
Beberapa bulan kemudian, di sisi batas paling selatan, di ujung Alas Ankara Naga Loka, di puncak satu bukit yang cukup tinggi, terlihat ribuan orang bekerja. Dari kejauhan seperti sekumpulan semut yang bergerombol dan sibuk bekerja dalam barisan mereka masing-masing.
Sebagian besar sedang bekerja membersihkan dan meratakan satu bidang tanah yang cukup luas.
Di kaki bukit, ada yang memahat batu-batu besar, membentuk takikan dan meratakan permukaannya, sehingga siap dipasang-pasangkan menjadi tembok yang kokoh.
Ada pula yang menyerut gelondongan kayu-kayu besar untuk dijadikan tiang.
Dari arah Alas Ankara Naga Loka, terlihat keluar dari hutan, menuju ke arah puncak bukit itu, berjalan di atas jalan yang baru dibuat, tapi cukup lapang, barisan pekerja dengan alat pengangkut, membawa batu-batu kali yang besar, gelondongan kayu dan berbagai hasil hutan lainnya.
Di daratan yang lebih rendah, beberapa kilometer jaraknya dari puncak bukit itu, juga terlihat kesibukan yang tidak kalah ramainya.
Bangunan rumah-rumah panggung yang panjang sedang dibangun, bentuknya sederhana tanpa banyak ornamen, namun dibangun dengan kokoh.
Di sebidang tanah yang luas, beberapa puluh meter jauhnya dari sepanjang pinggiran sebuah sungai yang sumbernya jauh di dalam Alas Ankara Naga Loka, terlihat orang-orang sedang membersihkan dan bersiap mengolah tanah.
Demikianlah di berbagai titik yang tersebar tapi masih saling berhubungan, belasan ribu orang pelarian dari Kerajaan Watu Galuh itu mulai membangun masa depan mereka.
Sebagian prajurit terlihat berpatroli, sebagian yang lain ikut bekerja bersama para penduduk.
Sementara Rangga, Tumenggung Widyaguna, kedua Rakryan dan tiga sosok yang baru saja bergabung, berkeliling dari satu tempat ke tempat lain, mengawasi jalannya kegiatan itu.
Tiga orang baru itu adalah Ki Bharata, Ki Tanumerta dan Ki Waluyo.
Dari lima orang pedagang yang menemui Rangga, tiga orang mengambil pilihan kedua, sementara dua orang yang lain memilih pilihan pertama. Penggerak utama dari para pedagang itu, tentu saja adalah Ki Bharata, dialah yang pertama mengambil keputusan untuk mengabdi secara total pada Rangga.
Ki Tanumerta dan Ki Waluyo yang mempercayai ketajaman pandangan Ki Bharata, berturut-turut mengikuti Ki Bharata dan mengambil pilihan yang sama, sementara dua orang pedagang yang lain tidak berani mengambil resiko yang terlalu besar menurut mereka. Sedikit berbeda dengan Ki Tanumerta dan Ki Waluyo, adalah kesungguhan Ki Bharata dalam mendukung usaha Rangga.
Tanpa ragu, Ki Bharata menyumbangkan sejumlah besar hartanya, bahkan menggunakan reputasinya sebagai pedagang besar yang bisa dipercaya, untuk membantu Rangga mendapatkan bantuan dari pedagang-pedagang lain yang dia kenal.
Lewat bantuan mereka inilah, sehingga ketika mereka sampai di tempat yang dipandang strategis, pembangunan tahap pertama, pusat kekuasaan Rangga berjalan tanpa halangan yang berarti.
Tenaga manusia sudah cukup berlimpah, dari puluhan ribu orang yang mengikut Rangga, ditopang pula dengan para perajin dan ahli bangunan yang dipekerjakan oleh Ki Bharata dan rekan-rekannya.
Hasilnya pun melampaui apa yang direncanakan Rangga, ketika dia melihat sumber daya yang dipersiapkan oleh Ki Bharata dan rekan-rekannya, Rangga pun memutuskan untuk membangun benteng yang cukup kuat di atas sebuah bukit.
Nantinya dia bisa menjadikan benteng itu sebagai pusat pemerintahan dan pusat pertahanan.
Untuk saat ini di sekitar bukit itu, penduduk Kademangan Jati Asih yang mengikutinya Rangga membangun rumah-rumah yang akan digunakan oleh beberapa keluarga bersama-sama. Nantinya setelah mereka mulai membangun sendiri-sendiri rumah mereka, bangunan itu bisa dipergunakan untuk para prajurit dan abdi dalem istana.
Dengan demikian, seluruh wilayah yang saat ini dibangun, di kemudian hari akan menjadi kompleks Istana yang luas. Sementara di sekelilingnya nanti akan menjadi pemukiman bagi penduduk ibu kota kerajaan.
Dalam rencana Rangga dan pembantu-pembantu utamanya, seperti Tumenggung Widyaguna, Ki Bharata dan para pengikut yang lain, sudah tergambarkan rancangan jauh ke depan. Bagaimana perlahan wilayah mereka itu akan dimekarkan, dengan benteng yang saat ini dibangun akan menjadi titik pusatnya.
Hampir seharian mereka berkeliling mengawasi jalannya pembangunan, sampai matahari jauh di atas langit, mereka mengakhiri pengamatan mereka di hari itu beristirahat di sebuah hutan bambu kecil yang tumbuh dekat sungai yang mengalir keluar dari Alas Ankara Naga Loka.
Tak lama mereka beristirahat, datang seorang gadis cantik yang diikuti beberapa wanita setengah baya. Dengan cekatan dan luwes, mereka menata tempat itu dan menyediakan hidangan dan minuman bagi Rangga dan pengikutnya.
“Silahkan raden...”, ujar gadis itu lembut sambil membawakan minuman dan makanan untuk Rangga.
“Terima kasih..”, jawab Rangga.
“Ayah...”, ujar gadis itu sambil memberikan secangkir air dingin dan hidangan untuk Ki Bharata.
Demikian gadis itu melayani Rangga dan para pengikutnya, sementara perempuan yang lain membantu dia menyiapkan. Setelah selesai, gadis itu pun memilih duduk sedikit di belakang mereka, di sisi Ki Bharata. Tumenggung Widyaguna dan beberapa pengikut Rangga yang lama saling melirik dengan pandangan penuh arti.
Ki Bharata tersenyum dan berkata, “Aku harap pelayanan anak gadisku ini tidak terlalu memalukan. Maklum kami hanya dari keluarga pedagang, tidak tahu unggah-ungguh kehidupan dalam istana.”
“Ah, Ki Bharata terlalu merendah, Ni Sundari terlihat sangat luwes, anggun dan cekatan, tidak kalah dengan puteri keraton yang tumbuh besar di istana.”, ujar Rangga sambil tertawa ramah.
Mendengar pujian Rangga, terlihat puteri Ki Bharata, Ni Sundari tertunduk malu dengan pipi bersemu kemerahan. Kulitnya yang cerah, membuat semburat warna merah itu terlihat jelas. Apalagi ketika pujian Rangga itu memancing pula tawa dari beberapa orang yang lain, warna semu merah itu pun menyebar sampai ke daun telinganya.
Makan siang itu berlalu dalam kedamaian, sedikit gurauan dan bincang-bincang ringan.
Ketika selingan singkat itu berlalu, puteri Ki Bharata dan mereka yang membantunya dengan cekatan membersihkan kembali tempat itu, dan meninggalkan Rangga dan para pengikut utamanya dengan beberapa kendi berisi air kelapa muda yang segar.
“Raden, tembok benteng dan parit yang raden inginkan tidak akan selesai dalam waktu tiga-empat bulan ke depan, itupun dengan sebagian besar sumber daya kita sudah dikonsentrasikan untuk mengerjakannya.”, ujar Ki Bharata dengan dahi berkerut, dia bukan seorang ahli militer, tapi tidak sulit untuk membayangkan bahaya yang mengancam di sekitar mereka.
Setelah mereka menjadi bagian dari pengikut Rangga, barulah pikiran mereka terbuka pada resiko-resiko yang harus dihadapi Rangga sebelum dia bisa berhasil mengukuhkan kedudukannya di selatan.
Ki Waluyo membuka mulut, “Meskipun kami hanya pedagang, tapi untuk melindungi keluarga dan usaha kami, masing-masing dari kami memiliki seratusan lebih orang yang terlatih menggunakan senjata. Jika Raden Rangga membutuhkan, kami siap menggabungkan mereka ke pasukan Raden.”
Ki Tanumerta mengangguk setuju, “Jika dibutuhkan, keluarga Tanumerta bisa mengumpulkan tak kurang dari tiga ratus orang.”
“Dua ratus orang.”, ujar Ki Waluyo.
Ki Bharata berpikir sejenak lalu berkata, “Jika Raden Rangga mengijinkan seluruh keluarga Bharata untuk tinggal di tempat ini dan bersedia menjamin keamanan mereka. Kami akan melepaskan semua usaha kami di luar dan mengumpulkan segenap kekuatan kami di sini, setidaknya lima ratus orang pasukan bisa terkumpul.”
Ki Waluyo dan Ki Tanumerta diam-diam terkejut melihat kesungguhan rekan mereka, Ki Bharata. Bukan cuma mereka berdua, Tumenggung Widyaguna dan kedua Rakryan pun memandang Ki Bharata dengan cara yang berbeda setelah mendengar perkataan Ki Bharata itu.
Benar memang bahwa ketiga orang pedagang itu mengambil pilihan kedua. Dari harta dan tenaga yang mereka kerahkan untuk membantu Rangga, sikap mereka itu bukan main-main.
Akan tetapi, meski tak terucapkan dan hanya di dalam benak para pengikut Rangga, mereka yakin ketiga orang pedagang itu berbeda dari mereka. Setidaknya mereka bertiga pasti menyimpan jalan keluar bagi mereka dan keluarganya. Berjaga-jaga, apabila Rangga gagal menancapkan kekuasaannya di pesisir selatan.
Langkah Ki Bharata yang hendak melepaskan seluruh perusahaan-nya di luar dan mengonsentrasikan semua sumber daya dan keluarganya di tengah para pengikut Rangga, menutup jalan keluar bagi dirinya dan keluarganya, apabila sampai Rangga gagal dalam perjuangannya ini.
Masih bagus jika Rangga setidaknya berhasil mendirikan kota yang sedang mereka bangun saat ini, tapi Ki Bharata mengajukan usulan itu, tatkala kota ini pun baru mulai dibangun dan ancaman mengintai dari berbagai arah.
Bahkan ekspresi wajah Rangga sendiri sempat berubah, dengan tatapan mata yang tajam dia melihat ke arah Ki Bharata.
Ki Bharata membalas pandangan Rangga dengan tenang. Melihat kesungguhan Ki Bharata, ekspresi Rangga terlihat sumringah.
Rangga pun berpikir sejenak, sebelum akhirnya menjawab, “Aku terima tawaran Ki Bharata, silahkan secepatnya Ki Bharata mulai mengatur kepindahan keluarga Ki Bharata ke tempat ini. Kami akan memperlakukan keluarga Ki Bharata sebagai bagian dari keluarga kami. Demikian juga Ki Bharata, kami harapkan bersedia menjadi sesepuh kerajaan yang akan dibangun ini, bersama dengan Pamanda Tumenggung Widyaguna dan Pamanda Ki Ageng Aras, membantu kami, utamanya dalam hal membangun perekonomian kerajaan ini.”
Ki Waluyo dan Ki Tanumerta saling pandang, kemudian hampir bersamaan keduanya berbicara, “Raden..”
Namun perkataan mereka terhenti karena Rangga mengangkat tangan dan menyela mereka berbicara lebih panjang, “Ki Waluyo. Ki Tanumerta.”
Keduanya pun terdiam dan dengan suara agak tertahan menjawab. “Sendika dawuh... raden...”
“Tak baik jika semua usaha Ki Bharata yang sudah dia perjuangkan selama bertahun-tahun kemudian jatuh ke tangan orang lain. Maka perintahku kepada kalian berdua, karena Ki Bharata dan keluarganya memindahkan pusat perhatian mereka ke dalam kerajaan yang akan kita bangun ini. Kalian berdualah yang bertanggung jawab untuk mengelola dan melanjutkan usaha-usaha Ki Bharata di luar kerajaan yang sedang kita bangun ini.”, Rangga dengan kalem tapi tegas memberikan perintah.
Ki Waluyo dan Ki Tanumerta tercenung untuk sesaat lamanya, sebagai orang yang sudah malang melintang dalam dunia usaha dan bergaul dengan berbagai macam lapisan, mereka menyadari apa yang tersirat dari perintah Raden Rangga tersebut.
Meskipun sama-sama menjadi bagian dari kerajaan, namun Ki Bharata berhasil meraih kepercayaan Rangga dan diangkat menjadi bagian dalam dari istana. Sementara mereka berdua, karena keraguan mereka disisihkan keluar dari lingkaran dalam istana.
Namun pengalaman naik-turun, berhasil dan gagal dalam usaha sudah menempa mereka.
Sedikit penyesalan yang sempat terselip, tak membuat mereka kemudian lupa diri. Ki Bharata berhasil meraih kepercayaan Rangga bukan tanpa usaha dan resiko. Rangga memberikan kedudukan dan kepercayaan yang sedemikian tingginya, adalah karena kesediaan Ki Bharata baik dalam kata maupun perbuatan, untuk mempertaruhkan semua apa yang dia miliki, harta dan bahkan keluarga, untuk keberhasilan Rangga.
Dengan cepat keduanya mendapatkan kembali keseimbangan mereka dan dengan ekspresi wajah yang teduh menjawab Rangga, “Siap raden... akan kami kelola dengan sebaik-baiknya.”
Kemudian dengan senyum ikhlas mereka memberi selamat pada Ki Bharata.
Sesaat setelah mereka menyelingi pertemuan itu dengan pembicaraan ringan, Rangga kembali memberikan perintahnya, “Jadi dalam hal ekonomi dan keuangan, demikianlah kerajaan ini akan diatur oleh Ki Bharata, dibantu dengan Ki Waluyo dan Ki Tanumerta. Ki Bharata akan memegang kendali atas seluruh kerajaan, dan utamanya kendali keuangan atas keuangan istana. Sementara Ki Waluyo dan Ki Tanumerta, dipimpin oleh Ki Bharata akan bertugas mewakili kerajaan dalam hubungan dengan pihak luar.”
“Sendika dawuh raden...”, secara serempat ketiga orang itu menjawab.
Tumenggung Widyaguna, kedua Rakryan dan beberapa Senapati yang ikut hadir, diam-diam saling pandang dan mengangguk puas. Tak timbul rasa iri, karena mereka juga sadar, meskipun mereka mengikut Rangga sejak lama, tapi bukan keahlian mereka jika mereka harus mengurusi pula masalah di luar masalah militer.
Rangga akan membutuhkan lebih banyak bantuan dari banyak ahli. Saat ini ada Ki Bharata yang paham tentang perdagangan, nantinya mereka berharap akan menyusul Ki Ajar Pangrungu yang dikenal paham berbagai macam ilmu pengetahuan, mulai pengobatan sampai pembuatan senjata.
Tidak menutup kemungkinan, jumlah orang itu akan terus bertambah dan mereka harus berbagi kedudukan mereka sebagai orang terdekat Rangga.
Namun mereka percaya Rangga akan mampu memperlakukan setiap orang dengan adil dan rasa percaya ini, yang jadi modal terbesar Rangga saat ini.
Sebelum mereka melanjutkan kembali diskusi mereka, terlihat beberapa orang berjalan mendekat.
Dua orang di antaranya adalah Ki Suroto dan Ki Badrawi, di belakang mereka mengikuti beberapa orang pengawal pribadi kedua orang itu.
Ketika melihat hanya ada orang-orang kepercayaan Rangga yang sedang duduk di situ, Ki Suroto dan Ki Badrawi dengan segera memerintahkan pengawal-pengawal pribadi mereka untuk beristirahat di kejauhan, sementara mereka berdua melanjutkan langkah kaki mereka untuk menemui Rangga.
Raut wajah mereka terlihat lesu, entah apa yang terjadi pada kedua orang itu.