Mahakala Yajna

Mahakala Yajna
Bab XXXIV. Kesulitan Seorang Guru.



“Selesai....”, ujar Ki Ageng Aras sebelum kemudian mengambil nafas dalam-dalam.


Perlahan-lahan Gagak Seta membuka mata, Ki Ageng Aras tidak perlu memberi tahu pemuda itu bagaimana caranya mensirkulasikan energi yang dia terima dan menyimpannya, karena semua itu sudah dijelaskan dengan jelas dalam gulungan lontar yang berisi Ajian Braja Apsara.


“Terima kasih guru.”, ujar Gagak Seta dengan sepenuh hati.


Ki Ageng Aras menganggukkan kepala, “Hmm, sekarang kau dengar dan hafalkan baik-baik, aku akan menjelaskan bagaimana kau menggunakan-nya saat kau melakukan Silat Sembilan Cakar Garuda.”


Kemudian dengan suara perlahan Ki Ageng Aras mengucapkan delapan bait, yang menjelaskan bagaimana penggunaan hawa murni itu bisa menjadi satu kesatuan yang harmonis dengan penerapan jurus-jurus dalam sembilan jurus silat Cakar Garuda yang sudah tertulis dalam gulungan lontar yang menjadi bekal bagi para prajurit telik sandi.


“Kau hafalkan, renungkan dan coba terapkan, mumpung hawa murni yang aku alirkan masih penuh terkumpul di tubuhmu dan pusat-pusat energi yang diperlukan juga masih aktif.”, ujar Ki Ageng Aras sebelum meninggalkan Gagak Seta untuk mengamati prajurit-prajurit yang lain.


Ki Ageng Aras berjalan menemui Senapati Manggala yang masih menjaga prajurit-prajurit muda yang masih bersila di tempatnya masing-masing. Beberapa orang sudah membuka mata, dan saat ini sudah menghentikan latihannya. Mereka ini melihat bagaimana Ki Ageng Aras memberi tuntunan khusus pada Gagak Seta.


Senapati Manggala melihat tatapan mata dan ekspresi wajah mereka, meraih sebuah kerikil kecil dan menyentil kerikil itu ke arah salah seorang dari mereka.


“Aduh...!”, seru pemuda itu kemudian menoleh ke arah kerikil itu datang.


Beberapa orang pemuda yang lain mendengar seruannya dan ikut menengok ke arah yang sama. Mereka menoleh dan melihat Senapati Manggala yang sedang menatap mereka sambil tersenyum simpul.


“Kenapa kalian ini? Iri?”, tegur Senapati Mangggala.


Mendengar teguran Senapati Manggala, para pemuda itu pun menunduk dengan wajah malu.


“Eh..., tidak Ki... Bukan begitu.”, ujar salah seorang dari mereka terbata-bata.


Senapati Manggala menghela nafas panjang, “Rejeki orang berbeda-beda, kalau ada sedikit rasa iri dan cemburu melihat nasib baik orang lain, itu masih wajar saja. Hanya saja aku ingatkan, jangan sampai perasaan itu menguasai kalian.”


“Hari ini, di antara kalian semua, hanya Gagak Seta seorang yang berhasil menguasai dasar Aji Braja Apsara. Apakah salah kalau kemudian Ki Ageng Aras merasa tertarik untuk membimbingnya lebih jauh?”, tanya Senapati Manggala lebih jauh.


Beberapa orang pemuda itu menggelengkan kepala dan salah seorang dari mereka menjawab, “Tidak Ki..., jangan kuatir Ki Manggala, meski dalam hati kami juga ingin mendapatkan bimbingan khusus. Bukan berarti kemudian kami menyimpan perasaan yang tidak baik pada Gagak Seta.”


“Benar Ki Manggala, Gagak Seta toh sudah seperti saudara kami sendiri.”


“Benar...”


“Benar...”


Demikian bersahut-sahutan mereka saling berkata. Tentu saja percakapan ini pun jadi terdengar pula oleh mereka yang masih bermeditasi mengatur hawa murni dalam tubuh mereka. Sehingga akhirnya satu per satu dari mereka membuka mata. Ketika Ki Ageng Aras sampai di tempat itu, satu pun dari mereka tidak ada yang berlatih.


Tentu saja percakapan yang baru saja terjadi tak luput dari pendengaran Ki Ageng Aras, pendekar tua itu tertawa ringan dan berkata, “Ki Manggala jangan goda mereka. Aku percaya prajurit-prajurit kesatuan telik sandi, tak ada yang berpikiran sempit. Keberanian mereka sudah terbukti dan teruji, tidak mudah untuk menyusup ke wilayah musuh seorang diri.”


Senapati Manggala mengangguk membenarkan, “Benar juga ki, aku hanya ingin mengingatkan saja. Sayang jika nila setitik merusak susu sebelanga.”


Ki Ageng Aras menengok ke arah pemuda-pemuda itu dan tertawa menenangkan mereka, “Hahaha, sudahlah, hal yang kecil jangan kalian masukkan ke dalam hati. Ki Senapati Manggala juga hanya berniat mengingatkan. Aku pun percaya hal yang semacam itu juga tidak akan terlintas dalam hati kalian.”


Senapati Manggala dan para prajurit yang masih muda itu pun menganggukkan kepala.


“Benar ucapan Ki Ageng Aras, aku minta maaf karena kata-kataku terkesan menuduh.”, ujar Senapati Manggala tanpa merasa gengsi, sebagai seorang perwira tinggi untuk meminta maaf dan mengakui kesalahan terhadap prajurit yang masih muda itu.


“Tidak apa-apa Ki... hehe, sejujurnya ya ada juga sedikit mengiri.”, ucap salah seorang dari prajurit itu diiringi tawa teman-temannya.


Ki Ageng Aras mengikuti percakapan mereka sambil menimbang-nimbang bagaimana dia harus bersikap. Senapati Manggala dan para prajurit itu bergurau dan saling menggoda, suasana yang tadi sempat tegang sekarang menjadi cair. Ki Ageng Aras pun akhirnya sampai pada satu keputusan.


“Mungkin kalian merasa penasaran juga dan supaya tidak meninggalkan pertanyaan dalam hati kalian, biarlah aku nyatakan keadaan sebenarnya. Memang benar, aku telah mengambil keputusan untuk mengangkat Gagak Seta menjadi muridku.”, ujar Ki Ageng Aras ketika ada kesempatan.


Mereka yang mendengar itu pun saling pandang, beberapa orang terlihat menganggukkan kepala, ada juga yang saling berbisik menggoda temannya, dan sebagainya. Telinga Ki Ageng Aras yang tajam bisa menangkap itu semua. Tidak ada yang sepertinya menyimpan kesan buruk terhadap keberuntungan Gagak Seta. Meskipun seandainya ada yang iri pun, tentu tidak akan berani membuka suara dalam situasi saat ini, tapi buat Ki Ageng Aras yang sekarang ini pun sudah cukup. Tidak mungkin seseorang bisa memaksakan pendapat dan mengubah perasaan orang lain. Sejauh-jauhnya seseorang bisa menasehati orang lain, tetap saha tiap orang memiliki kebebasan yang tidak bisa diganggu gugat untuk menentukan pikiran dan perasaannya sendiri-sendiri.


Ki Ageng Aras kemudian melanjutkan, “Tapi kalian jangan kuatir, Raden Rangga telah menugaskan diriku untuk membekali kalian semaksimal mungkin. Bukan berarti karena Gagak Seta telah menjadi muridku, maka dalam kesempatan ini, dalam tugasku kali ini, pasti aku akan menurunkan lebih banyak ilmu padanya.”


“Tidak, tidak demikian adanya. Keputusanku untuk mengangkat Gagak Seta sebagai murid, tidak akan mempengaruhi tentang bagaimana aku melaksanakan tugas yang sudah diembankan Raden Rangga padaku.”, lanjut Ki Ageng Aras sembari menatap mereka satu per satu.


Tidak ada ancaman atau kemarahan dalam sikap maupun kata-kata yang diucapkan, mereka yang melihat dan mendengarkan Ki Ageng Aras bisa merasakan pendekar tua itu berbicara dengan sikap hati yang terbuka, bukan sedang berusaha membual atau memaksa mereka menerima pendapatnya.


Ki Ageng Aras diam sejenak, untuk membiarkan kata-katanya meresap, sebelum kemudian melanjutkan, “Benar atau tidaknya perkataanku, kalian tentu akan bisa menilai dan merasakannya sendiri, jika nantinya ada di antara kalian yang sudah matang dalam memahami salah satu tahapan ilmu yang aku sampaikan, tapi kemudian aku tidak membimbing kalian berjalan lebih jauh. Ataukah aku selalu membimbing kalian, sampai kalian mencapai batas tertinggi yang bisa kalian capai. Semuanya kalian bisa merasakannya sendiri.”


Senapati Manggala pun menambahkan, “Apa yang dikatakan Ki Ageng Aras itu, sebaiknya kalian resapi benar-benar. Raden Rangga sudah memberikan tugas pada Ki Ageng Aras untuk membimbing kalian selama beberapa bulan ini dan aku percaya Ki Ageng Aras akan mengusahakan yang terbaik. Seberapa banyak yang bisa kalian serap, pada akhirnya tergantung dari usaha kalian masing-masing.”


“Benar ki..”


“Benar”


Terdengar suara-suara bersahut-sahutan.


“Bagus, aku percaya pada kesungguhan dan kebesaran hati kalian. Bagi kalian yang sudah merasa sampai pada batasnya malam ini, kalian boleh kembali ke barak kalian masing-masing. Sementara yang masih ingin melanjutkan berlatih, masih ada sedikit waktu untuk berlatih, mumpung ada Ki Ageng Aras dan aku yang bisa membimbing kalian. Atau punya pertanyaan silahkan ditanyakan.”, ujar Senapati Manggala menanggapi sikap para prajurit muda itu.


Beberapa orang yang sudah merasa sampai pada batasnya, saling melihat, kemudian satu per satu berdiri. Melihat ada yang sudah siap berpamitan, maka beberapa orang yang lain, ikut pula berdiri. Sementara yang lainnya ada pula yang kembali bersila dan menutup mata, melanjutkan latihan mereka.


“Ki Ageng Aras, Ki Senapati Manggala, kami pamit kembali dulu ke barak.”, ujar salah seorang dari mereka yang hendak kembali.


Ki Ageng Aras dan Senapati Manggala menganggukkan kepala, tak lupa pula Senapati Manggala berpesan, “Ingat, pertemuan berikutnya akan diadakan tiga hari lagi dari sekarang. Selama tiga hari ini, gunakan waktu sebaik-baiknya untuk mengaktifkan pusat-pusat energi kalian, karena hawa murni yang disalurkan Ki Ageng Aras itu bagaimanapun juga hanyalah alat bantu yang akan perlahan-lahan menghilang, kecuali jika kalian sudah berhasil mengaktifkan pusat energi kalian dan menyimpan hawa murni itu seperti yang diajarkan dalam gulungan lontar yang berisi Aji Braja Apsara.”


“Baik ki, kami mengerti.”, ucap mereka.


Ketika mereka yang berpamitan sudah berlalu. Senapati Manggala dan Ki Ageng Aras berjalan-jalan sebentar, memastikan mereka yang sedang berlatih tidak mengalami gangguan. Selesai mengamat-amati, Senapati Manggala bercakap-cakap dengan Ki Ageng Aras sambil menunggu waktu.


“Bagaimana keadaan Ki Ageng aras?”, tanya Senapati Manggala dengan tulus.


Ki Ageng Aras menjawab dengan ringan, “Baik-baik saja Ki, memang sedikit memakan tenaga dan menguras simpanan hawa murniku, tapi kukira tak banyak pengaruhnya. Dengan beristirahat dan mengumpulkan hawa murni sehari-dua hari, kondisiku akan kembali seperti semula.”


“Aku harap Ki Ageng Aras juga memperhatikan kesehatan Ki Ageng Aras sendiri.”, ujar Senapati Manggala bersungguh-sungguh.


“Tentu, tentu, Ki Manggala tak perlu kuatir.”, jawab Ki Ageng Aras sambil tersenyum.


“Menurut Ki Ageng Aras bagaimana dengan bakat anak-anak muda ini?”, Tanya Senapati Manggala kemudian.


Ki Ageng Aras tidak langsung menjawab, “Hmm... beberapa ada yang cukup baik, tapi kukira rata-rata perlu dua sampai tiga kali lagi menerima bantuan, sebelum bisa mengaktifkan hawa murni dalam tubuh mereka. Bukan berarti bakat mereka buruk, tapi memang tidak mudah untuk mencapai hal tersebut. Apalagi beberapa di antara mereka, sudah melewati masa usia yang terbaik untuk melatih hawa murni.”


Senapati Manggala terdiam untuk beberapa saat dan mengamati mereka yang masih berusaha mengikuti tuntunan yang diajarkan dalam gulungan lontar Aji Braja Apsara.


“Hahh... aku harap mereka yang kesulitan tidak kemudian menjadi kecewa.”, desah Senapati Manggala.


Ki Ageng Aras menjawab, “Kukira tidak, dalam hal ini Raden Rangga sudah berhasil menanamkan sifat dan nilai-nilai yang baik dalam diri mereka. Menurut Ki Manggala, bagaimana kalau seandainya kita memberi arahan dan bekal yang berbeda bagi mereka yang belum berhasil mengaktifkan pusat energi dalam dirinya, di pertemuan yang ketiga nanti?”


Senapati Manggala berpikir sejenak dan menjawab, “Aku pikir sebaiknya demikian, meskipun mengaktifkan hawa murni akan memberi mereka kemajuan yang berlipat ganda dalam waktu yang relatif singkat, tapi waktu kita terbatas dan tidak ada salahnya jika bagi mereka yang kurang berbakat dalam hal itu, bisa diarahkan untuk mendalami ilmu yang lain.”


“Hanya saja, aku tidak terpikir, jika bukan dengan cara membantu mereka menguasai hawa murni, cara apa yang bisa meningkatkan kemampuan mereka dalam waktu yang hanya satu-dua bulan ini.”, ujar Senapati Manggala dengan kening berkerut.


“Latih tanding...”, jawab Ki Ageng Aras singkat.


“Latih tanding...?”, Senapati Manggala berpikir.


“Ya, kita pasangkan mereka yang tidak berhasil mengaktifkan pusat energi dalam tubuh mereka, melawan mereka yang berhasil. Di satu pihak membuat mereka yang sudah memiliki hawa nurni, bisa menjadi semakin sempurna dalam penerapannya. Di pihak lain mereka yang tidak memiliki hawa murni, juga bisa terasah reflek dan penguasaan-nya terhadap jurus.”, ujar Ki Ageng Aras menjelaskan.


Senapati Manggala tidak segera menyetujui pendapat Ki Ageng Aras itu, tapi semakin lama dia memikirkan ide tersebut, semakin dia setuju dengan pendapat Ki Ageng Aras.


“Ya... kurasa jika sampai dua kali Ki Ageng Aras berusaha membantu mereka, dan mereka tak juga mampu mengaktifkan pusat energi yang dibutuhkan, maka kecil harapannya mereka bisa berhasil dalam hitungan satu-dua bulan ini.”, lambat-lambat Senapati Manggala berucap.


“Ya... aku harap mereka tidak terlalu kecewa jika hasilnya kurang menggembirakan.”, ujar Ki Ageng Aras.


Senapati Manggala memandang ke arah Ki Ageng Aras dan Gagak Seta yang masih bersila di kejauhan, lalu berkata, “Aku akan ikut membantu memberi mereka pengertian.”


Ki Ageng Aras tersenyum lega, “Terima kasih kalau Ki Manggala bisa membantu.”


“Tentu saja Ki..., aku tahu Ki Ageng Aras juga menupayakan yang terbaik untuk mereka semua. Omong-omong, aku lupa belum mengucapkan selamat, Ki Ageng Aras akhirnya menemukan pewaris yang berbakat.”, jawab Senapati Manggala sambil tersenyum lebar.


Ki Ageng Aras menengok ke arah Gagak Seta yang masih berkonsentrasi penuh pada latihannya, “Hahaha, ya...ya... mudah-mudahan aku tidak salah pilih.”


Sebersit pikiran melewati benak Senapati Manggala dan tak terasa dia bertanya, “Ki Ageng Aras menerimanya menjadi murid, apa sudah yakin tidak salah pilih?”


Kemudian buru-buru dia menambahkan, “Maaf Ki, jika aku lancang bertanya demikian. Hanya saja, cukup mengejutkan juga keputusan Ki Ageng Aras ini. Kalau tidak salah, bukankah ini pertama kalinya Ki Ageng Aras bertemu pemuda itu?”