
Hari berlalu dengan cepat, pasukan Rangga dan rakyat yang mengikutinya semakin lama, semakin dekat ke perbatasan Kademangan Jambangan.
Kesatuan militer Kadipaten Jambangan yang baru saja dibentuk, sudah dua hari lamanya dikerahkan menjaga perbatasan kadipaten. Tenda-tenda militer besar dan kecil menghiasi padang rumput yang menjadi pintu masuk ke Kadipaten Jambangan.
Umbul-umbul dan panji-panji yang menandakan baik kesatuan yang baru, maupun kesatuan-kesatuan yang lebih kecil di bawahnya, berkibar-kibar di berbagai lokasi, menandakan pasukan siapa yang berkemah di sana.
Di Kadipaten Serayu, di perbatasan paling selatan Kerajaan Watu Galuh, suasananya pun tidak kalah menegangkan. Beberapa hari yang lalu, gabungan pasukan para adipati yang mendukung Prabu Jayabhuanna bergerak mendekati perbatasan. Tanpa membuang waktu pasukan Kerajaan Watu Galuh pun bergerak menutup pergerakan mereka. Kedua pasukan berkemah berhadap-hadapan dengan jarak tak lebih dari satu kilometer jauhnya.
Hampir setiap hari kedua pasukan saling berhadapan dalam gelar perang terbuka.
Namun pasukan Adipati Gading Kencana tidak memulai penyerangan, dan pasukan Kerajaan Watu Galuh bersikap menunggu.
Benar-benar menguji mental dan disiplin para prajurit, ketika mereka harus selalu dalam keadaan siap berperang, sementara kapan mereka akan berperang tidak mereka ketahui. Sesekali beberapa senapati atau bekel akan maju ke depan dan saling menantang.
Pertarungan satu lawan satu terjadi di hadapan sekalian pasukan, menang dan kalahnya mereka ikut mempengaruhi moral pasukan. Sejauh ini kedua pihak sama-sama pernah menang, pernah juga kalah.
Tidak lagi bermalas-malasan di dalam tenda kebesarannya, setiap hari Prabu Jannapati turun sendiri ke medan pertempuran. Menyemangati pasukan, sesekali melontarkan tantangan perang satu lawan satu ke arah pasukan Adipati Gading Kencana, namun sejauh ini tidak ada yang berani menanggapi tantangannya.
Dengan sendirinya, hal ini membut moral pasukan Kerajaan Watu Galuh terjaga. Namun jika moral pasukan di tingkat bawah terjaga tinggi, tidak demikian keadaannya di tingkat atas. Setelah selesai berkeliling di depan garis pertahanan dan menyemangati pasukannya, Prabu Jannapati kembali ke dalam tenda kebesarannya.
Di dalam sana, jauh dari telinga prajurit-prajurit yang berjaga, ekspresi wajahnya berubah muram dan tegang. Patih Nandini, beberapa orang Tumenggung dan Senapati terlihat berkumpul di dalam tenda itu.
“Belum ada kabar, ke mana pasukan Rangga sekarang berada?”, tanya Prabu Jannapati dengan wajah keruh.
“Belum baginda, jejaknya sudah ditemukan mengarah ke pusat Kerajaan Watu Galuh, namun kemudian menghilang di tengah Alas Rawagantung.”, jawab senapati yang bertugas memimpin pasukan telik sandi.
“Bagaimana dengan jumlahnya? Kalian sudah punya gambaran yang lebih pasti?”, tanya Prabu Jannapati kemudian.
“Sudah gusti prabu, kami berhasil menemukan jejak-jejak tentang bagaimana mereka menghilang dari pasukan utama tanpa teramati oleh pasukan telik sandi kita, dan dari situ kami berhasil menghitung, setidaknya jumlah mereka mendekati 1000 orang, tapi tidak akan lebih dari 1000 orang prajurit.”, jawab senapati tersebut.
“Seribu orang... Hhh.... bagaimana seribu orang bisa menghilang begitu saja?”, geram Prabu Jannapati.
Tidak ada yang berani menjawab pertanyaan Prabu Jannapati itu. Patih Nandini juga terpekur memandangi peta besar yang digelar di atas meja, di tengah-tengah tenda pertemuan itu.
“Kita harus tahu ke mana mereka pergi. Saat ini pasukan Adipati Gading Kencana berani memasang gelar terbuka berhadapan dengan pasukan kita. Sudah tentu ada hubungannya dengan pasukan Raden Rangga yang menyusup ke dalam wilayah kita.”, kata Patih Nandini dengan serius.
Jika biasanya dalam keadaan apa pun Patih Nandini terlihat tenang, kali ini tidak. Kali ini Patih Nandini pun terlihat tegang. Setiap orang yang berada di dalam kemah pertemuan itu merasa tegang, seakan-akan ada bayangan yang tidak terlihat, sedang menodongkan pisau ke punggung mereka.
Seorang tumenggung ragu-ragu bertanya, “Apa perlu kita menarik mundur sebagian dari pasukan kita ke ibu kota?”
Sebelum Prabu Jannapati mendamprat tumenggung tersebut, buru-buru Patih Nandini menjawab, “Tidak perlu, jika hanya untuk mengamankan ibu kota dari serangan seribu orang prajurit. Kesatuan Darespati dan pasukan yang kita tinggalkan di ibu kota saat ini, sudah cukup untuk mempertahankan ibu kota.”
Prabu Jannapati menelan kemarahan yang sudah hampir terlontar, kemudian dia bertanya, “Bagaimana dengan pengiriman perbekalan makanan bulan ini? Kalian sudah pastikan semuanya aman?”
“Mereka sudah beberapa hari yang lalu meninggalkan Kadipaten Mager Asri, dalam hitungan hari mereka akan sampai. Hamba juga sudah mengirimkan seribu orang prajurit dari pasukan kita untuk membantu mengamankan perbekalan.”, jawab Patih Nandini.
Prabu Jannapati mengamati peta di atas meja, “Perintahkan mereka, hanya lakukan perjalanan di siang hari. Kemudian selalu pastikan pasukan pengintai memeriksa keadaan lebih dahulu sebelum mereka mulai bergerak. Lebih baik terlambat beberapa hari daripada terjadi sesuatu dengan mereka.”
“Siap baginda.”, jawab Patih Nandini.
Prabu Jannapati terlihat masih tak puas, “Dengar, pada saat ini hampir tidak ada target penting yang bisa jadi sasaran seribu orang pasukan Rangga itu, kecuali pengiriman perbekalan kita. Nandini apa perlu kita mengirimkan lebih banyak lagi pasukan untuk melindungi pengiriman perbekalan kita itu?”
Patih Nandini berpikir beberapa lama, kemudian menggelengkan kepala, “Sebelum kita menerima kabar menghilangnya pasukan Rangga, kita sudah menugaskan 800 orang prajurit untuk mengawal pengiriman perbekalan dari ibu kota menuju ke perbatasan. Kemudian setelah ada kita mendapatkan berita itu, dengan segera kita mengirim orang untuk memperingatkan mereka, sekaligus menyusul mengirimkan 1000 orang prajurit untuk membantu mengawal perbekalan.”
Setelah menguraikan apa yang sudah mereka lakukan sebelumnya, Patih Nandini melanjutkan, “Jika sekarang kita mengurangi lagi pasukan kita di perbatasan, maka justru kedudukan kita di sini yang berbahaya. Bagaimana kalau misalnya seribu orang pasukan Rangga itu sejatinya sedang bersembunyi dan menunggu untuk menyerang pasukan kita dari belakang, bersamaan dengan serangan dari pasukan Pangeran Adiyasa yang menyerang secara berterang dari depan?”
Melihat Prabu Jannapati masih menatap ke atas peta sambil mengerutkan alis, Patih Nandini kemudian menambahkan, “Baginda prabu jangan terlalu kuatir, 1800 orang prajurit kalau mengambil strategi bertahan, bisa manahan mereka cukup lama. Pada saat itu, jika benar 1000 orang prajurit Raden Rangga itu menyerang mereka, masih belum terlambat untuk mengirimkan pasukan untuk membantu mereka.”
Prabu Jannapati berdiri dengan tak sabar dan berjalan mondar-mandir, seperti seekor singa yang kelaparan, akhirnya dia menoleh ke arah Patih Nandini dan berkata, “Aku masih merasa tidak aman, Nandini, perintahkan pada Adipati Jalak Kenikir, untuk mengirimkan 1000 orang prajuritnya untuk memperkuat pengawalan perbekalan kita itu.”
Patih Nandini berpikir untuk beberapa saat, kemudian menjawab. “Baiklah, hamba akan pergi sendiri ke Kadipaten Jambangan untuk menyampaikan perintah itu.”
Prabu Jannapati mengangguk, “Bagus, katakan padanya, seribu orang prajurit Rangga yang paling berpengalaman sedang bergerak sembunyi-sembunyi dan bersiap untuk merebut perbekalan kita. Tidak ada alasan baginya untuk menolak permintaan kita ini. Kalau sampai pasukan kita di selatan ini harus mundur, toh kadipaten-nya juga akan terancam oleh keberadaan pasukan Adipati Gading Kencana.”
Patih Nandini mengangguk, “Hamba mengerti dan hamba yakin Adipati Jalak Kenikir juga bisa menghitung setiap kemungkinannya.”
--------
beberapa waktu kemudian, di hari itu juga, di Kadipaten Jambangan, di sebuah ruangan kecil yang asri, Patih Nandini sedang duduk dijamu langsung oleh Adipati Jalak Kenikir. Patih Nandini tersenyum kecut melihat Adipati Jalak Kenikir yang masih sempat-sempatnya menikmati kenyamanan dalam keadaan saat ini.
“Tentu, tentu.... Ki Patih tentunya juga mendengar bahwa Adipati Seroja dan Adipati Talitaman menggerakkan pasukan mereka dan sekarang berkemah tepat di luar perbatasan Kadipaten Jambangan.”, jawab Adipati Jalak Kenikir.
Patih Nandini meletakkan cangkir di tangannya, wedang jahe yang dihidangkan Adipati Jalak Kenikir, hatinya terlampau rusuh untuk merasakan nikmatnya wedang jahe hangat itu, “Ki Adipati jangan bercanda, jumlah pasukan gabungan yang berhadapan dengan pasukan kerajaan tidak banyak berubah. Artinya pasukan yang mengancam Kadipaten Jambangan, hanya ramai dan terlihat besar, padahal aslinya tidak demikian.”
“Atau sebaliknya, pasukan Adipati Gading Kencana yang mengancam pasukan kerajaan yang menampakkan diri mengerikan, padahal sebenarnya kosong.”, sahut Adipati Jalak Kenikir tak mau kalah.
Patih Nandini memejamkan mata, merasa lelah menghadapi Adipati Jalak Kenikir yang licin seperti belut ini.
“Ki Adipati, marilah kita berhenti bermain kata. Apa keuntungannya Adipati Gading Kencana membantu Raden Rangga merebut Kadipaten Jambangan? Jumlah pasukan Adipati Seroja dan Adipati Talitaman ditambah pasukan Raden Rangga tak akan cukup untuk merebut Kadipaten Jambangan yang bertahan di balik tembok kota dalam hitungan hari. Kemudian apa mungkin kami akan diam saja jika itu terjadi?”, tanya Patih Nandini pada Adipati Jalak Kenikir.
Melihat Adipati Jalak Kenikir masih terdiam, Patih Nandini menambahkan, “Tapi apabila perbekalan yang dikirimkan dari ibu kota, sampai gagal sampai pada kami. Mau tidak mau dalam hitungan minggu pasukan harus mundur kembali ke asalnya masing-masing.”
Adipati Jalak Kenikir dengan tenang mengisi kembali cangkir Patih Nandini yang sudah kosong, “Jadi... Prabu Jannapati meminta pasukan bantuan, tanpa ada tawaran apa-apa sebagai timbal balik?”
Patih Nandini menggertakkan rahangnya dengan keras, “Apa Ki Adipati sudah siap untuk kehilangan Kadipaten Jambangan?”
Adipati Jalak Kenikir tersenyum lebar, “Ya... kehilangan sebuah kadipaten tidak terlalu menyakitkan dibanding kehilangan satu kerajaan.”
“Apa yang Ki Adipati mau?”, tanya Patih Nandini dengan sorot mata tajam mengancam.
Adipati Jalak Kenikir menjawab dengan tenang, “Jangan marah Ki, kali ini aku tidak minta terlalu banyak. Kalian ingin aku mengirimkan seribu orang prajurit berkuda untuk cepat bergabung mengawal perbekalan. Aku akan sediakan prajuritnya, kalian yang menyediakan kudanya, dan setelah mereka selesai dengan tugas mengawal, mereka akan kembali ke Kadipaten Jambangan berikut dengan kudanya.”
Patih Nandini bangkit berdiri dan dengan suara menahan marah dia menjawab, “Baik, sekarang juga aku akan kirimkan. Aku ingin mereka berangkat hari ini juga dan bergabung dengan pengawal perbekalan secepat-cepatnya.”
“Siap terima perintah Ki Patih, tentu saja aku akan memerintahkan mereka secepatnya bergerak, kalau perlu tanpa istirahat. Perbekalan itu sangat penting bagi kita, aku pun tak ingin melihat pasukan kerajaan kita kelaparan karena pengiriman perbekalan yang bermasalah.”, jawab Adipati Jalak Kenikir dengan hormat sambil tersenyum simpul.
Patih Nandini mengebaskan lengan bajunya dan meninggalkan ruangan itu tanpa berpamitan.
-----
Sore harinya terlihat Gagak Seta berkuda, memimpin seribu orang prajurit berkuda. Seribu orang prajurit yang diambil dari kesatuan yang baru, menyusuri jalan menuju ke Kadipaten Serayu. Mereka memacu kuda mereka dengan bersemangat.
“Gagak Seta, coba ceritakan kembali tugas yang diberikan oleh Ki Senapati Lesmana pada kita, Rewang dan Ganjar katanya penasaran.”, ujar salah seorang prajurit sambil memacu kudanya mendekati Gagak Seta yang berada di depan.
Partajaya yang berkuda seiring dengan Gagak Seta mengerutkan alis hendak menegur Lurah Prajurit yang tanpa memperhatikan tatanan keprajuritan berderap keluar dari barisan dan bertanya pada Gagak Seta, seperti bertanya pada teman biasa.
Gagak Seta menepuk pundak Partajaya dan menggelengkan kepala, kemudian menoleh pada Lurah Prajurit itu, “Daripada aku berulang-ulang bercerita, kau panggil semua Lurah Prajurit untuk berkuda di depan bersamaku.”
“Hahaha, siaap... Kakang Partajaya, jangan karena jadi Bekel kau kemudian jadi kaku begitu. Biasa sajalah.”, ujar Lurah Prajurit itu kemudian sambil tertawa terbahak-bahak, berkuda kembali ke barisan untuk memanggil Lurah Prajurit yang lain.
Partajaya berkata pada Gagak Seta, “Gagak Seta, kalau seperti ini terus, apa bedanya nanti pasukan kita dengan gerombolan begal Gunung Awu?”
Gagak Seta tertawa kecil, “Ya... tapi jangan lupa kakang, mereka bukan pasukan Raden Rangga.”
Partajaya tercenung mendengar jawaban Gagak Seta, kemudian menghela nafas panjang, “Hahh.... kau benar.... tapi... bagaimana pun juga, mengenal mereka selama beberapa bulan ini...”
Partajaya menoleh ke belakang, melihat barisan kuda yang tidak beraturan, Lurah Prajurit yang tadi terlihat berkuda dari satu barisan ke barisan lain.
“Gagak Seta..., menurutmu... kita... akan memimpin mereka pada... kematian?”, tanya Partajaya ragu-ragu.
Gagak Seta menjawab dengan serius, “Aku harap tidak, tapi kita tidak boleh lupa siapa diri kita dan apa tugas kita yang sebenarnya.”
Sejenak kemudian dia menambahkan, “Kakang, kita sudah memilih jalan untuk menjadi prajurit, demikian juga mereka. Jangankan nyawa mereka, bukankah kita pun sudah siap untuk mengorbankan nyawa kita sendiri?”
“Kau benar...”, desis Partajaya dengan wajah serius.
“Jangan lupakan, anak-anak, orang tua, saudara, keluarga kita. Keselamatan mereka, berada di tangan kita juga.”, ujar Gagak Seta berusaha menguatkan rekannya yang lebih tua darinya.
Partajaya mengangguk pada Gagak Seta, sambil tersenyum, “Kau benar Gagak Seta, jangan kuatir, aku tidak lupa. Maaf, aku justru mencari penguatan darimu.”
Gagak Seta tertawa lepas, “Hahaha, biasa saja kakang, aku pun terkadang terganggu dengan kedudukan kita ini. Sungguh tugas yang tidak mudah.”
Partajaya terdiam mendengar kata Gagak Seta dan bergumam, “Semoga saudara-saudara kita yang tetap di Kadipaten Jambangan baik-baik saja.”
“Semoga...”, jawab Gagak Seta dengan wajah muram, teringat lagi dengan firasat buruknya saat baru menjadi senapati.