
'Setan...!', maki Gagak Seta dalam hati.
Meskipun tidak pernah mengharapkan kemenangan, namun tak urung Gagak Seta merasa penasaran menghadapi Ki Ageng Aras. Terutama karena sejak awal pertarungan, hingga saat ini, Ki Ageng Aras hanya menggunakan tiga jurus yang sama.
Meskipun Gagak Seta belum menguasai dengan sempurna Silat Sembilan Cakar Garuda itu, tapi dipaksa untuk menghadapi serangan dengan tiga jurus yang sama berulang-ulang membuat dia jadi hafal di luar kepala.
Lama kelamaan nalurinya dalam menghadapi serangan Ki Ageng Aras itu jadi terasah, dia bisa menduga jurus apa yang akan digunakan, dari sudut dan arah mana serangan itu akan datang.
Dalam kepalanya pun sudah terbayang apa yang harus dia lakukan, setiap mereka bergebrak, serasa dia memiliki kesempatan untuk membalas serangan Ki Ageng Aras. Namun kecepatan gerak Ki Ageng Aras, selalu setengah tarikan nafas lebih cepat dari kecepatan gerak dan reaksi Gagak Seta.
Itulah yang menyebabkan emosinya terpicu, serasa hampir kena, tapi tidak pernah kena. Setiap kali dia merasa bisa melakukan serangan balik, selalu terhenti pada kata hampir.
Gagak Seta bukannya tak paham apa yang diinginkan Ki Ageng Aras, bukankah sejak awal Ki Ageng Aras berkata ingin menguji seberapa banyak dia menguasai Aji Braja Apsara? Dengan kecepatan biasa, dia tidak akan pernah bisa menyamai kecepatan gerak Ki Ageng Aras saat ini.
Hanya jika dia bisa menerapkan Aji Braja Apsara dalam pertarungan.
Namun merapal Aji Braja Apsara di tengah pertarungan ternyata tak semudah bayangan Gagak Seta. Serangan-serangan yang dilancarkan Ki Ageng Aras mengganggu konsentrasinya.
Pertarungan berlangsung dengan seru, rekan-rekan Gagak Seta yang menonton pun ikut merasa penasaran. Jurus-jurus yang diperagakan Ki Ageng Aras secara berulang-ulang, dengan berbagai variasi, kombinasi dan situasi, membuka pikiran mereka. Secara tidak langsung Ki Ageng Aras membuat pemahaman mereka secara umum atas Silat Sembilan Cakar Garuda, dan khususnya atas tiga jurus itu, semakin dalam.
Keringat Gagak Seta sudah bercucuran membasahi badan dan tanah yang menjadi gelanggang mereka bertarung. Nafasnya mulai memburu, tapi di saat yang sama pemuda itu perlahan mulai bisa menguasai emosinya.
Gerakannya lebih teratur dan tak terburu-buru, sedikit demi sedikit Gagak Seta mulai bisa mengaktifkan pusat energi yang dibutuhkan untuk menerapkan Aji Braja Apsara.
Untuk menerapkan Aji Braja Apsara tingkat pertama, ada satu pusat energi besar dan empat titik pusat energi kecil. Kemajuan Gagak Seta tentu saja tak lepas dari pengamatan Ki Ageng Aras yang tajam dan berpengalaman. Tanpa disadari Gagak Seta dan rekan-rekannya, Ki Ageng Aras sedikit mengendurkan tekanannya, memberi kesempatan Gagak Seta untuk menyempurnakan persiapannya.
Mata Senapati Manggala yang jauh lebih berpengalaman dari pemuda-pemuda yang baru beberapa bulan menjadi prajurit telik sandi dengan cepat menangkap maksud Ki Ageng Aras.
'Hmm... tak salah Raden Rangga menugaskan Ki Ageng Aras untuk menjadi guru bagi anak-anak muda ini. Hanya dari pertarungan ini saja, mereka semua sudah mendapatkan banyak kemajuan. Terutama pemuda bernama Gagak Seta itu.', gumam Senapati Manggala dalam hati.
Di gelanggang pertarungan berjalan sedikit melambat, tapi ketegangannya justru makin meningkat.
'Berhasil !', seru Gagak Seta dalam hati.
Pemuda itu merasakan aliran energi dari pusat energi besar, menuju ke empat titik energi lain yang membuat tubuhnya terasa jauh lebih ringan dan sepasang kakinya bertenaga. Di saat yang sama, dia melihat serangan dari Ki Ageng Aras menderas datang.
Otaknya berputar cepat dan dalam sekejapan mata, seakan sudah terbayang dalam benaknya, ketika dia menghindar ke kanan, maka Ki Ageng Aras akan bergerak berputar dan menyerangnya dari sudut yang tak terlihat dengan jurus yang kedua dari Silat Sembilan Cakar Garuda.
Sekejap mata serangan Ki Ageng Aras sudah tiba, Gagak Seta dengan gesit menghindar ke posisi yang sudah tergambar di benaknya, menyiapkan serangan balasan saat Ki Ageng Aras melancarkan serangan susulan. Tepat seperti kejadian dalam benaknya, Ki Ageng Aras bergerak sesuai dugaannya, tapi kali ini Gagak Seta telah siap.
Tubuhnya berkelebat dua kali lebih cepat dari gerakan sewajarnya yang dapat dia lakukan.
Seperti kejapan kilat di langit, Gagak Seta menghindar, lalu menukik tajam berbalik arah, mengambil kedudukan di sisi pertahanan Ki Ageng Aras yang terbuka lebar setelah pendekar tua itu melancarkan serangan.
Tanpa berpikir dua kali, tinju Gagak Seta berkelebat cepat meluncur ke arah pinggang Ki Ageng Aras yang terbuka lebar.
“KENA!!!”, tanpa terasa Gagak Seta berseru keras.
'KENA!!', dalam hati rekan-rekan Gagak Seta yang menonton pertarungan itu ikut berseru.
Namun belum selesai seruan itu diucapkan, tubuh Ki Ageng Aras berkelebat dua kali lebih cepat. Pandangan mata Gagak Seta terasa mengabur dan tak mampu menangkap gerakan tubuh Ki Ageng Aras.
Di satu saat tinjunya seakan sekejap lagi akan menghantam pinggang Ki Ageng Aras dengan telak. Sekejapan mata kemudian tubuh Ki Ageng Aras menghilang dari hadapannya. Dalam sekejap mata pula tiba-tiba Gagak Seta merasakan hantaman yang telak menghajar punggungnya.
Tak ayal lagi, Gagak Seta pun terjatuh bergulingan di atas tanah.
Cepat pemuda itu melenting melompat, dengan tinju terkepal, ketika tiba-tiba dia merasa pundaknya ditepuk dengan ringan dan telinganya mendengar suara Ki Ageng Aras dengan penuh wibawa berkata, “Cukup.”
Gagak Seta memejamkan mata, menenangkan perasaan kesalnya, sepanjang pertarungan, tak satu pun serangannya mengenai tubuh lawan.
“Kesal?', tanya Ki Ageng Aras sambil terkekeh geli.
Gagak Seta menjawab tanpa ragu, “Iya Ki.”
“Hahahaha, kau kesal karena kalah? Atau kesal karena merasa aku permalukan?”, Ki Ageng Aras tertawa geli dan bertanya.
Gagak Seta menggelengkan kepala, “Tidak ki, kalau kalah itu sudah wajar. Aku juga tidak merasa dipermalukan. Cuma kesal saja karena rasanya tangan itu gatal, dari tadi memkul tapi tidak ada yang kena.”
Gagak Seta menyengir lebar dan menjawab. “Tidak ki, kurang seru. Kalau Ki Ageng tidak keberatan, nanti saja ijinkan aku untuk menantang Ki Ageng Aras lagi, kalau aku sudah berlatih lebih matang lagi.”
“Hahahaha, baik- baik.”, ujar Ki Ageng Aras menyanggupi.
“Sekarang balik ke barisanmu.”, ujar Ki Ageng Aras memberi perintah.
“Siap ki.”, jawab Gagak Seta.
Ki Ageng Aras dan Gagak Seta kembali ke tempat mereka masing-masing, beberapa teman Gagak Seta diam-diam memberi jempol pada Gagak Seta yang dibalas pemuda itu dengan meleletkan lidah. Sesaat kemudian perhatian mereka pun sudah sepenuhnya ada pada Ki Ageng Aras yang berdiri di depan mereka.
“Ketika kalian menjadi prajurit telik sandi, maka kalian menerima tiga bekal, yaitu jurus-jurus silat yang tujuannya mengajarkan pada kalian aspek-aspek dalam sebuah pertarungan dan pertempuran. Seperti pentingnya memahami ruang, bagaimana mengatur jarak, sudut, mencari sudut mati lawan dan sebagainya. Kemudian memahami bagaimana sebuah jurus bisa beradaptasi dengan situasi. Hal-hal semacam itu.”, Ki Ageng Aras memulai penjelasannya.
Prajurit-prajurit yang masih muda itu pun mengangguk-anggukkan kepala dengan bersemangat, karena apa yang dijelaskan oleh Ki Ageng Aras itu baru saja mereka lihat secara nyata di depan mereka, bukan hanya teori yang mereka baca dari buku.
Setelah melihat tanggapan mereka, Ki Ageng Aras melanjutkan, “Yang kedua berisi ilmu menggunakan tombak pendek, yang dipilih karena variasi serangannya yang cukup kaya. Kalian bisa menggunakannya seperti tongkat untuk memukul, menusuk dan menyabet juga seperti pedang atau pisau. Sehingga harapan kami, kalian bisa memanfaatkan senjata apa saja yang tersedia bagi kalian dalam setiap situasi.”
“Dan yang ketiga...”, ujar Ki Ageng Aras menggantung penjelasan, dengan senyum terpasang di wajahnya.
Ketika Ki Ageng Aras merasa berhasil memancing keingin tahuan mereka, dia melajutkan, “Aji Braja Apsara, juga dipilih dengan alasan dan tujuan tertentu. Menguasai Aji Braja Apsara bisa membuat gerakan kalian menjadi ringan, bisa memiliki kecepatan melebihin kewajaran. Sesuatu yang memang sangat berguna bagi kalian sebagai prajurit telik sandi, tapi bukan itu alasan utama mengapa kami bertiga, Raden Rangga, Ki Tumenggung Widyaguna dan aku sendiri, memilih Aji Braja Apsara sebagai bekal kalian.”
“Berbeda dengan dua ilmu yang lain, untuk dapat menguasai Aji Braja Apsara, kalian harus terlebih dahulu berhasil menemukan dan mengaktifkan pusat-pusat energi dalam tubuh kalian.”, Ki Ageng Aras menjelaskan sambil menunjuk ke salah satu pusat energi di tubuhnya.
“Membuka dan mengaktifkan pusat-pusat energi dalam tubuh kalian, akan memberi kalian kemampuan lebih dari yang sewajarnya mampu dilakukan oleh tubuh wadag kalian. Dalam waktu yang singkat ini, tidak mungkin aku bisa membimbing kalian memahami dan menguasai berbagai macam ilmu, karenanya aku akan fokus pada membantu kalian membuka dan mengaktifkan beberapa pusat-pusat energi yang penting dalam tubuh kalian.”, ujar Ki Ageng Aras.
Anak-anak muda itu, sudah melihat bagaimana Gagak Seta dengan Aji Braja Apsara bisa bergerak dua kali lebih cepat dari biasanya. Ketika mendengar Ki Ageng Aras akan membantu mereka membuka dan mengaktifkan pusat energi dalam tubuh mereka, anak-anak muda itu tidak dapat menyembunyikan antusiasme mereka.
“Sekarang kalian satu per satu maju ke depan. Dengan tenaga dalam yang aku miliki, aku akan membantu kalian membuka dan mengaktifkan satu pusat energi yang paling dasar dan penting. Ingat, ini hanyalah sesuatu yang sifatnya sementara, dalam beberapa hari efeknya akan menghilang. Harapanku, sebelum sampai pada saat itu, kalian sudah berhasil membuka dan mengaktifkan sendiri pusat energi kalian.”, Ki Ageng Aras berkata sambil menunjuk satu orang dari mereka.
Anak muda yang ditunjuk itu maju ke depan dan mulai mendapatkan pengarahan dari Ki Ageng Aras. Setelah menerangkan pusat energi mana yang akan dia buka dan aktifkan, dan mengajarkan prajurit itu apa yang harus dia lakukan setelah Ki Ageng Aras membuka pusat energinya, Ki Ageng Aras menyuruh prajurit muda itu bersila dan bersiap.
Ki Ageng Aras meletakkan telapak tangan kanannya ke atas ubun-ubun prajurit itu dan perlahan-lahan mengalirkan tenaganya dengan hati-hati, membuka saluran energi dan mengaktifkan pusat energi dasar.
Badan pemuda itu bergetar dan tak lama kemudian di dahi pemuda itu terlihat setetes keringat mulai mengalir.
“Jangan dilawan, biarkan energi yang kau rasakan itu mengalir. Atur nafasmu dan perhatikan baik-baik sensasi yang saat ini kau rasakan. Temukan pusat energi dalam tubuhmu dan gunakan energi yang sudah kusalurkan ini untuk menjaga agar pusat energi yang sudah aku aktifkan ini tetap aktif.”, Ki Ageng Aras membimbing anak muda itu sambil terus mengalirkan hawa murninya dengan hati-hati.
Sementara Ki Ageng Aras membimbing, Senapati Manggala dengan cekatan mulai mengatur siapa-siapa yang harus maju ke depan dan mendapatkan saluran hawa murni dari Ki Ageng Aras.
Demikianlah satu per satu, mereka maju ke depan dan mendapatkan bimbingan dari Ki Ageng Aras. Mereka yang telah selesai dibuka dan diaktifkan pusat energinya, diminta mencari tempat untuk duduk bersila dan menyalurkan hawa murni yang sudah ada di dalam tubuhnya itu, dari satu titik ke titik yang lain, mengikuti siklus yang diajarkan oleh Ki Ageng Aras.
Setelah belasan orang mendapatkan bimbingan dari Ki Ageng Aras, keringat pun terlihat membasahi seluruh tubuh pendekar tua itu.
Senapati Manggala dengan hati-hati bertanya, “Ki Ageng Aras, apa mungkin sebaiknya kita berhenti dulu untuk beberapa waktu?”
Ki Ageng Aras menggelengkan kepala sambil tersenyum hangat, “Tidak perlu ki, waktu kita tidak banyak. Jangan kuatir, setelah malam ini, aku punya kesempatan beberapa hari untuk beristirahat.”
Senapati Manggala mengangguk dengan hormat, “Baiklah ki, tapi perhatikan juga kondisi Ki Ageng Aras.”
Ki Ageng Aras tertawa, “Hahaha, ya tentu saja, jangan kuatir, aku masih cukup kuat untuk bertarung tiga hari tiga malam.”
Dan proses itu pun terus berlanjut, ketika sampai giliran Gagak Seta, Senapati Manggala tertawa kecil, “Kau minggir sana, kau sudah berhasil mengaktifkan pusat energi dalam tubuhmu. Beri temanmu yang lain kesempatan.”
Mereka yang masih menunggu giliran bersama Gagak Seta pun ikut tertawa. Gagak Seta hanya bisa menyengir dan memberikan kesempatan itu pada yang lain.
“Hehe, makanya jangan buru-buru.”, goda Sabrang sebelum maju ke depan.
Gagak Seta menendang pantat Sabrang sambil memaki pelan, “Bah, jangan bikin sebal, sana pergi.”
Gagak Seta tentu saja tidak merasa keberatan, penjelasan Ki Ageng Aras malam ini, dan kesempatan bertarung melawan Ki Ageng Aras sudah memberi dia banyak keuntungan lebih dari rekan-rekannya yang lain, pemuda itu sudah merasa cukup dan tidak mengharapkan lebih.
Namun ketika pemuda terakhir sudah mendapatkan saluran hawa murni dari Ki Ageng Aras dan mereka semua duduk bersila mengalirkan hawa murni itu dalam tubuh mereka sesuai petunjuk Ki Ageng Aras, Gagak Seta melihat Ki Ageng Aras memberi tanda agar dia datang mendekat.
Gagak Seta pun merasa sedikit terkejut dan berharap-harap cemas. Dalam hati mengira-ngira apa alasan Ki Ageng Aras meminta dia datang mendekat.