Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XLVI Pertaruhan Besar Sudah Dimulai, Dadu Sudah Dilemparkan



Bayu Bayanaka yang mengerahkan segenap ilmu meringankan tubuhnya, berhasil mendahului derap lari kuda, pasukan Senapaati Subangsana. Dengan nafas memburu, tanpa membuang waktu, Bayu Bayanaka berlarian ke arah pasukan Gagak Seta, sambil melambai-lambaikan panji kecil penanda pasukan Kerajaan Watu Galuh.


“Bersiap! Bersiap! Pasukan Rangga menyerang kami! Cepat kirim bantuan!”, Bayu Bayanaka berlari sambil berseru-seru.


Sontak saja pasukan Gagak Seta yang sedang beristirahat jadi berlompatan bangun dengan tangan siap di gagang senjata mereka masing-masing.


“TENANG!”, Gagak Seta berteriak keras.


“Kalian berdua, bawa prajurit itu ke mari.”, ujar Gagak Seta sambil menunjuk dua orang prajuritnya.


Kemudian dia berjalan mencari-cari para Bekel yang sedang beristirahat, “Kau Jupri, Warsila, Rangket, beritahukan pada para Bekel yang lain, sekarang juga siapkan pasukan.”


“Kalian dengar? Segera bersiap!”, ujar Gagak Seta pada prajurit-prajurit yang ada di sekitarnya.


Setelah dibuat heboh oleh teriakan Bayu Bayanaka, dalam keadaan gamang, maka seruan-seruan Gagak Seta yang dengan cepat mengarahkan mereka, memberi perintah-perintah dengan tegas, membuat prajurit-prajurit yang biasanya tidak berdisiplin itu bergerak mengikuti perintah Gagak Seta. Tentu saja, tetap dengan ketidak teraturan mereka.


Dengan suara keras Gagak Seta bertanya pada Bayu Bayanaka, “Cepat laporkan apa yang terjadi!”


Kemudian menengok ke arah para prajurit yang sedang berbenah, beberapa sudah berlari mengambil kuda, ada yang ikut mendengarkan dan ada pula yang sudah memacu kudanya mendekat.


Dengan suara lantang Gagak Seta berteriak, “Tinggalkan yang tidak perlu, siapkan diri kalian untuk bertempur dan setelah siap, segera berkumpul di tempat ini. Salah satu, cepat bawakan kudaku ke mari.”


Bayu Bayanaka yang menunggu Gagak Seta mengalihkan kembali perhatian ke arahnya, berpikir dalam hati, 'Hehehe, sialan, boleh juga pemuda ini berakting. Jadi ini anak muda yang diangkat jadi murid Aras...'


“Kenapa diam saja? Cepat sampaikan laporan yang mau kau sampaikan!”, seru Gagak Seta tak sabar.


Prajurit-prajurit yang ada di sekitarnya diam-diam ikut memasang telinga dan Bayu Bayanaka mengumpat dalam hati, 'Ai ai... sialan... Tunggu saja kau Gagak Seta, setelah selesai pertempuran ini aku bikin kau babak belur...'


“Baik.. Siap Ki.. Senapati, kami sedang mengawal perbekalan ketika tiba-tiba segerombolan prajurit berkuda menyerang kami. Awalnya kami sangka mereka prajurit yang dikirim Prabu Jannapati untuk membantu, karena tanda keprajuritan dan umbul-umbul mereka menunjukkan mereka pasukan Kerajaan Watu Galuh.”, Bayu Bayanaka berpura-pura menjawab dengan sedikit takut oleh sikap garang Gagak Seta.


Pada saat itu terlihat pasukan berkuda menderap ke arah mereka.


Gagak Seta menunjuk ke depan, “Apakah itu mereka?”


Bayu Bayanaka menengok ke belakang dan melihat Senapati Subangsana memacu kuda, memimpin pasukannya.


Dalam hati dia tertawa, 'Goblok.... Gajah Petak saja tidak grusa-grusu seperti dia...'


Di luar dia berbalik ke arah Gagak Seta dengan wajah panik, “Benar! Itu mereka! Aku masih ingat pemimpin pasukan itu! Itu dia orangnya!”


Gagak Seta meludah ke tanah, lalu dengan gesit melompat ke atas kudanya, “Puih.. pengecut, baru melihat mereka saja kau sudah ketakutan!”


“SEMUANYA SIAAP!!!”, seru Gagak Seta dengan suara keras.


“SIAAP!!!”, terdengar pasukan yang dipimpinnya menyahut.


“Kawan-kawan! Mari kita tunjukkan siapa kita! Pendekar-pendekar yang sudah kenyang makan asam-garam dunia persilatan! Persetan dengan prajurit-prajurit sombong itu! Nyatanya mereka hanya pengecut! Maju! Ikuti aku!”, seru Gagak Seta sambil memacu kudanya memapak Senapati Subangsana dengan keris teracung tinggi di udara.


Prajurit-prajurit dari Kadipaten Jambangan itu pun memacu kuda mereka berderap mengikuti Gagak Seta yang memimpin di depan. Senjata-senjata sudah dicabut dari sarungnya. Bilah golok dan pedang yang tajam, berkilauan ditimpa matahari.


Tidak semuanya memacu kuda penuh semangat mengikuti Gagak Seta, sebagian dari mereka lebih berhati-hati dan membiarkan rekan-rekannya yang berdarah panas untuk berpacu di depan, mendampingi Gagak Seta. Bayu Bayanaka yang mengamati mereka, diam-diam menggelengkan kepala.


'Moga-moga saudara-saudara yang lain cepat menyusul, kalau tidak Gagak Seta akan kesulitan untuk mempertahankan moral pasukannya.', pikir Bayu Bayanaka.


Tidak berdiam diri saja, begitu prajurit yang terakhir sudah melewati dirinya, Bayu Bayanaka pun ikut berlari di belakang mereka, bersiap membantu Gagak Seta bila diperlukan. Bayu Bayanaka tidak tahu seberapa tinggi ilmu Gagak Seta. Sementara lawan Gagak Seta adalah Senapati Subangsana, seorang senapati dari salah satu Kadipaten di bawah kekuasaan Kerajaan Watu Galuh. Seburuk-buruknya Subangsana, dia berhasil mendapat kedudukan senapati, tentu ilmunya tidak rendah.


“SERANG!!! SERANG!!!”, seru Gagak Seta sambil memacu kudanya.


Beberapa orang Bekel dan Lurah Prajurit yang masih bisa berpikir jernih, dalam hati mengeluh akan sikap Gagak Seta yang menurut mereka terlalu cepat mengambil keputusan. Namun bukan mereka yang menjadi senapati dari pasukan ini. Juga sebagian besar dari rekan-rekan mereka yang lain sudah terbawa oleh semangat Gagak Seta, sehingga kata-kata di mulut mereka yang ragu inipun akhirnya batal terucap, dan mau tidak mau terbawa arus saja.


Senapati Subangsana yang memimpin pasukan Kerajaan Watu Galuh tak kalah berangasannya, “Pasukan! Hajar mereka! Tunjukkan kegarangan prajurit Kadipaten Lemah Abang!”


Seorang Bekel memacu kudanya mendekati Gagak Seta, “Gagak Seta, kau dengar itu? Apa kita tidak--”


Tentu saja Gagak Seta tidak membiarkan Bekel itu menyelesaikan kata-katanya, sambil tertawa berkakakan Gagak Seta mengacungkan kerisnya ke arah Senapati Subangsana, “Kambing tua, bersiap-siaplah mati di ujung kerisku!”


Senapati Subangsana yang membanggakan jenggot lancipnya yang dia rawat baik-baik, langsung melotot marah, “Bah! Anak muda bau kencur, kubeset mulutmu!”


Jarak mereka semakin mendekat, Bekel itu semakin panik, “Gagak Seta coba pikir dulu!”


Gagak Seta diam-diam memaki-maki Bekel yang berniat baik itu, tapi di sisi lain dia juga merasa harus menghargai niat baik Bekel itu. Terjepit antara tugas dan perasaan, emosi Gagak Seta akhirnya benar-benar meluap.


Dengan ringan Gagak Seta melompat ke atas punggung kudanya yang masih berpacu ke depan. Dikerahkannya hawa murni mengikuti ajaran gurunya, lalu bagai kilat dia melompat ke depan. Berkelebat bagaikan terbang menyambar Senapati Subangsana yang masih belasan meter jauhnya.


“Celaka!”, desis Bekel yang berusaha menghentikan Gagak Seta.


'Celaka!', desis Bayu Bayanaka dalam hati.


'Anak muda itu terlalu terburu-buru.', keluh Bayu Bayanaka sambil berlari lebih cepat.


Namun sebelum dia mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan melesat ke depan untuk membantu Gagak Seta, Bayu Bayanaka melihat Gagak Seta dengan sebat melemparkan kerisnya ke arah Senapati Subangsana, sebelum daya lompatannya habis dan dia mendarat ke tanah. Seperti anak panah, keris Gagak Seta meluncur dengan deras ke arah Senapati Subangsana yang sedang memacu kudanya untuk memapak Gagak Seta.


Tergagap Senapati Subangsana berusaha menangkis keris yang meluncur dengan laju itu. Dia tidak menyangka Gagak Seta akan menggunakan kerisnya, seperti orang menggunakan senjata rahasia. Dalam bayangan Senapati Subangsana, keris yang menjadi senjata utama seorang senapati seperti Gagak Seta tentunya adalah sebilah keris pusaka, senjata yang akan dijaga baik-baik oleh pemiliknya. Bukan dilemparkan seperti senjata rahasia yang sekali pakai.


Padahal Gagak Seta yang baru menjadi murid Ki Ageng Aras, saat ini justru lebih nyaman berkelahi dengan tangan kosong. Kalaupun memakai senjata, maka pilihannya adalah tombak pendek seperti yang diajarkan dalam gulungan lontar yang menjadi bekal prajurit pasukan telik sandi-nya Raden Rangga.


“Trang!!”, Senapati Subangsana berhasil menangkis keris Gagak Seta, meskipun tidak sempurna.


Keris itu berbelok arah dan meluncur deras ke arah prajurit yang berada di belakang Senapati Subangsana.


“Arggh....!”


Prajurit itu berteriak kesakitan dan terguling jatuh dari kudanya, keris Gagak Seta menancap dalam-dalam di dada prajurit itu.


“KEPARAT! KUBUNUH KAU!”, teriak Senapati Subangsana sambil menarik tali kekang kudanya, sehingga kudanya itu meringkik dan menaikkan kedua kakinya, lolos dari sambarang jari-jari Gagak Seta yang berkesiuran menyambar dengan keras.


Kedua pasukan pun mulai bergebrak, darah sudah membasahi permukaan tanah, satu nyawa sudah meregang, membuat mata prajurit-prajurit itu nyalang oleh hawa peperangan, nafsu membunuh, keinginan untuk bertahan hidup, membunuh atau dibunuh, menguasai pikiran mereka.


Dalam waktu singkat, bau darah mulai memenuhi udara.


Gagak Seta dengan gesitnya menyerang Senapati Subangsana, melompat dari satu posisi ke posisi lain. Sesekali menyerang rendah, sesekali melompat tinggi di udara dan menyerang dari atas. Kali ini Gagak Seta menguras seluruh ilmu yang dia miliki. Bayu Bayanaka yang menonton dari kejauhan, terhenti untuk beberapa saat dan mengagumi kecepatan anak muda itu.


'Lumayan... Ki Ageng Aras tidak salah memilih murid.', ujar Bayu Bayanaka dalam hati.


Tentu saja, apa yang ditunjukkan Gagak Seta itu belum ada apa-apanya bagi pendekar macam Bayu Bayanaka, tapi untuk sementara ini, kenekatan, kegesitan dan kegarangan Gagak Seta cukup membuat Senapati Subangsana kerepotan. Dan itu membuat pasukan yang dipimpin Gagak Seta punya keberanian untuk bergebrak melawan pasukan yang dipimpin Senapati Subangsana.


Korban-korban mulai berjatuhan, diam-diam Bayu Bayanaka membantu Gagak Seta dengan sesekali melontarkan keriki-kerikil kecil untuk mengganggu Senapati Subangsana.


Bayu Bayanaka tidak perlu menunggu lama, ketika pertempuran mulai bergeser, karena pasukan Senapati Subangsana berhasil mendesak mundur pasukan Gagak Seta, tiba-tiba terjadi keributan di barisan belakang mereka.


Bayu Bayanaka bersorak dalam hati, kemudian dengan suara lantang dia berseru, “DATANG! DATANG! BANTUAN DATANG! SERANG MEREKA KAWAN-KAWAN!”


Diserang dari dua arah, barisan pasukan Senapati Subangsana pun jadi berantakan, apalagi serangan gelap dari arah belakang itu jauh lebih dahsyat dan tidak disangka-sangka, dibanding dari serangan yang ada di depan mereka. Dalam gebrakan pertama saja, langsung ratusan prajurit Senapati Subangsana gugur tanpa pernah mengerti, mengapa rekan-rekan mereka tiba-tiba berbalik membunuh mereka.


Dalam keadaan kacau balau itu, Senapati Subangsana sempat menoleh ke belakang dan tertegun sejenak, “APA-APAAN INI!?”


“Pengkhianatan!?”, desis Senapati Subangsana tak percaya.


“Salam dari Raden Rangga Ki Senapati.”, tiba-tiba Senapati Subangsana mendengar seseorang berbisik dekat di telinganya.


Seketika itu juga bulu kuduknya berdiri karena dengan mudahnya orang itu bisa mendekat tanpa dia sadari. Cepat dia melompat turun dari kuda sambil menoleh ke arah sumber suara itu. Dilihatnya Bayu Bayanaka duduk berjongkok di atas punggung kudanya, seperti berjongkok di atas tanah yang tak bergerak.


“Kau... kau...”, terbata Senapati Subangsana, hilang semua kata-kata dalam kepalanya.


“Maafkan aku Ki Subangsana, tapi inilah perang.”, seru Bayu Bayanaka dengan tenang.


Gagak Seta berdiri dengan tegak, memandangi Senapati Subangsana dengan perasaan campur aduk. Di sekelilingnya prajurit-prajurit yang dia pimpin sedang bertarung menyabung nyawa melawan pasukan yang seharusnya mereka bantu.


Senapati Subangsana menunduk, melihat ke arah dadanya, dilihatnya gagang keris menyembul dan darah mengalir deras, mengucur ke atas permukaan tanah. Kesadarannya perlahan-lahan mulai menghilang.


“Raden Rangga....”, bisik Senapati Subangsana, pandang matanya mulai mengabur, seiring pemahaman yang mulai memasuki otaknya.


Senapati itu pun jatuh tertelungkup di atas tanah. Tanpa sempat menyesali kesalahan yang dia buat.


“SUBANGSANA MATI! SUBANGSANA MATI!”, teriak Bayu Bayanaka sambil menyambar panji-panji yang dibawa pengiring Senapati Subangsana.


Gagak Seta pun berkelebat merebut seekor kuda dari prajurit yang kebetulan ada di dekatnya dan dengan suara keras berteriak pula, “HENTIKAN PERTEMPURAN! MENYERAHLAH! PEMIMPIN KALIAN SUDAH MATI!”


Teriakan-teriakan pun saling sahut menyahut dari segala penjuru, mengabarkan kematian Senapati Subangsana. Satu per satu, prajurit yang dipimpin Subangsana, melemparkan senjata ke tanah dan menjatuhkan diri berlutut dengan kedua tangan diangkat tinggi-tinggi ke atas.


Gagak Seta mengumpulkan pasukannya, memerintahkan mereka untuk berbaris rapi. Ketika semangat mereka yang meluap-luap mulai mereda, bahkan yang paling bodoh di antara mereka pun mulai merasakan kejanggalan yang terjadi. Gagak Seta sekarang bersikap hormat pada prajurit pembawa pesan yang tadi dia maki.


Pasukan yang datang bergabung dengan mereka, dan menyerang pasukan Subangsana dari belakang, berbaris dengan rapi menghadapi mereka dengan mata yang garang menyala-nyala.


Di tengah-tengah, di antara kedua barisan, adalah prajurit-prajurit yang sudah melemparkan senjata mereka ke atas tanah.


Senapati Watu Gunung berjalan menemui Gagak Seta.


“Kerja bagus.”, ujarnya sambil menepuk pundak anak muda itu.


“Terima kasih Ki Senapati.”, ucap Gagak Seta dengan hormat, membuat mata prajurit-prajurit Kadipaten Jambangan terbelalak.


Seseorang dari mereka menunjuk Gagak Seta dan dengan terbata berseru,”Kau...--”


Kata makian yang hendak dia lemparkan itu menghilang seperti ditelan bumi, ketika dia menyadari keadaan mereka. Seribu orang pasukan berkuda, sekarang tinggal beberapa ratus orang saja. Sementara di depan mereka berdiri sepasukan prajurit yang garang.


Senapati Watu Gunung maju ke depan dan dengan suara lantang berkata, “Kami pasukan khusus Raden Rangga! Barangsiapa menyerah akan diampuni nyawanya! Yang berani melawan...”


Untuk sesaat lamanya seluruh medan pertempuran hening tanpa suara.


“TUMPAS HABIS!”, dan dipecahkan oleh suara lantang Senapati Watu Gunung.


“HOOOAAAAAAAAAAA!!!!”, terdengar suara gemuruh geraman dari seribu orang pasukan yang berbaris rapi di belakang Senapati Watu Gunung.


Para prajurit Kadipaten Jambangan pun termangu tak bisa memutuskan. Saling pandang, bingung dan ragu. Sesekali mereka memandang ke arah Gagak Seta yang seharusnya menjadi pemimpin mereka, orang yang memberi keputusan dan perintah.


Gagak Seta menghela nafas dan berkata, “Kalian boleh saja membenciku, aku tidak akan membela diri di depan kalian. Satu hal saja yang perlu kalian tahu. Kami ingin rahasia ini tetap terjaga untuk setidaknya satu-dua hari. Tidak ada yang lebih bisa menjaga mulutnya untuk tetap tertutup, kecuali mayat.”


Hening...


Tiba-tiba beberapa orang prajurit menengok ke sekitar mereka, dan entah sejak kapan sudah muncul barisan di empat penjuru, mengepung mereka semua.


“Tapi kami tidak ingin membunuh bila itu tidak benar-benar perlu.”, ujar Gagak Seta.


“Menyerahlah.”, ujar Senapati Watu Gunung dengan tenang tanpa emosi.


Ketika satu orang melemparkan senjatanya ke tanah, segera yang lain mulai mengikuti. Mereka belum lama bergabung dengan pasukan Kadipaten Jambangan, alasan mereka bergabung pun lebih pada janji-janji pangkat dan uang.


Ketika tidak ada pemimpin yang bisa menjaga semangat mereka, pasukan Kadipaten Jambangan yang baru ini pun tak ubahnya benteng yang dibangun menggunakan pasir yang basah di tepian pantai.


Runtuh berguguran begitu terkena ombak.


Dengan mudah pasukan Rangga mematahkan semangat mereka dan menyelesaikan pertempuran dengan sempurna.