Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab LV Tamu Tak Diundang



“Paman Widyaguna...”, ujar Rangga Wijaya.


“Siap raden.”, jawab Tumenggung Widyaguna.


“Pilih dua puluh orang senapati, berpasangan menjadi sepuluh kelompok, untuk mencari jejak Ki Ajar Pangrungu dan puterinya. Besok aku akan memberikan ke paman catatan berisi semua petunjuk yang aku tahu.”, kata Rangga Wijaya dengan tegas, seperti biasa ketika dia sudah mengambil sebuah keputusan.


“Ki Ageng Aras.”, panggil Rangga Wijaya.


“Siap raden.”, jawab Ki Ageng Aras.


“Aku harap Ki Ageng Aras bersama Gagak Seta menjadi kelompok ke sebelas. Akan tetapi, selama perjalanan mengembara ini, prioritas Ki Ageng Aras lebih pada mendadar dan mewariskan ilmu Ki Ageng Aras pada Gagak Seta. Kedudukan Gagak Seta menuntut ilmu yang linuwih, sekembalinya dia nanti dari pengembaraan, aku harap dia sudah siap menjadi salah satu pilar kerajaan yang kita bangun nanti.”, kata Rangga Wijaya menjelaskan.


“Terima kasih raden. Akan aku laksanakan sebaik mungkin pesan Raden Rangga ini.”, jawab Ki Ageng Aras dengan wajah berseri.


“Yang penting untuk diingat Paman, lima tahun saja lamanya mereka mencari. Bagaimana pun hasilnya dari pencarian itu, setelah lima tahun mereka harus kembali.”, kata Rangga Wijaya pada Tumenggung Widyaguna.


Tumenggung Widyaguna mengangguk, “Baik raden, aku paham.”


Akhirnya hari itu pun berakhir bagi Rangga dan para pengikutnya. Esok akan datang, dengan ceritanya sendiri.


-------


Keesokan harinya, kehebohan kecil terjadi di antara para senapati, Tumenggung Widyaguna tidak membuang waktu untuk menata kembali pasukan. Dengan kepergian 21 orang senapati, tentu pasukan yang berada di bawah mereka perlu diatur ulang.


Untungnya, pasukan mereka belum terlalu besar. Para senapati yang berpengalaman sudah terbiasa membawahi ratusan bahkan ribuan prajurit seorang diri.


Tinggal Tumenggung Widyaguna mengatur dalam membagi kekuatan.


Menurut perhitungan Rangga, saat ini, setelah berhasil lepas dari wilayah kekuasaan Kerajaan Watu Galuh dan mereka yang sedang bertikai, keberadaan mereka cukup aman.


Pasukan mereka cukup besar untuk membuat para adipati berpikir dua kali sebelum menyerang mereka.


Harta dan wilayah bisa dikatakan tidak ada, sehingga tak ada untungnya bagi para adipati di wilayah-wilayah yang mereka lewati, untuk menyerang.


Di saat yang sama, jumlah penduduk dan kekuatan mereka juga tidak cukup besar untuk menjadi ancaman bagi sebuah kadipaten.


Selama Rangga dan pasukannya tidak bertindak berlebihan dan mengakibatkan konaran di wilayah mereka, para adipati itu pun lebih memilih untuk menutup mata.


Terlebih arah yang mereka tuju saat ini adalah menuju ke daerah liar yang tak bertuan.


Di sebuah tanah yang sedikit lapang, tapi jauh dari rombongan panjang para penduduk dan pasukan, Tumenggung Widyaguna mengumpulkan semua senapati yang dia pilih untuk mencari jejak Ki Ajar Pangrungu dan puterinya, menyampaikan keputusan yang diambil Rangga dan juga pengaturan yang sudah dia siapkan.


“Jadi dua puluh dua orang akan pergi menyebar, sementara sembilan senapati akan tetap berada di sini membantuku dan kedua Rakryan Rangga.”, ujar Tumenggun Widyaguna.


Setiap senapati berdiri dengan tegak dan hikmat. Bahkan senapati seperti Bayu Bayanaka dan Gajah Petak yang sering bertengkar.


“Ki Ajar Pangrungu yang kalah melawan Raden Rangga dalam satu pertaruhan, akhirnya mengemban sebuah misi. Misi untuk mempelajari dan menguasai cara pembuatan senjata api milik orang-orang berkulit pucat yang saat ini berkumpul di ujung barat Bhumi Adyatma.”, Tumenggung Widyaguna mulai menjelaskan petunjuk yang dia dapat dari Raden Rangga.


“Ini adalah petunjuk utama kalian.”, kata Tumenggung Widyaguna menegaskan.


“Dari perembukan antara Raden Rangga dan Ki Ajar Pangrungu, ada beberapa hal lain yang bisa menjadi petunjuk.”, lanjut Tumenggung Widyaguna.


“Pertama, selain para pendatang kulit pucat, mereka yang mengaku datang dari pulau tempat terbitnya matahari, juga memiliki senjata api, meskipun dengan model yang lebih sederhana. Mereka datang ke tanah kita ini sebagai pedagang dan berpusat di daerah pesisir utara.”


“Kedua, Perguruan Tapak Halilintar dikatakan memiliki senjata rahasia yang seperti guntur bunyinya. Menurut Ki Ajar Pangrungu yang pernah mendapatkan pengalaman bersentuhan dengan mereka, besar kemungkinan senjata ini menggunakan bahan campuran ramuan yang sama seperti yang digunakan pada senjata api orang-orang berkulit pucat.”


“Ketiga, Ki Ajar Pangrungu sempat menyampaikan, bahwa jika memang diperlukan, dia akan pergi langsung ke negeri seberang, bersama dengan para pedagang dari Bhumi Adyatma.” Demikianlah Tumenggung Widyaguna menjabarkan satu per satu petunjuk yang ada.


Tumenggung Widyaguna memahami beratnya tugas mereka dan berkata, “Memang tidak banyak petunjuk yang bisa disampaikan Raden Rangga, tapi setidaknya bisa menjadi acuan awal.”


“Jangan kuatir Kakang, yang penting kami memiliki bayangan ke mana hendak mencari petunjuk yang lebih jelas.”, kata Senapati Bayu Bayanaka.


“Benar kata Adi Bayanaka. Nah, sekarang berdasarkan tiga petunjuk itu, kalian tentukanlah di antara kalian sendiri di mana kalian akan memulai pencarian kalian. Sebagian ke utara, sebagian ke barat, juga ada yang perlu berkelana di dunia persilatan karena jejak anak-anak murid Perguruan Tapak Halilintar tidak mudah ditemui.”, ucap Tumenggung Widyaguna sebelum matanya melihat Senapati Tunngul Manikam mengangkat tangan.


Senapati Tunggul Manikam pun bertanya, “Jika petunjuk yang ada mengarahkan kami untuk pergi juga ke tanah seberang, apa yang harus kami lakukan?”


Tumenggung Widyaguna menjawab dengan dahi berkerut, “Raden Rangga memberi batasan waktu lima tahun, jika memang lamanya perjalanan pulang-pergi masih memungkinkan kalian untuk kembali bergabung di waktu yang sudah ditentukan, maka lakukan, kejar sampai ke mana pun juga petunjuk yang ada mengarahkan kalian.”


Para senapati saling berpandangan, diam-diam mereka sudah mulai membuat rencana dalam benak mereka masing-masing.


“Baiklah, tidak ada lagi yang bisa kusampaikan, kecuali selamat jalan dan semoga Sang Hyang Maha Agung melindungi perjalanan kalian semua.”, ucap Tumenggung Widyaguna dengan serius.


“Siap Kakang Tumenggung!”, jawab para senapati yang mendapat tugas dengan serempak.


Ketika Tumenggung Widyaguna sibuk menyampaikan arahan bagi mereka yang mendapatkan misi untuk mencari Ki Ajar Pangrungu dan puterinya. Kedua Rakryan Rangga dan sembilan orang senapati yang tinggal juga bekerja mengatur ulang pasukan yang ada.


Sementara Rangga bersama para bebahu kademangan, terus memimpin kegiatan sehari-hari penduduk kademangan, memastikan perjalanan mereka tidak terganggu oleh kesibukan pasukan.


Tidak ada waktu yang terbuang-buang. Rombongan itu terus bejalan dengan pasti ke arah tempat yang mereka tuju. Adanya misi pencarian Ki Ajar Panrungu hanya menjadi riak kecil dalam perjalanan mereka.


Hanya Rangga dan para pimpinan yang mengetahui akan misi pencarian ini. Meskipun tidak dapat dirahasiakan bahwa ada dua puluhan senapati yang memisahkan diri dari rombongan, tapi tidak ada yang tahu ke mana dan mengapa mereka menghilang.


Sembilan orang senapati yang tetap berada bersama rombongan adalah, Senapati Dyah Pekik, Senapati Sentanu, Senapati Sancaka, Senapati Kalapati, Senapati Raweswara, Senapati Respati, Senapati Aryasuta, Senapati Dadungwesi, dan Senapati Hanggamurti.


Dari pemilihan mereka yang tinggal, terlihat jelas Rangga dan Tumenggung Widyaguna lebih memperhatikan pertahanan dan keamanan rombongan.


Senapati Dyah Pekik adalah tangan kanan Senapati Watu Gunung yang memimpin satuan telik sandi.


Senapati Sentanu dan Sancaka, adalah pemimpin kesatuan pengintai yang memiliki keahlian menjelajahi alam liar, membaca jejak, membuka jalan rintisan dan mengintai keadaan di lingkungan sekitar.


Senapati Kalapati dan Raweswara, biasanya menjadi senapati pengiring yang memimpin pasukan penyerang, dengan masing-masing memiliki kelebihannya sendiri. Senapati Kalapati lebih berpengalaman menjadi pasukan pembuka, sementara Senapati Raweswara memimpin pasukan berkuda yang mobilitasnya tinggi.


Sisanya, ke empat senapati yang lain, semuanya adalah senapati utama yang berpengalaman membangun pertahanan dan menjaga keamanan.


----


Setelah peristiwa menghilangnya dua puluh satu orang senapati itu, dua hari lamanya rombongan Rangga melanjutkan perjalanan mereka tanpa ada satu pun peristiwa penting yang terjadi.


Di hari ketiga, tiba-tiba salah seorang pasukan pengintai, memacu kudanya menemui Senapati Dadungwesi yang kebetulan hari itu bertugas memimpin barisan pasukan pertahanan.


Prajurit itu datang dari arah belakang rombongan, memang pasukan pengintai Rangga tidak hanya bertugas memeriksa dan mengawasi jalan yang akan mereka lewati. Pasukan pengintai juga bertugas untuk memastikan tidak ada pihak-pihak tertentu yang berusaha mengikuti mereka diam-diam.


“Lapor Ki Senapati, kira-kira sepuluh kilometer dari tempat kita, ada serombongan orang, berkuda dengan cepat mengarah ke barisan ini.”, ujar prajurit tersebut.


“Berapa jumlahnya dan bagaimana persenjataan mereka?”, tanya Senapati Dadungwesi dengan tenang.


“Jumlahnya tidak kurang dari tiga puluh orang. Rata-rata mereka membawa pedang di pinggang, satu-dua orang terlihat membawa tombak dan busur panah.”, jawab prajurit itu.


“Apakah ada yang mencurigakan dari pergerakan mereka?”, tanya Senapati Dadungwesi.


“Untuk sementara ini tidak ada Ki.”, jawab prajurit itu tanpa ragu-ragu.


Senapati Dadungwesi pun menganggukkan kepala dan berkata, “Baiklah, sudah aku terima laporanmu. Sekarang kembalilah pada kesatuanmu.”


“Siap ki.”, jawab prajurit itu singkat, sebelum membalikkan kudanya dan berpacu kembali ke arah dia datang tadi.


Senapati Dadungwesi berpikir sejenak, kemudian memanggil beberapa orang pembantunya untuk berkeliling memeriksa barisan mereka memastikan tidak ada pertahanan yang longgar. Tanpa ada gejolak sedikitpun, rombongan yang besar itu terus berjalan.


Namun, sesuatu yang berbeda dari hari-hari yang lain, terjadi di hari itu.


Tak lama setelah Senapati Dadungwesi mendapatkan berita, berturut-turut dalam waktu yang semakin singkat, prajurit yang datang dari pasukan pengintai membawa kabar yang sama.


Semakin lama, semakin pasti, tiga puluh orang bersenjata itu, sedang bergerak berusaha menyusul rombongan mereka.