Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab LIV Menunggu Sekutu yang Tepat



Tujuh tahun yang lalu, di sebuah desa, di pinggiran Kademangan Jati Asih.


Gelapnya malam cuma diterangi bulan sabit di atas langit. Sesekali awan tipis berarak, seperti kelambu tipis menghalangi bulan, menyelimuti pemandangan nun jauh di bawahnya.


Gemericik air sungai, dan sesekali bunyi siulan burung malam, mengiringi desah nafas dan tarian alam sepasang anak manusia.


Hanya dialasi oleh kain panjang, Rangga Wijaya dan Dewi Ambarukma memadu kasih, basahnya rerumputan dan dinginnya malam tak terasa, saat api nafsu sudah membakar dua insan yang berlawan jenis.


Sesekali sinar bulan menyusup rimbunnya pepohonan, menerangi tubuh telanjang yang berjalin erat.


Menunjukkan garis-garis otot yang keras, bertemu dengan tarikan garis-garis lembut dan lekukan membulat. Gerakan yang lembut, perlahan semakin liar, sebelum akhirnya keduanya terdiam dalam ledakan euforia.


“Ambar... kau tetap dengan pendirianmu?”, bisik Rangga, kedua lengannya masih erat memeluk tubuh Dewi Ambarukma yang terbaring lelah di atas tubuhnya.


“Kakang, kau berjuang, ayahku berjuang, tentu saja aku juga harus ikut berjuang.”, jawab gadis itu dengan lembut, tapi penuh keyakinan.


“Kau ...”, Rangga berusaha mendebat, namun tak menemukan kata yang tepat.


“Ayah memang seorang empu, seorang pande, seorang seniman yang hebat, tapi dia bukan ahli segalanya. Selain itu, aku juga ingin melihat negeri seberang.”, kata Dewi Ambarukma sambil merebahkan kepalanya di dada Rangga, mendengarkan degup jantung pemuda itu.


“Tapi... “, lagi-lagi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.


'Jangan pergi, aku tidak ingin terpisah darimu.', kata Rangga dalam hati.


“Apa kakang tak percaya pada kemampuanku? Atau kakang tidak percaya pada kesetiaanku?”, tanya Dewi Ambarukma.


Gadis itu menggeliat lepas dari pelukan Rangga dan dengan gagah duduk di atas perutnya. Diterangi bulan, Rambutnya yang terurai panjang, tak sepenuhnya menutupi lekuk-lekuk tubuhnya.


“Apa karena aku menyerahkan diriku pada kakang, lalu kakang mulai berpikir aku perempuan murahan?”, tanya Dewi Ambarukma dengan mata berkilat.


“Tidak, tentu saja tidak.”, jawab Rangga dengan cepat.


“Lalu?”, tanya Dewi Ambarukma dengan tegas.


Rangga menghela nafas panjang, “Aku tidak ingin berpisah darimu. Aku tidak tenang membayangkan dirimu berkelana di negeri orang, sementara aku tak mampu berbuat apa-apa untuk melindungimu.”


Tatapan mata Dewi Ambarukma melembut. Perlahan posisi duduknya melorot ke bawah. Rangga bisa merasakan tubuh gadis itu bergerak menggoda. Gadis itu merunduk, mendekatkan wajahnya ke wajah Rangga.


“Aku bisa menjaga diri.”, bisik Dewi Ambarukma, sebelum dengan lembut mengecup bibir Rangga, matanya berkilat nakal.


------------


“Jadi benar cerita Ki Ageng Aras tentang puteri Ki Ajar Pangrungu? Kenapa Raden tidak mencoba mencari keberadaan Ki Ajar Pangrungu dan puterinya den?”, tanya Senapati Dalawangsi memutus lamunan Rangga.


Rangga menggelengkan kepala, “Untuk saat ini belum memungkinkan. Entah nanti.”


Tumenggung Widyaguna menyanggah jawaban Rangga itu, “Raden jangan berpikir bahwa hal ini hanya masalah raden seorang. Sebagai calon raja, memastikan berlanjutnya takhta kerajaan juga menjadi tanggung jawab Raden Rangga.”


“Benar Raden, kalau Raden tidak berusaha mencari Ki Ajar Pangrungu dan puterinya, boleh juga sih Raden cari yang lain. Hehe...”, ujar Bayu Bayanaka yang tiba-tiba muncul kembali seperti setan.


Raden Rangga tertawa mendengar gurauan Bayu Bayanaka, “Paman bukannya tadi lari dikejar Paman Gajah Petak?”


“Hahaha, gampang Raden, Gajah itu gampang tersesat. Tinggal digocek kiri-kanan sedikit, sudah lupa jalan pulang dia.”, jawab Bayu Bayanaka ringan disambut tawa dari mereka yang hadir.


“Daripada Paman Bayanaka menyuruh aku mencari pasangan, lebih baik Paman sendiri cepat-cepat berburu isteri, jangan sampai kedahuluan Paman Gajah Petak.”, jawab Rangga setelah tertawa lepas.


Mendengar gurauan Rangga itu, mata Bayu Bayanaka berputar-putar, setelah menengok ke kiri dan kanan, memastikan Gajah Petak belum kembali, Bayu Bayanaka berbisik hati-hati, “Raden..., ini rahasia. Aku sedang mendekati Tarum, janda semok, ibunya gadis yang sedang ditaksir si Gajah Petak.”


Rangga tertegun sejenak, matanya memandangi Bayu Bayanaka yang menyengir lebar,” Sungguhan itu paman?”


Bayu Bayanaka tidak menjawab panjang lebar, hanya mengacungkan dua jempolnya. Rangga tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala. Matanya melirik ke arah Watu Gunung yang menjadi pimpinan satuan telik sandi, melihat senyum lebar di wajah Watu Gunung, Rangga pun yakin satuan telik sandi tentu sudah tahu tentang hal ini.


“Berapa banyak orang yang sudah tahu tentang hal ini?”, tanya Rangga pada Watu Gunung.


Bayu Bayanaka buru-buru meletakkan jari di bibirnya dan mendesis, 'Ssssttt.......”


Watu Gunung menggelengkan kepala sambil menahan senyum, Senapati Dalawangsi menyela bertanya terheran-heran, “Maksud Raden Rangga perihal apa? Apa rahasia yang disimpan Bayanaka?”


Rangga melihat ke wajah-wajah senapati yang ada di sekitarnya, beberapa terlihat mengulum senyum, sementara sebagian besar yang lain menunjukkan wajah-wajah yang menyimpan tanda tanya.


Bayu Bayanaka sebagai pelaku utama, menggeleng-gelengkan kepala sambil berdesis, “Jangan Raden... jangan dikasih tahu. Rahasia...”


Raden Rangga pun tertawa, “Hahaha, ya sudah, kau jaga rahasiamu baik-baik. Paman Dalawangsi tunggu saja, pada saatnya nanti Paman Bayanaka mau memberikan pertunjukan yang menarik untuk kita semua.”


“Bah...bah... Bayanaka, kau mulai main rahasia-rahasiaan sekarang.”, gerutu Senapati Dalawangsi membuat mereka yang sudah tahu rahasia Bayu Bayanaka tertawa.


“Watu Gunung, kau sepertinya sudah tahu rahasia Bayanaka, coba kasih tahu aku.”, tanya Senapati Dalawangi ke arah Senapati Watu Gunung.


“Heii...”, mata Senapati Dalawangsi melotot lebar.


“Haha, sudahlah kakang, nanti juga tahu. Omong-omong, Kakang Bayu Bayanaka sebelumnya ingin bertanya sesuatu pada Raden Rangga kan?”, ujar Watu Gunung mengalihkan pembicaraan, diam-diam dia mengedipkan mata pada Bayu Bayanaka.


“Iya, benar itu. Sampai saat ini, semua rencana Raden Rangga berjalan dengan lancar. Termasuk saat kita berpura-pura seakan-akan ingin merebut Kadipaten Jambangan, padahal tujuan kita justru keluar dari wilayah Kerajaan Watu Galuh. Menjauh dari perebutan tahta antara dua kakak beradik, anak Pangeran Israya.”, ujar Bayu Bayanaka dengan bersemangat, berusaha membuat mereka lupa pada rahasia kecilnya.


“Mereka berpikir, Raden Rangga akan mencari pijakan untuk merebut kembali haknya, padahal Raden Rangga justru memilih untuk membangun kerajaan-nya sendiri, daripada menuntut apa yang menjadi haknya.”, lanjut Bayu Bayanaka hampir tanpa sela.


“Sudah tak usah buru-buru, kau bernafas dulu yang cukup. Aku tak mau tahu juga rahasia kotormu.”, dengus Senapati Dalawangsi kesal, membuat yang lain tertawa.


Bayu Bayanaka meraih sekendi air dan meminum beberapa teguk air.


Setelah mengelap mulutnya yang basah dengan lengan dia melanjutkan, “Kita sudah beberapa mengunjungi saudagar untuk meminjam perbekalan. Menurut Raden Rangga nanti justru saudagar yang akan mendatangi kita untuk menawarkan bantuan.”


Raden Rangga menangguk, “Benar.”


“Tapi sampai sekarang, belum ada saudagar yang datang Raden. Apa jangan-jangan kali ini Raden salah perhitungan?”, tanya Bayu Bayanaka.


Para senapati pun lupa dengan rahasia kecil Bayu Bayanaka, mereka mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya ke arah Raden Rangga. Bukan tanpa alasan jika pertanyaan Bayu Bayanaka ini membuat mereka semua ikut berpikir. Tidak mungkin Rangga bisa mendirikan sebuah kerajaan, tanpa dukungan berupa harta benda yang cukup besar.


Meskipun sumber daya alam di tempat yang mereka tuju berlimpah, jumlah sumber daya manusia yang mereka miliki pun ada batasannya. Jika semua orang dikerahkan untuk menjadi petani dan pekerja, lalu siapa yang akan menjadi prajurit?


Untuk membangun pasukan yang kuat, mereka harus lebih berkonsentrasi melatih ilmu kanuragan mereka dengan tekun agar tetap terjaga ketajaman mereka di medan perang.


Jika Rangga hanya berpikir untuk membangun satu kademangan, yang nantinya menjadi sebuah kadipaten tentu jumlah mereka saat ini sudah mencukupi, tapi tidak untuk membangun sebuah kerajaan.


Itu pula sebabnya, keputusan Rangga untuk membangun batu pijakannya, di wilayah yang masih liar tidak diduga oleh semua orang. Baik Prabu Jannapati, maupun para adipati, berpikir Rangga akan merebut satu kadipaten dan membangun kekuatannya dari situ.


Mereka tidak menduga bahwa Rangga justru akan memulai dari nol. Babat alas, membuka daerah liar yang belum dihuni manusia.


Rangga tidak langsung menjawab pertanyaan Bayu Bayanaka, dalam hati dia sendiripun tidak memiliki keyakinan yang penuh terhadap perhitungannya yang satu ini.


Setelah berpikir sejenak, Rangga kemudian menjawab, “Aku berharap, akan ada saudagar yang mendatangi kita, sebelum kita sampai di tujuan. Dengan demikian, aku bisa yakin bahwa aku akan menemukan rekan atau sekutu yang memiliki pandangan, yang sama jauhnya dengan kita. Bila itu yang terjadi, maka perjuangan kita akan jauh lebih mudah.”


Para senapati mendengarkan dengan penuh perhatian. Raden Rangga menghela nafas panjang.


“Dalam beberapa minggu, kita sudah akan sampai di tujuan. Sayangnya orang yang kita tunggu-tunggu belum juga datang.”, ujar Rangga perlahan.


Melihat wajah para senapati yang terpekur, Rangga tersenyum, “Tapi kalian jangan khawatir, tanpa bantuan dan dukungan dari saudagar-saudagar besar pun kita bisa terlebih dahulu memulai. Nantinya ketika mereka sudah melihat apa yang kita bangun di tempat tujuan kita, mereka akan mendatangi kita.”


“Tapi mereka bukan orang yang Raden Rangga harapkan.”, ujar Bayu Bayanaka setelah mereka semua terdiam beberapa lama.


“Ya. Benar.”, jawab Rangga.


“Jika mereka baru bergerak setelah melihat apa yang kita bangun, artinya pandangan mereka tidak cukup tajam melihat masa depan. Kita tetap bisa memanfaatkan bantuan mereka dan rencana kita tetap akan berjalan. Untuk itu kalian jangan khawatir.”, kata Rangga menguatkan keyakinan mereka.


“Hanya saja, dalam posisiku saat ini, aku berharap bisa mendapatkan sekutu yang kuat, yang bisa memiliki inisiatif dan ide-ide baru, tanpa harus aku arahkan. Dengan begitu, aku bisa berkonsetrasi pada hal-hal lain yang tidak kalah pentingnya.”, sambung Rangga menjelaskan.


“Hehe... seperti masalah memastikan keberadaan pewaris kerajaan yang baru.”, sambung Bayu Bayanaka sambil terkekeh, membuat suasana yang serius kembali mencair.


“Hahahaha... ya salah satunya itu.”, Rangga tertawa.


Setelah tawa mereka mereda, Tumenggung Widyaguna berkata, “Dalam hal kemiliteran, Raden Rangga bisa mempercayakan hal itu pada kami semua. Tentang masalah perdagangan dan keuangan kerajaan, memang rasanya Raden Rangga perlu bantuan ahlinya.”


Ki Ageng Aras menyambung, “Dan seperti yang dikatakan Raden Rangga, membangun kerajaan memang bukan pekerjaan yang kecil. Ada masalah kesehatan, pembangunan desa-desa dan kademangan, kadipaten sampai pada pembangunan kota raja.”


“Hmm.... masih ada beberapa minggu, semoga sebelum perjalan ini berakhir, akan datang orang yang kita nanti-nanti itu.”, ujar Rakryan Rangga Wirapati.


Para senapati dan pimpinan yang hadir di tempat itu pun, menganggukkan kepala sambil dalam hati menaikkan harapan.


-----


Ketika pertemuan kecil mereka itu sudah bubar, Tumenggung Widyaguna berjalan mendekati Rangga dan berkata dengan suara rendah, “Raden, waktu tujuh tahun bukan waktu yang singkat, apa Raden tidak berpikir sebaiknya kita mengutus beberapa orang untuk mencari kabar keberadaan Ki Ajar Pangrungu?”


Raden Rangga pun berhenti berjalan, dia berdiri terdiam beberapa lama, “Paman... kalaupun akan mencari, ke mana kita akan mencari? Berapa orang yang harus diutus pergi? Kita ini bukan sebuah kerajaan besar, kekuatan kita setingkat kadipaten kecil. Apa kita memiliki cukup sumber daya manusia untuk dikerahkan?”


Ki Ageng Aras yang berdiri di samping Tumenggung Widyaguna ikut menyumbangkan pikiran, “Mungkin cukup dengan beberapa orang pilihan yang dibekali dengan pengetahuan tentang apa yang dicari Ki Ajar Pangrungu dan dari mana mereka harus mulai.”


“Setidaknya kita harus berusaha Raden, kecuali jika Raden memang sudah memutuskan untuk mengambil selir atau permaisuri selain dari anak gadis Ki Ajar Pangrungu.”, jawab Tumenggung Widyaguna.


Rangga pun tercenung memikirkan ucapan Tumenggung Widyaguna.


“Usia Raden terus berjalan, pada satu titik, Raden tentu tidak bisa lagi menunggu. Sekarang kehidupan Raden bukan hanya milik Raden seorang diri.”, kata Ki Ageng Aras dengan sareh dan berhati-hati.


Raden Rangga masih terdiam berpikir, sementara kedua orang tua itu menunggu jawaban dari Raden Rangga.