Jambangan.”, kata Rangga pada para pengikutnya.


“Siap raden.”, ujar mereka serempak.


Dalam pertempuran itu, tak kurang dari sepertiga pasukan Rangga, gugur. Tak kalah banyak pula jumlah prajurit yang terluka. Mereka bergerak perlahan ke arah penduduk Kademangan Jati Asih yang menunggu di kejauhan, sambil mengumpulkan rekan-rekan mereka yang gugur maupun terluka. Suasana hening, kecewa dan duka menyelimuti mereka.


Dari tempat mereka, Rangga dan yang lain melihat, pasukan mereka yang bertugas menggagalkan pengiriman perbekalan pasukan Kerajaan Watu Galuh sudah bergabung dengan barisan penduduk Kademangan Jati Asih.


Tak lama kemudian, terlihat sekelompok kecil pasukan berkuda ke arah mereka.


“Raden Rangga.”, terdengar Senapati Gajah Petak, salah satu dari sekelompok kecil pasukan yang berkuda itu, memanggil.


“Paman Gajah Petak, bagaimana dengan situasi kalian?”, sapa Rangga sekaligus bertanya.


“Heh... biar Adi Watu Gunung saja yang menjawab.”, gumam Senapati Gajah Petak sementara matanya memandangi pasukan Prabu Jayabhuanna yang dengan cepat mengepung ibukota Kadipaten Jambangan.


Rangga menepuk pundak Gajah Petak, “Sudahlah paman, lupakan. Seandainya mereka tidak memusuhi dan mengancam barisan kita, sebenarnya aku juga tidak ingin menyerang Kadipaten Jambangan.”


“Hemm...”, Gajah Petak menggeram pelan.


Rangga sudah mengalihkan perhatiannya pada Senapati Watu Gunung yang melaporkan keberhasilan mereka dengan singkat. Tidak lupa menyampaikan juga jasa Gagak Seta dan prajurit-prajurit telik sandi yang membuat misi mereka tercapai dengan lancar. Wajah Ki Ageng Aras terlihat ikut berbinar, mendengar muridnya berhasil menjalankan tugas dengan cemerlang.


“Bagaimana dengan tawanan perang dari pasukan Kerajaan Watu Galuh dan Kadipaten Jambangan?”, tanya Senapati Watu Gunung setelah selesai menyampaikan laporannya.


“Bebaskan saja mereka, sudah terlampau banyak nyawa pahlawan gugur hari ini.”, jawab Rangga dengan suara sedikit bergetar.


“Raden, sekarang ke mana tujuan kita?”, tiba-tiba Gajah Petak bertanya.