
Ki Bharata berkata lambat-lambat dengan alis berkerut, “Menurut apa yang Raden Rangga sampaikan, tujuan akhir Raden Rangga adalah menyatukan seluruh Bhumi Adyatma. Dimulai dengan menyatukan wilayah pesisir selatan, kemudian menguasai Alas Ankara Naga Loka.”
“Baiklah saya berterus terang pada Raden Rangga, sebelum raden menjelaskan rencana raden, kami seudah menduga, bahwa raden akan menancapkan kekuasaan raden di pesisir selatan, dengan demikian membuka jalur perdagangan yang baru. Bagi kami yang usahanya semakin berkembang, tapi sudah tak bisa bersaing di barat dan utara, raden membawa angin segar dan kesempatan.”, ujar Ki Bharata tanpa tedeng aling-aling.
“Karena itu kami siap mendukung Raden Rangga semaksimal mungkin, tentu dengan harapan bahwa seperti di utara ada kantor dagang milik pedagang-pedagang dari kekaisaran Khan dan di barat ada kantor dagang milik pedagang-pedagang dari benua jauh di barat dunia. Di selatan kami bisa menguasai sebagian besar dari hak berdagang yang dikeluarkan oleh Kerajaan Raden Rangga.”, Ki Bharata sekilas mengamati raut wajah Rangga.
Rangga Wijaya mengangguk dan berkata, “Lanjutkan, apa yang Ki Bharata uraikan sampai saat ini bisa aku pahami, dan keinginan Ki Bharata dan rekan-rekan Ki Bharata sejauh ini tidak berlebihan.”
Ki Bharata balas menganggukkan kepala, “Kami berharap Raden memberikan keringanan pajak bagi kami di wilayah kekuasaan raden, karena dalam bayangan kami kekuasaan raden hanya terbatas pada pintu masuk perdagangan di pesisir selatan.”
“Lalu sekarang?”, tanya Rangga Wijaya.
“Jika boleh saya bertanya, selama masa pemerintahannya, ayahanda Raden Rangga belum pernah berhasil menaklukkan Alas Ankara Naga Loka, pamanda Raden Rangga juga tidak pernah berhasil menginjakkan kakinya di tengah Alas Ankara Naga Loka, lalu apa yang membuat Raden Rangga memiliki keyakinan bahwa raden akan berhasil menaklukkan Alas Ankara Naga Loka?”, tanya Ki Bharata dengan jantung berdebar-debar.
“Baik ayahanda prabu, maupun pamanda prabu, mereka berdua belum sekalipun memiliki kesempatan untuk mencoba menaklukkan Alas Ankara Naga Loka, mereka disibukkan dengan mengamankan memperkuat kedudukan Kerajaan. Ayahanda prabu dengan jalan membangun persekutuan dengan penguasa-penguasa di sekeliling Kerajaan Watu Galuh, sementara pamanda prabu melanjutkan upaya ayahanda, dengan kekuatan militernya.”, Rangga tidak terlihat gusar oleh pertanyaan Ki Bharata dan dengan sabar menjawab.
“Lalu... kalau raden?”, Ki Bharata bertanya.
Raden Rangga tersenyum, “Aku bahkan punya keyakinan bisa membawa ketertiban dan hukum ke seluruh penjuru Bhumi Adyatma.”
“Caranya..”, tanya Ki Bharata sedikit terbata.
Raden Rangga hanya tertawa, “Maafkan aku kalau tidak bisa menjelaskan. Apakah aku hanya menyombong dan mengeluarkan kata-kata kosong atau tidak, Ki Bharata yang harus memutuskan.”
Ki Bharata dan ke-empat rekannya yang lain pun terdiam, mendapat jawaban dari Rangga tersebut.
Rangga kemudian menyambung, “Aku bisa memahami keraguan kalian, belum pernah ada yang berhasil menyatukan seluruh Bhumi Adyatma ke bawah satu kekuasaan, apalagi jika kalian melihat keadaan kami saat ini, karena itu aku akan memberikan dua pilihan kerja sama.”
Ki Bharata dan ke-empat rekannya saling berpandangan. Sebagai pedagang yang telah bertahun-tahun bekerja sama, tanpa banyak kata mereka bisa memahami pikiran mereka masing-masing. Satu per satu ke empat rekan Ki Bharata itu menganggukkan kepala.
Mendapatkan persetujuan dari ke-empat rekannya, Ki Bharata pun menjawab Rangga, “Jika raden tidak keberatan, silahkan raden jelaskan kedua pilihan itu Den. Kami yakin dengan kemampuan Raden Rangga dan sungguh-sungguh berharap bisa bekerja sama.”
“Baik kalau begitu.”, ujar Rangga singkat.
“Pilihan pertama, kalian memberi kami pinjaman sampai kami bisa berdiri mandiri dan menguasai pesisir selatan. Setiap jumlah pinjaman akan dicatat dan akan dikembalikan dalam bentuk ijin dagang dan potongan pajak, sampai mencapai tiga kali lipat dari total pinjaman yang kalian berikan pada kami. Setelah itu, tidak ada kewajiban apa pun antara kami dan kalian.”, Rangga menjelaskan pilihan pertama.
Ki Tanumerta, Ki Waluyo, Ki Suroto dan Ki Badrawi saling berpandangan, pilihan pertama ini tak jauh berbeda dengan yang mereka harapkan saat mereka usai bercakap-cakap meminta pertimbangan Ki Bharata dan kemudian memutuskan untuk bersama-sama menyusul rombongan dari Kademangan Jati Asih ini.
“Kalian tidak tertarik dengan pilihan pertama ini?”, tanya Rangga dengan senyum tersungging di wajahnya.
Ki Bharata membalas dengan senyum pula di wajahnya, “Saya pikir, kami semua tertarik untuk mendengar pilihan kedua sebelum memutuskan.”
Rangga mengangguk, “Baiklah kalau begitu, pilihan kedua...”
Sejenak lamanya dia biarkan suasana menjadi tenang, lalu berkata dengan lambat-lambat, “Pilihan kedua, sepenuhnya mengikatkan diri dan menjadi bagian dari kami. Tidak ada kami atau kalian, tapi kita. Bersama-sama kita akan memperjuangkan berdirinya sebuah kerajaan yang kekuasaannya akan mencapai seluruh sudut Bhumi Adyatma.”
Ketika Rangga berhenti, tak ada yang berani menyela.
“Sebagai imbalannya, siapa pun dari kalian yang memilih pilihan kedua ini, akan bersama-sama menyandang kekuasaan terbesar kedua setelah aku dalam hal perdagangan dan keuangan. Jabatan dan keistimewaan ini akan berlangsung turun temurun. Jika satu orang yang memilih pilihan kedua ini, maka dia menjadi satu-satunya pemegang kekuasaan dan keistimewan tersebut. Jika lebih dari satu orang, maka mereka akan bersama-sama, menjadi satu dewan yang memegang kekuasaan dan keistimewan tersebut.”, Rangga melanjutkan, Ki Bharata dan ke-empat rekannya sekilas saling berpandangan.
Tawaran Rangga ini sangat menggiurkan, pedagang tetaplah pedagang, sekaya apa pun dia, sebanyak apa pun tukang pukul dan pengawal yang bekerja untuk mereka. Pedagang adalah kasta di bawah kasta pandhita, bangsawan dan ksatria. Rangga menawarkan posisi yang menjanjikan kehormatan, kekuasaan dan kekayaan. Bukan hanya bagi mereka, tapi juga pada anak cucu mereka. Sepanjang kerajaan yang didirikan Rangga tidak runtuh, sepanjang itu posisi anak keturunan mereka terjamin.
Otak mereka berputar dengan cepat, tidak ada salahnya jika seorang dari mereka memilih pilihan kedua, sementara yang lain memilih pilihan pertama. Mereka sudah bekerja sama bertahun-tahun lamanya, tanpa banyak kata mereka bisa menduga-duga apa yang dipikirkan oleh rekan yang lain.
Menurut pemikiran Ki Bharata, Rangga memiliki kesempatan yang cukup besar untuk berhasil menguasai pesisir selatan. Sebaliknya berhasil atau tidaknya Rangga dalam langkah berikutnya untuk menguasai seluruh Bhumi Adyatma, adalah sebuah pertaruhan.
Rencanapun terbentuk dalam benak mereka.
Pilihan pertama adalah keuntungan yang pasti, masalahnya ada pada batas waktu yang terbatas. Sebagai pedagang mengapa mereka harus melepaskan kedudukan yang menguntungkan jika mereka bisa mempertahankannya?
Harus ada, setidaknya satu orang yang mengambil pilihan kedua. Sementara yang lain memilih pilihan pertama, untuk meminimalkan kerugian yang akan mereka alami saat Rangga gagal menyatukan Bhumi Adyatma, atau lebih buruk lagi menjadi pihak yang kalah dalam perebutan kekuasaan antar kerajaan.
Orang yang memilih pilihan kedua, akan membantu rekan-rekannya yang memilih pilihan pertama, untuk terus mendapatkan keistimewaan dalam berdagang di wilayah pesisir selatan, setelah perjanjian mereka dengan Rangga habis masa berlakunya.
Sementara mereka yang memilih pilihan pertama, bisa membantu rekan yang mengambil pilihan kedua, saat Rangga mengalami kejatuhan.
Rangga diam saja, membiarkan kelima orang tamunya saling pandang dengan otak bekerja, menimbang-nimbang pilihan yang harus mereka ambil.
Namun sesaat kemudian, ketika lima orang pedagang itu masih sibuk dengan rencana mereka, dia menambahkan, “Satu hal yang perlu kalian ingat, siapapun yang memilih pilihan kedua, artinya menjadi bagian dari kami, menjadi salah satu dari mereka yang bersumpah setia kepadaku. Setiap tindakannya yang menunjukkan adanya niat untuk melarikan diri atau merugikan perjuangan kita, demi keuntungan orang lain atau keselamatannya sendiri, adalah sebuah pengkhianatan.”
Seketika itu juga fantasi mereka berlima terhenti untuk sejenak.
“Dan bagi pengkhianat, hukumannya adalah mati.”, ujar Rangga dengan lambat-lambat, sepatah kata demi sepatah kata.
Lima orang pedagang itu pun diam-diam terguncang isi dadanya, pikiran mereka yang tadinya panas dan penuh dengan hitungan uang dan keuntungan, seperti diguyur air dingin.
Sesaat kemudian pandangan mata kelima orang pedagang itu pun menangkap sorot mata tajam yang terpancar dari sosok-sosok di belakang Rangga, para senapati yang mengiringi dia.
Sambil tersenyum dingin, Senapati Kalapati berkata, “Tumpas semua, sampai seluruh anak cucunya.”
Membuat dada kelima orang pedagang itu seperti dipukul batu besar.
Rangga kemudian menambahkan dengan serius, “Ksatria, memiliki keistimewaan perlakuan sebagai ksatria. Namun hal itu tentunya bersama dengan kewajiban dan nilai-nilai seorang ksatria.”
“Aku tidak mencari seorang pengikut yang hanya pandai menghitung keuntungan. Dalam sebuah jalan terjal perjuangan, akan ada masa-masa di mana di depan sana hanya ada kegelapan dan ketidak pastian. Ancaman yang lebih mengerikan dari sekedar kematian.”, ujar Rangga dengan sorot mata tajam, menatap satu per satu lima orang pedagang itu.
“Aku mencari orang yang memiliki pandangan mata jauh ke depan, memiliki cita-cita yang jauh ke depan, melampaui usianya sendiri. Memiliki impian yang luas, lebih luas dari sekedar dirinya dan keluarganya. Jika di antara kalian ada yang bisa memahami dan menjalani ini, aku berharap orang tersebut menaruh kepercayaan kepadaku dan memilih pilihan kedua.”, demikian Rangga berkata panjang lebar, sebelum akhirnya diam.
Lama lima orang pedagang itu menundukkan kepala, tak berani memberikan jawaban.
Rangga menghela nafas dalam-dalam, kemudian dengan nada sedikit kecewa dia berkata, “Jika kalian kesulitan memilih, baiklah kalian ambil pilihan pertama.”
Bangkit berdiri, Rangga menengok ke arah barisan panjang yang semakin lama semakin jauh, kemudian menengok kembali ke arah lima orang pedagang yang masih tertunduk itu dan berkata “Silahkan kalian pikirkan baik-baik, kami harus segera melanjutkan perjalanan.”
Tanpa menunggu jawaban, Rangga pun melangkah pergi, diikuti oleh senapati-senapati yang mengiringi dia. Sekilas terlihat raut kekecewaan di wajah Rangga, sementara para senapati tak bisa menyembunyikan pandangan mereka yang tampak merendahkan keragu-raguan lima orang pedagang itu.
Ki Bharata tercenung mengamati rumput dan bebatuan di dekat kakinya.
Tiba-tiba dia teringat sebuah nyanyian, atau semacam doa atau keluhan? Atau ratapan?
Umur manusia tak ubahnya embun pagi di antara detak-detak jaman.
Kemuliaannya tak melebihi keindahan rumput liar di bawah tatapan langit.
Seakan-akan ada sesuatu yang memberontak dalam hatinya, mengejang, menggeliat liar dan menuntut pembebasan.
Tanpa bertanya ataupun memberi aba-aba pada ke-empat rekannya yang lain, Ki Bharata melompat berdiri dan berlari mengejar Rangga dan para senapati.
“Raden Rangga! Tunggu sebentar!”, seru Ki Bharata.