
Barisan panjang beriringan meninggalkan Sungai Serayu, mengarah ke selatan, masih menyusuri tepian hutan. Dari barisan itu ke tepian hutan, kira-kira jaraknya 1 Km. Lima belas senapati yang membantu Rangga, masing-masing memimpin seratus orang, terdiri dari prajurit mereka sendiri dan penduduk Kademangan Jati Asih yang bersedia ikut menjaga barisan panjang penduduk kademangan.
Rangga dan Ki Ageng Aras berada agak jauh di belakang, mengamati keadaan.
“Apa mereka akan terpancing?”, tanya Ki Ageng Aras.
“Terpancing atau tidak, semuanya baik untuk kita.”, jawab Rangga dengan ringan, namun sorot matanya yang biasanya kemalas-malasan, kali ini mencorong setajam mata elang.
“Hmm... ya, kalau mereka tidak berani menyerang di tempat yang terbuka, kita bisa melewati hutan ini dengan aman. Beberapa kilometer lagi sudah mulai memasuki perbatasan wilayah Kadipaten Jambangan.”, angguk Ki Ageng Aras.
“Menurut raden, bagaimana Adipati Jalak Kenikir akan bersikap?”, teringat jalur yang akan mereka lewati, Ki Ageng Aras bertanya.
Rangga mengerutkan alis, orang-orangnya yang biasanya mengirimkan kabar tentang situasi dalam Kerajaan Watu Galuh, sudah beberapa lama tidak menghubungi dirinya, 'Sepertinya Adi Prabu Jannapati memperketat pengamanan di ibu kota. Aku harap mereka semua baik-baik saja.'
“Aku tidak tahu paman..., aku harap dia bisa menutup mata dan membiarkan kita lewat. Jika tidak...., terpaksa kita harus menumpahkan darah.”, jawab Rangga dengan hati berat.
Ki Ageng Aras baru hendak menyahut, ketika mereka mendengar teriakan riuh rendah dari arah hutan.
“Rupanya mereka tak sabar lagi den.”, kata Ki Ageng Aras.
“Hmm..... benar paman.” ujar Rangga dengan wajah sedikit tegang.
“Jaga barisan!”
“Jaga barisan!”
“Semuanya tetap bergerak sesuai perintah!”
Teriakan-teriakan terdengar dari arah barisan di depan mereka, para senapati, bekel dan lurah mengawasi tiap-tiap orang yang berada di bawah pimpinannya, dan sesekali berteriak ketika melihat ada yang salah.
Para prajurit yang sudah mengikuti mereka belasan bahkan puluhan tahun lamanya terlihat waspada, namun tidak tegang. Berbeda dengan para penduduk kademangan yang sudah lama, atau bahkan hampir tak pernah mengangkat senjata dalam pertempuran yang sesungguhnya. Apalagi sebagian besar yang dipilih untuk menggenapkan jumlah pasukan, adalah mereka yang masih muda, dengan harapan mereka bisa menjadi cikal bakal prajurit-prajurit di masa depan.
Sementara mereka yang tidak terpilih, diserahkan pada Ki Demang dan Ki Jagabaya, untuk menyebar dan menjaga keamanan anak-anak, wanita dan orang tua. Jika ada bandit-bandit yang berhasil menembus pertahanan, maka mereka masih akan menghadapi perlawanan yang sengit dari penduduk kademangan.
“HAAA.... mati kalian!!”
“BUNUH SEMUA LAKI-LAKI!”
“AKU MAKAN JANTUNG KALIAN!”
“HOEEEEEEEE!!! HAHAHAHA!”
Suara teriakan, ancaman dan makian terdengar dari arah para begal yang bergerak dalam jumlah besar, namun tak beraturan. Keliaran mereka membuat jantung anak-anak muda Kademangan Jati Asih berdebaran.
“Jangan takut, bandit-bandit itu hanya besar suaranya.”, dengus seorang prajurit kepada anak muda di sebelahnya.
“Hahaha, Kakang Jati ingat, puluhan tahun yang lalu saat kita dipimpin mendiang Prabu Jaya Lesmana menghajar mereka sampai mereka lari terkencing-kencing?”, sahut prajurit lain yang berbaris tak jauh dari dia.
“Hahahaha, benar, benar sekali. Dulu kita dipimpin mendiang Prabu Jaya Lesmana, dan hee kalian sekarang,” ujar prajurit tadi sambil mengitarkan pandangannya ke arah anak-anak muda dari Kademangan Jati Asih, “mendapat kesempatan yang sama, dan kali ini dipimpin oleh Raden Rangga Wijaya, putera tunggal Prabu Jaya Lesmana.”
Rasa takut yang mencekam hati mereka, terusir pergi, oleh sikap para prajurit yang tenang itu. Anak-anak muda itu saling berpandangan, saling menguatkan hati lewat sorot mata mereka.
Tiba-tiba terdengar suara Rangga Wijaya menggelegar memenuhi udara, “Prajurit-prajurit Rangga Wijaya, mana suara kalian!?”
Suaranya seperti menyusup ke dalam dada tiap-tiap orang yang mendengarnya. Membawa rasa takut ke dalam dada para begal yang datang menyerang, tapi sebaliknya seperti nyala api yang membakar semangat mereka yang menjadi pasukannya.
Dan tanpa sadar, para prajurit dan pemuda-pemuda Kademangan Jati Asih yang berbaris bersama mereka, seperti merasakan desakan dalam dada mereka untuk berteriak dan berseru.
“HOAAAAAAAAAA!!!!!!!!!”, dan secara serempak seribu lima ratus orang itu pun berteriak berbarengan.
Suara mereka seakan menggetarkan langit di atas dan bumi yang mereka pijak. Bahkan langkah para begal dari Gunung Awu itu seperti tertahan sesaat. Ki Ageng Aras menoleh ke arah Rangga, dari wajahnya terpancar rasa kagum.
Rangga yang melihat Ki Ageng Aras menoleh, berkata, “Hanya sekedar mainan anak-anak ki...”
Memang yang terpengaruh oleh suara Rangga tadi, hanyalah para bandit kecil, prajurit dan anak-anak muda Kademangan Jati Asih. Mereka yang berilmu sedikit cukup tinggi, tidak banyak terpengaruh oleh suaranya.
“Dalam sebuah pertempuran yang besar, yang sedikit itu berarti banyak den...”, jawab Ki Ageng Aras dengan hikmat.
Raden Rangga tidak mengiyakan, hanya menganggukkan kepala sambil tersenyum.
“Jaga kecepatan! Simpan semangat kalian untuk nanti!”, kali ini terdengar beberapa perwira berteriak mengingatkan anak buahnya yang terlalu bersemangat.
Tak lama kemudian dari arah para begal yang berlari semakin dekat, terdengar suara tawa yang mengerikan, perbawanya seperti hendak menetralkan teriakan Rangga.
“HAAHAHAAHAA....Rangga kau bocah ingusan! Bagus kau berani menampakkan batang hidungmu! Hutang ayahmu akan kutagih padamu!”, satu sosok berkelebat maju ke arah barisan penduduk kademangan.
Mulut Lowo Ijo mencaci Rangga, namun gerakannya justru menyerang ke arah pasukannya. Para begal itu cukup licin, dari teriakan Rangga tadi mereka bisa mengira-ngira kedalaman ilmunya. Meski Lowo Ijo merasa masih bisa mengalahkan Rangga, tapi matanya yang tajam melihat ada Ki Ageng Aras di sisi Rangga.
Daripada bertaruh pada pertaruhan yang tak jelas, dia memilih mengincar kepala perwira-perwira yang jadi bawahan Rangga.
“Dasar setan licik, biar aku yang menghadapinya raden.”, ujar Ki Ageng Aras dengan kesal.
Rangga tertawa dan menggamit tangannya, “Tidak usah paman, kita lihat saja lebih dahulu dari sini.”
Benar saja tak perlu menunggu lama, dengan segera dua sosok berkelebat menyambut Lowo Ijo. Seorang senapati dibantu bekel yang dia percaya menghadang Lowo Ijo. Satu demi satu, begal dari Gunung Awu itu pun mulai menyerang barisan yang berjalan jauh lebih lambat, karena harus mengikuti kecepatan penduduk Kademangan Jati Asih yang bukan saja bercampur antara anak-anak, wanita dan orang tua, tapi juga harus membawa berbagai macam barang perbekalan dan harta mereka.
“Jaga barisan!”
“Jaga barisan!”
Terdengar teriakan para senapati yang mengatur pertahanan, sambil berkelebat ke sana ke mari menghadang lawan yang terlalu kuat bagi pasukan mereka. Beberapa orang begal yang sudah gelap mata, menyasar pula pada Rangga dan Ki Ageng Aras, tapi dengan mudah Rangga dan Ki Ageng Aras melumpuhkan mereka. Jika Rangga hanya berdiri menunggu saja sambil terus mengamati keseluruhan medan tempur. Tidak demikian dengan Ki Ageng Aras asalkan ada yang berani mendekat, tangannya akan berkelebat menyambar lawan.
Setelah puluhan orang meregang nyawa, begal-begal yang lain pun jadi jeri dan tak ada yang berani mendekat.
Sementara itu tekanan pada pasukan Rangga menjadi semakin berat, jumlah begal yang menyerbu itu tak kurang dari seribu orang. Mereka pun orang-orang yang sudah kenyang makan asam garam dunia persilatan.
Para senapati mulai terikat perhatiannya oleh lawan-lawan yang seimbang. Perlahan-lahan pasukan Rangga mulai terdesak.
“Paman, masih ingat dengan orang tua tadi?”, tanya Rangga dengan tenang sambil terus bergerak mengikuti pertempuran di sekitar mereka.
“Tentu, raden ingin aku menangkapnya sekarang?”, tanya Ki Ageng Aras.
“Mohon bantuannya paman.”, jawab Rangga sambil tersenyum.
Dua orang itu bercakap-cakap seakan sedang berada di warung makan saja, padahal di sekelilingnya terjadi pertempuran yang sengit.
“Hehe, silahkan raden tunggu di sini.”, uajr Ki Ageng Aras sebelum melompat ke udara, berkelebat ke arah Lowo Ijo.
Sementara itu Rangga melompat ringan menuju ke salah satu lingkaran pertarungan yang lain. Di situ Macan Gunung Awu dibantu dengan beberapa orang kepercayaannya, mengepung seorang senapati. Entah disengaja atau tidak, beberapa pimpinan begal yang lain memimpin anak buah mereka untuk menghalangi siapa saja yang hendak membantu senapati itu.
Beberapa serangan dari arah yang berbeda-beda, meluncur dalam waktu yang hampir bersamaan. Senapati Trimukti mengeluh dalam hati, tongkat besi di tangannya berkelebatan berputaran dengan cepat menangkis serangan-serangan yang datang, namun dari kerasnya kesiuran angin yang datang dari sabetan pedang Ki Paryadji, atau Macan Gunung Awu, Senapati Trimukti sudah merasa bakal tak mampu menahan serangan itu.
“TRANGG!!!”
Pedang Macan Gunung Awu terpental sebelum mencapai sasarannya. Keris Rangga dengan tepat menghantam pedang Macan Gunung Awu dan getarannya membuat dia harus melangkah mundur beberapa langkah.
“Setan!! Rangga, kau cari mati rupanya!?”, geram Ki Paryadji.
“Eh, aku tak kenal siapa namamu. Tapi sepertinya kaulah yang cari mati.”, sahut Rangga dengan alis terangkat, pura-pura tak mengerti.
“Paman Trimukti, pasukanmu butuh pimpinanmu. Kecoak-kecoak ini serahkan saja padaku.”, ujar Rangga pada Senapati Trimukti.
“Siap raden.”, jawab Senapati Trimukti sebelum melompat mundur keluar dari kepungan.
“Kau kira gampang lolos begitu saja!”, bentak beberapa orang begal.
Namun belum sempat mereka menghadang Senapati Trimukti, mereka merasakan bulu kuduk mereka berdiri, suara keris mendesing-desing berkelebatan mencari mangsa. Seorang dari antara mereka tak cukup cepat untuk menghindar. Keris Rangga berkelebat membentuk bayangan hitam menyambar tengkuknya. Sekejap kemudian darah menyembur deras, mengiringi nyawanya yang terbang meninggalkan raga.
Macan Gunung Awu sudah berkelebat maju dengan pedangnya, tapi tak cukup cepat untuk menolong nyawa orang kepercayaannya. Rangga dengan gesit melayani serangan Ki Paryadji yang ganas, sesekali dia masih sempat menyusup dan menyerang balik.
Para perwira yang lain pun tak tinggal diam, hari itu Senapati Trimukti pun lolos dari cengkeraman maut.
Mata Macan Gunung Awu itu berubah merah, jantungnya terasa ingin meledak. Dalam hati dia memaki-maki, 'Bocah keparat! Kenapa kau memilih ke tempat ini!'
Meski mulutnya tak mau mengakui, namun dalam hati Ki Paryadji mengakui kelebihan Rangga. Selama Rangga ada di sini, tak ada harapan baginya untuk memenangkan sesuatu dari pertempuran ini. Di saat yang sama dia melihat beberapa kepala begal yang lain mulai mendesak dan melukai mangsa mereka.
Hatinya sedikit terhibur, ketika melihat Lowo Ijo dan orang-orang kepercayaannya harus menghadapi Ki Ageng Aras.
Sambil bertarung, otak Ki Paryadji tak berhenti berputar, beberapa kali dia berpikir untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Namun ketika dia melihat pasukan Rangga yang terus terdesak mundur, muncul harapannya.
Benar saja, ketika Rangga yang juga tak henti-hentinya mengamati medan pertempuran, melihat ada seorang senapati yang terancam nyawanya, pemuda itu melompat pergi, melepaskan Ki Paryadji dan anak buahnya.
Tak lupa pemuda itu berpamitan, “Hahaha... paman, aku pergi main ke sana dulu. Kau baik-baik di sini, jangan terlalu garang, nanti aku terpaksa harus kembali.”
“baik!”, geram Macan Gunung Awu marah, di saat yang sama merasa lega, lepas dari gangguan Rangga.
Pasukan Rangga harus bekerja keras menahan serangan lawan, meski senapati-senapati itu berilmu tinggi, pihak lawan pun tak kurang yang berilmu seimbang dengan mereka. Selain itu, bukan hanya bertarung, mereka juga harus memperhatikan kondisi pasukan mereka.
Beruntung para lurah dan bekel, sudah sangat berpengalaman, meski mereka tak mampu menyerang balik lawan, setidaknya mereka mampu mengatur barisan pertahanan mereka dengan rapat.
Meski demikian, korban-korban yang terluka dari pihak Rangga sudah mulai berjatuhan. Baiknya untuk setiap mereka yang tak mampu meneruskan pertempuran, ada puluhan pemuda lain yang siap menggantikan.
Ki Demang dan Ki Jagabaya bekerja keras mendukung pertahanan dari dalam barisan. Mengatur kelompok-kelompok kecil yang bergegas menolong mereka yang terluka, membawanya ke dalam barisan. Sekaligus juga mengirimkan orang untuk menggantikan mereka yang terluka itu.
Perlawanan orang-orang Kademangan Jati Asih dan pasukan Rangga berada di luar perhitungan begal-begal dari Gunung Awu itu. Kepala-kepala begal dan rampok itu, beberapa kali sudah berpikir untuk mengundurkan diri dari pertempuran. Namun ketika melihat rekan-rekannya beberapa kali hampir berhasil memenangkan sesuatu, mereka pun jadi terpacu. Apalagi pasukan Rangga semakin lama semakin terdesak.
Meskipun setiap kali mereka hampir berhasil membunuh seorang senapati, Rangga tiba-tiba muncul untuk menggagalkan serangan, dalam hati mereka selalu menghibur diri, 'Bocah keparat itu tak akan bisa berada di beberapa tempat di waktu yang sama.'
Yang mereka lupa, para senapati dan perwira-perwira yang membantu mereka bukan kelinci yang gampang diburu, mereka tak kalah ganasnya dibanding begal-begal itu.
Tatkala mereka merasa jeri, para begal itu melihat hutan hanya ratusan meter dari tempat mereka berada.
Tatkala mereka ingin menyerah, pada begal itu melihat korban luka yang harus ditandu pergi dari medan pertempuran di pihak pasukan Rangga, melihat luka yang berhasil ditorehkan oleh pemimpin mereka di tubuh lawan.
Tiba-tiba beberapa kepala begal menyadari bahwa medan pertempuran sudah bergeser jauh ke selatan, hampir memasuki tapal batas terluar Kadipaten Jambangan.
“Kerahkan kekuatan kalian! Bantai mereka!”
“Bantai! Bantai! Gadis-gadis Kademangan Jati Asih ada di belakang pasukan ini!”
“Pecahkan pertahanan mereka! Siapa yang berhasil menembus, akan mendapat hadiah dariku!”
“Yang berhasil mengambil kepala Ki Demang, kau boleh ambil isteri dan anaknya sekaligus!”
“Satu kepala prajurit, sepuluh wanita!”
“Satu kepala prajurit, seratus keping uang!”
Berbagai macam seruan tak nggenah bersahut-sahutan, berusaha memacu nafsu yang menggelapkan budi. Begal-begal Gunung Awu itu pun kesetanan. Gambaran ketika manusia, kehilangan kemanusiaan-nya, hingga binatang pun tampak lebih berbudi. Bagi prajurit-prajurit yang sudah kenyang bertempur, keberingasan lawan itu tak mampu menggoyahkan keyakinan mereka. Namun bagi anak-anak muda Kademangan Jati Asih teriakan dan lolongan seperti binatang liar, sorot mata yang sudah kehilangan kesadaran dan serangan-serangan yang tak mempedulikan luka-luka di badan itu, membuat hati mereka jeri.
“Jangan panik.”
“Hadapi dengan tenang.”
“Mereka manusia sama seperti kita!”
Para prajurit yang lebih berpengalaman, berusaha menenangkan mereka, namun mereka sendiri harus bekerja keras menahan serangan lawan yang sudah kesetanan. Tak bisa setiap waktu membagi perhatian untuk rekan-rekan mereka yang masih belum matang itu.
Korban pun semakin banyak berjatuhan.
Rangga menengok ke arah tempat Tumenggung Widyaguna dan yang lain sedang bersembunyi. Diamatinya pula keadaan pasukan yang sudah makin terdesak. Utamanya orang-orang Kademangan Jati Asih yang mulai kerepotan untuk membawa mundur rekan-rekan mereka yang tak sanggup melanjutkan pertempuran.
Rangga menggertakkan giginya, pemuda itu tiba-tiba melompat mundur keluar dari lingkaran pertarungan yang sedang dia hadapi. Matanya memejam setarikan nafas. Ketika dia membuka lagi matanya, sorot matanya terlihat membara.
“HAAUUUUUUUUMMMMMMMMMMMMMMMM!!!!!!!!!!!”, Rangga menggeram keras, suaranya memenuhi medan pertempuran, mengguncang dada sekalian orang yang berada di depannya.
Untuk sesaat waktu seakan-akan membeku, karena setiap orang yang ada di pertempuran itu diam tak bergerak.
“MUNDUR !!! MUNDUR !!!”, seru Rangga dengan keras, sebelum para begal Gunung Awu mendapatkan kembali keseimbangan jiwanya.
Anak-anak muda Kademangan Jati Asih yang sudah diselipi rasa jeri terhadap lawan, berserabutan mundur kembali masuk ke dalam barisan. Beruntung para senapati dan prajurit yang berpengalaman ada bersama mereka.
Prajurit-prajurit itu dipimpin oleh para perwira, segera merapatkan garis pertahanan, sambil mundur dengan teratur. Tekanan lawan jauh lebih berat, karena sekarang jumlah mereka jadi jauh tak seimbang.
Ki Demang dan Ki Jagabaya yang bertugas mengatur penduduk kademangan, berupaya menjaga agar penduduk kademangan tidak berserak-serak karena ketakutan. Para orang tua yang dulu pernah menjadi prajurit, sekarang menunjukkan ketabahannya, berkat keberadaan mereka, keadaan penduduk Kademangan Jati Asih masih bisa terkendali.
Rangga dan Ki Ageng Aras, berkelebatan ke sana ke mari seperti harimau lapar, berdua mereka membuat begal-begal yang sudah kesetanan itu pun merasa jeri. Namun apa artinya dua orang melawan lawan yang jumlahnya lebih dari seribu?
Mata Ki Lowo Ijo dan Macan Gunung Awu sudah menyala-nyala penuh nafsu, terbayang oleh mereka, sebentar lagi sebutir kepala senapati akan mereka dapatkan.
Berbeda dengan anak buah mereka, kepala-kepala begal Gunung Awu itu tidak berpikir untuk memenangkan pertempuran, mereka hanya butuh satu kepala, dan mereka akan menghilang dari tempat itu.
Serangan kepala-kepala begal itu semakin membabi buta, karena sama-sama tahu apa jalan pikiran sekutunya saat itu. Siapa yang lebih dahulu bisa mendapatkan kepala seorang senapati, akan diuntungkan, sementara yang terlambat akan dirugikan.
Jika tadinya beberapa kepala begal masih saling bekerja sama, sekarang mereka berlomba untuk menjadi yang pertama.
Prajurit-prajurit biasa saja merasakan tekanan yang berat, apalagi para senapati yang menjadi target sasaran dari tiga belas kepala begal Gunung Awu.